TAHAPAN-TAHAPAN DAKWAH ISLAM MASA HIDUP NABI MUHAMMAD SAW. Bagian Kedua

Didin Faqihuddin
Alumnus Fakultas Adab UIN Jakarta-PPS. UIN Bandung

Dakwah Secara Terang-terangan
Ibnu Hisyam dalam kitab Sirah-nya menulis bahwa ketika sudah banyak penduduk Mekkah, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah memeluk Islam, maka nama “Islam” mulai banyak disebut orang di Mekkah. Maka Allah kemudian memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan dakwah Islam secara terang-terangan. Masa antara Nabi menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi dengan datangnya perintah Allah untuk melakukan dakwah secara terang-terangan adalah tiga tahun sejak pengangkatannya sebagai rasul. Allah berfirman: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (QS. al-Hijr [15]: 94) juga: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. al-Syu’ara [26]: 214)
Setelah itu, Nabi langsung merespon perintah Allah ini dengan menaiki puncak bukit Shafa dan menyeru: “Wahai Bani Fahr, wahai Bani ‘Uday”, sampai kemudian orang-orang berkumpul. Mereka yang tidak sempat hadir, mengirim utusan untuk mengetahui apa yang terjadi. Nabi mulai berkata: “Bagaimana pendapat kalian sekiranya aku kabarkan  bahwa di sebelah bukit ini ada satu pasukan yang hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?” Mereka menjawab: “ Kami tidak sekalipun pernah melihat engkau berdusta”. Nabi Muhammad lalu berkata: “Aku memperingatkan kalian dari azab yang sangat pedih”. Tiba-tiba Abu Lahab memaki: “Celaka engkau hai Muhammad sepanjang hari ini. Apakah cuma untuk ini, kamu mengundang kami semua?” Tidak lama setelah peristiwa ini, turunlah Surat al-Lahab.
Setelah itu Nabi turun, dan dalam rangka merespon perintah QS. al-Syu’ara [26]: 214, beliau lalu mengumpulkan keluarganya dan berkata: “Wahai Bani Ka’b bin Lua’ay, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Bani Abdi Syams, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Bani Abdi Manaf, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Bani Abdil Muththalib, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Fatimah, jagalah dirimu dari apai neraka, karena sesunggunya aku tidak memiliki apa-apa untuk membantu kalian di hadapan Allah”.
Respon yang diberikan oleh orang-orang Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad yang sudah terang-terangan ini adalah respon negatif. Mereka beralasan tidak bisa meninggalkan keyakinan yang telah mereka wariskan secara turun temurun. Dalam hal ini, Nabi mengingatkan mereka untuk membebaskan pikiran mereka dari belenggu tradisi taklid buta, untuk kemudian beralih menggunakan akal sehat mereka. Nabi Muhammad mengingatkan bahwa patung-patung yang mereka sembah itu sama sekali tidak memberikan manfaat atau mudharat apapun bagi kehidupan mereka. Pewarisan terhadap nenek moyang untuk menyembah patung-patung itu bukanlah alasan bagi mereka untuk menerimanya tanpa reserve. Alquran menyinggung hal ini demikian: “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. al-Maidah [5]: 104)
Manakala orang-orang Arab itu melihat Nabi Muhammad (baca: Alquran) mendeskripsikan ibadah mereka hanya sekedar taklid buta, apalgi nenek moyang mereka disebut-sebut sebagai orang-orang tidak berakal, merekapun menjadi marah dan mulai memusuhi Nabi Muhammad. Wallahu A’lam.
Palu, 19 November 2010
Kampus STAIN Datokarama

Referensi: Fiqh al-Sirah, Said Ramdhan al-Bhuthi

1 Komentar

Filed under Uncategorized

Alquran dan Pengobatan Gangguan Psikologis (Bagian Dua)

