Tawakal Kepada Allah

By. : Didin Faqihuddin, MA

(Alumnus PonPes. Darul Amal Bekasi)

Dalam surat al-Furqan ayat 58 Allah berfirman yang artinya: “Berserahlah (tawakal) kepada Zat Yang Maha Hidup dan tidak mati”. Sementara pada surat al-Anfal ayat 2, Allah berfirman yang artinya: “Dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal”. Dan dalam surat al-Thalaq ayat 3, Allah berfirman yang artinya: “Dan siapa saja yang berserah diri (tawakal) kepada Allah, maka Dia (Allah) akan menjadi jaminan baginya”. Dalam satu hadits, dari Abu Hurairah ra., Nabi Muhammad saw. bersabda: “(Kelak) akan masuk surga kaum-kaum yang hati mereka seperti hati-hati burung” (HR. Muslim)—ada yang mengatakan maksudnya adalah bahwa mereka itu orang-orang yang bertawakal. Dalam sebuah hadits, dari al-Barra bin al-‘Azib ra. Rasulullah bersabda: “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, tentu (pasti)-lah Dia akan memberi kalian rizki sebagaimana Dia memberi rizki kepada burung yang keluar sarang dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang”.(HR. Tirmizi). Allah pernah memberi wahyu kepada Nabi Daud as.: “Wahai Daud, siapa saja yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan menjawabnya, siapa saja yang meminta bantuan-Ku pasti akan Aku membantunya, siapa saja yang meminta pertolongan-Ku pasti Aku akan menolongnya, dan siapa saja yang bertawakal kepada-Ku maka Aku akan menmbuatnya dalam kecukupan. Akulah penjamin orang-orang yang bertawakal, Akulah penolong mereka yang meminta pertololongan-Ku, pembantu orang-orang yang meminta bantuan-Ku, dan penjawab orang-orang yang berdoa kepada-Ku”.

Berkaitan dengan masalah tawakal ini, ada sebuah kisah tentang seorang soleh bernama Hatim al-Asham dengan seorang putri kecilnya.
Dikisahkan bahwa Hatim adalah seorang yang mempunyai banyak tanggungan. Anak-anaknya, laki-laki dan perempuan, sangat banyak. Akan tetapi Hatim selalu bertawakal kepada Allah.pada suatu malam, Hatim duduk-duduk santai bersama sahabat-sahabtnya. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Salah satunya adalah tentang ibadah haji. Pembicaraan tentang haji ini membuat hati Hatim menjadi begitu rindu ingin melihat ka’bah dan melaksanakan ibadah haji.

Pulang ke rumah, Hatim mengajak duduk anak-anaknya. Dia lalu berkata: “Jika kalian izinkan ayahmu ini untuk pergi ke rumah Allah melaksanakan haji tahun ini, bagaimana pendapat kalian?” Mendengar ini, istri dan anak-anak lelaki Hatim berkata: “Dalam keadaan tidak punya apa-apa engkau ingin melaksanakan ibadah haji, bagaimana mungkin engkau meninggalkan kami dalam keadaan susah begini?”

Kebetulan ada seorang anak perempuan Hatim yang masih kecil. Anak ini tiba-tiba berkata: “Kalian ini apa-apaan! Biarkan saja ayah pergi melaksanakan haji seperti yang dikehendakinya. Karena apa yang dilakukan ayah akan mendatangkan rizki”.

Kata-kata anak perempuan kecil ini menyentak kesadaran saudara-saudaranya yang lalu berkata: “Demi Allah, apa yang dikatakan anak kecil ini adalah benar. Sekarang Ayah pergilah melaksanakan haji”. Malam itu juga Hatim berangkat dan melaksanakan ihram haji. Ia meninggalkan rumah sebagai seorang musafir.

Sementara itu, para tetangga Hatim mendatangi rumahnya dan mencela anak-anak Hatim karena mengizinkan Hatim melaksanakan ibadah haji, meninggalkan keluarganya yang dalam keadaan sulit. Hal ini membuat anak-anak lelaki Hatim mulai mencela adik perempuan kecil mereka. “Seandainya engkau tidak berbicara, tentulah kami akan diam”.

Mendengar celaan ini, bocah perempuan kecil itu pun menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata: “Tuhanku, Engkau mengembalikan suatu kaum karena kemurahan-Mu, dan Engkau tidak menyia-nyiakan mereka, maka jangan sia-siakan mereka ya Allah”

Pada saat yang sama, di sebuah tempat berbeda, seorang gubernur bersama para pengawalnya keluar istana untuk berburu. Namun sang gubernur ini tertinggal pasukannya dan kemudian ia tersesat bersama sedikit pengawalnya. Ia kehausan. Begitu mencekik. Dia pun lalu singgah di sebuah rumah dan mengetuk pintunya untuk meminta segelas air.

