SIKAP PARA MUFASSIR TERHADAP AYAT-AYAT KAUNIYAH DALAM ALQURAN. Bagian Pertama

Didin Faqihudin
Alumnus PPs. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Dosen STAIN Datokarama Palu Sulawesi Tengah

Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan penafsiran terhadap isyarat-isyarat kawniyah (keterangan tentang alam semesta) yang ada dalam Alquran dengan menggunakan parameter capaian-capaian sains modern. Ada yang melarang, ada yang membolehkan dan ada yang bersikap moderat. Penjelasannya sebagai berikut:
Kelompok yang melarang penafsiran ayat-ayat kawniyah Alquran dengan menggunakan parameter capaian sains modern berpendapat bahwa penafsiran semacam ini adalah jenis penafsiran bil ra’yi (tafsir nalar) yang tidak diperbolehkan, berdasarkan keterangan dari Rasulullah: “Barang siapa yang berkata mengenai Alquran berdasarkan ra’yu-nya, dan kemudian penafsirannya benar, maka sesungguhnya ia telah melakukan kesalahan”. “Barang saiapa berpendapat mengenai Alquran tanpa ilmu, maka bersiaplah ia mengambil tempat di neraka. Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa Abu Bakar berkata: “Langit apa yang menaungiku dan bumi apa yang menjadi pijakanku jika aku berkata tentang Alquran dengan ra’yu-ku”. Umar juga pernah berkata: “Ikutilah apa yang jelas dari kitab ini lalu amalkanlah. Adapun yang tidak kalian ketahui, maka serahkanlah pada yang menurunkannya”. Said bin al-Musayyib berkata: “Kami tidak mengatakan apapun tentang Alquran berdasarkan pendapat kami sendiri”. Dan Masruq bin al-Ajda’ berkata: “Bertakwalah (baca : hati-hati) kalian terhadap penfsiran Alquran, karena sesungguhnya Alquran itu adalah riwayat yang bersumber dari Allah”.
Itulah antara lain argumentasi kelompok pertama yang melarang penafsiran terhadap ayat-ayat kauniyah Alquran. Kelompok ini mendapatkan kritik karena terlalu kaku dalam memahami kata al-ra’yu dalam hadits Nabi di atas. Yang dimaksud al-ra’yu di situ sebenarnya adalah al-hawa (hawa nafsu), dan bukan pendapat rasional yang didasarkan pada argumentasi-argumentasi yang kuat dan diterima. Ini diperkuat dengan hadits yang kedua dalam ungkapan “tanpa ilmu”. Artinya jika menafsirkannya dengan ilmu maka boleh-boleh saja. Tentu di sini kita belum membicarakan kualitas kedua hadits tersebut yang konon sanadnya dianggap lemah.
Berikutnya adalah bahwa kelompok ini juga kurang memahami makna ucapan para sahabat dan tabiin yang sangat berhati-hati dalam menafsirkan Alquran dengan pandangan ijtihadnya. Sesungguhnya sikap seperti itu menunjukkan sifat wara’ dan adab mereka dalam berhadapan dengan teks Alquran. Kita tentu saja mafhum bahwa para sahabat adalah orang-orang yang sangat paham seluk beluk bahasa Arab from A to Z. Mereka juga mengetahui sebab turun suatu ayat, hidup bersama Rasulullah dengan sangat akrab, dan mendengarkan bacaan Alquran dan penjelasan terhadapnya yang dilakukan oleh Rasulullah. Mereka juga mengetahui berbagai rincian sunah Rasulullah baik berkenaan dengan ayat Alquran atau perkara lain. Apakah bagi orang-orang yang memiliki segalanya tentang pemahaman terhadap Alquran seperti para sahabat itu perlu melakukan ijtihad? Apalagi masa di mana mereka hidupa bukanlah masa kemajuan ilmu pengetahuan seperti yang kita alami saat ini. Masa mereka adalah masa yang dekat dengan masa jahiliyah yang meliputi jazirah Arabia, bahkan seluruh dunia. Masa yang sangat penuh dengan dogma-dogma sesat.