Didin Faqihudin
Alumnus Pondok Pesantren Darul Amal Bekasi Jawa Barat
Staf Pengajar STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Tahapan-tahapan Pengaruh Setan Terhadap Manusia
A. Usia tujuh sampai dua belas tahun.
Pengaruh setan terhadap manusia secara jelas dimulai pada usia tujuh tahun. Pada usia ini seorang anak kecil sudah mulai memiliki pemahaman dan pengertian yang bersifat parsial. Dia berusaha untuk berpikir dan menganalisis berbagai hal. Di sini setan datang dengan cara yang sama, yaitu dengan memunculkan suara-suara yang sama seperti yang ada dalam jiwa si anak, dan mulai meniupkan was-wasah-nya. Was-wasah setan terhadap anak-anak dalam kelompok umur ini berupa pikiran-pikiran yang Allah sebutkan dalam Alquran sebagai berikut:
Pertama, pikiran jahat (al-Su’). Di sini, dalam jiwanya, si anak mendengar pikiran-pikiran dan suara-suara yang mengatakan kepadanya untuk menyakiti anak-anak yang lain, bahkan juga menyakiti dirinya sendiri.
Kedua, pikiran buruk (al-Fahsya). Yaitu pikiran buruk berupa godaan yang ditupkan setan agar si anak mengeluarkan kata-kata kotor dan buruk terhadap teman-temannya, dan keluargamya.
Ketiga, menghakimi Tuhan tanpa ilmu. Dalam hal ini setan menggoda si anak untuk menanyakan dalam pikirannya terhadap sesuatu yang dia tidak pahami. Setan berusaha supaya si anak misalnya mempertanyakan dan memperolok soal-soal keagamaan yang sama sekali tidak dia mengerti.
Dalam respon terhadap waswasah setan ini, anak-anak terbagi menjadi dua kelompok: pertama, adalah kelompok yang memenuhi dan melakukan pikiran yang dibisikkan oleh setan sehingga mereka pun lalu menyakiti temannya atau mengeluarkan kata-kata kotor; kedua, adalah kelompok yang tidak melakukan apa yang dimaui oleh setan, akan tetapi mereka tidak mengetahui dari mana sumber pikiran-pikiran itu. Yang terjadi kemudian adalah anak-anak itu diliputi oleh kekhawatiran dan keresahan.
Terhadap kelompok kedua itu, setan tidak kehabisan akal, ia lalu membisikkan pikiran-pikiran lain misalnya pikiran tentang nasib si anak yang tidak sama dengan anak-anak lainnya, atau meniupkan ketakutan-ketakutan terhadap banyak hal. Tidak jarang juga setan memasukkan pikiran kepada si anak dengan mengatakan bahwa jika dia (si anak) memegang benda tertentu maka ia akan mudah mengerjakan soal-soal ujian, atau menjadi orang yang bahagia. Pikiran-pikiran semacam inilah yang digunakan setan terhadap kaum pagan penyembah berhala, dengan mengatakan bahwa patung-patung itu akan memberikannya kebahagaiaan hidup.
Kita bisa saja bertanya-tanya mengapa setan melakukan waswasah ini kepada anak-anak seumuran ini? Jawabannya terdapat dalam Alquran di mana Allah mendeskripsikan setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia. Jika kita perhatiakan statemen Allah dalam Alquran itu, kita akan menemukan bahwa bahwa setan melakukan semua ini karena dia ingin menyakiti manusia, dan sekaligus membuatnya resah dan khawatir. Ini adalah perilaku musuh. Bukan teman! Setan juga ingin manusia tersesat dari jalan Allah swt.
B. Usia 12 sampai 18 tahun
Pada tingkatan ini dalam waswasah-nya setan meniupkan pikiran-pikiran berikut:
Pertama, pikiran jahat (al-Su’). Sama seperti tingkatan umur sebelumnya setan meniupkan pikiran kepada anak untuk menyakiti orang lain, dan juga menyakiti diri sendiri. Namun dalam kelompok umur ini, ada penambahan kekuatan fisik pada diri si anak, sehingga setan memanfaatkannya dengan cara-cara baru dalam menyakiti orang lain.
Kedua, pikiran buruk (al-Fahsya). Pada kelompok umur sebelumnya hal ini telah ada, dan ditingkatkan intensitas pada kelompok umur kedua ini. Di sini setan mulai meniupkan pikiran dan khayalan tentang hubungan biologis sehingga si anak dapat terjatuh dalam perbuatan zina.
Ketiga, menghakimi Tuhan tanpa ilmu. Sudah mulai ada kematangan akal pada kelompok usia ini. Mereka sudah bisa memikirkan dan menganilsa banyak persoalan. Di sinilah setan mulai meniupkan pikiran-pikiran jahat tentang Allah, rasul dan agamanya.
C. Usia 18 tahun ke atas
Pada tingkatan ini, setan meniupkan waswasah-nya dengan pikiran-pikiran berikut:
Pertama, pikiran jahat (al-Su’). Di sini setan meniupkan pikiran untuk menyakiti orang lain, dan juga menyakiti diri sendiri. Jika seorang manusia sudah menikah, maka pikiran itu ditiupkan pada ayah atau ibu untuk menyakiti anak-anak mereka.
Kedua, pikiran buruk (al-Fahsya). Pikiran tentang zina juga berlanjut pada kelompok umur ini. Setan misalnya meniupkan pikiran kepada suami atau isteri bahwa pasangannya telah berkhianat sehingga ada alasan untuk melakukan perselingkuhan plus.
Ketiga, menghakimi Tuhan tanpa ilmu. Sama seperti kelompok umur sebelumnya, kematangan akal yang ada pada manusia dimanfaatkan setan untuk meniupkan pikiran-pikiran jahat tentang Allah, rasul dan agamanya, dengan intensitas dan kualitas yang lebih besar.
Pada tiap-tiap kelompok umur itu, setan juga terus berusaha untuk menanamkan kedengkian, rasa tidak percaya diri, dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan. Setan misalnya mengatakan: “lihatlah tetanggamu, dia punya semuanya, sedangkan kamu tidak memiliki apa-apa”. Di sinilah setan menanamkan kedengkan dan ketidaksyukuran terhadap nikmat-nikmat Tuhan.
Langkah-langkah Penanganan Gangguan Kejiwaan Akibat Bisikan Setan
Pertama, adalah dengan meneguhkan keimanan yang kut dalam jiwa melalui pelaksanaan ibadah-ibadah wajib dan sunnah seperti shalat, puasa, membaca Alquran dlsb. Memohon kepada Allah untuk dihidarkan dari penguasaan setan terhadap jiwa kita.
Kedua, mengetahui sumber pikiran-pikiran buruk itu adalah dari setan, dan bukan dari jiwanya. Setelah itu jangan melakukan apa yang dibisikinya.
Ketiga, jangan pernah berputus asa dalam menghadapi waswasah setan, khususnya ketika pikiran-pikiran itu secara terus menerus ditiupkannya. Manusia harus menjaga kedekatannya dengan Allah agar terhindar dari tipuan setan. Wallah A’lam
Palu, 18 November 2010
Kampus STAIN Palu
Referensi: Mawsuah I’jaz Ilmi Fil Quran

6 Komentar

Filed under Uncategorized

Alquran dan Pengobatan Gangguan Psikologis (Bagian Satu)

