TAHAPAN-TAHAPAN DAKWAH ISLAM MASA HIDUP NABI MUHAMMAD SAW. Bagian Kedua

Didin Faqihuddin
Alumnus Fakultas Adab UIN Jakarta-PPS. UIN Bandung

Dakwah Secara Terang-terangan
Ibnu Hisyam dalam kitab Sirah-nya menulis bahwa ketika sudah banyak penduduk Mekkah, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah memeluk Islam, maka nama “Islam” mulai banyak disebut orang di Mekkah. Maka Allah kemudian memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan dakwah Islam secara terang-terangan. Masa antara Nabi menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi dengan datangnya perintah Allah untuk melakukan dakwah secara terang-terangan adalah tiga tahun sejak pengangkatannya sebagai rasul. Allah berfirman: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (QS. al-Hijr [15]: 94) juga: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. al-Syu’ara [26]: 214)
Setelah itu, Nabi langsung merespon perintah Allah ini dengan menaiki puncak bukit Shafa dan menyeru: “Wahai Bani Fahr, wahai Bani ‘Uday”, sampai kemudian orang-orang berkumpul. Mereka yang tidak sempat hadir, mengirim utusan untuk mengetahui apa yang terjadi. Nabi mulai berkata: “Bagaimana pendapat kalian sekiranya aku kabarkan  bahwa di sebelah bukit ini ada satu pasukan yang hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?” Mereka menjawab: “ Kami tidak sekalipun pernah melihat engkau berdusta”. Nabi Muhammad lalu berkata: “Aku memperingatkan kalian dari azab yang sangat pedih”. Tiba-tiba Abu Lahab memaki: “Celaka engkau hai Muhammad sepanjang hari ini. Apakah cuma untuk ini, kamu mengundang kami semua?” Tidak lama setelah peristiwa ini, turunlah Surat al-Lahab.
Setelah itu Nabi turun, dan dalam rangka merespon perintah QS. al-Syu’ara [26]: 214, beliau lalu mengumpulkan keluarganya dan berkata: “Wahai Bani Ka’b bin Lua’ay, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Bani Abdi Syams, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Bani Abdi Manaf, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Bani Abdil Muththalib, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Fatimah, jagalah dirimu dari apai neraka, karena sesunggunya aku tidak memiliki apa-apa untuk membantu kalian di hadapan Allah”.
Respon yang diberikan oleh orang-orang Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad yang sudah terang-terangan ini adalah respon negatif. Mereka beralasan tidak bisa meninggalkan keyakinan yang telah mereka wariskan secara turun temurun. Dalam hal ini, Nabi mengingatkan mereka untuk membebaskan pikiran mereka dari belenggu tradisi taklid buta, untuk kemudian beralih menggunakan akal sehat mereka. Nabi Muhammad mengingatkan bahwa patung-patung yang mereka sembah itu sama sekali tidak memberikan manfaat atau mudharat apapun bagi kehidupan mereka. Pewarisan terhadap nenek moyang untuk menyembah patung-patung itu bukanlah alasan bagi mereka untuk menerimanya tanpa reserve. Alquran menyinggung hal ini demikian: “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. al-Maidah [5]: 104)
Manakala orang-orang Arab itu melihat Nabi Muhammad (baca: Alquran) mendeskripsikan ibadah mereka hanya sekedar taklid buta, apalgi nenek moyang mereka disebut-sebut sebagai orang-orang tidak berakal, merekapun menjadi marah dan mulai memusuhi Nabi Muhammad. Wallahu A’lam.
Palu, 19 November 2010
Kampus STAIN Datokarama

Referensi: Fiqh al-Sirah, Said Ramdhan al-Bhuthi

1 Komentar

Filed under Uncategorized

Alquran dan Pengobatan Gangguan Psikologis (Bagian Dua)

Didin Faqihudin
Alumnus Pondok Pesantren Darul Amal Bekasi Jawa Barat
Staf Pengajar STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Tahapan-tahapan Pengaruh Setan Terhadap Manusia
A. Usia tujuh sampai dua belas tahun.
Pengaruh setan terhadap manusia secara jelas dimulai pada usia tujuh tahun. Pada usia ini seorang anak kecil sudah mulai memiliki pemahaman dan pengertian yang bersifat parsial. Dia berusaha untuk berpikir dan menganalisis berbagai hal. Di sini setan datang dengan cara yang sama, yaitu dengan memunculkan suara-suara yang sama seperti yang ada dalam jiwa si anak, dan mulai meniupkan was-wasah-nya. Was-wasah setan terhadap anak-anak dalam kelompok umur ini berupa pikiran-pikiran yang Allah sebutkan dalam Alquran sebagai berikut:
Pertama, pikiran jahat (al-Su’). Di sini, dalam jiwanya, si anak mendengar pikiran-pikiran dan suara-suara yang mengatakan kepadanya untuk menyakiti anak-anak yang lain, bahkan juga menyakiti dirinya sendiri.
Kedua, pikiran buruk (al-Fahsya). Yaitu pikiran buruk berupa godaan yang ditupkan setan agar si anak mengeluarkan kata-kata kotor dan buruk terhadap teman-temannya, dan keluargamya.
Ketiga, menghakimi Tuhan tanpa ilmu. Dalam hal ini setan menggoda si anak untuk menanyakan dalam pikirannya terhadap sesuatu yang dia tidak pahami. Setan berusaha supaya si anak misalnya mempertanyakan dan memperolok soal-soal keagamaan yang sama sekali tidak dia mengerti.
Dalam respon terhadap waswasah setan ini, anak-anak terbagi menjadi dua kelompok: pertama, adalah kelompok yang memenuhi dan melakukan pikiran yang dibisikkan oleh setan sehingga mereka pun lalu menyakiti temannya atau mengeluarkan kata-kata kotor; kedua, adalah kelompok yang tidak melakukan apa yang dimaui oleh setan, akan tetapi mereka tidak mengetahui dari mana sumber pikiran-pikiran itu. Yang terjadi kemudian adalah anak-anak itu diliputi oleh kekhawatiran dan keresahan.
Terhadap kelompok kedua itu, setan tidak kehabisan akal, ia lalu membisikkan pikiran-pikiran lain misalnya pikiran tentang nasib si anak yang tidak sama dengan anak-anak lainnya, atau meniupkan ketakutan-ketakutan terhadap banyak hal. Tidak jarang juga setan memasukkan pikiran kepada si anak dengan mengatakan bahwa jika dia (si anak) memegang benda tertentu maka ia akan mudah mengerjakan soal-soal ujian, atau menjadi orang yang bahagia. Pikiran-pikiran semacam inilah yang digunakan setan terhadap kaum pagan penyembah berhala, dengan mengatakan bahwa patung-patung itu akan memberikannya kebahagaiaan hidup.
Kita bisa saja bertanya-tanya mengapa setan melakukan waswasah ini kepada anak-anak seumuran ini? Jawabannya terdapat dalam Alquran di mana Allah mendeskripsikan setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia. Jika kita perhatiakan statemen Allah dalam Alquran itu, kita akan menemukan bahwa bahwa setan melakukan semua ini karena dia ingin menyakiti manusia, dan sekaligus membuatnya resah dan khawatir. Ini adalah perilaku musuh. Bukan teman! Setan juga ingin manusia tersesat dari jalan Allah swt.
B. Usia 12 sampai 18 tahun
Pada tingkatan ini dalam waswasah-nya setan meniupkan pikiran-pikiran berikut:
Pertama, pikiran jahat (al-Su’). Sama seperti tingkatan umur sebelumnya setan meniupkan pikiran kepada anak untuk menyakiti orang lain, dan juga menyakiti diri sendiri. Namun dalam kelompok umur ini, ada penambahan kekuatan fisik pada diri si anak, sehingga setan memanfaatkannya dengan cara-cara baru dalam menyakiti orang lain.
Kedua, pikiran buruk (al-Fahsya). Pada kelompok umur sebelumnya hal ini telah ada, dan ditingkatkan intensitas pada kelompok umur kedua ini. Di sini setan mulai meniupkan pikiran dan khayalan tentang hubungan biologis sehingga si anak dapat terjatuh dalam perbuatan zina.
Ketiga, menghakimi Tuhan tanpa ilmu. Sudah mulai ada kematangan akal pada kelompok usia ini. Mereka sudah bisa memikirkan dan menganilsa banyak persoalan. Di sinilah setan mulai meniupkan pikiran-pikiran jahat tentang Allah, rasul dan agamanya.
C. Usia 18 tahun ke atas
Pada tingkatan ini, setan meniupkan waswasah-nya dengan pikiran-pikiran berikut:
Pertama, pikiran jahat (al-Su’). Di sini setan meniupkan pikiran untuk menyakiti orang lain, dan juga menyakiti diri sendiri. Jika seorang manusia sudah menikah, maka pikiran itu ditiupkan pada ayah atau ibu untuk menyakiti anak-anak mereka.
Kedua, pikiran buruk (al-Fahsya). Pikiran tentang zina juga berlanjut pada kelompok umur ini. Setan misalnya meniupkan pikiran kepada suami atau isteri bahwa pasangannya telah berkhianat sehingga ada alasan untuk melakukan perselingkuhan plus.
Ketiga, menghakimi Tuhan tanpa ilmu. Sama seperti kelompok umur sebelumnya, kematangan akal yang ada pada manusia dimanfaatkan setan untuk meniupkan pikiran-pikiran jahat tentang Allah, rasul dan agamanya, dengan intensitas dan kualitas yang lebih besar.
Pada tiap-tiap kelompok umur itu, setan juga terus berusaha untuk menanamkan kedengkian, rasa tidak percaya diri, dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan. Setan misalnya mengatakan: “lihatlah tetanggamu, dia punya semuanya, sedangkan kamu tidak memiliki apa-apa”. Di sinilah setan menanamkan kedengkan dan ketidaksyukuran terhadap nikmat-nikmat Tuhan.
Langkah-langkah Penanganan Gangguan Kejiwaan Akibat Bisikan Setan
Pertama, adalah dengan meneguhkan keimanan yang kut dalam jiwa melalui pelaksanaan ibadah-ibadah wajib dan sunnah seperti shalat, puasa, membaca Alquran dlsb. Memohon kepada Allah untuk dihidarkan dari penguasaan setan terhadap jiwa kita.
Kedua, mengetahui sumber pikiran-pikiran buruk itu adalah dari setan, dan bukan dari jiwanya. Setelah itu jangan melakukan apa yang dibisikinya.
Ketiga, jangan pernah berputus asa dalam menghadapi waswasah setan, khususnya ketika pikiran-pikiran itu secara terus menerus ditiupkannya. Manusia harus menjaga kedekatannya dengan Allah agar terhindar dari tipuan setan. Wallah A’lam
Palu, 18 November 2010
Kampus STAIN Palu
Referensi: Mawsuah I’jaz Ilmi Fil Quran

6 Komentar

Filed under Uncategorized

Alquran dan Pengobatan Gangguan Psikologis (Bagian Satu)

