Tidak Melahirkakan Dan Tidak Dilahirkan

By. Didin Faqihuhdin, MA
Alumnus Fak. Adab, Bahasa dan Sastra Arab IAIN Jakarta

Ada seseorang yang mengajukan pertanyaan tentang persoalan Tuhan, begini: “Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa Allah itu ada. Dasar argumentasi kalian adalah hukum kausalitas yang mengatakan bahwa setiap karya cipta pastilah ada yang membuatnya. Setiap ciptaan pasti ada yang menciptakannya. Dan setiap yang ada, pasti ada yang mengadakannya. Sebuah tenunan menunjukkan adanya tukang tenun. Sebuah gambar menunjukkan adanya yang menggambar. Sebuah pahatan, menunjukkan adanya yang memahat. Dengan logika ini, maka alam adalah sebuah bukti besar akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menciptakannya. Kami mempercayai adanya sang Pencipta ini. Tetapi, bukankah dengan logika yang sama, kami berhak menanyakan siapa yang telah menciptakan sang Pencipta itu? Siapakah yang menciptakan Allah yang kalian bicarakan itu? Bukankah dalil yang sama dengan kalian, akan mendorong kami untuk menanyakan hal ini? Mengikuti hukum kausalitas yang sama? Bagaimana kalian menjawab hal ini?”
Mencermati secara mendalam pertanyaan ini, kita dapat melihat secara kasat mata dan mengatakan bahwa pertanyaan itu sangat keliru dan tidak perlu. Pertanyaan itu mengandung kesalahan dalam dirinya.
Pertama, jika kita sudah mengatakan bahwa Allah adalah sang Maha Pencipta, maka kita tidak boleh mempertanyakan siapa yang menciptakannya. Karena jika itu dilakukan maka kita telah menempatkannya sebagai sesuatu yang mencipta dan dicipta secara bersamaan. Ini kontradiksi!.
Kedua, pertanyaan itu menggambarkan seolah-olah sang pencipta tunduk di bawah hukum makhluk-Nya. Hukum kausalitas adalah hukum kita, manusia, yang terikat oleh ruang dan waktu. Allah adalah yang menciptakan ruang dan waktu itu. Dengan demikian maka Dia berada di luar ruang dan waktu, Dia transenden dia atasnya. Tidak sah jika menggambarkan bahwa Tuhan terikat oleh ruang dan waktu, atau oleh hukum apapun yang ada di dalamnya. Allah-lah yang menciptakan kausalitas, maka kita tidak boleh menggambarkanNya tunduk di bawah hukum yang telah diciptakanNya sendiri.
Ruang dan waktu, juga oleh hukum apapun yang ada di dalamnya. Allahlah yang telah menciptakan hukum kausalitas, maka kita tidak boleh menggambarkanNya tunduk di bawah hukum yang telah diciptakanNya itu.
Dengan metode sophistik seperti ini, si penanya tidak ubahnya sebuah boneka yang bergerak dengan batu baterai, dan membayangkan bahwa manusia yang telah membuatnya itu, pastilah sesuatu yang bergerak dengan batu baterai juga. Bila kita mengatakan kepadanya bahwa manusia itu bergerak sendiri, maka boneka itu akan mengatakan: “Mustahil sesuatu bergerak sendiri, karena dalam duniaku segalanya bergerak dengan batu baterai.”
Dengan contoh tersebut, penanya tidak menggambarkan bahwa Allah ada dengan sendiriNya tanpa ada yang mengadakanNya, semata-mata karena dia melihat bahwa segala seuatu di sekelilingnya butuh kepada pencipta. penanya sama seperti orang yang mengira bahwa Allah membutuhkan parasut untuk bisa turun kepada manusia. Atau Allah membutuhkan kendaraan untuk sampai kepada para nabiNya. Maha Suci Allah dari hal yang demikian
Imanuel Kant, seorang filosof Jerman, dalam bukunya “Kritik Akal Murni” mengakui bahwa akal tidak dapat menjangkau hakekat yang tidak terbatas. Akal hanya dipersiapkan untuk mengetahui hal-hal yang bersifat partikular saja. Akal tak mampu untuk menangkap wujud universal seperti wujud Tuhan. Kita dapat mengetahui Allah hanya dengan hati, bukan dengan akal. Kerinduan kita terhadap keadilan, adalah bukti adanya sesuatu yang adil. Sebagaimana rasa haus kita terhadap air, merupakan bukti adanya air.
Aristoteles pernah berkomentar mengenai sambung-menyambungnya sebab-sebab, demikian: “kursi terbuat dari kayu, kayu dari pohon, pohon dari benih, benih dari petani…”, akhirnya Aristoteles merasa perlu untuk mengatakan bahwa penyimpangan yang terus-menerus ini, pada suatu masa yang tidak terbatas, pastilah berakhir pada permulaan pertama, suatu sebab yang tidak butuh kepada sebab yang lain, sebab pertama atau penggerak pertama yang tidak membutuhkan sesuatu yang menggerakkannya. Suatu pencipta yang tidak membutuhkan pencipta. Ini sama dengan apa yang kita katakan sebagai Allah.
