Mengapa Alquran Bukan Karangan Muhammad?

By. Didin Faqihuddin, MA.
Alumnus, PPs. UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Ada yang berkata begini: “Aku mengakui bahwa Alquran adalah sebuah kitab yang memiliki nilai tinggi, namun mengapa Alqur’an harus bukan karangan Muhammad? Aku kira, tidak aneh jika seseorang dengan reputasi besar seperti Muhammad, bisa memngarang sebuah kitab seperti Alquran itu! Ini tentu akan lebih logis dibanding jika kita mengatakan bahwa Allah yang menurunkan Alquran kepada Muhammad. Kita toh tidak pernah melihat Allah turun membawakan Muhammad Alquran! Saat ini sangat sulit meyakinkan orang bahwa ada malaikat yang bernama Jibril turun dari langit dengan membawa sebuah kitab untuk diserahkan kepada seseorang”.
Logis! Mungkin kata itu yang menjadi kata kunci pernyataan orang itu. Dia tidak pernah tahu bahwa masalah agama sesungguhnya lebih merupakan kerja hati dari pada Kerja otak.
“Saat ini sangat sulit meyakinkan orang bahwa ada malaikat yang bernama Jibril turun dari langit dengan membawa sebuah kitab untuk diserahkan kepada seseorang”, begitu kalimat terakhir penanya. Maksudnya tentu satu, Alquran dengan demikian adalah karangan Muhammad dan bukan berasal dari Allah.
Sebenarnya justru saat ini, ketika kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi demikian pesat, sangat mudah bagi kita mempercayai adanya malaikat yang tidak terlihat, dan adanya hakekat-hakekat yang boleh jadi disampaikan kepada manusia melalui wahyu… Bukankah manusia zaman sekarang berbicara tentang piring terbang (UFO) dari bintang besar di luar angkasa yang tidak terlihat, juga tentang gelombang elektrik yang dapat mengendalikan objek, gambar-gambar yang berubah menjadi getaran-getaran di udara dan lalu diterima oleh sebuah alat bernama televisi yang dapat merubahnya kembali menjadi gambar utuh yang bergerak-gerak, kamera-kamera yang dapat merekam gambar, mata yang dapat melihat dalam kegelapan, orang yang bisa berjalan di bulan, pesawat yang mendarat di planet Mars, dlsb?
Oleh karena itu, tidak aneh dan tidak juga janggal jika kita mendengar suatu keterangan bahwa Allah mengirim satu malaikatNya yang tidak terlihat secara kasat mata untuk menyampaikan wahyu kepada nabiNya. Sementara itu, mengapa kita tidak mengatakan bahwa Alquran adalah karangan Muhammad, oleh karena Alquran dengan segala redaksinya yang indah dan menghimpun berbagai macam pengetahuan, tidak mungkin ada dalam jangkauan manusia untuk membuatnya. Lalu jika kita tambahkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang butahuruf yang tidak bisa membaca, tidak bisa menulis, dan tidak pernah belajar di lembaga pendidikan apapun yang memungkinkannya untuk berinteraksi dengan umat lain…. tentu pertanyaan seperti itu mustahil muncul. Allah menantang orang-orang yang mengingkari Alquran, yang mengatakan bahwa Alquran adalah karangan Muhammad:
“Katakan hai Muhammad, silahkan kalian datangkan satu surat yang semisal Alquran dan panggil orang-orang yang kalian anggap mampu selain Allah” (QS. Yunus : 38)
Sampai saat ini tantangan itu tetap berlaku, dan tidak pernah seorang pun mampu melakukannya.
Jika kita melihat Alquran dalam satuan-satuan tematiknya, kita akan slit untuk mengatakan bahwa Alquran adalah karangan Muhammad… Pertama, karena seandainya Alquran karangan Muhammad, pasti kita akan melihat gambaran keluh kesahnya, karena pada suatu waktu Muhammad harus kehilangan orang-orang yang begitu dicintainya, yaitu Khadijah sang istri dan Abu Thalib sang Paman. Kedua orang inilah yang selama ini telah memback up dakwah Muhammad. Tetapi toh itu kita tidak temukan dalam Alquran, meskipun Cuma satu kalimat! Demikian juga ketika anaknya yang bernama Ibrahim wafat di mana Muhammad menangisinya, tidak ada paparannya dalam Alquran.
Bahkan dalam Alquran kita banyak menemukan ayat yang menentang apa yang dilakukan oleh Muhammad. Misalnya ayat tentang seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang ditinggalkan Muhammad hanya karena di situ ada petinggi-petinggi Quraisy.
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”
Ayat seperti ini tidak mungkin ditulis oleh Muhammad seandainya di sendiri yang menulisnya.
Kedua, jika kita perhatikan redaksi Alquran secara mendalam, maka kita akan menemukan keindahan yang luar biasa, yang tidak pernah ada sebelumnya di lingkungan sastra Arab. Alquran memiliki keindahan lafaz dan makna yang luar biasa. Untuk mendalami masalah ini, silahkan merujuk kepada buku-buku Balaghah.
Ketiga, jika sekali lagi kita menganalisa Alquran, maka kota akan menemukan ketelitian redaksinya di mana setiap huruf, kata, dan kalimatnya menempati tempat yang sesuai. Kita tidak bisa menggantikan satu kata dengan kata lain yang kita anggap memiliki kesamaan makna, karena setiap kata yang ada dalam Alquran sudah merupakan pilihan kata yang paling sesuai pada tempatnya. Diksi Alquran sangat luar biasa.
Salah satu contoh adalah kata lawaqih (yang mengawinkan) pada surat al-Hijr ayat 22. Para mufassir klasik menafsirkan secara majazi bahwa angin menggerakan awan lalu menurunkan hujan yang lalu “mengawini” bumi (menyuburkannya) dan menghasilkan tetumbuhan dan pepohonan. Sekarang kita mengetahui bahwa angin menggiring awan-awan yang bermuatan listrik positif dan menyatukannya ke dalam awan-awan yang bermuatan listrik negatif sehingga kemudian terjadi petir dan hujan. Dengan demikian ini juga makna lain dari lawaqih. Kita juga tahu bahwa angin yang menerbangkan serbuk sari bunga yang kemudian jatuh di putik sari bunga yang lain sehingga terjadi pembuahan. Ini juga makna lawaqih.
Contoh lain ada pada surat al-Baqarah 188: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.
Di situ digunakan kata tudlu yang asal maknanya adalah mengulurkan ember ke bawah (dalam) sumur. Bagaimana mungkin kata tudlu yang digunakan Alquran untuk dirangkaikan dengan hakim? Bukankah posisi hakim ada di atas sehingga kata tudlu tampak tidak pas digunakan di situ? Tidak! Diksi Alquran sangat tepat. Karena tangan yang menerima sogokan, mestilah tangan yang dibawah, meskipun itu tangan seorang hakim. Jadi kalimat tudlu biha ila al-hukkam sangat tepat untuk menggambarkan kerendahan orang yang menyogok dan hakim yang menerima sogokan.
Inilah sebagian contoh ayat Alquran yang membuktikan bahwa Alquran bukan karangan Muhammad. Untuk lebih jelasnya silahkan merujuk ke buku al-Ta’bir al-Qurani karya Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samirai.
Wallahu A’lam
Palu, 04 Desember 2009

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s