Didin Faqihudin
Dosen STAIN Datokarama Palu

Gangguan psikologis dan menurunnya kesehatan psikologis hampir terjadi pada semua orang dengan tingkatan yang berbeda-beda. Masalah ini bukan monopoli (baca: hanya terjadi pada) kelompok umur tertentu, namun terjadi pada setiap kelompok umur dari yang kecil sampai yang dewasa. Gangguan dan tekanan psikologis ini membawa manusia pada suasana murung, duka, khawatir, merana dan sekaligus nenurunkan produktifitas kerja individu.
Salah satu di antara kasih sayang Allah terhadap manusia adalah bahwa Dia telah menurunkan Alquran yang berisi pengetahuan dan metode terbaik dalam mempelajari kesehatan psikologis, sebab-sebab terjadinya tekanan psiklogis, dan juga berisi penanganan kuratif mumpuni terhadapnya. Allah menegaskan dalam Alquran: “Dan Kami turunkan di dalam Alquran, sesuatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi kaum beriman…” (QS. Al-Isra: 82)
Pandangan keilmuan kontemporer mengatakan bahwa penyakit-penyakit psikologis pada diri manusia itu adalah suara-suara yang manusia dengar dari dalam jiwa dan pikirannya yang kemudian membawanya pada situasi yang penuh dengan kekhawatiran. Diyakini bahwa suara-suara ini adalah akibat dari terjadinya semacam “keadaan tidak seimbang tiba-tiba” yang terjadi di dalam otak yang menyebabkan rotasi syaraf dalam otak menyampaikannya kepada manusia sehingga ia mendengarnya. Diagnosa ini sangat keliru karena beberapa sebab, antara lain bahwa diagnosa ini bertentangan dengan rahmat Allah yang mendesain manusia atas dasar kasih sayang. Tidak masuk akal jika otak secara tiba-tiba mengeluarkan semacam suara-suara yang pada akhirnya membuat manusia menjadi khawatir, sedih, dan labil.
Allah swt. dalam kitab Alquran memberikan identifikasi secara tepat di mana Dia (Allah swt.) mendeskripsikan pengaruh setan terhadap manusia: “Dan rayulah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu” (QS. Al-Isra: 64). Asal makna kata istifzaz dalam ayat ini adalah “menipu” dan “merayu”. Dalam hal ini setan melakukan penipuan dan rayuan dengan suaranya.
Namun persoalannya sekarang adalah apa suara setan itu? Untuk mencari jawabannya tentu kita harus mencarinya dari keterangan Alquran dan sunnah Nabi Muhammad saw. Penjelasan berikut mudah-mudahan bisa menjelaskan apa yang dimaksud suara setan itu: “ketika seseorang tengah memikirkan sesuatu hal, kadang-kadang dalam pikirannya ia mendengar suara yang sesuai dengan yang dipikirkannya. Ini alamiah, karena ia merupakan suara jiwanya. Dalam syariat Islam, kita mengetahui bahwa setiap manusia memiliki qarin (suatu makhluk dari bangsa setan yang selalu menggodanya). Namun bagaimana qarin ini menggoda manusia? Qarin ini berusaha untuk menyesuaikan suaranya dengan suara jiwa manusia dari segi kecepatan dan intonasinya. Dengan bahasa apapun manusia berbicara, maka sang qarin mampu bersuara dengan bahasa itu dalam merayunya. Manusia pun kemudian mendengar suara dalam pikirannya yang sama persis dengan suara jiwanya, sehingga ia menduga bahwa jiwanyalah yang sedang berbicara dengannya.
Namun pikiran-pikiran yang dihembuskan oleh suara-suara ini adalah pikiran-pikiran jahat (misalnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain), dan buruk (misalnya pikiran untuk melakukan perbuatan zina). Setan menipu manusia dengan membuatnya percaya bahwa pikiran-pikiran itu berasal dari dalam jiwanya dan merupakan kebenaran.
Pengaruh yang dihembuskan oleh setan terhadap manusia inilah yang menjadi sebab dari apa yang diyakini manusia sebagai penyakit psikologis. Allah menegaskan dalam Alquran bahwa setan menipu dan menggoda manusia dengan suaranya. Dan pikiran-pikiran yang dihembuskan oleh setan termaktub dalam Alquran demikian: “Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. al-Baqarah: 169).
Pembuktian ilmiah akan adanya pengaruh setan terhadap manusia dapat kita dilihat pada hasil penelitian ilmiah tentang pikiran-pikiran yang didengar oleh penderita gangguan psikologis yang dilakukan oleh salah seorang dokter ahli jiwa di Inggris bernama Dr. Andrew Lewis. Menurut beliau pikiran-pikiran yang didengar oleh penderita gangguan psikologis ini berkisar pada tiga hal: (1) kejahatan yang merugikan dan membahayakan; (2) nafsu dan birahi; (3) fitnah.
Hasil penelitian ini sesuai benar dengan apa yang disinyalir oleh Alquran (2: 169) di atas.
Dari sini kita dapat mengambil suatu ketetapan bahwa jika pikiran atau suara dalam jiwa manusia bertentangan dengan petunjuk Allah maka sesungguhnya itu berasal dari setan dan bukan dari jiwa manusia. Sementara jika pikiran atau suara itu datang bersesuaian dengan petunjuk Allah seperti pikiran untuk menolong orang lain, maka sesungguhnya itu berasal dari kasih sayang Allah terhadap manusia itu.
Dalam kaitannya dengan respon terhadap pikiran-pikiran yang ditiupkan setan, manusia dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian:
Pertama, kelompok manusia yang meyakini bahwa pikiran-pikiran ini berasal dari dalam jiwanya. Mereka menganggap bahwa diri mereka adalah orang-orang yang sangat hebat dan memiliki kemampuan dalam menganalisis dan menyelesaikan berbagai hal dengan cara-cara yang bertentang dengan cara-cara Allah, di mana orang lain tidak mampu melakukannya. Orang-orang semacam ini mengikuti dan menjalankan tipu daya setan.
Kedua, kelompok manusia yang mengetahui bahwa pikiran-pikiran ini adalah salah dan tidak melaksanakannya. Namun karena ada sebagian di antara mereka yang tidak mengetahui sumber asal pikiran tersebut, maka kemudian ini menjadikan mereka merasa sempit, gundah, dan kurang produktif. Mereka inilah yang kemudian disebut penderita gangguan psikologis.
be continued……
Palu, 08 November 2010
Kampus STAIN Datokarama
Referensi: Mawsuah I’jaz Ilmi Fil Quran

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

WAJAH SEBAGAI CERMIN JIWA

Didin Faqihuddin
Alumnus Pondok Pesantren Darul Amal Bekasi
Dosen Bahasa Arab STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Dalam salah satu ayatnya, Alquran menyebutkan bagaimana seorang manusia yang ditimpa kesusahan dan kesedihan, wajahnya menjadi merah padam. “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.” (QS. al-Nahl : 58)
Isyarat Alquran ini memberikan satu hakekat penting bahwa wajah merupakan cermin diri. Seseorang bisa mengenali kondisi sahabatnya dengan hanya melihat wajahnya. Alquran menyatkan: “…niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu…” (QS. al-Hajj : 72). “Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS. al-Hajj : 72)
Nilai kemu’jizatan ilmiah ayat-ayat Alquran ini baru diketahui belakangan ini, setelah ilmu pengetahuan mengalami kemajuan. Kajian-kajian kedokteran dan psikologi menyatakan bahwa wajah benar-benar merupakan cermin jiwa—persis seperti diungkapkan Alquran ratusan tahun silam.
Kedokteran modern mengatakan bahwa wajah memiliki 55 otot yang kita gunakan tanpa kehendak dan kesadaran kita dalam mengekspresikan berbagai perasaan dan kesan. Otot-otot itu dikelilingi oleh syaraf-syaraf yang mengantarkannya ke otak. Melalui otak itulah otot-otot wajah berhubungan dengan seluruh otot yang ada dalam tubuh manusia. Demikian juga wajah memantulkan apa yang bergejolak dalam dada manusia, atau apa yang dirasakan oleh satu bagaian tertentu dalam tubuh manusia. Rasa sakit akan kelihatan secara jelas pertama kali di wajah. Demikian juga perasaan senang dan bahagia secara jelasa akan terlihat di wajah. Setiap kebiasaan, yang baik dan yang buruk, akan membuat jejak yang mendalam di wajah. Oleh karena itu wajah merupakan satu-satunya bagian tubuh manusia yang dapat mengabarkan keadaannya. Tidak ada angota tbuh lain yang dapat kita gunakan untuk membaca keadaan seseorang. Bahkan para ilmuwan mengatakan bahwa kita bisa membaca karakter dan akhlak seseorang melalui garis-garis wajahnya. Garis-garis wajah yang sedang di sekitar mata bersumber dari banyak ketawa dan tersenyum, sedangkan garis wajah yang dalam di sekitar mata menunjukkan kesedihan dan pesimisme. Para orator, pengacara, dan aktordi tengah-tengah wajah mereka ada garis-garis mendalam sampai ke dagu. Para penulis dengan menggunakan mesin ketik dan komputer, para penjahit dan mereka yang pekerjaannya memaksa mereka untuk mengangguk-anggukan kepalanya maka garis-garis wajahnya akan terlihat di bawah dagunya.
Dr. Casis Carel seorang peraih nobel bidang kodokteran berkata: “Sesungguhnya keadaan wajah dipengaruhi oleh keadaan otot-otot yang bergerak di bawah kulit, dan keadaan otot-otot itu dipengaruhi oleh pikiran…”
Wajah juga mengekspresikan hal-hal yang lebih dalam daripada sekedar perasaan seseorang, di mana kita bisa membaca, bukan hanya sifat-sifat buruk seseorang, kecerdasannya, keinginannya, emosinya dan kebiasaan-kebiasaannya, tetapi juga sifat alamiah tubuhnya dan kesiapannya menghadapi berbagai penyakit badan dan pikiran. Dengan hanya melihat wajah seseorang sedikit lebih cermat, kita akan bisa melihat kondisi raga dan jiwanya.
Demikianlah, ilmu manusia pada akhirnya sampai juga pada sesuatu yang sesungguhnya telah Alquran tegaskan lebih dari 14 abad yang lalu bahwa wajah merupakan cerminan jiwa. Wajah mencerminkan perasaan yang ada di dalam jiwa seseorang. Kita dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa seseorang tengah berada pada situasi yang membahagiakannya atau pada situasi yang membuatnya sedih, hanya dengan melihat wajahnya. Maha Suci Allah yang ayat-ayat-Nya penuh dengan kebenaran.
Kampus STAIN Palu, 27 Oktober 2010
Referensi: Mawsuah I’jaz Ilmi Fil Quran