Sedangkan Ibnu ‘Arabi, dalam menjawab pertanyaan tentang siapa yang menciptakan sang Pencipta, mengatakan: “Pertanyaan ini hanya muncul dari akal yang yang tidak sehat”. Allahlah yang membuktikan adanya yang wujud, maka tidak sah bagi kita untuk mengambil yang wujud sebagai bukti adanya Allah. Secara pasti kita mengatakan bahwa cahaya membuktikan adanya siang, dan kita akan membalikkan persoalan seandainya kita mengatakan bahwa siang membuktikan adanya cahaya.
Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi : Anaa Yustadallu bii. Anaa Laa Yustadallu ‘alayya ( Akulah yang menjadi bukti dan Aku tak perlu bukti ). Maka Allah adalah dalil yang tidak butuh kepada dalil karena Allah adalah kebenaran yang sesungguhnya. Dialah bukti dari segalanya. Allah tampak pada sistem alam, pada detik jam, pada keindahan, pada hukum alam, pada daun pohon, pada bulu burung merak, pada sayap kupu-kupu, pada semerbak melati, pada kicauan burung bul-bul, pada keterikatan bintang gemintang di alam semesta ini. Seandainya kita mengatakan bahwa semua ini terjadi secara kebetulan, tentulah kita tidak ada bedanya dengan orang yang menggambarkan bahwa suara huruf-huruf yang terlempar ke udara bisa mengumpul dengan sendirinya seperti bentuk puisi Shakespear, tanpa penyair dan pengarang.
Al-Qur’an membantu kita dalam masalah ini. Dengan satu ungkapan ringkas, jelas dan tanpa pretensi pilosofis, dikatakan dalam al-Qur’an: “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantungnya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”(Qs. Al-Ikhlas:1-4).
Sahabatku, kemudian bertanya lagi: “Kenapa kalian mengatakan bahwa Allah itu satu, kenapa tidak banyak sehingga bisa membagi tugas di antara mereka?”
Kita akan menjawabnya dengan logika yang dipakainya (dengan ilmu) bukan dengan al-Qur’an. Kita katakan kepadanya bahwa pencipta itu satu, karena alam semesta ini seluruhnya terbangun dari bahan yang satu dan dengan perencanaan yang satu. Dari hidrogen, tersusunlah 92 unsur yang lain. Kehidupan ini pun seluruhnya terbangun dari susunan karbon yang sama (semua jenis kehidupan dipenuhi dengan pembakaran), dan dengan garis anatomis yang satu. Anatomi katak, kelinci, merpati, buaya, jerapah dan ikan, menyingkap garis anatomi yang sama, pembuluh darah yang sama, urat merih yang sama, ruang-ruang jantung yang sama, juga tulang-tulang yang sama, di mana setiap tulang mempunyai pasangannya. Sayap pada burung merpati adalah lengan pada katak. Susunan tulang-tulangnya sama hanya sedikit saja perbedaannya. Leher jerapah yang panjang, akan kita dapati persamaannya pada tujuh tulang belakang yang ada pada landak. Susunan syaraf dari semua makhluk hidup terdiri dari otak, spinal cord, otot-otot perasa dan otot-otot penggerak. Sistem pencernaan terdiri dari perut, usus dua belas, usus kecil dan usus besar. Sistem reproduksi terdiri dari indung telur, rahim dan zat pengandung sperma. Sistem air seni terdiri dari ginjal, saluran air seni serta penghasil air seni. Kemudian, kesatuan anatomis pada makhluk hidup adalah sel. Sebagaimana pada manusia dan hewan, sel pada tumbuh-tumbuhan mempunyai spesifikasi yang sama; bernafas, bersatu, mati dan melahirkan.
Dengan melihat semua itu, apa anehnya jika kita mengatakan bahwa pencipta itu satu. Mengapa yang sempurna harus berbilang. Apakah yang satu itu merupakan sesuatu yang kurang, sehingga ia membutuhkan penyempurna.Yang kurang sempurna itulah sesungguhnya yang berbilang. Seandainya tuhan berbilang, pastilah mereka akan berselisih. Setiap tuhan akan berjalan dengan kemauannya sendiri. Dan alam pasti akan rusak. Allah, Dialah yang memiliki keagungan dan kekuatan, tak ada sekutu bagiNya.
Wallahu A’lam
Palu, 03 Desember 2009

Sumber : al-Hiwar Ma’a al-Mulhid

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s