A: “Siapa itu?”
B: “Gubernur ada di depan rumah kalian, meminta seteguk air”

Seketika istri Hatim menengadah: “Ya Tuhanku, Maha Suci Engkau. Semalam kami kelaparan, dan hari ini seorang amir ada di depan rumah kami untuk meminta air”. Wanita ini segera mengambil sebuah kendi baru dan mengisinya dengan air minum. Ia lalu berkata kepada prajurit yang mengambil kendi itu: “maafkan kami, Cuma ini yang kami punya”. Sang gubernur kemudian mengambil kendi tersebut dan langsung meminum airnya. Ia merasa begitu segar. Terlepas sudah dahaga yang barusan mencekiknya.Ia pun lalu bertanya: “Apakah rumah ini milik seorang petinggi?” Para pengawalnya menjawab: “Bukan, rumah ini adalah milik seorang hamba soleh yang dikenal dengan Hatim bin al-‘Ashim”.

Gubernur : “Aku pernah mendengar nama itu”
Prajurit : “Tuanku, saya dengar, semalam Hatim pergi menunaikan ibadah haji tanpa meninggalkan sedikit bekalpun kepada keluarganya. Saya dengar juga semalam mereka kelaparan”
Gubernur : “Kalau begitu kita telah membebani mereka hari ini. Sangat tidak pantas orang-orang seperti kita membebani orang-orang seperti mereka”
Sang Gubernur kemudian melepaskan ikat pinggangnya dan melemparkannya ke dalam rumah, dan lalu berkata kepada para pengawalnya: “Siapa yang menghargaiku, hendaknya ia melepas ikat pinggangnya”. Serta merta para prajurit melepaskan ikat pinggang mereka dan meletakkannya di dalam rumah.

Gubernur kemudian berkata: “Salam sejahtera wahai pemilik rumah, beberapa saat lagi aku akan kembali dengan membawa sejumlah uang seharga ikat-ikat pinggang yang ada ini. Setelah ia pergi dan kemudian kembali dengan membawa sejumlah uang untuk ditukar dengan ikat-ikat pinggang itu.

Melihat kejadian ini, anak perempuan Hatim yang masih kecil itu menangis sejadi-jadinya. Saudara-saudaranya menjadi heran dan bertanya: “Mengapa engkau menangis. Bukankah lebih pantas jika kita bergembira karena Allah telah memberi rizki kepada kita?”. Si anak lalu menjawa: “Wahai ibunda, bagaimana aku tidak menangis, semalam kita kelaparan, lalu seorang makhluk datang membantu kita, kemudian lepaslah segala kesulitan kita. Maka jika Dia Yang Maha Mulia Sang Pencipta yang membantu kita, ketahuilah tidak sedikitpun kita membutuhkan yang lain. Ya Allah, bantulah ayah kami, berilah keselamatan kepadanya”.

Di lain pihak, bagaimana keadaan Hatim? Ketika dia keluar melaksanakan ihram, ia bertemu dengan sekelompok orang yang pimpinannya sedang sakit. Mereka lalu mencari dokter, namun tidak dapat.Si pemimpin lalu berkata: “Apakah ada seorang yang soleh?” Orang-orang itu lalu menunjuk Hatim. Hatim pun menemui sang pemimpin dan lalu berdoa, dan si sakit pun sembuh.

Sebagai ungkapan rasa terimakasih, pimpinan kafilah memerintahkan agar Hatim diperlakukan seperti mereka memperlakukan dirinya secara istimewa. Saat malam, Hatim merenung dan memikirkan keadaan keluarganya. Di tengah tidurnya, Hatim bermimpi ada suara yang berkata: “Wahai Hatim, barangsiapa yang baik pergaulannya kepada Kami, maka kami akan memperbaiki pergaulan Kami terhadapnya”. Suara itu pun lalu memberikan kabar keadaan keluarganya.

Selesai melaksanakan ibadah haji, Hatim kembali ke keluarganya. Si anak perempuan kecil itu memeluk ayahnya sambil menangis. Hatim berkata: “Yang kecil pada suatu kaum, boleh jadi besar dalam pandangan kaum lain. Sesungguhnya Allah tidak melihat pada besar kecilnya kalian. Namun ia melihat siapa yang paling makrifah kepadaNya. Oleh karena itu berusahalah untuk mencapai makrifah dan bertawakal kepadaNya. Karena sesungguhnya siapapun yang bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya”.

Wallahu a’lam….

Palu, 2 Desember 2009

Sumber: Qashash al-Arab
Ibrahim Syamsuddin
Hal. 9-12

2 Komentar

Filed under Uncategorized

2 responses to “Tawakal Kepada Allah

  1. subhanallah, maha suci Allah..termaksaih articlenya bagus banget..^^

  2. Sesungguhnya Allah tidak melihat pada besar kecilnya kalian. Namun ia melihat siapa yang paling makrifah kepadaNya …

    *kalimat yang indah*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s