7 Komentar

Filed under Uncategorized

SEKOLAH IBNU SINA

Didin Faqihuddin
Dosen STAIN Datokarama Palu

Sekolah al-Farabi adalah satu sekolah di Baghdad, dan dikenal dengan nama Sekolah Baghdad. Kegemilangannya banyak berasal dari orang-orang Nasrani, mulai dari Abu Basyar Matta dan Yuhana Bin Hailan. Puncaknya adalah al-Farabi dan muridnya Yahya bin ‘Uday. Sekolah al-Farabi sangat bertentangan dengan sekolah al-Kindi, baik metode maupun objeknya.
Sedangkan Sekolah Ibnu Sina yang muncul di Persia, sangat bertentangan dengan sekolah Baghdad. Yang pertama meremehkan pandangan-pandangan dan penafsiran-penafsiran yang kedua, juga mengkritik para pemimpinnya, kecuali al-Farabi. Dalam kitab Mabâhitsât, (lih. Aristhu ‘Inda al-Arab, karya Abd al-Rahman Badawi, hal. 120-22) Ibnu Sina berkata: “…manusia berbeda pendapat tentang persoalan jiwa dan akal. Mereka bodoh tentang hal itu, apalagi orang-orang Nasrani dari kota Salam”. Kota salam adalah Baghdad. Kemudian Ibnu Sina berbicara tentang pokok pandangannya mengenai jiwa dan akal dan persoalan-persoalan lain. Ia mengatakan bahwa kitabnya al-Syifâ’, dapat menghilangkan keraguan mengenai hal itu dan sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan jiwa dan akal. Ibnu Sina juga mengarang satu kitab yang berjudul al-Inshâf, di mana ia membagi ulama menjadi dua; Kelompok Masyriqi (ulama-ulama Persia) dana Kelompok Maghribi (ulama-ulama Syam dan Baghdad). Ibnu Sina mengemukakan perbedaan antara kedua kelompok dengan sangat netral. Di buku tersebut Ibnu Sina berbicara tentang “Teologia” Aristoteles. Ia juga menyinggung kekacauan pikiran para penafsir. Akan tetapi dalam suatu penaklukan (peperangan), buku ini kemudian menghilang. Seperti dikatakan oleh Ibnu Sina, buku itu “berisi tentang ringkasan kelemahan dan kebodohan orang-orang Baghdad”. Akan tetapi ia mengecualikan sang guru kedua (al-Farabi) dari kedunguan dan kebodohan itu.
Ibnu Sina telah mewariskan kita catatannya sendiri tentang riwayat hidupnya, yang kemudian disempurnakan oleh muridnya, Abu ‘Ubaid al-Juzjani. Dengan begitu, mudahlah kita mengetahui detail kehidupan ilmiahnya, caranya mengajar dan bagaimana ia mencurahkan hidupnya untuk majlis ta’lîm (majlis pengajaran). Dialah Syeikh Kepala, Abu Ali al-Husain ibn Abdullah ibn al-Husain ibn Ali bin Sina. Dilahirkan pada tahun 370 H dan wafat pada tahun 428 H. “Syeikh”, menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang sangat tinggi ilmunya, sedangkan “Kepala”, boleh jadi karena ia mengepalai suatu departemen, akan tetapi yang paling umum adalah bahwa gelar tersebut menunjukkan Ibnu Sina adalah pemimpin para filosof. Ayahnya dari Balkh, pindah ke Bukhara pada masa gubernur Nuh bin Manshur. Belajar nahwu, bahasa, al-Qur’an dan sastra di Bukhara sejak kecil. Ayahnya sering berkumpul dengan da’i dari kelompok Isma’iliyah. Dari sana Ibnu Sina mendengar pembicaraan tentang jiwa, akal, filsafat dan teknik. Kemudian ia mempelajari ilmu hitung India dari seorang penjual kol. Ia juga mempelajari mantiq, astronomi dan kedokteran. Kemudian ia kembali mempelajari ilmu-ilmu filsafat secara otodidak. Akhirnya ia membaca buku Metafisika-nya Aristoteles yang sama sekali ia tidak dapat memahaminya sampai kemudian ia membeli buku al-Farabi yang menjelaskan pokok-pokok dari buku tersebut, ia pun menjadi faham. Ia bergaul dengan Nuh bin Manshur. Yang kedua ini mengagumi kecerdasan yang disebut pertama. Ia pun memasukkan al-Farabi ke dalam perpustakaannya dan mampu menghafal di luar kepala apa yang ada di sana. Ibnu Sina berpindah-pindah di kota Persia sehingga ia samapi di kota Jurjan di mana kemudian al-Juzjani menemuinya dan mendorongnya untuk menulis buku. al-Juzjani mengabdi pada Ibnu Sina dengan penuh kesungguhan.
Di Jurjaan, Ibnu Sina dibelikan sebuah rumah oleh Abu Muhammad al-Syirazi yang kemudian menempatkan Ibnu Sina di sana. Al-Juzjani ikut tinggal bersama Ibnu Sina di rumah itu. Boleh jadi Ibnu Sina menerima murid lain selain al-Juzjaani itu. Di tempat tersebut, Ibnu Sina mendiktekan satu kita berjudul al-Mabdâ wa al-Ma’âd, Awwal al-Qânûn dan banyak risalah lainnya. Ibnu Sina kemudian pindah ke Ray, di mana ia mengabdi kepada gubernur. Kemudian ia pindah lagi ke Quzwain dan dari sana ia pindah ke Hamdan dan berhubungan dengan gubernur yang kemudian menugaskannya di sebuah departemen.
Selama memegang jabatan di departemen ini, ia mengarang dua buku utamanya; al-Syifâ’ di bidang filsafat dan al-Qanûn di bidang kedokteran. Al-Juzjani mendeskripsikan majlis Ibnu Sina: “setiap malam di rumahnya berkumpul para penuntut ilmu. Aku membaca sebagian dari kitab al-Qanûn, dan pelajar lain membaca sebagian. Jika kami selesai belajar, datanglah panganan dan minuman untuk kami. Kegiatan belajar dilakukan di malam hari karena di siang hari sibuk mengabdi kepada gubernur”. Biasanya Ibnu Sina mendiktekan bukunya kepada muridnya, hanya kadang-kadang saja ia menulis sendiri.”
Ketika muridnya bertambah banyak, reputasinya semakin bersinar. “Gubernur ‘Ala’ al-daulah membuat program pengkajian setiap malam jum’at. Di sana hadir semua kelompok ulama dan syeikh dari berbagai disiplin ilmu”
Al-Juzjani tidak menyebutkan seorang pelajar pun dalam biograpi Ibnu Sina yang ditulisnya, khususnya muridnya yang bernama Abu al-Hasan Bahmaniar yang selalu mengikuti Ibnu Sina dalam majlis belajarnya ketika ia memegang jabatan menteri. Al-Juzjani bercerita: “Aku dan sekelompok pelajar Ibnu Sina menghadiri majlis belajarnya setiap sabtu pagi. Tepat di pagi itu tampak oleh Syekh adanya kelesuan di wajah kami, beliau lalu berkata: sepertinya kalian telah menghabiskan malam kalian dengan sia-sia. Kami pun berkata “benar”, kemarin kami bersama sekelompok teman berekreasi, sehingga kami tak sempat menelaah pelajaran. Mendengar hal itu, Syeikh menarik nafas panjang, air matanya berlinang, sambil berujar: “Yang lebih aku sedihkan adalah seorang atlet yang memperoleh puncak prestasinya sehingga membuat takjub dan kagum ribuan orang karena prestasi fisiknya itu. Akan tetapi kalian, dengan banyaknya pengetahuan yang kalian miliki, sama sekali tidak mempunyai kedudukan dan nilai. Kalian lebih memilih untuk bermain dari pada mencari ilmu, sehingga kalian, dengan kemampuan spiritual kalian, tidak mampu memperoleh suatu kedudukan spiritual yang membuat kagum orang-orang bodoh sepanjang zaman”. Bahmaniar wafat pada tahun 458 H. Kitab terpenting yang dikarangnya adalah al-Tahshîl di mana ia menjelaskan filsafat Ibnu sina.
Di antara murid Bahmaniar adalah Abu al-Abbas al-Lukriy, seorang ahli ilmu hikmah. Dari dialah ilmu hikmah tersebar di Khurrasan. Dari Abu al-Abbas belajarlah Afdhal al-Din al-Ghailaniy, dan dari Ghailaniy belajarlah Shadruddin al-Sarkhasiy (w. 545 H), dan dari Sarkhasiy belajarlah Farid al-Din al-Nisaburiy. Yang terakhir ini adalah guru dari Nashr al-Din al-Thusi, murid terakhir sekolah Ibnu Sina, pensyarah kitab al-Isyârât karya Ibnu Sina, pembaharu pengajaran filsafat dan matematika dan pemilik kajian keilmuan tempat berkumpulnya banyak pelajar-pelajar ilmu filsafat, teknik dan logika. Al-Thusi wafat pada tahun 672 H, sekolah al-Thusiy berkembang dan memperoleh puncaknya di tangan Mirdamad (1401 H) di Isfahan bersama murid-muridnya.
Apakah ajaran-ajaran Ibnu Sina itu?
Ajaran-ajarannya adalah pengembangan dari pendapat-pendapat al-Farabi. Namun Ibnu Sina mempunyai andil dengan penambahan ungkapan-ungkapan yang lebih luas dan penjelasan-penjelaan yang lebih banyak. Ibnu Sina sendiri sebenarnya lebih sebagai seorang dokter ketimbang sebagai seorang filosof. Bukunya al-Qânûn fi al-Thibb menjadi rujukan dalam ilmu kedokteran di Eropa Latin sampai awal abad XVIII M. Filsafat Ibnu Sina terpengaruh oleh ilmu kedokterannya dalam menciptakan metode eksperimental yang cermat. Sedangkan dalam ilmu filsafat, bukunya yang berjudul al-Syifâ’ dianggap sebagai sebuah ensiklopedia filsafat yang mencakup logika, ilmu alam, matematika dan Ilahiyat, jika diukur dengan apa yang telah disusun oleh Aristoteles atau oleh filsafat peripatetik. Ibnu Sina telah mengikuti guru pertama dan para pensyarahnya dengan menggabungkan berbagai pendapat dan menyerasikannya. Pengaruhnya dalam ilmu mantiq (logika) tidak dapat diingkari, dan tak diragukan lagi bahwa ia bertanggung jawab atas tersebarnya ilmu mantiq dalam bentuknya yang sekarang di dunia Arab. Bukunya yang berjudul al-Bashâ’ir al-Nashîriyah dalam ilmu logika–yang telah di-tahqiq (diedit) dan dipublikasikan oleh Muhammad Abduh sekaligus mengajarkanya—diangap sebagai ringkasan inti dari pandangan-pandangan Ibnu Sina.
Pengaruhnya dalam ilmu Ilahiyyat tidak kurang dibanding dalam ilmu logika. Yang dimaksud dengan ilmu Ilahiyyat adalah apa yang kita namakan sekarang dengan metafisika. Di sini ia berbicara tentang “yang wajib” atau “yang wajib ada”, tentang kebersambungan “being”-“being” dari “yang wajib” itu, juga tentang sebab-sebab. “Yang wajib ada” adalah yang ketika diasumsikan tidak ada, maka akan dikatakan mustahil. “Yang mungkin ada” adalah apa yang jika diasumsikan ada atau tidak ada, maka tidak dikatakan mustahil. Di muka telah kita ketahui bahwa Ibnu Sina telah mendeskripsikan Allah sebagai al-Haq (yang Maha benar), sedangkan al-Farabi mendeskripsikanya sebagai al-Wahid (Yang Satu). Di sini kita melihat pandangan Ibnu Sina yang bersifat eksistensialis dan rasionalis. Allah adalah sesuatu yang wajib ada karena zat-Nya. “Wajib” adalah konsep logika yang berlawanan dengan “mustahil” dan ditengahi dengan “al-mumkin”. Al-Maujûd adalah batu sudut dalam filsafat peripatetik (Aristoteles), sedangkan al-Wâhid adalah, seperti yang kita lihat, berada di atas “al-wujûd” (being) dalam filsafat Plotinus.
Tegasnya perbedaan antara guru kedua (al-Farabi) dan syeikh kepala (Ibnu Sina) adalah bahwa al-Farabi cenderung kepada Platonisme, sedangkan Ibnu Sina lebih condong kepada filsafat peripatetik. Ini bukanlah satu-satunya perbedaan anatar kedua filosof ini dan kedua mazhabnya, karena pada akhir hayatnya, Ibnu Sina menciptakan satu filsafat lain yang berbeda dengan filsafat peripatetik. Ia mrenjelaskan hal itu dalam kitabnya al-Syifâ’ dan al-Najât. Filsafat ini ia namakan filsafat ketimuran, seperti tercermin dalam kitab “al-Isyârât”. Filsafat ketimuran ini bersifat iluminatif dan sufistik.
Al-Ghazali (450-501 H) menulis kitab Tahâfut al-Falâsifah ketika ia melihat banyak pendapat Ibnu Sina yang membahayakan ajaran Islam. Dalam kitab ini al-Ghazali mengkafirkan para filosof dalam 20 masalah, terutama masalah qidam-nya alam, ketidaktahuan Allah terhadap hal-hal yang partikular serta penolakan terhadap kebangkitan. Banyak tuduhan al-Ghazali yang tidak beralasan. Akhirnya filsafat diisolasi dan dimasukkan ke dalam ilmu kalam yang kemudian dinamakan dengan ilmu tauhid. Wallahu a’lam
Palu, 28 April 2010
Kampus STAIN Datokarama
Referensi : Ahmad Fuad al-Ahwani / MF

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

AL-QUR’AN MEKAH

Didin Faqihuddin
Alumnus Ma’had Islam Darul Amal, Bekasi Jawa Barat
Staf Pengajar STAIN Datokarama Palu

Ada dua al-Quran: al-Quran Mekah dan al-Quran Madinah. Tidak ada perbedaan mendasar antara keduanya, kecuali bahwa al-Quran Madinah lebih kaya dan lebih banyak isinya. Sebabnya adalah karena fase keduanya memang berbeda.
Fase Mekah adalah fase pembentukan keyakinan (akidah) di suatu wilayah yang sangat keras yang pada awalnya menentang akidah Islam. Orang Mekah menentang akidah Islam bukan karena ingin mempertahankan dan memenangkan akidah syirik (politeisme). Tetapi mereka menentang akidah islam karena menolak ajaran Islam yang menghilangkan kesenangan-kesenangan mereka. Patung-patung berhala bagi orang-orang Quraisy bukan sesuatu yang suci dan harus dipertahankan mati-matian. Pataung-patung tersebut adalah smber ekonomi kekayaan mereka. Menyerang berhala tidak lain berarti mencegah orang-orang akan kembali melakukan ibadah haji yang bernilai ekonomis. Mekah selain sebagai pusat tuhan-tuhan dan berhala-berhala suku-suku Arabia, adalah juga sebagai pusat perdagangan bagi seluruh bangsa Arab. Mekah juga pada saat yang sama adalah tempat transit penting bagi jalur perdagangan internasional utara, selatan, timur dan barat.
Mereka menyerang Islam karena takut Islam akan menghancurkan sumber ekonomi mereka. Alquran mengisyaratkan hal ini :
Artinya: Dan mereka berkata: “Jika Kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya Kami akan diusir dari negeri kami”. dan Apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. al-Qashash : 57)
Ayat ini secara jelas menegaskan bahwa mereka meyakini Islam sebagai agama yang benar (haq). Kata hudan (petunjuk) dalam ayat itu jelas merupakan pengakuan akan kebenaran Islam. Namun kepentingan ekonomi lebih penting bagi mereka. Kata nutakhattaf (kami diusir) berarti bahwa : “orang Arab akan mengusir kami dari Mekah dengan segala kemudahan ekonomi di dalamnya sehingga kami akan kehilangan sumber rejeki kami”.
Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh ucapan Abu Jahal ketika ditanya oleh seseorang apakah Muhammad pernah berbohong. Abu Jahal menjawab: “Bagaiamana dia berbohong sementara kami menggelarinya al-Amin (yang sangat terpercaya), karena tidak sekalipun dia pernah berbohong. Namu jika bani Abdi Manaf (keluarga Nabi Muhammad) yang memegang seluruh kebijakan Mekah, lalu mereka mendapatkan nubuwah, lalu apa yang tersisa untuk kami?”
Al-Quran Mekah datang untuk mengubah kondisi dan situasi ini. Islam datang untk menempatkan akidahnya menggantikan keyakinan ekonomi. Menempatkan hukum syariah menggantikan fanatisme kesukuan. Serta menempatkan ibadah satu Tuhan untuk menggantikan politeisme.
Orang-orang Mekah adalah kelompok masyarakat yang mengingkari sesuatu yang gaib; mengingkari hari kebangkitan dan pembalasan. Mereka adalah penganut eksistensialisme-hedonistik-materialistik. Banyak kebiasaan buruk dalam kehidupan mereka seperti mencuri, berperang, membunuh anak perempuan, dlsb. Namun demikian banyak juga sifat-sifat baik yang mereka miliki seperti keberanian, kemurahan, dlsb.
Pada masyarakat seperti inilah tema-tema al-Quran Mekah turun. Dengan tujuan meluruskan dan memperbaiki nilai-nilai asasi yang berhubungan dengan persoalan akidah, keimanan dan amal soleh. Dalam al-Quran Mekah terdapat pula seruan kepada Sang Nabi untuk bersabar dalam menghadapi kaumnya sambil bertawakal kepada Allah, sekaligus mengambil pelajaran dari para nabi sebelumnya.
Kesimpulannya bahwa tema-tema al-Quran Mekah adalah tema-tema yang berhubungan dengan akidah berupa keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan qadar. Wallahu A’lam.
Palu, 31 Maret 2010
Referensi : Dr. Muhammad Abdurrahman / al-Quran al-Makki Wal Quran al-Madani.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