Masa itu adalah masa mulai tersebarnya agama Islam, dan masuknya orang-orang dari berbagai macam latar belakang budaya dan bahasa ke dalam Islam. Tentu saja secara otomatis mereka membawa serta latar belakang pemikiran mereka yang diwariskan secara turun temurun. Dan itu tidak serta merta hilang hanya dengan cara masuk Islam. Lagi pula, tidak sedikit di antara mereka yang masuk Islam memiliki tujuan untuk menghancurkan Islam dari dalam dengan cara menta’wil Alquran secara serampangan, merusak persatuan umat Islam, dan menyebarkan benih-benih permusuhan. Di antara akibat yang ditimbulkan oleh usaha semacam itu adalah apa yang kita kenal sebagai ‘israiliyat’ yang dinisbahkan kepada keturunan jahat Bani Israil (Yahudi) yang banyak membuat kebohongan terhadap agama Allah dan para nabi dan rasulNya. Demikian pula akibat yang ditimbulkan adalah munculnya berbagai kelompok yang masing-masing ingin memenangkan kelompoknya dengan mencari justifikasi Alquran…. Inilah ‘hawa nafsu’ yang dimaksud oleh ungkapan ‘bil ra’yi’ dalam hadits yang dinisbahkan kepada Rasulullah saw. dan juga ucapan-ucapan para sahabat.
Kelompok ini–yang menyerukan agar jangan menggunakan ijtihad ra’yu dalam memahami kitab Allah, sambil mencukupkan diri pada tafsiran riwayat yang bersumber dari Rasulullah, sahabat-sahabatnya, atau tabi’in (dikenal dengan juga lupa tafsir bil ma’tsur / bil manqul)–lupa bahwa penafsiran bil ma’tsur ini tidak meliputi seluruh Alquran. Untuk maksud hikmah yang hanya Allah yang mengetahuinya—dan sebagiannya sudah kita pahami hari ini—Rasulullah tidak menjelaskan maksud keseluruhan ayat Alquran. Dan para sahabat Rasul berusaha keras (baca : berijtihad) dalam memahami apa yang tidak dijelaskan oleh Rasulullah itu, dan tidak jarang mereka berbeda pendapat dalam tafsirannya, tetapi tidak jarang juga bersepakat. Rasulullah pernah membenarkan sekelompok sahabat ketika mereka melakukan penafsiran terhadap beberapa ayat Alquran. Beliau juga pernah mendoakan Ibnu Abbas: “Allahumma faqqihhu fi al-din wa ‘allimhu al-ta’wil” (Ya Allah berikanlah Ibnu Abbas pemahaman terhadap agama Islam, dan ajarkanlah dia tafsir Alquran). Semua ini menjadi bukti tentang bolehnya berijtihad dalam menafsirkan Alquran untuk memahami maksudnya sekaligus memikirkan makna-makna yang ada di dalamnya. Hal ini ditegaskan oleh ayat Alquran: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad / 38 : 29)
Ayat ini, dan banyak lagi ayat yang senada dengannya, menunjukkan adanya perintah Allah yang sangat jelas untuk memperhatikan ayat-ayat Alquran sekaligus memahami makna-maknanya. Alquran mencela mereka yang tidak mau memikirkan dan memahami makna-makna Alquran. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)…” (QS. al-Nisa / 4 : 82-3). “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad / 47 : 24)
Imam al-Gazali menyatakan kebolehan memahami Alquran dengan al-ra’yu (baca : ijtihad). Beliau menambahkan: “…usaha-usaha memahami makna-makna Alquran memiliki lapangan yang sangat luas, dan tafsir yang kita wariskan dari generasi sebelumnya (tafsir bil manqul) bukanlah pengetahuan yang paling akhir terhadap Alquran”.
Palu, 23 Pebruari 2010
Kampus STAIN Datokarama

Referensi: Dr. Zaghlul al-Najjar / al-I’jaz Fil Qur’an

2 Komentar

Filed under Uncategorized

2 responses to “SIKAP PARA MUFASSIR TERHADAP AYAT-AYAT KAUNIYAH DALAM ALQURAN. Bagian Pertama

  1. Assalamu alaekum wr.wb. Numpang baca bro..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s