Didin Faqihudin
Dosen STAIN Datokarama Palu

Gangguan psikologis dan menurunnya kesehatan psikologis hampir terjadi pada semua orang dengan tingkatan yang berbeda-beda. Masalah ini bukan monopoli (baca: hanya terjadi pada) kelompok umur tertentu, namun terjadi pada setiap kelompok umur dari yang kecil sampai yang dewasa. Gangguan dan tekanan psikologis ini membawa manusia pada suasana murung, duka, khawatir, merana dan sekaligus nenurunkan produktifitas kerja individu.
Salah satu di antara kasih sayang Allah terhadap manusia adalah bahwa Dia telah menurunkan Alquran yang berisi pengetahuan dan metode terbaik dalam mempelajari kesehatan psikologis, sebab-sebab terjadinya tekanan psiklogis, dan juga berisi penanganan kuratif mumpuni terhadapnya. Allah menegaskan dalam Alquran: “Dan Kami turunkan di dalam Alquran, sesuatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi kaum beriman…” (QS. Al-Isra: 82)
Pandangan keilmuan kontemporer mengatakan bahwa penyakit-penyakit psikologis pada diri manusia itu adalah suara-suara yang manusia dengar dari dalam jiwa dan pikirannya yang kemudian membawanya pada situasi yang penuh dengan kekhawatiran. Diyakini bahwa suara-suara ini adalah akibat dari terjadinya semacam “keadaan tidak seimbang tiba-tiba” yang terjadi di dalam otak yang menyebabkan rotasi syaraf dalam otak menyampaikannya kepada manusia sehingga ia mendengarnya. Diagnosa ini sangat keliru karena beberapa sebab, antara lain bahwa diagnosa ini bertentangan dengan rahmat Allah yang mendesain manusia atas dasar kasih sayang. Tidak masuk akal jika otak secara tiba-tiba mengeluarkan semacam suara-suara yang pada akhirnya membuat manusia menjadi khawatir, sedih, dan labil.
Allah swt. dalam kitab Alquran memberikan identifikasi secara tepat di mana Dia (Allah swt.) mendeskripsikan pengaruh setan terhadap manusia: “Dan rayulah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu” (QS. Al-Isra: 64). Asal makna kata istifzaz dalam ayat ini adalah “menipu” dan “merayu”. Dalam hal ini setan melakukan penipuan dan rayuan dengan suaranya.
Namun persoalannya sekarang adalah apa suara setan itu? Untuk mencari jawabannya tentu kita harus mencarinya dari keterangan Alquran dan sunnah Nabi Muhammad saw. Penjelasan berikut mudah-mudahan bisa menjelaskan apa yang dimaksud suara setan itu: “ketika seseorang tengah memikirkan sesuatu hal, kadang-kadang dalam pikirannya ia mendengar suara yang sesuai dengan yang dipikirkannya. Ini alamiah, karena ia merupakan suara jiwanya. Dalam syariat Islam, kita mengetahui bahwa setiap manusia memiliki qarin (suatu makhluk dari bangsa setan yang selalu menggodanya). Namun bagaimana qarin ini menggoda manusia? Qarin ini berusaha untuk menyesuaikan suaranya dengan suara jiwa manusia dari segi kecepatan dan intonasinya. Dengan bahasa apapun manusia berbicara, maka sang qarin mampu bersuara dengan bahasa itu dalam merayunya. Manusia pun kemudian mendengar suara dalam pikirannya yang sama persis dengan suara jiwanya, sehingga ia menduga bahwa jiwanyalah yang sedang berbicara dengannya.
Namun pikiran-pikiran yang dihembuskan oleh suara-suara ini adalah pikiran-pikiran jahat (misalnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain), dan buruk (misalnya pikiran untuk melakukan perbuatan zina). Setan menipu manusia dengan membuatnya percaya bahwa pikiran-pikiran itu berasal dari dalam jiwanya dan merupakan kebenaran.
Pengaruh yang dihembuskan oleh setan terhadap manusia inilah yang menjadi sebab dari apa yang diyakini manusia sebagai penyakit psikologis. Allah menegaskan dalam Alquran bahwa setan menipu dan menggoda manusia dengan suaranya. Dan pikiran-pikiran yang dihembuskan oleh setan termaktub dalam Alquran demikian: “Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. al-Baqarah: 169).
Pembuktian ilmiah akan adanya pengaruh setan terhadap manusia dapat kita dilihat pada hasil penelitian ilmiah tentang pikiran-pikiran yang didengar oleh penderita gangguan psikologis yang dilakukan oleh salah seorang dokter ahli jiwa di Inggris bernama Dr. Andrew Lewis. Menurut beliau pikiran-pikiran yang didengar oleh penderita gangguan psikologis ini berkisar pada tiga hal: (1) kejahatan yang merugikan dan membahayakan; (2) nafsu dan birahi; (3) fitnah.
Hasil penelitian ini sesuai benar dengan apa yang disinyalir oleh Alquran (2: 169) di atas.
Dari sini kita dapat mengambil suatu ketetapan bahwa jika pikiran atau suara dalam jiwa manusia bertentangan dengan petunjuk Allah maka sesungguhnya itu berasal dari setan dan bukan dari jiwa manusia. Sementara jika pikiran atau suara itu datang bersesuaian dengan petunjuk Allah seperti pikiran untuk menolong orang lain, maka sesungguhnya itu berasal dari kasih sayang Allah terhadap manusia itu.
Dalam kaitannya dengan respon terhadap pikiran-pikiran yang ditiupkan setan, manusia dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian:
Pertama, kelompok manusia yang meyakini bahwa pikiran-pikiran ini berasal dari dalam jiwanya. Mereka menganggap bahwa diri mereka adalah orang-orang yang sangat hebat dan memiliki kemampuan dalam menganalisis dan menyelesaikan berbagai hal dengan cara-cara yang bertentang dengan cara-cara Allah, di mana orang lain tidak mampu melakukannya. Orang-orang semacam ini mengikuti dan menjalankan tipu daya setan.
Kedua, kelompok manusia yang mengetahui bahwa pikiran-pikiran ini adalah salah dan tidak melaksanakannya. Namun karena ada sebagian di antara mereka yang tidak mengetahui sumber asal pikiran tersebut, maka kemudian ini menjadikan mereka merasa sempit, gundah, dan kurang produktif. Mereka inilah yang kemudian disebut penderita gangguan psikologis.
be continued……
Palu, 08 November 2010
Kampus STAIN Datokarama
Referensi: Mawsuah I’jaz Ilmi Fil Quran

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

WAJAH SEBAGAI CERMIN JIWA

Didin Faqihuddin
Alumnus Pondok Pesantren Darul Amal Bekasi
Dosen Bahasa Arab STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Dalam salah satu ayatnya, Alquran menyebutkan bagaimana seorang manusia yang ditimpa kesusahan dan kesedihan, wajahnya menjadi merah padam. “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.” (QS. al-Nahl : 58)
Isyarat Alquran ini memberikan satu hakekat penting bahwa wajah merupakan cermin diri. Seseorang bisa mengenali kondisi sahabatnya dengan hanya melihat wajahnya. Alquran menyatkan: “…niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu…” (QS. al-Hajj : 72). “Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS. al-Hajj : 72)
Nilai kemu’jizatan ilmiah ayat-ayat Alquran ini baru diketahui belakangan ini, setelah ilmu pengetahuan mengalami kemajuan. Kajian-kajian kedokteran dan psikologi menyatakan bahwa wajah benar-benar merupakan cermin jiwa—persis seperti diungkapkan Alquran ratusan tahun silam.
Kedokteran modern mengatakan bahwa wajah memiliki 55 otot yang kita gunakan tanpa kehendak dan kesadaran kita dalam mengekspresikan berbagai perasaan dan kesan. Otot-otot itu dikelilingi oleh syaraf-syaraf yang mengantarkannya ke otak. Melalui otak itulah otot-otot wajah berhubungan dengan seluruh otot yang ada dalam tubuh manusia. Demikian juga wajah memantulkan apa yang bergejolak dalam dada manusia, atau apa yang dirasakan oleh satu bagaian tertentu dalam tubuh manusia. Rasa sakit akan kelihatan secara jelas pertama kali di wajah. Demikian juga perasaan senang dan bahagia secara jelasa akan terlihat di wajah. Setiap kebiasaan, yang baik dan yang buruk, akan membuat jejak yang mendalam di wajah. Oleh karena itu wajah merupakan satu-satunya bagian tubuh manusia yang dapat mengabarkan keadaannya. Tidak ada angota tbuh lain yang dapat kita gunakan untuk membaca keadaan seseorang. Bahkan para ilmuwan mengatakan bahwa kita bisa membaca karakter dan akhlak seseorang melalui garis-garis wajahnya. Garis-garis wajah yang sedang di sekitar mata bersumber dari banyak ketawa dan tersenyum, sedangkan garis wajah yang dalam di sekitar mata menunjukkan kesedihan dan pesimisme. Para orator, pengacara, dan aktordi tengah-tengah wajah mereka ada garis-garis mendalam sampai ke dagu. Para penulis dengan menggunakan mesin ketik dan komputer, para penjahit dan mereka yang pekerjaannya memaksa mereka untuk mengangguk-anggukan kepalanya maka garis-garis wajahnya akan terlihat di bawah dagunya.
Dr. Casis Carel seorang peraih nobel bidang kodokteran berkata: “Sesungguhnya keadaan wajah dipengaruhi oleh keadaan otot-otot yang bergerak di bawah kulit, dan keadaan otot-otot itu dipengaruhi oleh pikiran…”
Wajah juga mengekspresikan hal-hal yang lebih dalam daripada sekedar perasaan seseorang, di mana kita bisa membaca, bukan hanya sifat-sifat buruk seseorang, kecerdasannya, keinginannya, emosinya dan kebiasaan-kebiasaannya, tetapi juga sifat alamiah tubuhnya dan kesiapannya menghadapi berbagai penyakit badan dan pikiran. Dengan hanya melihat wajah seseorang sedikit lebih cermat, kita akan bisa melihat kondisi raga dan jiwanya.
Demikianlah, ilmu manusia pada akhirnya sampai juga pada sesuatu yang sesungguhnya telah Alquran tegaskan lebih dari 14 abad yang lalu bahwa wajah merupakan cerminan jiwa. Wajah mencerminkan perasaan yang ada di dalam jiwa seseorang. Kita dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa seseorang tengah berada pada situasi yang membahagiakannya atau pada situasi yang membuatnya sedih, hanya dengan melihat wajahnya. Maha Suci Allah yang ayat-ayat-Nya penuh dengan kebenaran.
Kampus STAIN Palu, 27 Oktober 2010
Referensi: Mawsuah I’jaz Ilmi Fil Quran