SEKOLAH JUNDISAFUR

Didin Faqihuddin
Dosen STAIN Datokarama Palu
Sulawesi Tengah

Sekolah ini adalah titik penghubung antara filsafat Yunani dan filsafat Arab, meskipun sekolah ini berada di Persia. Sedangkan bagaimana filsafat Yunani berpindah ke sana, khususnya filsafat Iskandariah yang mempunyai kecenderungan ilmiahnya, inilah riwayat yang perlu kita simak.
Pertentangan antara Persia dan Yunani belum selesai setelah Yunani tunduk kepada Romawi bersamaan dengan meluasnya kekuasaan negara Romawi. Karena itu pertentangan ini pun berpindah pula, terjadi antara Persia dan Romawi. Romawi selalu menang melawan Persia ketika Kekaisaran Romawi dalam keadaan kuat. Maka ketika ia mulai melemah dan kehilangan kekuatan, pasukannya porak poranda berhadapan dengan pasukan Persia.
Dalam diskusi kita tentang Plotinus pada pembahasan yang lalu, kita telah menyinggung bahwa yang tersebut ini telah bergabung dalam pasukan Kaisar Giordian III ke Persia. Saat itu Plotinus bermaksud mempelajari berbagai mazhab dan hikmah yang ada di timur. Akan tetapi ekspedisi ini gagal, hal mana membuat Plotinus kembali ke Roma dan membuka sekolahnya. Perang pun pecah karena Persia didukung oleh Ardacher. Ketika keadaan kembali pulih, Ardacher di utus ke Roma pada tahun 230 M di mana ia menantang sang Kaisar dan memintanya untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang dulunya merupakan bagian Persia seperti Asia Kecil dan Suria. Ardacher wafat pada tahun 241 M ketika peperangan pecah yang dipicu oleh anaknya Syabur (241-272). Bertemulah pasukan Syabur dengan pasukan Geordian yang dulu pernah kalah. Akan tetapi luka yang dialami Geordian membuat perang dihentikan. Timbullah kesepakatan bahwa Persia menguasai Armenia, sedangkan Roma menguasai Irak. Kemudian pada tahun 258 perang pecah kembali. Pasukan Romawi dipimpin oleh Kaisar Phalirian. Sang Kaisar dikepung dan kalah, Ia bersama pasukannya kemudian ditawan.
Syabur memperlakukan para tawanan dengan baik. Ia bahkan mendapatkan keuntungan dari kebebasan yang diberikannya kepada para tawanan itu. Di antara mereka banyak ahli seni, dokter, insinyur dan ahli-ahli lainnya. Mereka inilah yang telah melakukan pembangunan bendungan besar di sungai Dijjil di Tustar dan dikenal dengan nama “Syazirwan Tustar”. Syabur menempatkan para tawanan itu di satu daerah dekat kota Sous dan dekat pula dengan Tustar. Mereka membangun sebuah kamp yang nantinya menjadi kota “Jundisapur” artinya kamp Sabur. Kota tersebut bersinar dan menjadi pilar wilayah Khuzastan pada masa Sasaniyah yang menjadikan kota Sous sebagai persinggahan musim dingin dan kota Jundisapur sebagai persinggahan musim panas karena air dan udaranya yang sejuk. Seperti dikatakan oleh al-Mas’udi dalam kitabnya Murûj al-Zahab, raja-raja Sasania sampai masa Hurmuz tetap tinggal di kota Jundisapur, Khuzastan.
Di bawah kekuasaan Persia, para tahanan tersebut mendapatkan kebebasan beragama, sesuatu yang tidak mereka nikmati pada masa kekuasaan Romawi yang menindas orang-orang Kristen sehingga membuat mereka terpaksa bersembunyi dan melakukan peribadatannya secara rahasia. Persia tidak bermaksud memerangi orang-orang Kristen, bahkan mereka dibiarkan bebas membangun gereja-gerejanya. Kemudian di bawah kepemimpinan Hurmuz, Jundisapur tidak lagi bersinar, ia kehilangan nilai pentingnya dan kemudian hancur sama sekali, sampai akhirnya datang Sabur II (362) yang membangun kembali kota tersebut mengikuti kemenangannya atas Kaisar Julian. Sejumlah orang berhasil ditawan dan kemudian ditempatkan di kota Jundisapur yang telah diperbaiki. Pada akhirnya Kristenitas berhasil mengalahkan paganisme. Maka jadilah beban pemindahan kebudayaan Yunani ada di pundak gereja. Di timur, tugas tersebut dipikul oleh orang-orang Kristen Suryan kelompok Nestorian.
Kami tidak tahu secara pasti bagaimana ihwal sekolah Jundisapur pada abad IV dan V. Tapi dipastikan bahwa Kisra Anusyirwan-lah (531-578) yang mengayomi sekolah tersebut. Ia begitu berambisi untuk menjadikan Jundisapur mirip dengan sekolah-sekolah filsafat, khususnya sekolah Iskandariah yang terkenal karena matematika, kedokteran dan filsafat. Inilah orientasi Iskandrani yang telah kita diskusikan sebelumnya. Dialah yang telah menyambut para filosof Athena yang telah diusir Justinian ketika sekolah Akademia dan sekolah Aristoteles ditutup. Ketika itu, metode Iskandrani diterapkan dalam proses belajar Jundisapur. Buku-buku yang dipakai di Iskandariah juga dipakai di sana. Bahkan bidang kedokteran dan matematikanya. Jundisapur bukanlah satu-satunya kota di Persia yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan filsafat, bahkan di kota-kota yang lain muncul juga beberapa sekolah. Dalam Mu’jam al-Buldân, Yaaqut menyebutkan hal tersebut ketika membahas Risyhar.
Kedokteran Yunani dipelajari dari dua sekolah; sekolah Epikrates yang wafat pada abad 3 M, dan sekolah Galinus yang wafat pada tahun 200 M. Galinus berasal dari Bergam, Asia Kecil. Akan tetapi sebagian besar hidupnya dilalui di Roma. Maka tentu saja ia berhubungan dengan para dokter sekolah Iskandaria. Sekolah Iskandariah sangat berpegang pada buku-bukunya. Mereka memilih 16 di antaranya yang mesti dihafal oleh setiap pelajar kedokteran. 16 buku itulah yang menjadi pegangan (rujukan) sekolah kedokteran Jundisapur dan yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani. Dari terjemahan Suryani ini kemudian diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Arab di masa penterjemahan. Di antara dokter-dokter Iskandariah yang belajar kepada Galinus adalah: Oripasius, Atisius, Ahran–orang Arab menamakannya Ahran al-Qiss–seorang dokter dan ahli nujum Yahudi yang hidup pada abad V M. Dialah yang menterjemahkan bukunya sendiri, “Kinâsyah”, ke dalam bahasa Suryani dan kemudian ke dalam bahasa Arab. Orang yang mempopulerkan buku-buku Ahran adalah seorang dokter kelahiran Persia, bermazhab Yahudi dan berbahasa Suryani, yang bernama Masirgueh–atau Masirgis. Yang tersebut ini pada masa khalifah Marwan ditugaskan untuk menterjemahkan buku Ahran ke dalam bahasa Arab.
Sekolah kedokteran Jundisapur tidak hanya menyerap ilmu kedokteran Epikrates dan Galinus saja, tetapi juga menyerap ilmu kedokteran India yang terkenal dengan akar-akaran dan rumput-rumputan karena khasiatnya, juga terkenal karena mantra-mantara dan jimat-jimatnya untuk mengusir roh-roh jahat yang mereka yakini sebagai penyebab sakit. Diriwayatkan bahwa Kisra mengundang seorang dokter dari India untuk mengajarkan ilmu kedokteran India di sekolah Jundisapur. Kisra juga memiliki concern terhadap rumput-rumputan India dan mendatangkan sebagiannya ke Persia untuk ditanam di wilayah-wilayah Jundisapur. Di antara yang didatangkan dari India adalah sukkar (gula) yang dibuat dari kulit sukkar. Kata sukkar ini adalah bahasa Sansekerta, kemudian diserap ke bahasa Persia lalu ke bahasa Arab. Pada abad IV M, gula mulai dikenal di India. Ketika sukkar (gula) ditanam di Jundisapur, maka dibangunlah tempat-tempat khusus untuk pemerasan gula. Pada waktu itu gula dimanfaatkan untuk pengobatan, dan baru pada zaman modern digantikan dengan madu lebah.
Kami mengatakan bahwa persia sangat memperhatikan ilmu kedokteran, perbintangan (nujum) dan filsafat. Ilmu perbintangan (nujum) inilah yang sekarang kita namakan dengan Astronomi, mereka sangat concern terhadap ilmu ini. Di Jundisapur, mereka membuat sebuah observatorium seperti yang ada di Iskandariah. Ketika orang Arab mentransfer ilmu ini, mereka mempelajarinya dari Persia, oleh karena itu kita menemukan banyak istilah-istilah Persia yang diArabkan.
Dalam hal filsafat, buku-buku Aristoteles, khususnya Logika, merupakan buku-buku filsafat utama yang ditransfer orang-orang Suryani karena keperluan mereka dalam kajian-kajian keagamaan.
Tampaknya, lingua franca yang dipakai di sekolah Jundisapur adalah bahasa Suryani, dengan pertimbangan bahwa di satu sisi bahasa ini adalah bahasa para guru, dan di sisi lain merupakan bahasa rujukan dalam banyak cabang ilmu pengetahuan setelah ditransfer dari bahasa Yunani ke bahasa Suryani. Maka setiap pelajar harus mempelajari bahasa Suryani supaya mereka banyak mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa para tawanan yang ditempatkan di jundisapur berbicara dengan bahasa Yunani di samping bahasa Suryani. Kemudian mereka mempelajari bahasa Persia. Sebagian buku ilmu pengetahuan tersebut telah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Persia dari bahasa Suryani. Setelah itu, ilmu-ilmu pengetahuan tersebut dan filsafat diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa Suryani. Buku-buku berbahasa Suryani tentang kedokteran Jalinus, logika Aristoteles dan sebagian buku Astronomi dan matematika inilah yang telah ditransfer oleh para penerjemah pada masa Abbasiyah. Itu terjadi setelah pembangunan kota Baghdad yang tidak terlalu jauh dari Jundisapur. Dengan dukungan para khalifah dan gubernur serta imbalan yang diberikan kepada para cendekiawan, maka ibu kota baru itu banyak menarik dokter-dokter dan cendekiawan Nestorian. Mereka meninggalkan kediaman asalnya di sekolah Persia untuk menetap di ibu kota khalifah Abbasiyah.
Khalifah pertama yang mendatangkan dokter dari Jundisapur adalah khalifah Mansur ketika ia terserang penyakit kronis. Ia lalu mengundang Georgorius bin Bakhtisyu, kepala sekolah dan rumah sakit Jundisapur. Georgorius tinggal di istana khalifah di Baghdad dari tahun 148 – 152 H, kemudian ia meminta izin untuk kembali ke Jundisapur pada masa kekhalifahan al-Hadi. Yang tersebut ini menjadikan Bakhtisyu sebagai tabib kerajaan. Akan tetapi timbul pertentangan antara dia dengan Abu Quraisy, tabib istri al-Hadi. Ia pun meminta untuk keluar dari lingkungan istana. Ketika Harun al-Rasyid memangku jabatan khalifah, ia memintanya untuk mengobati penyakit batuk menahunnya. Kemudian dari keluarga Bakhtisyu yang mengabdi di kerajaan adalah putra ketiga Bakhtisyu yang bernama Georgorius, yang pernah menjadi dokter Ja’far bin Yahya al-Barmaki dan kemudian menjadi dokternya Harun al-Rasyid, juga sebagai pemimpin para dokter. Ia juga mengabdi pada al-Amin dan al-Makmun. Georgorius ini mempunyai karya-karya kedokteran dalam Bahasa Arab. Ia wafat pada tahun 213 H.
Pada tahun 215 H al-Makmun mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad. Al-makmun menjadikan tempat ini sebagai pusat penterjemahan buku-buku berbahasa Suryani dan Yunani ke dalam Bahasa Arab. Baitul Hikmah dikepalai oleh Yunana Bin Masweih, seorang dokter Suryani dari sekolah Jundisapur. Ia kemudian hijrah ke Baghdad di mana kemudian ia membangun sebuah rumah sakit, sampai akhirnya al-Makmun mengangkatnya sebagai pemimpin Baitul Hikmah. Hunain bin Ishak adalah salah seorang muridnya yang paling terkenal dalam dunia terjemah. Banyak orang mengkritik alias keberatan terhadap Baitul Hikmah sambil mengatakan bahwa Baitul Hikmah bukanlah sekolah filsafat, melainkan pusat penerjemahan, dan yang diterjemahkan bukanlah buku-buku filsafat. Sekolah Jundisafur sendiri memang bukanlah sebuah sekolah filsafat, karena tidak ada riwayat yang menyatakan adanya filosof-filosof lulusan sekolah tersebut. Yang ada justru para dokter yang melakukan pengobatan dan mengelola rumah sakit.
Keberatan ini mempunyai sudut pandang sendiri. Akan tetapi sebenarnya bahwa sekolah Iskandariah pada masa terakhirnya di abad IV dan V, bukanlah sekolah filsafat dengan ukuran sekolah ilmiah-matematika-kedokteran, selain Neo-Platonisme yang dibangun oleh Amonios Sakkas dan diproklamirkan oleh Plotinus. Selain itu apakah kita bisa menamakan Ptolomeus, si pemilik al-Majisthi, Manileos, Nikomakos, Paphus atau yang lain-lainnya sebagai para filosof. Demikian juga para dokter seperti Oripasius dan Ahran. Apagi para ahli matematika dan dokter ini bukanlah ilmuwan-ilmuwan semacam Eukledes atau Galienus, justru mereka adalah orang-orang yang memiliki “ringkasan” dan “penjelasan” untuk kebutuhan pengajaran. Disamping itu juga, mereka mengetahui mazhab-mazhab Plato, Aristoteles, Stoik, dan filosof-filosof lain yang banyak mengetahui hikmah, sekaligus sebagai pengajar hikmah itu, di samping pengetahuan mereka terhadap matematika, ilmu alam dan kedokteran. Begitulah keadaan sekolah Jundisapur yang merupakan kelanjutan bagi pengajaran Iskandrani, khususnya tentang kedokteran. Ketika dokter-dokter sekolah Jundisapur pindah ke Baghdad, maka hal pertama yang harus mereka lakukan adalah membangkitkan gerakan penerjemahan yang memakan waktu satu abad.
Di antara para penerjemah ini, ada seorang filosof Islam dari kalangan Arab, dialah al-Kindi, filosof Arab pertama yang memiliki sekolah.

