APA ITU FILSAFAT?

Didin Faqihuddin, MA

“Apa itu filsafat?” adalah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Jika kita ditanya apa itu politik? Kita tentu akan cukup mudah menjawabnya dengan mengatakan bahwa ia adalah ilmu tentang negara dan kehidupan bernegara. Atau pertanyaan apa itu sosiologi? Kita juga akan mudah menjawabnya dengan mengatakan bahwa ia adalah ilmu tentang kehidupan bermasyarakat. Namun pertanyaan “apa itu filsafat?” tidaklah mudah menjawabnya. Seseorang yang mengajukan pertanyaan “apa itu filsafat?” sebenarnya ia sedang berfilsafat. Filsafat itu yang paling pertama adalah “sikap”: yaitu sikap bertanya, mempertanyakan segala sesuatu, mempertanyakan apa saja. Dalam filsafat tidak pernah ada titik. Sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan masih bisa dipertanyakan lagi. Oleh karena itu maka filsafat dianggap sebagai sesuatu yang bermula dari pertanyaan dan berakhir dengan pertanyaan. Filsafat adalah bertanya secara terus menerus. Filsafat adalah sebuah tanda tanya dan bukan tanda seru. Ia adalah pertanyaan dan bukan pernyataan.
Secara etimologi filsafat berarti cinta akan kebenaran, lebih tepatnya usaha untuk mencari kebenaran. Filsafat adalah sebuah upaya, sebuah proses, sebuah pencarian, sebuah perburuan tanpa henti akan kebenaran. Jadi ‘cinta’ dalam filsafat tidak dimaknai sebagai sebuah kata benda yang statis, yang given, melainkan sebuah kata kerja yang berarti proses terus menerus. Dalam arti itu, filsafat adalah sebuah sikap yang dihidupi, yang dihayati dalam pencarian, dalam pertanyaan terus menerus.
Sebagai sikap, yaitu sikap mencinta, di satu pihak ada ketiadaan dari yang dicinta, yang dicari. Tetapi di lain pihak, sebagai sikap ia sama sekali tidak kosong. Ia sesungguhnya telah memiliki yang dicari itu, meskipun hanya dalam bayang-bayang. Ia memang mengalami kekosongan akan yang dicinta dan karena itu ia ingin mengejarnya untuk mengisikannya ke dalam dirinya, namun sekaligus yang dicinta itu telah ada melalui representasinya dalam sikap mencinta itu sendiri. Maka kebenaran yang dikejar dalam filsafat memang belum dimiliki, namun sekaligus telah dimiliki dalam bentuk proses mencari tadi.
Karena posisi yang paradoksal dari sikap mencintai ini, maka cinta yang sejati–termasuk cinta akan kebenaran filsafat–di satu pihak selalu cenderung ingin memiliki, menggenggam, dan dekat dengan kebenaran atau objek cinta. Namun di pihak lain ada kecenderungan untuk mempersoalkan, mempertanyakan, dan bersikap kritis terhadap kebenaran atau objek cinta itu. Dalam cinta asmara, sikap kritis itu muncul dalam bentuk kecemburuan positif dan sehat. Sementara dalam filsafat dan ilmu pengetahuan sikap ini muncul dalam bentuk sikap kritis yang ingin meragukan terus kebenaran yang telah ditemukan. Karena itu pula, apa yang disebut sebagai kebenaran, dan apa yang pada titik tertentu dianggap sebagai kebenaran selalu akan diliputi oleh tanda tanya. Jelasnya dengan berfilsafat, dengan berusaha untuk mencari kebenaran, pada akhirnya orang akan semakin memahami makna segala sesuatu, termasuk makna kehidupan ini. Dengan bertanya, orang akan semakin mengambil sikap terhadap realitas. Karena dengan bertanya, orang menghadapi realitas kehidupan sebagai sebuah masalah untuk diselesaikan.
Kesimpulannya adalah bahwa, pertama, filsafat dipahami sebagai sebuah upaya, proses, metode, cara, dambaan untuk mencari kebenaran. Ia muncul dalam sikap kritis untuk selalu mempersoalkan apa saja untuk sampai kepada kebenaran yang paling akhir.
Kedua, filsafat dilihat sebagai upaya untuk memahami konsep atau ide. Dengan bertanya maka orang lalu berpikir tentang apa yang ditanyakan dan berusaha untuk menemukan jawabannya. Maka muncul ide atau konsep tertentu yang dapat menjawab pertanyaan tadi. Tetapi yang menarik, filsafat sebagai sebuah sikap terus mencari akan mempertanyakan kembali ide tadi untuk lebih memahaminya lagi. Maka akan terjadi proses mempertanyakan konsep atau ide yang diajukan atas sebuah pertanyaan dan terus berulang hingga akhirnya akan sampai pada sebuah jawaban final, yang paling ultima, yang paling akhir, yang dianggap paling benar. Namun menariknya jawaban yang paling ultima ini tidak pernah ditemukan. Maka proses bertanya dan bertanya terus menerus itu akan bergulir terus terus tanpa henti sebagaimana hakikat filsafat itu sendiri. Yang ditemukan adalah jawaban-jawaban sementara dalam bentuk konsep atau ide atau pemikiran tertentu yang kemudian dipertanyakan dan dikritik terus menerus. Karena itu filsafat pun akan terus berlangsung tanpa henti. Ia tidak pernah menemukan terminal akhir.