7 Komentar

Filed under Uncategorized

SEKOLAH IBNU SINA

Didin Faqihuddin
Dosen STAIN Datokarama Palu

Sekolah al-Farabi adalah satu sekolah di Baghdad, dan dikenal dengan nama Sekolah Baghdad. Kegemilangannya banyak berasal dari orang-orang Nasrani, mulai dari Abu Basyar Matta dan Yuhana Bin Hailan. Puncaknya adalah al-Farabi dan muridnya Yahya bin ‘Uday. Sekolah al-Farabi sangat bertentangan dengan sekolah al-Kindi, baik metode maupun objeknya.
Sedangkan Sekolah Ibnu Sina yang muncul di Persia, sangat bertentangan dengan sekolah Baghdad. Yang pertama meremehkan pandangan-pandangan dan penafsiran-penafsiran yang kedua, juga mengkritik para pemimpinnya, kecuali al-Farabi. Dalam kitab Mabâhitsât, (lih. Aristhu ‘Inda al-Arab, karya Abd al-Rahman Badawi, hal. 120-22) Ibnu Sina berkata: “…manusia berbeda pendapat tentang persoalan jiwa dan akal. Mereka bodoh tentang hal itu, apalagi orang-orang Nasrani dari kota Salam”. Kota salam adalah Baghdad. Kemudian Ibnu Sina berbicara tentang pokok pandangannya mengenai jiwa dan akal dan persoalan-persoalan lain. Ia mengatakan bahwa kitabnya al-Syifâ’, dapat menghilangkan keraguan mengenai hal itu dan sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan jiwa dan akal. Ibnu Sina juga mengarang satu kitab yang berjudul al-Inshâf, di mana ia membagi ulama menjadi dua; Kelompok Masyriqi (ulama-ulama Persia) dana Kelompok Maghribi (ulama-ulama Syam dan Baghdad). Ibnu Sina mengemukakan perbedaan antara kedua kelompok dengan sangat netral. Di buku tersebut Ibnu Sina berbicara tentang “Teologia” Aristoteles. Ia juga menyinggung kekacauan pikiran para penafsir. Akan tetapi dalam suatu penaklukan (peperangan), buku ini kemudian menghilang. Seperti dikatakan oleh Ibnu Sina, buku itu “berisi tentang ringkasan kelemahan dan kebodohan orang-orang Baghdad”. Akan tetapi ia mengecualikan sang guru kedua (al-Farabi) dari kedunguan dan kebodohan itu.
Ibnu Sina telah mewariskan kita catatannya sendiri tentang riwayat hidupnya, yang kemudian disempurnakan oleh muridnya, Abu ‘Ubaid al-Juzjani. Dengan begitu, mudahlah kita mengetahui detail kehidupan ilmiahnya, caranya mengajar dan bagaimana ia mencurahkan hidupnya untuk majlis ta’lîm (majlis pengajaran). Dialah Syeikh Kepala, Abu Ali al-Husain ibn Abdullah ibn al-Husain ibn Ali bin Sina. Dilahirkan pada tahun 370 H dan wafat pada tahun 428 H. “Syeikh”, menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang sangat tinggi ilmunya, sedangkan “Kepala”, boleh jadi karena ia mengepalai suatu departemen, akan tetapi yang paling umum adalah bahwa gelar tersebut menunjukkan Ibnu Sina adalah pemimpin para filosof. Ayahnya dari Balkh, pindah ke Bukhara pada masa gubernur Nuh bin Manshur. Belajar nahwu, bahasa, al-Qur’an dan sastra di Bukhara sejak kecil. Ayahnya sering berkumpul dengan da’i dari kelompok Isma’iliyah. Dari sana Ibnu Sina mendengar pembicaraan tentang jiwa, akal, filsafat dan teknik. Kemudian ia mempelajari ilmu hitung India dari seorang penjual kol. Ia juga mempelajari mantiq, astronomi dan kedokteran. Kemudian ia kembali mempelajari ilmu-ilmu filsafat secara otodidak. Akhirnya ia membaca buku Metafisika-nya Aristoteles yang sama sekali ia tidak dapat memahaminya sampai kemudian ia membeli buku al-Farabi yang menjelaskan pokok-pokok dari buku tersebut, ia pun menjadi faham. Ia bergaul dengan Nuh bin Manshur. Yang kedua ini mengagumi kecerdasan yang disebut pertama. Ia pun memasukkan al-Farabi ke dalam perpustakaannya dan mampu menghafal di luar kepala apa yang ada di sana. Ibnu Sina berpindah-pindah di kota Persia sehingga ia samapi di kota Jurjan di mana kemudian al-Juzjani menemuinya dan mendorongnya untuk menulis buku. al-Juzjani mengabdi pada Ibnu Sina dengan penuh kesungguhan.
Di Jurjaan, Ibnu Sina dibelikan sebuah rumah oleh Abu Muhammad al-Syirazi yang kemudian menempatkan Ibnu Sina di sana. Al-Juzjani ikut tinggal bersama Ibnu Sina di rumah itu. Boleh jadi Ibnu Sina menerima murid lain selain al-Juzjaani itu. Di tempat tersebut, Ibnu Sina mendiktekan satu kita berjudul al-Mabdâ wa al-Ma’âd, Awwal al-Qânûn dan banyak risalah lainnya. Ibnu Sina kemudian pindah ke Ray, di mana ia mengabdi kepada gubernur. Kemudian ia pindah lagi ke Quzwain dan dari sana ia pindah ke Hamdan dan berhubungan dengan gubernur yang kemudian menugaskannya di sebuah departemen.
Selama memegang jabatan di departemen ini, ia mengarang dua buku utamanya; al-Syifâ’ di bidang filsafat dan al-Qanûn di bidang kedokteran. Al-Juzjani mendeskripsikan majlis Ibnu Sina: “setiap malam di rumahnya berkumpul para penuntut ilmu. Aku membaca sebagian dari kitab al-Qanûn, dan pelajar lain membaca sebagian. Jika kami selesai belajar, datanglah panganan dan minuman untuk kami. Kegiatan belajar dilakukan di malam hari karena di siang hari sibuk mengabdi kepada gubernur”. Biasanya Ibnu Sina mendiktekan bukunya kepada muridnya, hanya kadang-kadang saja ia menulis sendiri.”
Ketika muridnya bertambah banyak, reputasinya semakin bersinar. “Gubernur ‘Ala’ al-daulah membuat program pengkajian setiap malam jum’at. Di sana hadir semua kelompok ulama dan syeikh dari berbagai disiplin ilmu”