Wallahu A’lam

Palu, 22 Mareet 2010

Referensi : Ahmad Fuad al-Ahwani / MF

Tinggalkan komentar

Filed under status

TAHAPAN-TAHAPAN DAKWAH ISLAM MASA HIDUP NABI MUHAMMAD SAW. Bagian Pertama

Didin Faqihuddin
Alumnus Pondok Pesantren Darul Amal Buni Bakti Bekasi

Ada empat tahap dakwah yang berlangsung selama kehidupan Nabi Muhammad saw., yaitu: 1) dakwah secara rahasia yang berlangsung selama tiga tahun; 2) dakwah secara terang-terangan (dengan lisan saja) yang berlangsung sampai terjadinya peristiwa hijrah; 3) dakwah secara terang-terangan diikuti dengan memerangi orang-orang yang memulai permusuhan terhadap umat Islam. Ini berlangsung sampai terjadinya perjanjian Hudaibiyah; dan 4) dakwah secara terang-terangan diikuti dengan peperangan terhadap orang-orang yang hendak mematikan dakwah Islam dari kalangan musyrik, atheis dan pagan.
Dakwah Secara Rahasia
Nabi Muhammad mulai merespon perintah Allah dengan menyampakan dakwah hanya menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan berhala. Akan tetapi Nabi melakukan ini secara diam-diam, untuk menghindari kekagetan orang-orang Quraisy yang sangat fanatik terhadap kesyirikan dan paganismenya. Nabi Muhammad tidak melakukan dakwahnya di ruang-ruang umum masyarakat Quraisy. Beliau juga tidak menyampakan dakwahnya kecuali kepada mereka yang mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat, atau mereka yang sebelumnya sudah sangat mengenal Muhammad.
Di antara orang-orang yang paling pertama masuk ke dalam agama Islam adalah: Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar bi Abi Qahafah, Utsman bin Affan, Zubair bin ‘Awwam, Abdurrahman bin ‘Awuf, Sa’d bin Abi Waqash, dlsb.
Mereka ini bertemu dengan Nabi Muhammad secara sembunyi-sembunyi. Jika salah seorang di antara mereka hendak melaksanakan ibadah, maka mereka pergi ke balik bukit Mekah untuk menghindari penglihatan orang-orang Quraisy.
Ketika pemeluk Islam semakin banyak (di atas 30 orang) maka Nabi memilih rumah salah seorang mereka untuk tempat belajar Islam. Pilihan jatuh kepada al-Arqam bin Abi al-Arqam. Para sahabat diminta untuk datang ke rumah al-Arqam untuk belajar agama Islam. Hasilnya adalah selama masa ini, ada sekitar40 orang yang menyatakan diri masuk ke dalam pangkuan Islam.
Nabi Muhammad pada awal dakwah memang melakukannya secara diam-diam dan rahasia. Sebenarnya ini bukan karena ia takut akan keselamatan dirinya. Rasul sadar bahwa ketika Allah memerintahkannya untuk menyampaikan dakwahnya (ingat QS. al-Mudatsir!) maka dia adalah utusan kepada seluruh manusia. Oleh karena itu ia yakin bahwa Tuhanlah yang telah mengutusnya dan Dialah yang akan membantu dan menolongnya.
Allah memang memerintahkan Muhammad agar memulai dakwahnya secara rahasia, dan jangan menyampaikannya kecuali kepada orang yang kuat diduga akan menerimanya. Ini tentu menjadi pelajaran bag para pegiat dakwah zaman ini untuk memperhatikan lingkungan sekitar dan berbagai sarana yang
dapat digunakan untuk menyampaikan misi dakwahnya.
Dari sini dapat dipahami bahwa metode dakwah Nabi Muhammad saw. pada masa ini memiliki segi politik syar’iyah dengan kedudukan beliau sebagai seorang pemimpin. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad di awal-awal dakwahnya bukan dalam kapasitas dia sebagai seorang nabi.
Oleh karena itu, para pelaku dakwah di setiap masa bisa menggunakan metode fleksibel dalam melaksanakan dakwahnya: apakah secara rahasia atau pun terang-terangan; apakah dengan kelemah lembutan atau penuh ketegasan sesuai dengan tuntutan kondisi yang ada. Cara fleksibel ini sudah ada contohnya pada tahapan-tahapan dakwah Nabi Muhammad yang telah disebutkan di awal tulisan ni.
Sejarah Nabi Muhammad juga memperlihatkan bahwa kebanyakan orang yang masuk Islam pada masa awal dakwah beliau adalah orang-orang miskin dan duafa. Apa hikmahnya, dan apa rahasia di balik terbangunnya negara Islam dengan konstituen fakir miskin seperti itu?
Jawabannya adalah bahwa fenomena seperti itu merupakan keumuman dakwah para nabi. Maksudnya bahwa dakwah para nabi sebelum Muhammad pun selalu saja pada mulanya direspon oleh orang-orang miskin dan lemah. Pada masa Nabi Nuh as. kita misalnya membaca di Alquran bahwa masyarakat di mana beliau hidup memperolok pengikut Nuh sebagai orang-orang hina: “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta” (QS. Hud : 27). Demikian pula dengan Nabi Musa as. yang pengikutnya Allah gambarkan sebagai kaum tertindas: “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya.” (QS. al-A’raf : 137). Tentang Nabi Soleh, Alquran menyebutkan: “Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.” (QS. al-A’raf : 75-76).
Rahasia di balik itu adalah bahwa hakekat dari agama yang Allah turunkan melalui para rasulNya adalah keluar dari belenggu kekuasaan manusia menuju kekuasaan Allah semata. Agama yang Allah turunkan adalah antitesis sistem eksploitasi manusia atas manusia. Ia adalah ajaran-ajaran yang ingin memanusiakan manusia. Hakekat seperti ini terlihat dengan jelas dalam dialog yang terjadi antara Rustam, sang komandan pasukan Persia, dengan Rabi’ bin ‘Amir dalam pertempuran Qadisiah.
Rustam: “Apa yang mendorong kalian untuk memerangi kami?”
Rabi’: “Kami ingin membebaskan manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia kepada penyembahan terhadap Allah semata”.
Rabi’ kemudian menyapukan pandangannya ke orang-orang di sekeliling Rustam, lalu berkata: “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih buruk dari kalian. Kami, umat Islam, tidak pernah mengeksploitasi satu sama lain. Sementara kalian, bukankah sebagian kalian menjadikan dirinya tuhan bagi sebagian yang lain?”
Serentak orang-orang di sekeliling Rustam menoleh ke arah Rabi’ dan berkata: “Anda benar hai orang Arab”.
Sementara bagi para pemimpin Persia, ucapan Rabi’ itu bagaikan petir di siang bolong. Mereka berkata pada temannya: “dia (Rabi’) telah mengucapkan sesuatu yang membuat budak-budak kita tertarik padanya”. Wallahu A’lam
Bersambung…..
Palu, 28 Pebruari 2010
Kampus STAIN Datokarama

Referensi: Muhammad Said Ramdhan al-Buthi / Fiqh al-Sirah

2 Komentar

Filed under Uncategorized

SEKOLAH PLOTINUS

Didin Faqihuddin
Alumnus PPs. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Dosen STAIN Datokarama Palu