Ini tidak berarti bahwa dalam berfilsafat orang tidak pernah yakin akan kebenaran apa yang telah dicapainya. Orang tentu saja harus yakin akan kebenaran yang dicapainya. Tetapi, seperti halnya cinta sejati, dalam cinta akan kebenaran, ia tidak pernah merasa puas dan menerima secara buta apa yang telah ditemukannya itu. Tetapi ia juga akan berusaha untuk menggenggam keyakinannya dan berusaha untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran yang telah ditemukannya itu. Di lain pihak sekaligus ia akan tetap terbuka untuk menggugat secara kritis kebenaran itu untuk mencari lagi kebenaran yang paling dalam.
Dengan mengatakan bahwa filsafat adalah upaya untuk memahami ide atau konsep, filsafat lalu dilihat pula sebagai “pemikiran tentang pemikiran” atau “berpikir tentang berpikir”. Dengan demikian aktifitas seorang filsuf adalah berpikir. Berpikir tentang apa saja, termasuk berpikir tentang pemikirannnya sendiri, tantang apa yang sedang dipikirkannya. Ia berusaha untuk menemukan jawabannya, tetapi kemudian jawabannya itu disanggah lagi, dikritik dan dipertanyakan lagi. Maka terjadilah proses bertanya dan menjawab yang tanpa henti. Itulah filsafat!
Timbul pertanyaan: “Siapa yang disebut filsuf itu?” Semua manusia yang terus menerus bertanya adalah filsauf! Pertanyaan tentang apa saja. Anak kecil yang selalu bertanya tentang ini dan itu, sesunguhnya ia sedang memerankan dirinya sebagai filsuf. Semua orang pada dasarnya adalah filsuf by nature. Sesungguhnya, bagi semua manusia, segala yang ada dalam hidup ini adalah sebuah masalah, sebuah pertanyaan, sebuah puzzle, sebuah enigma, sesuatu yang harus dipahami. Anak kecil sering bertanya tentang “apa ini?”, “apa itu?”, atau “mengapa ayam bertelur dan kucing beranak?” bahkan ketika dilarang bertanya, ia akan bertanya: “mengapa dilarang?” “Karena kamu masih kecil?” jawab orang tuanya. “Tetapi mengapa orang dewasa boleh dan anak kecil tidak boleh?” “Saya yang mengatakan”, kata ibunya. “Tetapi mengapa tidak boleh?” “Pokoknya tidak boleh, titik!”. Dengan jawaban penuh otoritas semacam itu, orang dewasa telah mematikan kecenderungan filosofis dalam diri anak manusia. Maka sejak saat itu hilanglah keinginan manusia untuk mencari kebenaran. Hilang kecenderungan manusia untuk berfilsafat.
Yang terjadi selanjutnya adalah pem-BIASA-an terus menerus. Anak diajar untuk menerima segala sesuatu tanpa perlu mempertanyakannya. Akibatnya kita membuat anak menjadi terbiasa dengan segala sesuatu di sekitarnya, dan akhirnya tidak pernah lagi ada keinginan untuk mempertanyakan semua itu. Hilanglah sikapnya sebagai filsuf. Hidup lalu menajdi “!” dan bukan lagi “?”. Hidup bukan lagi sebagai sebuah masalah, sebuah teka-teki, sebuah paradoks, enigma,melainkan sebagai “given”, hal yang diberikan begitu saja tanpa perlu dipersoalkan.
Dengan demikian, filsafat, apakah yang dipelajari di kelas, dibaca, didengar, atau dipraktekan sendiri sesungguhnya mengajak kita untuk mempertanyakan, mempersoalkan, mengkaji, dan mendalami hidup ini dalam segala aspeknya. Seperti dikatakan Sokrates: “Hidup yang tidak dikaji tidak layak dihidupi”. Artinya menjalani kehidupan ini tanpa mempersoalkannya sama sekali sama dengan hidup sebagai orang buta. Maka salah satu sikap yang akan muncul dengan sendirinya dari filsafat adalah sikap kritis, yakni tetap mempertanyakan apa saja, sikap tidak puas dengan jawaban yang ada, dan selalu ingin tahu lebih dari apa yang sudah diketahui. Di situlah inti filsafat.
Palu, 12 Januari 2010

Referensi: I.P.S.T.F / A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s