Al-Juzjani tidak menyebutkan seorang pelajar pun dalam biograpi Ibnu Sina yang ditulisnya, khususnya muridnya yang bernama Abu al-Hasan Bahmaniar yang selalu mengikuti Ibnu Sina dalam majlis belajarnya ketika ia memegang jabatan menteri. Al-Juzjani bercerita: “Aku dan sekelompok pelajar Ibnu Sina menghadiri majlis belajarnya setiap sabtu pagi. Tepat di pagi itu tampak oleh Syekh adanya kelesuan di wajah kami, beliau lalu berkata: sepertinya kalian telah menghabiskan malam kalian dengan sia-sia. Kami pun berkata “benar”, kemarin kami bersama sekelompok teman berekreasi, sehingga kami tak sempat menelaah pelajaran. Mendengar hal itu, Syeikh menarik nafas panjang, air matanya berlinang, sambil berujar: “Yang lebih aku sedihkan adalah seorang atlet yang memperoleh puncak prestasinya sehingga membuat takjub dan kagum ribuan orang karena prestasi fisiknya itu. Akan tetapi kalian, dengan banyaknya pengetahuan yang kalian miliki, sama sekali tidak mempunyai kedudukan dan nilai. Kalian lebih memilih untuk bermain dari pada mencari ilmu, sehingga kalian, dengan kemampuan spiritual kalian, tidak mampu memperoleh suatu kedudukan spiritual yang membuat kagum orang-orang bodoh sepanjang zaman”. Bahmaniar wafat pada tahun 458 H. Kitab terpenting yang dikarangnya adalah al-Tahshîl di mana ia menjelaskan filsafat Ibnu sina.
Di antara murid Bahmaniar adalah Abu al-Abbas al-Lukriy, seorang ahli ilmu hikmah. Dari dialah ilmu hikmah tersebar di Khurrasan. Dari Abu al-Abbas belajarlah Afdhal al-Din al-Ghailaniy, dan dari Ghailaniy belajarlah Shadruddin al-Sarkhasiy (w. 545 H), dan dari Sarkhasiy belajarlah Farid al-Din al-Nisaburiy. Yang terakhir ini adalah guru dari Nashr al-Din al-Thusi, murid terakhir sekolah Ibnu Sina, pensyarah kitab al-Isyârât karya Ibnu Sina, pembaharu pengajaran filsafat dan matematika dan pemilik kajian keilmuan tempat berkumpulnya banyak pelajar-pelajar ilmu filsafat, teknik dan logika. Al-Thusi wafat pada tahun 672 H, sekolah al-Thusiy berkembang dan memperoleh puncaknya di tangan Mirdamad (1401 H) di Isfahan bersama murid-muridnya.
Apakah ajaran-ajaran Ibnu Sina itu?
Ajaran-ajarannya adalah pengembangan dari pendapat-pendapat al-Farabi. Namun Ibnu Sina mempunyai andil dengan penambahan ungkapan-ungkapan yang lebih luas dan penjelasan-penjelaan yang lebih banyak. Ibnu Sina sendiri sebenarnya lebih sebagai seorang dokter ketimbang sebagai seorang filosof. Bukunya al-Qânûn fi al-Thibb menjadi rujukan dalam ilmu kedokteran di Eropa Latin sampai awal abad XVIII M. Filsafat Ibnu Sina terpengaruh oleh ilmu kedokterannya dalam menciptakan metode eksperimental yang cermat. Sedangkan dalam ilmu filsafat, bukunya yang berjudul al-Syifâ’ dianggap sebagai sebuah ensiklopedia filsafat yang mencakup logika, ilmu alam, matematika dan Ilahiyat, jika diukur dengan apa yang telah disusun oleh Aristoteles atau oleh filsafat peripatetik. Ibnu Sina telah mengikuti guru pertama dan para pensyarahnya dengan menggabungkan berbagai pendapat dan menyerasikannya. Pengaruhnya dalam ilmu mantiq (logika) tidak dapat diingkari, dan tak diragukan lagi bahwa ia bertanggung jawab atas tersebarnya ilmu mantiq dalam bentuknya yang sekarang di dunia Arab. Bukunya yang berjudul al-Bashâ’ir al-Nashîriyah dalam ilmu logika–yang telah di-tahqiq (diedit) dan dipublikasikan oleh Muhammad Abduh sekaligus mengajarkanya—diangap sebagai ringkasan inti dari pandangan-pandangan Ibnu Sina.
Pengaruhnya dalam ilmu Ilahiyyat tidak kurang dibanding dalam ilmu logika. Yang dimaksud dengan ilmu Ilahiyyat adalah apa yang kita namakan sekarang dengan metafisika. Di sini ia berbicara tentang “yang wajib” atau “yang wajib ada”, tentang kebersambungan “being”-“being” dari “yang wajib” itu, juga tentang sebab-sebab. “Yang wajib ada” adalah yang ketika diasumsikan tidak ada, maka akan dikatakan mustahil. “Yang mungkin ada” adalah apa yang jika diasumsikan ada atau tidak ada, maka tidak dikatakan mustahil. Di muka telah kita ketahui bahwa Ibnu Sina telah mendeskripsikan Allah sebagai al-Haq (yang Maha benar), sedangkan al-Farabi mendeskripsikanya sebagai al-Wahid (Yang Satu). Di sini kita melihat pandangan Ibnu Sina yang bersifat eksistensialis dan rasionalis. Allah adalah sesuatu yang wajib ada karena zat-Nya. “Wajib” adalah konsep logika yang berlawanan dengan “mustahil” dan ditengahi dengan “al-mumkin”. Al-Maujûd adalah batu sudut dalam filsafat peripatetik (Aristoteles), sedangkan al-Wâhid adalah, seperti yang kita lihat, berada di atas “al-wujûd” (being) dalam filsafat Plotinus.
Tegasnya perbedaan antara guru kedua (al-Farabi) dan syeikh kepala (Ibnu Sina) adalah bahwa al-Farabi cenderung kepada Platonisme, sedangkan Ibnu Sina lebih condong kepada filsafat peripatetik. Ini bukanlah satu-satunya perbedaan anatar kedua filosof ini dan kedua mazhabnya, karena pada akhir hayatnya, Ibnu Sina menciptakan satu filsafat lain yang berbeda dengan filsafat peripatetik. Ia mrenjelaskan hal itu dalam kitabnya al-Syifâ’ dan al-Najât. Filsafat ini ia namakan filsafat ketimuran, seperti tercermin dalam kitab “al-Isyârât”. Filsafat ketimuran ini bersifat iluminatif dan sufistik.
Al-Ghazali (450-501 H) menulis kitab Tahâfut al-Falâsifah ketika ia melihat banyak pendapat Ibnu Sina yang membahayakan ajaran Islam. Dalam kitab ini al-Ghazali mengkafirkan para filosof dalam 20 masalah, terutama masalah qidam-nya alam, ketidaktahuan Allah terhadap hal-hal yang partikular serta penolakan terhadap kebangkitan. Banyak tuduhan al-Ghazali yang tidak beralasan. Akhirnya filsafat diisolasi dan dimasukkan ke dalam ilmu kalam yang kemudian dinamakan dengan ilmu tauhid. Wallahu a’lam
Palu, 28 April 2010
Kampus STAIN Datokarama
Referensi : Ahmad Fuad al-Ahwani / MF

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

AL-QUR’AN MEKAH

Didin Faqihuddin
Alumnus Ma’had Islam Darul Amal, Bekasi Jawa Barat
Staf Pengajar STAIN Datokarama Palu

Ada dua al-Quran: al-Quran Mekah dan al-Quran Madinah. Tidak ada perbedaan mendasar antara keduanya, kecuali bahwa al-Quran Madinah lebih kaya dan lebih banyak isinya. Sebabnya adalah karena fase keduanya memang berbeda.
Fase Mekah adalah fase pembentukan keyakinan (akidah) di suatu wilayah yang sangat keras yang pada awalnya menentang akidah Islam. Orang Mekah menentang akidah Islam bukan karena ingin mempertahankan dan memenangkan akidah syirik (politeisme). Tetapi mereka menentang akidah islam karena menolak ajaran Islam yang menghilangkan kesenangan-kesenangan mereka. Patung-patung berhala bagi orang-orang Quraisy bukan sesuatu yang suci dan harus dipertahankan mati-matian. Pataung-patung tersebut adalah smber ekonomi kekayaan mereka. Menyerang berhala tidak lain berarti mencegah orang-orang akan kembali melakukan ibadah haji yang bernilai ekonomis. Mekah selain sebagai pusat tuhan-tuhan dan berhala-berhala suku-suku Arabia, adalah juga sebagai pusat perdagangan bagi seluruh bangsa Arab. Mekah juga pada saat yang sama adalah tempat transit penting bagi jalur perdagangan internasional utara, selatan, timur dan barat.
Mereka menyerang Islam karena takut Islam akan menghancurkan sumber ekonomi mereka. Alquran mengisyaratkan hal ini :
Artinya: Dan mereka berkata: “Jika Kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya Kami akan diusir dari negeri kami”. dan Apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. al-Qashash : 57)
Ayat ini secara jelas menegaskan bahwa mereka meyakini Islam sebagai agama yang benar (haq). Kata hudan (petunjuk) dalam ayat itu jelas merupakan pengakuan akan kebenaran Islam. Namun kepentingan ekonomi lebih penting bagi mereka. Kata nutakhattaf (kami diusir) berarti bahwa : “orang Arab akan mengusir kami dari Mekah dengan segala kemudahan ekonomi di dalamnya sehingga kami akan kehilangan sumber rejeki kami”.
Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh ucapan Abu Jahal ketika ditanya oleh seseorang apakah Muhammad pernah berbohong. Abu Jahal menjawab: “Bagaiamana dia berbohong sementara kami menggelarinya al-Amin (yang sangat terpercaya), karena tidak sekalipun dia pernah berbohong. Namu jika bani Abdi Manaf (keluarga Nabi Muhammad) yang memegang seluruh kebijakan Mekah, lalu mereka mendapatkan nubuwah, lalu apa yang tersisa untuk kami?”
Al-Quran Mekah datang untuk mengubah kondisi dan situasi ini. Islam datang untk menempatkan akidahnya menggantikan keyakinan ekonomi. Menempatkan hukum syariah menggantikan fanatisme kesukuan. Serta menempatkan ibadah satu Tuhan untuk menggantikan politeisme.
Orang-orang Mekah adalah kelompok masyarakat yang mengingkari sesuatu yang gaib; mengingkari hari kebangkitan dan pembalasan. Mereka adalah penganut eksistensialisme-hedonistik-materialistik. Banyak kebiasaan buruk dalam kehidupan mereka seperti mencuri, berperang, membunuh anak perempuan, dlsb. Namun demikian banyak juga sifat-sifat baik yang mereka miliki seperti keberanian, kemurahan, dlsb.
Pada masyarakat seperti inilah tema-tema al-Quran Mekah turun. Dengan tujuan meluruskan dan memperbaiki nilai-nilai asasi yang berhubungan dengan persoalan akidah, keimanan dan amal soleh. Dalam al-Quran Mekah terdapat pula seruan kepada Sang Nabi untuk bersabar dalam menghadapi kaumnya sambil bertawakal kepada Allah, sekaligus mengambil pelajaran dari para nabi sebelumnya.
Kesimpulannya bahwa tema-tema al-Quran Mekah adalah tema-tema yang berhubungan dengan akidah berupa keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan qadar. Wallahu A’lam.
Palu, 31 Maret 2010
Referensi : Dr. Muhammad Abdurrahman / al-Quran al-Makki Wal Quran al-Madani.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

SEKOLAH JUNDISAFUR

Didin Faqihuddin
Dosen STAIN Datokarama Palu
Sulawesi Tengah

Sekolah ini adalah titik penghubung antara filsafat Yunani dan filsafat Arab, meskipun sekolah ini berada di Persia. Sedangkan bagaimana filsafat Yunani berpindah ke sana, khususnya filsafat Iskandariah yang mempunyai kecenderungan ilmiahnya, inilah riwayat yang perlu kita simak.
Pertentangan antara Persia dan Yunani belum selesai setelah Yunani tunduk kepada Romawi bersamaan dengan meluasnya kekuasaan negara Romawi. Karena itu pertentangan ini pun berpindah pula, terjadi antara Persia dan Romawi. Romawi selalu menang melawan Persia ketika Kekaisaran Romawi dalam keadaan kuat. Maka ketika ia mulai melemah dan kehilangan kekuatan, pasukannya porak poranda berhadapan dengan pasukan Persia.
Dalam diskusi kita tentang Plotinus pada pembahasan yang lalu, kita telah menyinggung bahwa yang tersebut ini telah bergabung dalam pasukan Kaisar Giordian III ke Persia. Saat itu Plotinus bermaksud mempelajari berbagai mazhab dan hikmah yang ada di timur. Akan tetapi ekspedisi ini gagal, hal mana membuat Plotinus kembali ke Roma dan membuka sekolahnya. Perang pun pecah karena Persia didukung oleh Ardacher. Ketika keadaan kembali pulih, Ardacher di utus ke Roma pada tahun 230 M di mana ia menantang sang Kaisar dan memintanya untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang dulunya merupakan bagian Persia seperti Asia Kecil dan Suria. Ardacher wafat pada tahun 241 M ketika peperangan pecah yang dipicu oleh anaknya Syabur (241-272). Bertemulah pasukan Syabur dengan pasukan Geordian yang dulu pernah kalah. Akan tetapi luka yang dialami Geordian membuat perang dihentikan. Timbullah kesepakatan bahwa Persia menguasai Armenia, sedangkan Roma menguasai Irak. Kemudian pada tahun 258 perang pecah kembali. Pasukan Romawi dipimpin oleh Kaisar Phalirian. Sang Kaisar dikepung dan kalah, Ia bersama pasukannya kemudian ditawan.
Syabur memperlakukan para tawanan dengan baik. Ia bahkan mendapatkan keuntungan dari kebebasan yang diberikannya kepada para tawanan itu. Di antara mereka banyak ahli seni, dokter, insinyur dan ahli-ahli lainnya. Mereka inilah yang telah melakukan pembangunan bendungan besar di sungai Dijjil di Tustar dan dikenal dengan nama “Syazirwan Tustar”. Syabur menempatkan para tawanan itu di satu daerah dekat kota Sous dan dekat pula dengan Tustar. Mereka membangun sebuah kamp yang nantinya menjadi kota “Jundisapur” artinya kamp Sabur. Kota tersebut bersinar dan menjadi pilar wilayah Khuzastan pada masa Sasaniyah yang menjadikan kota Sous sebagai persinggahan musim dingin dan kota Jundisapur sebagai persinggahan musim panas karena air dan udaranya yang sejuk. Seperti dikatakan oleh al-Mas’udi dalam kitabnya Murûj al-Zahab, raja-raja Sasania sampai masa Hurmuz tetap tinggal di kota Jundisapur, Khuzastan.
Di bawah kekuasaan Persia, para tahanan tersebut mendapatkan kebebasan beragama, sesuatu yang tidak mereka nikmati pada masa kekuasaan Romawi yang menindas orang-orang Kristen sehingga membuat mereka terpaksa bersembunyi dan melakukan peribadatannya secara rahasia. Persia tidak bermaksud memerangi orang-orang Kristen, bahkan mereka dibiarkan bebas membangun gereja-gerejanya. Kemudian di bawah kepemimpinan Hurmuz, Jundisapur tidak lagi bersinar, ia kehilangan nilai pentingnya dan kemudian hancur sama sekali, sampai akhirnya datang Sabur II (362) yang membangun kembali kota tersebut mengikuti kemenangannya atas Kaisar Julian. Sejumlah orang berhasil ditawan dan kemudian ditempatkan di kota Jundisapur yang telah diperbaiki. Pada akhirnya Kristenitas berhasil mengalahkan paganisme. Maka jadilah beban pemindahan kebudayaan Yunani ada di pundak gereja. Di timur, tugas tersebut dipikul oleh orang-orang Kristen Suryan kelompok Nestorian.
Kami tidak tahu secara pasti bagaimana ihwal sekolah Jundisapur pada abad IV dan V. Tapi dipastikan bahwa Kisra Anusyirwan-lah (531-578) yang mengayomi sekolah tersebut. Ia begitu berambisi untuk menjadikan Jundisapur mirip dengan sekolah-sekolah filsafat, khususnya sekolah Iskandariah yang terkenal karena matematika, kedokteran dan filsafat. Inilah orientasi Iskandrani yang telah kita diskusikan sebelumnya. Dialah yang telah menyambut para filosof Athena yang telah diusir Justinian ketika sekolah Akademia dan sekolah Aristoteles ditutup. Ketika itu, metode Iskandrani diterapkan dalam proses belajar Jundisapur. Buku-buku yang dipakai di Iskandariah juga dipakai di sana. Bahkan bidang kedokteran dan matematikanya. Jundisapur bukanlah satu-satunya kota di Persia yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan filsafat, bahkan di kota-kota yang lain muncul juga beberapa sekolah. Dalam Mu’jam al-Buldân, Yaaqut menyebutkan hal tersebut ketika membahas Risyhar.
Kedokteran Yunani dipelajari dari dua sekolah; sekolah Epikrates yang wafat pada abad 3 M, dan sekolah Galinus yang wafat pada tahun 200 M. Galinus berasal dari Bergam, Asia Kecil. Akan tetapi sebagian besar hidupnya dilalui di Roma. Maka tentu saja ia berhubungan dengan para dokter sekolah Iskandaria. Sekolah Iskandariah sangat berpegang pada buku-bukunya. Mereka memilih 16 di antaranya yang mesti dihafal oleh setiap pelajar kedokteran. 16 buku itulah yang menjadi pegangan (rujukan) sekolah kedokteran Jundisapur dan yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani. Dari terjemahan Suryani ini kemudian diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Arab di masa penterjemahan. Di antara dokter-dokter Iskandariah yang belajar kepada Galinus adalah: Oripasius, Atisius, Ahran–orang Arab menamakannya Ahran al-Qiss–seorang dokter dan ahli nujum Yahudi yang hidup pada abad V M. Dialah yang menterjemahkan bukunya sendiri, “Kinâsyah”, ke dalam bahasa Suryani dan kemudian ke dalam bahasa Arab. Orang yang mempopulerkan buku-buku Ahran adalah seorang dokter kelahiran Persia, bermazhab Yahudi dan berbahasa Suryani, yang bernama Masirgueh–atau Masirgis. Yang tersebut ini pada masa khalifah Marwan ditugaskan untuk menterjemahkan buku Ahran ke dalam bahasa Arab.
Sekolah kedokteran Jundisapur tidak hanya menyerap ilmu kedokteran Epikrates dan Galinus saja, tetapi juga menyerap ilmu kedokteran India yang terkenal dengan akar-akaran dan rumput-rumputan karena khasiatnya, juga terkenal karena mantra-mantara dan jimat-jimatnya untuk mengusir roh-roh jahat yang mereka yakini sebagai penyebab sakit. Diriwayatkan bahwa Kisra mengundang seorang dokter dari India untuk mengajarkan ilmu kedokteran India di sekolah Jundisapur. Kisra juga memiliki concern terhadap rumput-rumputan India dan mendatangkan sebagiannya ke Persia untuk ditanam di wilayah-wilayah Jundisapur. Di antara yang didatangkan dari India adalah sukkar (gula) yang dibuat dari kulit sukkar. Kata sukkar ini adalah bahasa Sansekerta, kemudian diserap ke bahasa Persia lalu ke bahasa Arab. Pada abad IV M, gula mulai dikenal di India. Ketika sukkar (gula) ditanam di Jundisapur, maka dibangunlah tempat-tempat khusus untuk pemerasan gula. Pada waktu itu gula dimanfaatkan untuk pengobatan, dan baru pada zaman modern digantikan dengan madu lebah.
Kami mengatakan bahwa persia sangat memperhatikan ilmu kedokteran, perbintangan (nujum) dan filsafat. Ilmu perbintangan (nujum) inilah yang sekarang kita namakan dengan Astronomi, mereka sangat concern terhadap ilmu ini. Di Jundisapur, mereka membuat sebuah observatorium seperti yang ada di Iskandariah. Ketika orang Arab mentransfer ilmu ini, mereka mempelajarinya dari Persia, oleh karena itu kita menemukan banyak istilah-istilah Persia yang diArabkan.
Dalam hal filsafat, buku-buku Aristoteles, khususnya Logika, merupakan buku-buku filsafat utama yang ditransfer orang-orang Suryani karena keperluan mereka dalam kajian-kajian keagamaan.
Tampaknya, lingua franca yang dipakai di sekolah Jundisapur adalah bahasa Suryani, dengan pertimbangan bahwa di satu sisi bahasa ini adalah bahasa para guru, dan di sisi lain merupakan bahasa rujukan dalam banyak cabang ilmu pengetahuan setelah ditransfer dari bahasa Yunani ke bahasa Suryani. Maka setiap pelajar harus mempelajari bahasa Suryani supaya mereka banyak mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa para tawanan yang ditempatkan di jundisapur berbicara dengan bahasa Yunani di samping bahasa Suryani. Kemudian mereka mempelajari bahasa Persia. Sebagian buku ilmu pengetahuan tersebut telah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Persia dari bahasa Suryani. Setelah itu, ilmu-ilmu pengetahuan tersebut dan filsafat diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa Suryani. Buku-buku berbahasa Suryani tentang kedokteran Jalinus, logika Aristoteles dan sebagian buku Astronomi dan matematika inilah yang telah ditransfer oleh para penerjemah pada masa Abbasiyah. Itu terjadi setelah pembangunan kota Baghdad yang tidak terlalu jauh dari Jundisapur. Dengan dukungan para khalifah dan gubernur serta imbalan yang diberikan kepada para cendekiawan, maka ibu kota baru itu banyak menarik dokter-dokter dan cendekiawan Nestorian. Mereka meninggalkan kediaman asalnya di sekolah Persia untuk menetap di ibu kota khalifah Abbasiyah.
Khalifah pertama yang mendatangkan dokter dari Jundisapur adalah khalifah Mansur ketika ia terserang penyakit kronis. Ia lalu mengundang Georgorius bin Bakhtisyu, kepala sekolah dan rumah sakit Jundisapur. Georgorius tinggal di istana khalifah di Baghdad dari tahun 148 – 152 H, kemudian ia meminta izin untuk kembali ke Jundisapur pada masa kekhalifahan al-Hadi. Yang tersebut ini menjadikan Bakhtisyu sebagai tabib kerajaan. Akan tetapi timbul pertentangan antara dia dengan Abu Quraisy, tabib istri al-Hadi. Ia pun meminta untuk keluar dari lingkungan istana. Ketika Harun al-Rasyid memangku jabatan khalifah, ia memintanya untuk mengobati penyakit batuk menahunnya. Kemudian dari keluarga Bakhtisyu yang mengabdi di kerajaan adalah putra ketiga Bakhtisyu yang bernama Georgorius, yang pernah menjadi dokter Ja’far bin Yahya al-Barmaki dan kemudian menjadi dokternya Harun al-Rasyid, juga sebagai pemimpin para dokter. Ia juga mengabdi pada al-Amin dan al-Makmun. Georgorius ini mempunyai karya-karya kedokteran dalam Bahasa Arab. Ia wafat pada tahun 213 H.
Pada tahun 215 H al-Makmun mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad. Al-makmun menjadikan tempat ini sebagai pusat penterjemahan buku-buku berbahasa Suryani dan Yunani ke dalam Bahasa Arab. Baitul Hikmah dikepalai oleh Yunana Bin Masweih, seorang dokter Suryani dari sekolah Jundisapur. Ia kemudian hijrah ke Baghdad di mana kemudian ia membangun sebuah rumah sakit, sampai akhirnya al-Makmun mengangkatnya sebagai pemimpin Baitul Hikmah. Hunain bin Ishak adalah salah seorang muridnya yang paling terkenal dalam dunia terjemah. Banyak orang mengkritik alias keberatan terhadap Baitul Hikmah sambil mengatakan bahwa Baitul Hikmah bukanlah sekolah filsafat, melainkan pusat penerjemahan, dan yang diterjemahkan bukanlah buku-buku filsafat. Sekolah Jundisafur sendiri memang bukanlah sebuah sekolah filsafat, karena tidak ada riwayat yang menyatakan adanya filosof-filosof lulusan sekolah tersebut. Yang ada justru para dokter yang melakukan pengobatan dan mengelola rumah sakit.
Keberatan ini mempunyai sudut pandang sendiri. Akan tetapi sebenarnya bahwa sekolah Iskandariah pada masa terakhirnya di abad IV dan V, bukanlah sekolah filsafat dengan ukuran sekolah ilmiah-matematika-kedokteran, selain Neo-Platonisme yang dibangun oleh Amonios Sakkas dan diproklamirkan oleh Plotinus. Selain itu apakah kita bisa menamakan Ptolomeus, si pemilik al-Majisthi, Manileos, Nikomakos, Paphus atau yang lain-lainnya sebagai para filosof. Demikian juga para dokter seperti Oripasius dan Ahran. Apagi para ahli matematika dan dokter ini bukanlah ilmuwan-ilmuwan semacam Eukledes atau Galienus, justru mereka adalah orang-orang yang memiliki “ringkasan” dan “penjelasan” untuk kebutuhan pengajaran. Disamping itu juga, mereka mengetahui mazhab-mazhab Plato, Aristoteles, Stoik, dan filosof-filosof lain yang banyak mengetahui hikmah, sekaligus sebagai pengajar hikmah itu, di samping pengetahuan mereka terhadap matematika, ilmu alam dan kedokteran. Begitulah keadaan sekolah Jundisapur yang merupakan kelanjutan bagi pengajaran Iskandrani, khususnya tentang kedokteran. Ketika dokter-dokter sekolah Jundisapur pindah ke Baghdad, maka hal pertama yang harus mereka lakukan adalah membangkitkan gerakan penerjemahan yang memakan waktu satu abad.
Di antara para penerjemah ini, ada seorang filosof Islam dari kalangan Arab, dialah al-Kindi, filosof Arab pertama yang memiliki sekolah.

Wallahu A’lam

Palu, 22 Mareet 2010

Referensi : Ahmad Fuad al-Ahwani / MF

Tinggalkan komentar

Filed under status