Jika yang pertama kali mendorong munculnya Neo-Platonisme adalah Oregeon, maka pembawa panji sebenarnya adalah Plotinus. Meskipun sekolahnya ada di Roma, namun dianggap sebagai sekolah Iskandariah. Plotinus adalah seorang filosof Iskandariah. Lebih dari itu ia adalah orang Mesir.
Plotinus dilahirkan di Likopholis–sekarang Asyuth–Mesir tengah, pada tahun 205 M dan wafat tahun 270 M. Kita tidak mengetahui bagaimana masa kecil Plotinus dan juga keluarganya. Seperti diceritakan temannya, Phorphorius, ia enggan berbicara tentang orang tua, keluarga dan tanah airnya. Phorphorius adalah satu-satunya orang yang menulis biografi Plotinus. Dialah yang menerbitkan makalah-makalah filsafat Plotinus (Tâsû’at). Kita akan membahasnya setelah membicarakan Plotinus. Yang kita paparkan sekarang tentang Plotinus ini bersumber dari apa yang dicatatkan oleh Phorphorius.
Phorphorius berkata:
“Meskipun secara umum ia enggan berbicara tentang kehidupan pribadinya, namun ada juga riwayat-riwyat tentang dirinya. Pada umur 28 tahun ia tekena “demam filsafat”. Segera saja ia pergi ke para filosof termasyhur di Iskandariah. Namun segera saja ia pulang setelah mendengar ceramah-ceramah mereka. Ia sangat kecewa. Ketika salah seorang sahabat melihat kesedihannya, ia segera mengajaknya ke Amonios yang tak pernah didatangi oleh plotinus sebelumnya. Setelah mendengarkan ceramah Amonios, ia berkata kepada temannya dengan sangat kagum: “inilah orang yang aku cari”.
Sejak saat itulah Plotinus mengikuti Amonios, dan mengalami kemajuan filsafat bersamanya. Ia ingin mengkaji filsafat-filsafat Persia dan mazhab yang berkembang di kalangan ahli bijak India. Kebetulan Kaisar Geordian sedang mempersiapkan ekspedisinya yang akan dikirim ke India. Plotinus bergabung di dalamnya. Saat itu ia berusia 39 tahun. Dengan demikian ia telah melewati masa 11 tahun mengikuti Amonios. Ekspedisi itu kemudian dikalahkan di Irak. Sang Kaisar terbunuh dan Plotinus lari ke Antiochia, lalu ke Roma dan menetap di sana. Saat itu usianya 40 tahun.
Roma adalah Ibu kota kekaisaran Romawi dan jantung peradaban dunia waktu itu. Karenanya banyak ilmuwan, filosof dan sastrawan yang tertarik untuk datang ke sana. Di Roma inilah Plotinus membangun sekolahnya, yang beruntung mendapat bantuan sang Kaisar. Sekolah Plotinus tidak terbatas pada masa Kaisar Galianus yang memerintah dari tahun 260 hingga 268 M. Galianus sendiri adalah seorang sastrawan dan filosof. Istrinya juga ikut menghadiri sekolah Plotinus. Tampaknya sekolah ini menerima wanita, di samping pria, dalam kegiatan belajar. Salah satu di antara wanita itu adalah “Gamena”. Plotinus tinggal di rumah wanita ini. Demikian pula tampak bahwa sekolah tersebut membuka pintunya lebar-lebar bagi setiap pelajar. Dalam biografi Plotinus, Phorphorius menyebutkan bahwa Plotinus melarang duduk di depan pelukis atau pemahat guna dibikin lukisan atau patung. Ketika muridnya yang bernama Ameleos meminta izin untuk berdiri di depan pelukis, Plotinus menjawabnya: “Tidakkah cukup kita memikul “gambar” yang telah diikatkan alam kepada kita? Apakah engkau mengira benar bahwa aku mesti rela meninggalkan di belakangku “gambar” bagi “gambar”? Maka ketika Plotinus tidak mengizinkannya. Amilios segera pergi kepada temannya, Katarius, yang mahir menggambar. Yang tersebut pertama itu memasukkan yang tersebut kedua ke sekolah Plotinus untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran Plotinus.
Dengan sekolahnya itu, Plotinus bermaksud bisa menjadi pelita yang membimbing jiwa pada ketakwaan dan kebaikan. Ia mengajarkan murid-muridnya agar berpaling dari urusan-urusan duniawi sambil membawa mereka pada satu kehidupan asketis yang dapat mengarahkan jiwa pada kesucian dan kejernihan yang bebas dari segala macam bentuk syahwat. Plotinus sendiri mengabaikan badannya. Ia mengharamkan dirinya memakan daging. Ajarannya banyak menarik pelajarnya, sehingga Rogetianus, seorang yang sudah lanjut usia, meninggalkan semua harta bendanya untuk kemudian menempuh jalan hidup asketik, sampai-sampai ia tidak makan kecuali satu kali dalam dua hari. Semua orang, baik laki-laki dan perempuan, memiliki keyakinan yang besar dalam hal ini. Sehingga ketika tiba saat ajal mereka, mereka berpesan pada anak-anaknya agar tetap menjaga keyakinan ini. Kediaman Plotinus selalu ramai dikunjungi para muda-mudi. Plotinus juga mengajarkan mereka sastra dan syair. Ia mengajak mereka untuk menempuh jalan filsafat, menyimpan harta mereka dan baru menggunakannya ketika mereka dewasa.
Kota utama adalah impian yang menarik banyak filosof Yunani, terutama Plato si pengarang Republika, dan Kota Utama. Plotinus tidak menyia-nyiakan kedekatan posisinya dengan Kaisar Galianus dan istrinya Salonena. Posisi yang sangat dimuliakan oleh Kaisar. Plotinus meminta mereka agar dapat tinggal di Cambania bersama para pengikutnya. Kota ini dulunya diriwayatkan sebagai sebuah kota para filosof zaman kuno yang kemudian hancur dan musnah. Plato memandang perlunya kota tersebut direnovasi, di mana nantinya penduduk kota ini akan hidup di bawah perlindungan hukum yang dibuat untuk mereka. Kota tersebut dinamakan Platonopolis. Polis, dalam bahasa Yunani bererti kota. Sama dengan Heliopolis, salah satu kota satelit Kairo, yang berarti kota matahari. Plotinus dan para pengikutnya berkeinginan kuat untuk tinggal di sana, kalau saja bukan karena kedengkian beberapa orang di lingkungan istana, tentu janji Kaisar dapat terwujud.
Sekolah Plotinus banyak memiliki pelajar. Namun yang paling terkenal adalah Ameleos, juga seorang dokter dari Iskandariah bernama Istokebos yang selalu mengikuti Plotinus menjelang akhir hayatnya. Ia juga mengikuti mazhab Plotinus, dan menjadi seorang filosof yang sebenarnya. Ini tentunya di samping Phorphorius, penulis biograpi Plotinus yang mengedit buku Plotinus atas permintaan Plotinus sendiri. Plotinus berusia 59 tahun ketika Phorporius datang kepadanya dari Athena. Plotinus selama 10 tahun tidak mencatatkan filsafatnya sedikit pun, apalagi menulisnya. Bahkan ia berdialog dengan sejumlah sahabatnya seperti yang ia pelajari dari Amoneos. Selanjutnya Phorporius meriwayatkan: “Ketika pertama kali aku berjumpa dengannya, ia telah mengarang sebanyak 25 makalah–yang kemudian dinamakan Tâsû’at–yang aku peroleh hanya sedikit saja. Makalah-makalah itu belum lagi diberikan judul oleh Plotinus. Maka setiap orang yang memperolehnya berusaha untuk memberikan judul yang sesuai. Aku selalu berhubungan dengannya selama enam tahun. Setelah itu Plotinus mengarang 25 makalah lainnya, dan ia kirimkan kepadaku empat makalah lain ketika aku di sicilia tidak lama sebelum ia wafat. Jadilah jumlah makalah seluruhnya 54 buah”. Ketika Phorporius menerbitkan makalah-makalah ini, ia membaginya menjadi enam bagian, dalam setiap bagian (juz) terdapat sembilan makalah. Dari situlah makalah-makalah tersebut dinamakan Tâsû’at (sembilan-sembilan) Plotinus. Sebagian makalah itu pada masa penterjemahan menjadi berkurang. Pada masa tersebut makalah-makalah itu dinamakan buku “Ketuhanan” yang secara salah dinisbahkan kepada Aristoteles. Penterjemahan dilakukan oleh Ibnu Naimah al-Hamsyi dan dikoreksi oleh Ya’qub al-Kindi.
Lebih lanjut Phorporius berkata: “Adalah saya yang mesti memeriksa apa yang telah ditulisnya, karena ia tidak lagi mampu membaca apa yang telah ditulisnya. Penglihatannya tidak mengizinkan untuk hal itu. Tulisannya jelek. Hubungan antar kalimat juga sangat buruk. Ia juga tidak memperdulikan kaidah penulisan, karena perhatiannya diarahkan hanya pada ide. Kebiasaan ini berlangsung sepanjang hidupnya. Plotinus terbiasa melakukan kajiannya dengan menuangkan apa yang ada dalam benaknya secara langsung, dari pertama hingga akhirnya. Sehingga ketika ia duduk untuk mencatatkan idenya, pena di tangannya bergerak di atas kertas seolah ia sedang mengkopinya dari sebuah buku terbuka. Jika ada orang yang ingin berbicara kepadanya, ia menerimanya dengan sepenuh diri dengan tetap menjaga alur pikirannya secara jelas dalam benaknya, sehingga setelah orang tersebut pergi, ia segera melanjutkan tulisannya tanpa melihat ulang apa yang telah ditulisnya, seolah tak ada sesuatu pun yang dapat memalingkannya dari berfikir. Demikianlah ia mampu hidup dalam jiwanya sendiri dan bersama dengan orang lain dalam satu waktu.
Dalam ceramah, Plotinus adalah orang yang brilian dan memiliki kemampuan tinggi dalam memberikan pemahaman terhadap audiensnya. Ketika berbicara, cahaya akalnya nampak jelas menyinari wajahnya. Plotinus selalu siap menerima berbagai kritik dan akan menjawabnya sebanding dengan kekuatan kritik itu. Selama tiga hari Phorporius terus melancarkan pertanyaan tentang keterkaitan antara jiwa dan raga, Plotinus menjawabnya tanpa henti pula. Plotinus juga memiliki gaya bahasa yang singkat, mementingkan ide dan makna yang dikandung lebih luas dari lafaz yang diucapkannya. Seolah ia mendapatkan ilham dalam mengungkapkannya. Dalam tulisan-tulisannya, Plotinus menggabungkan antara mazhab Stoikisme dan Epikurisme sambil memperkuatnya dengan metafisika Aristoteles. Plotinus memiliki ilmu teknik teoritis, mekanika, optik dan musik. Akan tetapi ia tidak memiliki banyak waktu untuk menyempurnakan kajiannya secara lebih mendalam.
Metodenya dalam mengajar, saat menyampaikan kuliahnya, adalah dengan membaca kuat-kuat risalah para filosof. Dari kalangan Platonisme ada Sphiros, Kroneos dan Atekos. Dari kalangan filosof Pheripatetik ada Spasius, Iskandar, Orasitos dan lain-lain. Akan tetapi Plotinus tidak mengikuti salah satu pun di antara mereka secara membuta. Malah Plotinus mengambil sudut pandang sendiri yang inovatif sambil menerapkan metode Amoneos dalam menjabarkan berbagai soal. Pada suatu hari, Origeon datang ke ruang belajarnya, maka Plotinus marah dan nyaris menghentikan kuliahnya. Ketika Origeon memintanya untuk melanjutkan kuliahnya, Plotinus menjawab: “Sesungguhnya api antusisme menjadi padam ketika si pembicara merasakan bahwa para pendengarnya tidak akan mendapatkan pengetahuan sedikitpun darinya”.
Berikut ini dapat anda lihat penilaian Leonjenes–salah seorang filosof masa itu yang hidup dan mengajar di Athena–terhadap Plotinus, dari suratnya yang dikirimkan kepada Phorporius. Ia berkata: “Ketika aku masih kecil, aku banyak mengikuti perjalanan kedua orang tuaku. Hal mana memberikanku kesempatan untuk melihat para pengajar filsafat paling ternama. Aku selalu berhubungan dengan mereka di kota-kota yang aku tuju. Sebagian mereka menuangkan pemikirannya dalam banyak karangan yang diwariskannya untuk generasi belakangan. Sebagian lagi merasa puas dengan menjelaskannya secara oral kepada para audiens. Di antara yang tidak menuliskan filsafatnya adalah Amonios dan Origeon. Aku pernah menghadiri kuliah kedua orang itu dan aku mengakui keistimewaan keduanya dibanding yang lainnya. Demikian pula (tidak menuliskan filsafatnya) adalah Theodores dan Iopolis di Athena. Sedangkan yang menuliskan filsafatnya dari kalangan Platonis adalah Eukledes, Demokritos dan Breklenos. Kemudian dua orang yang selalu mengajarkan filsafatnya di Roma yaitu Plotinus dan sahabatnya Amileos. Hanya kedua orang inilah yang menampakkan spirit yang sungguh-sungguh untuk membuat karangan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Tampak bahwa Plotinus memberikan penjelasan terhadap prinsip-prinsip Phytagoras dan Plato, lebih dibandingkan filosof manapun yang mendahuluinya. Amileos mengikuti jejak langkah Plotinus. Yang kedua ini banyak mewarnai pandangan-pandangan yang pertama.
Dari situ jelas bahwa kehidupan sekolah Plotinus sangat berlawanan dengan kajian bebas yang berkembang pada saat itu. Para pelajar mempelajari penulisan makalah dan pembuatan risalah. Ini disamping membaca teks para filosof, menjelaskannya dan memberikan komentar terhadapnya. Para siswa membacakan kajian-kajian mereka dan mendiskusikannya secara terbuka. Disamping itu, beberapa sekolah filsafat dari beberapa kota melakukan korespondensi. Para guru dan pelajar betukarpikiran, dan lebih jauh lagi melakukan dialog. Kita melihat misalnya Leongenes melakukan korespondensi dengan Phorporius. Demikianlah Plotinus dengan keaslian pemikirannya mampu memperbaharui Platonisme sekaligus meramunya dengan filsafat Pheripatetik (Aristoteles), Stoikisme dan Phytagorisme. Pada akhirnya Plotinus memunculkan jenis mazhab baru yang dianggap sebagai akhir dari sekolah-sekolah filsafat Yunani.
Yang baru dalam filsafat ini adalah metodenya, pandangannya terhadap jiwa dan penafsirannya terhadap wujud (being). Metodenya adalah mengamati inti jiwa dan menaik ke cakrawala tertinggi dengan cara debat menanjak sehingga jiwa memperoleh sumber cahaya dan setelah itu ia mendapatkan kebenaran. Debat adalah metodenya Plato, tetapi debatnya Plotinus berbeda dengan Plato. Plotinus sangat berpegang pada penelitian batin dan mengeluarkan berbagai hakekat dari jiwa itu sendiri. Sementara debat Plato dimulai dari hal-hal mahsûs (inderawi) dan dari kajian-kajian matematika serta melihat pada bentuk-bentuk matematis untuk menanjak ke alam ide; ke bentuk-bentuk murni dan setelah itu turun ke dunia mahsûs (inderawi), setelah seorang filosof mengetahui ide, untuk memperbaiki keadaan kota. Plato tidaklah melarikan diri dari dunia realitas serya terbenam dalam dunia rasionalitas. Sekali-kali tidak. Ia hanya lari untuk sementara, untuk kemudian kembali lagi ke dunia realitas dan memperbaikinya. Di situ ia mewujudkan kebaikan dan kebajikan. Sedangkan Plotinus, karena situasi politik dan sosial yang ada pada masanya, bersamaan dengan mulai mundurnya kekaisaran Romawi dan banyaknya kerusakan juga peperangan yang memporak-porandakan negeri, membuatnya lari dari dunia realitas di mana manusia kehilangan harapan dalam memperbaikinya, untuk kemudian mencari dunia lain, baik dengan menyelam ke relung-relung jiwa, atau berharap pada suatu kehidupan lain yang lebih menjamin kebahagiaan, dari sekedar kehidupan dunia. Dalam hal ini, Plotinus mengajukan dua cara; pertama, manusia mengurung dirinya dalam batin jiwanya seraya hidup secara zuhud (asketik) dalam gemerlapnya kehidupan dunia, seperti kita lihat dalam perjalanan hidup Plotinus. Kedua, manusia mesti berusaha untuk memperoleh kebehagiaan hidup akherat. Tidak disangsikan lagi bahwa Kristenitas yang sezaman dengan filsafat Plotinus telah terpengaruh oleh ajaran-ajaran Plotinus sebagaimana halnya mazhab Plotinus terpengaruh oleh pandangan para filosof Kristen yang ada di Iskandariah.
Dasar filsafat Plotinus berbeda dengan dasar filsafat Yunani sebelumnya hingga Plato dan Aristoteles. Filsafat Yunani berusaha untuk menafsirkan wujud (being), dengan cara menjelaskan sifat wujud dari hal-hal yang maujud. Parmanedes berpendapat bahwa wujud itu ada, dan ia merupakan suatu hakikat primordial yang tidak perlu ditegaskan. Sedangkan menurut Plato, wujud itu ada dua macam, mahsûs (terindera) dan ma’qûl (rasional). Wujud rasional–yaitu alam ide–adalah asal dari wujud mahsûs. Namun berbagai wujud mahsûs yang kita saksikan di dunia ini tidak lain kecuali bayang-bayang dan angan-angan. Sedangkan yang hakekat adalah ideal-ideal dari hal-hal yang maujud ini. Ideal adalah rasional. Oleh karena itu filsafat Plato bersifat ideal. Ketika Aristoteles datang, ia tidak memisahkan alam kepada dua jenis ini, malah Aristoteles berpendapat bahwa alam maujud tersusun dari dua prinsip; materi dan bentuk. Jelaslah dapat diktakan bahwa filsafat Yunani adalah filsafat tentang wujud. Dan pendefenisisan Aristoteles terhadap filsafat pertama–metafisika–adalah sebagai pengetahuan terhadap “yang ada” sebagaimana ia “ada”.
Sedangkan filsafat Plotinus adalah filsafat tentang “yang satu”. “Yang satu” dalam puncak wujud, dan lebih tinggi dari padanya. Dari yang satu itu keluar akal, dan dari akal keluar jiwa. Demikianlah Plotinus memulai dengan trinitas yang terus berkembang, dan puncaknya adalah “Yang Satu”. Inilah yang membedakan filsafat Plotinus dari filsafat Plato dan Aristoteles. Sedangkan pengertian “Yang Satu” menurut plotinus tidak begitu jelas dan tegas. Kadang-kadang ia difahami sebagai Allah, kadang-kadang difahami sebagai kebaikan, dan kali yang lain difahami sebagai yang ketiga dari yang awal. Apapun adanya “yang satu” itu kebih tinggi dari wujud (being).
Jadi bagaimana wujud datang dari “yang satu” itu? Wujud pertama yang muncul dari “yang pertama” adalah akal. Akal memancar darinya karena ia adalah gambaran dari “yang satu” itu. Atau bentuk tak berbeda darinya. Kemudian dari akal muncul jiwa yang merupakan gambaran paling dekat dengannya. Akan tetapi bagaimana manusia mengetahui bahwa ia merupakan satu bagian dari jiwa universal? Dan bagaimana ia sampai pada pengetahuan tentang akal dan tentang alam ilahi yang ada jauh di atas akal? Mari kita lihat penjelasan Plotinus tentang pengetahuan ini, melalui cara “debat”. Ini akan kita ketahui melalui terjemahan Arab kuno yang diperbaharui oleh al-Kindi.
“Sesungguhnya aku kadang-kadang menyendiri dengan jiwaku. Aku melepaskan badanku, akupun masuk ke dalam zatku, kembali kepadanya seraya keluar dari segalanya. Maka jadilah aku ilmu (pengetahuan), ‘âlim (yang mengetahui) dan ma’lûm (yang diketahui). Maka aku pun melihat kebaikan, keindahan dan sinar terang pada zatku, sesuatu yang aku kagumi. Aku pun tahu bahwa aku merupakan bagian dari alam Ilahi utama dan mulia yang memiliki kehidupan aktif. Ketika aku yakin terhadap semua itu, aku pun menaikkan zatku dari alam itu ke alam ilahi, aku pun selalu menjadi jatuh ke dalamnya, terikat dengannya. Aku berada di atas alam rasional seluruhnya. Aku pun melihat seolah aku berada pada posisi keilahian yang mulia itu. Di sana aku melihat sinar dan keagungan yang tidak dapat dideskripsikan lisan dan tidak pernah didengar oleh telinga. Bila aku tenggelam dalam cahaya dan keagungan itu, aku tidak mampu menanggungnya, jatuhlah aku dari akal ke ide dan pandangan. Bila aku berada di alam ide dan pandangan, aku pun terhalang–oleh ide itu–dari cahaya dan keagungan tersebut. Aku pun menjadi heran bagaimana aku dapat terjatuh dari kedudukan tinggi Ilahi dan menjadi berada pada posisi ide…”
Filsafat Islam mengenal Plotinus dari buku ini. Akan tetapi kadang-kadang buku tersebut disalah fahami penisbatannya kepada Aristoteles. Hal itu disebabkan karena penyelarasan antara dua orang bijak, Plato dan Aristoteles, yang dimulai dari al-Farabi sampai Ibnu Sina. Mereka ini mengatakan tentang tingkatan-tingkatan wujud dan keberasalannya dari yang pertama.
Setelah Plotinus wafat, kepemimpinan sekolah di Roma digantikan oleh muridnya yang menerbitkan makalah-makalah Plotinus (Tâsû’at), yaitu Phorporius (305-232 SM). Dilahirkan di Shur, dan melewatkan masa mudanya di sana. Ia banyak memperoleh pengetahuan keagamaan dan filsafat di Palestina Suriah. Kemudian ia pergi ke Athena untuk belajar kepada Leonjenes. Ia lalu pindah ke Roma, di mana ia masuk ke sekolah Plotinus dan menggantikannya sebagai pemimpin setelah Plotinus wafat. Phorporius sangat terkenal. Reputasinya bagus. Banyak pelajar yang hadir pada kuliahnya. Antara lain adalah Emplekos yang dianggap sebagai wakil Neo-Platonis paling masyhur di Suria. Di dunia Arab, Phorporius dikenal sejak masa penterjemahan. Ia terus mempengaruhi filsafat Arab dengan bukunya “ISAGOGI” yang akan kita bicarakan nanti. Jika orang Arab tidak mengetahui Plotinus dikarenakan kesalahan yang terjadi dalam penerjemahan bukunya, maka orang Arab mengenal Phorporius, murid Plotinus, dengan sangat baik; menerima sebagian pendapatnya dan menolak sebagiannya. Apapun adanya, pandangan-pandangan Phorporius secara keseluruhan merupakan perluasan dari pandangan- pandangan gurunya, meski sesungguhnya sang murid telah memberikan sedikit perubahan.
Plotinus mempunyai banyak karangan. Di antaranya adalah “Filsafat Ramalan” di mana ia menggambarkan ritual-ritual keagamaan di kuil-kuil paganisme yang dipraktekan orang-orang Mesir, Kildan dan Suryan. Juga “Bentuk-bentuk Tuhan” di mana ia menolak paganisme dan menjelaskan bahwa penyembahan terhadap patung-patung tidak termasuk kekufuran seperti diklaim oleh orang-orang Kristen dan Yahudi. Menurutnya patung-patung tersebut merupakan simbol-simbol inderawi yang mendekatkan kepada Tuhan yang sebenarnya. Ia juga mengarang buku “Jawaban terhadap Orang-orang Kristen”. Tampaknya ia menulis buku ini dengan motif politik, karena Kaisar di Roma ketakutan terhadap semakin bertambah kuatnya orang-orang Kristen, di samping berbagai bencana yang dihadapi negara seperti paceklik, kelaparan, perpecahan dan ancaman dari beberapa wilayah untuk memisahkan diri. Ia juga mengarang buku “Jawaban terhadap Anabo”, seorang ahli nujum Mesir. Di situ ia menolak akidah (kepercayaan) orang-orang Mesir kuno sambil mengagungkan filsafat.
Plotinus berbicara tentang kekalnya jiwa. Ia mengajukan beberapa dalil baru yang berbeda dengan Plato yang telah disebutkan dalam “Dialog Phideon”-nya. Dalam Tâsû’at Plotinus berkata: “Jiwa bukanlah suatu “bentuk”, ia tidak mati dan tidak rusak, bahkan ia selalu kekal”. Jiwa yang suci bersih yang tidak tercemar oleh kekotoran badan, dialah yang jika berpisah dengan badan akan kembali ke substansi jiwa tertinggi. Sedangkan jiwa yang berhubungan degan badan dan tunduk kepada nafsu syahwatnya, maka jika ia berpisah dari badan, ia tidak dapat memperoleh dunianya kecuali dengan beban berat. Artinya bahwa jiwa, seperti yang telah kami sebutkan di awal, menengahi antara akal dan alam hayûlî. Demikian juga pendapat Phorporius, selain sebagai ganti dari kehidupan rasional, ia menyerukan untuk mempraktekan berbagai bentuk ibadah serta mensucikan jiwa dengan cara hidup asketik dan menahan diri dari nafsu syahwat.
Plotinus seperti halnya kebanyakan filosof klasik, membedakan antara alam mahsûs dengan alam ma’qûl. Akan tetapi ia memiliki ciri khusus dengan metode debatnya yang mencermati batin jiwa untuk dapat menanjak ke alam akal. Dalam hal ini ia berkata: “Sesungguhnya siapa yang mampu melepaskan badannya, menenangkan indera dan pergerakannya, maka dalam idenya ia juga mampu untuk kembali kepada zatnya…” Maka Plotinus seperti yang kita lihat tidak mencampuradukkan antara jiwa dan akal, ia juga tidak berbicara kecuali setelah melakukan pengamatan dan penelitian. Sedangkan Phorporius mensyaratkan adanya perbuatan-perbuatan utama seperti bersikap asketik, tidak memakan dagaing dan lainnya agar jiwa mampu menaik ke alam rasional. Karena itulah Ibnu Sina melakukan kritik terhadapnya. Katanya: “Inilah hal-hal yang menurut saya mustahil. Sungguh saya tidak memahami ucapan mereka bahwa “sesuatu” menjadi “sesuatu” yang lain. Aku tidak dapat memikirkan bagaimana itu terjadi…” Hal yang paling sering mencengangkan manusia dalam hal ini adalah yang mengarang Isagogi untuk mereka. Pengarang tersebut begitu kuat berbicara kepada manusia dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat imajinatif-puitis-mistis yang sebagiannya ia batasi untuk dirinya dan untuk orang lain. Banyak orang yang mengkaji tulisan-tulisannya tentang akal dan tentang jiwa.
Orang yang mengarang Isagogi adalah Phorporius. Isagogi dalam bahasa Yunani berarti “pengantar” atau “mukaddimah”. Bukunya yang berjudul “Pengantar Kepada Kategori-Kategori Aristoteles” dikarangnya untuk muridnya Charisarius yang menuntut ilmu di sekolah Plotinus. Charisarius adalah salah seorang anggota senat di Roma. Ia telah membaca “Kategori”-nya Aristoteles, namun tak mampu memahaminya. Ia pun menulis surat kepada Phorporius yang ada di Sicilia, menceritakan kesulitannya seraya memohon bantuan Phorporius. Phorporius pun mengarangkan untuknya satu Pengantar Kepada Kategori Aristoteles, di mana ia menjelaskan lima konsep Aristoteles: jenis, macam, divisi, partikularitas dan proposisi umum. Buku kecil tersebut sedemikian terkenal sehingga orang Arab mendeskripsikannya sebagai “berjalan bak matahari sampai kini”.
Arti kategori adalah “apa yang dikatakan tentang sesuatu”. Inilah yang paling penting dalam mendefinisikan sesuatu dan membatasi esensinya. Apa yang kita katakan tentang Sokrates? (1) manusia (2) panjang (3) putih (4) di rumah, dan seterusnya, sampai kategori kesepuluh. Manusia adalah kategori substansi. Panjang adalah kategori kuantitas. Putih adalah kategori kualitas, dan seterusnya. Kategori yang sepuluh itu adalah jenis penggolongan dari hal-hal yang ada di alam wujud. Sedangkan lima konsep, yaitu jenis, macam, divisi, partikularitas dan proposisi umum, merupakan suatu kemestian dalam suatu pendefinisian dan pembuktian. Anda mengatakan: manusia adalah hewan berakal–yang merupakan satu definisi terkenal–manusia adalah macam, hewan adalah jenis, berakal adalah divisi (pembeda). Definisi ini adalah batasan yang sempurna. Pembagian menuntut adanya pembedaan total sampai pada bagian-bagiannya.
Dengan kematian Phorporius, sekolah Plotinus pun gulung tikar, sampai pun yang ada di Roma atau di Iskandariah. Semangat sekolah tersebut lalu beralih ke timur dan barat. Wallahu A’lam

Palu, 27 Pebruari 2010
Kampus STAIN Datokarama

Referensi: Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani / MF

2 Komentar

Filed under Uncategorized

SIKAP PARA MUFASSIR TERHADAP AYAT-AYAT KAUNIYAH DALAM ALQURAN. Bagian Kedua

Didin Faqihudin
Alumnus Fakultas Adab IAIN Jakarta_PPs. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Dosen STAIN Datokarama Palu Sulawesi Tengah

Ada sejumlah besar ulama Islam yang merasakan pentingnya ijtihad dalam menafsirkan kitab suci Alquran. Akan tetapi mereka membatasinya pada pendekatan-pendekatan tertentu saja. Antara lain adalah pendekatan kebahasaan yang memperhatikan masalah makna lafaz, cara pengucapan kata, gaya bahasa, dan gramtikanya; pendekatan bayani yang berusaha untuk menjelaskan keindahan gaya bahasa Alquran; dan pendekatan fikih yang memusatkan diri pada penetapan hukum syariah dan ijtihad-ijtihad fikih. Ada mufassir yang menyerukan penggaungan keseluruhan pendekatan itu dalam menafsirkan Alquran. Inilah yang disebut dengan pendekatan komprehensif (manhaj mawsu’i). Ada pula yang menyerukan untuk menafsirkan Alquran sesuai dengan tema yang dicakupnya dengan cara mengumpulkan ayat-ayat dalam Alquran yang memiliki kesamaan tema dalam semua ayat Alquran, lalu menafsirkan dan menetapkan pengertiannya berdasarkan kaidah bahwa sebagian Alquran menafsirkan sebagian lainnya. Pendekatan ini dikenal dengan pendekatan tematik.
Sementara itu penafsiran ilmiah yang dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah Alquran berpegang pada wilayah pengetahuan manusia masih ditolak oleh sebagian besar mufassir dengan alasan sebagai berikut:
Pertama, bahwa israiliyat telah meresap ke dalam turats Islam melalui usaha para penafsir ayat-ayat kauniyah Alquran masa lalu. Allah menghendaki manusia memahami hakekat semesta alam ini dengan usaha-usaha mereka sendiri, dari satu masa ke masa berikutnya, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Olehkarena itu, ayat-ayat Alquran yang terkait dengan alam semesata hadir dalam bentuk global, yang bisa dipahami oleh masin-masing generasi sesuai kemampuannya. Oleh karena itu pula Rasulullah tidak memberikan penjelasan yang rinci mengenai hal ini, padahal beliau berkedudukan sebagai penafsir Alquran. Namun, karena jiwa manusia selalu saja sangat ingin mengetahui segala rahasia alam wujud ini, juga karena manusia sejak masa lalu telah menyibukkan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai kemunculan dan permulaan alam semesta, bagaimana penciptaan manusia, kapan itu terjadi, dan lain-lain yang terkait dengan alam semesta, maka terjadilah akumulasi jawaban terhadap hal itu sepanjang sejarah. Namun dalam jawaban-jawaban itu banyak terjadi campur aduk antara kebenaran dan kebatilan, antara ilmu dan khurafat. Dan kebanyakan yang mengganderungi pengetahuan macam ini adalah para tokoh agama dalam berbagai masa. Ketika awal munculnya negara Islam di jazirah Arabia, ia dikelilingi oleh banyak kebudayaan yang memiiki latar belakang pengetahuan yang berbeda mengenai alam semesta. Lalu setelah wilayah negera Islam semakin meluas, kedekatannya dengan kebudayaan-kebudayaan sekitar, banyaknya orang dengan latar belakang keyakinan yang berbeda ke dalam agama Islam, dan ini kemudian ini diwarisi oleh generasi belakangan. Sebagian mufassir lalu berusaha menggunakannya sebagai alat bantu dalam menjelaskan isyarat-isyarat kauniyah yangada dalam Alquran, maka merekapun kemudian tersesat jalan karena masa itu bukanlah masa kemajuan ilmu pengetahuan seperti yang kita jalani sekarang, dan juga karena mayoritas warisan penafsiran ini bersumber dari keterangan orang-orang Yahudi yang sejak awal mula kemunculan Islam selalu berusaha untuk menjatuhkan Islam. Transfer warisan Yahudi itu terjadi dari mereka yang telah masuk Islam dan yang tidak masuk Islam. Rasulullah sendiri telah memperingatkan umat Islam sejak awal: “Jika Ahlul Kitab berbicara kepada kalian, maka janganlah kalian benarkan dan jangan pula kalian dustakan, sebab boleh jadi mereka berbicara tentang sesuatu yang benar lalu kalian dustakan, dan boleh jadi juga mereka berbicara tentang sesuatu yang salah lalu kalian membenarkannya”.
Ibnu Khaldun menjelaskan sebab-sebab terjadinya transfer israiliyat ini sebagai berikut: “sebab masuknya israiliyat adalah karena orang Arab bukanlah Ahlul Kitab dan tidak memiliki pengetahuan. Mereka adalah orang-orang badui yang buta huruf. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu tentang alam semesta, permulaan penciptaan, dan apa rahasia alam wujud ini, maka mereka kemudian bertanya kepada Ahlul Kitab sebelum mereka, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara.
Kedua, Alquran pada asalnya adalah kitab petunjuk dari Tuhan. Artinya ia adalah kitab tentang akidah, ibadah, dan mu’amalah. Atau dengan kata lain ia adalah kitab agama Allah yang Dia wahyukan kepada NabiNya. Oleh karena itu maka perlu ditegaskan bahwa Alquran bukanlah sebuah kitab pengetahuan empirik, dan isyarat-isyarat ilmiah yang ada di dalamnya berposisi sebagai petunjuk dan nasehat, bukan berposisi sebagai keterangan ilmiah dalam pengertiannya yang sempit. Dan kebanyakan isyarat-isyarat kauniyah tersebut berbentuk mujmal (global), dengan tujuan untuk mengarahkan manusia supaya berpikir, merenung, dan memperhatikan secara cermat ciptaan Allah, bukan untuk tujuan pengabaran keilmuan secara langsung.
Ketiga, Alquran itu tetap dan tidak berubah, sementara capaian-capaian ilmu-ilmu empiris senantiasa berubah dan berkembang. Apa yang dinamakan dengan hakekat-hakekat pengetahuan tidak lain adalah teori-teori dan asumsi-asumsi yang membatalkan apa yang kemarin diyakini, dan bahkan besok bisa jadi membatalkan apa yang hari ini diyakini. Dengan begitu, tentu tidak boleh menafsirkan kitab Allah dengan asumsi ilmiah karena tidak boleh menafsirkan yang tetap dengan sesuatu yang berubah.
Keempat, Alquran itu adalah keterangan yang datang dari Allah, sementara capaia-capaian ilmu pengetahuan empiris tidak lebih dari sekedar usaha insani untuk mencapai suatu hakekat. Oleh karena itu menurut mereka (mufasir yang menolak tafsir ilmiah), tidak boleh melihat kalam Allah dalam lingkaran usaha-usaha manusia, sebagaimana juga tidak boleh “memenangkan” kitab Allah dengan capaian-capaian ilmu pengetahuan, karena Alquran sebagai kalam Allah adalah hujjah terhadp seluruh manusia dan juga ilmu pengetahuan.
Kelima, pada kebanyakan negara, ilmu-ilmu empiris dibentuk dengan titik tolak materi semata-mata, dengan mengabaikan adanya hal-hal gaib, termasuk Tuhan. Dan banyak praktisi ilmu-ilmu kealaman yang memiliki sikap permusuhan terhadap masalah keimanan terhadap Allah, malaikat, kitab-kitab, dan para rasul-Nya, ketentuan (qodar)-Nya yang baik dan buruk, kehidupan alam barzakh, kebangkitan, hisab, kehidupan abadi di akherat yang boleh jadi di surga atau di neraka.
Keenam, sebagian capaian ilmu pengetahuan empiris kadang-kadang berbeda dengan pokok-pokok keyakinan dalam kitab suci dan sunnah karena ia bertolak dari tumpuan materialistik, sambil mengingkari atau pura-pura tidak tahu terhadap hal-hal gaib.
Ketujuh, sejumlah mufassir yang mengajukan ta’wil terhadap sebagian isyarat kauniyah dalam Alquran, terpaksa membebani ayat-ayat Alquran dengan makna-makna yang sesungguhnya tidak dikandungnya.
Namun demikian, ketujuh argumentasi yang dikemukakan oleh mereka yang menolak penafsiran ilmiah ini, menuai kontrakritik sebagai berikut:
Pertama, hari ini kita tidak lagi memerlukan israiliyat dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah oleh karena capaian ilmu pengetahuan modern sudah sedemikian tinggi dibanding masa-masa sebelumnya. Jika penggunaan israiliyat dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah seperti dilakukan oleh generasi sebelumnya dan kemudian mereka tersesat jalan, maka penggunaan hakekat-hakekat ilmu yang ajeg dalam menjelaskan ayat-ayat itu, dapat dipastikan akan membawa pada pemahaman yang tepat yang sangat sulit untuk dicapai di masa lalu.
Kedua, tidak ada pertentangan sama sekali antara keberadaan Alquran sebagai kitab petunjuk dari Tuhan yang berisi ketentuan tentang akidah, ibadah dan mu’amalah, dengan cakupan yang dimilikinya terhadap sejumlah isyarat ilmiah yang berfungsi sebagai pembuktian akan kebesaran sang Pencipta dalam mencipta makhluk dan menghilangkan apa yang telah diciptakanNya, dan kemudian mengembalikannya seperti semula. Isyarat-isyarat itu adalah keterangan-keteranga yang berasal dari Tuhan, sang Pencipta semesta alam, maka isyarat-isyarat itu pasti benar adanya. Sekiranya umat muslim menyadari sepenuhnya hakekat ini sejak awal, dapat dipastikan mereka akan menjadi yang paling ungul dalam lapangan kajian-kajian alam. Hari ini kita mengetahui bahwa ayat-ayat kauniyah yang ada dalam Alquran terbukti memiliki ketelitian yang luar biasa dalam hal ungkapan kata dan cakupan maknanya, sekaligus mendahului penemuan-penemuan ilmiah lebih dari 14 abad. Ini merupakan bukti kuat yang tidak terbantahkan oleh siapapun bahwa Alquran adalah firman Tuhan.
Ketiga, pandangan yang melarang penafsiran sesuatu yang tetap dengan sesuatu yang berubah adalah pandangan primitif, karena itu berarti stagnansi pada satu pemahaman saja terhadap kitab Allah. Realitas kehidupan manusia bersifat dinamis. Selalu ada perkembangan di setiap generasi. Sementara sifat keajegan Alquran yang Allah berikan, tidak menghalangi kita untuk memahami isyarat-isyarat kauniyah yang ada di dalamnya dengan menggunakan capaian-capaian ilmu pengetahuan. Ilmu memiliki sifat yang terus berkembang. Apa yang tidak diketahui di satu masa, maka akan diketahui pada masa berikutnya. Dengan demikian maka generasi yang belakangan lebih banyak pengetahuannya dari pada generasi sebelumnya. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran (zikr), maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. al-Qomar : 17). Para mufassir bersepakat bahwa salah satu makna ‘zikr’ pada ayat itu adalah ‘tadabbur’ (meneliti) yang berimplikasi pada adanya perkembangan pemahaman karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan. Wallahu A’lam…
Palu, 25 Pebruari 2010

Referensi: Dr. Zaghlul al-Najjar / al-I’jaz Fil Qur’an

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized