AKADEMIA

By. Didin Faqihuddin, MA
Staf Pengajar STAIN Datokarama Palu

Akademia adalah sekolah yang paling terkenal dan paling panjang umurnya dalam sejarah kuno. Sekolah ini didirikan di Athena pada masa Plato—sekitar abad IV SM. Sekolah ini mengajarkan filsafat sampai paruh pertama abad VI M, sebelum kaisar Justinian menutupnya. Meski demikian apa yang dilakukan oleh Justinian belum menutup sepenuhnya sekolah Akademia tersebut, karena dengan hijrahnya para filosof Akademia, sekolah itu terus hidup. Mereka pergi ke Persia, di mana Kisra Anusyirwan menyambut hangat mereka dan menempatkan mereka di kota Jundisapur.
“Akademia” selalu hidup ditinjau dari segi nama di semua bahasa. Akademi adalah tanda (nama) bagi jenis perguruan tinggi khusus. Nama akademi secara umum lebih dipakai untuk menyebut ilmu, dibanding sastra dan seni. Akademia mudah mendapatkan umur panjang ini berkat sistem yang dibuat oleh pendirinya, Plato.
Sebelum sekolah Akademia didirikan, ada banyak sekolah di Yunani, sebagaimana banyak sekolah di Timur kuno. Kita telah mengetahui sekolah Phytagorisme yang muncul dua abad sebelumnya, seperti juga kita telah mengetahui adanya sekolah-sekolah kaum naturalis. Pada abad V SM, muncullah sekolah Sophisme. Sekolah ini mempunyai tugas khusus yakni mengajarkan retorika dan tatabahasa. Dengan begitu, sekolah Sophisme telah mempersiapkan orang-orang Yunani untuk memangku jabatan-jabatan publik yang muncul bersamaan dengan munculnya demokrasi.
Sesungguhnya sekolah-sekolah Yunani yang telah disebutkan, muncul karena adanya kebutuhan yang mendesak, yaitu untuk mencetak ahli hukum dan pemimpin, karena persoalan hukum adalah pusat perhatian akal. Atau sekolah-sekolah itu mempersiapkan para pelajarnya menjadi pendeta dan pelayan biara yang hanya dapat dilakukan dengan memahami rahasia, tujuan serta fungsi agama dalam masyarakat. Atau juga sekolah-sekolah itu mempersiapkan pelajarnya untuk dapat melaksanakan urusan-urusan duniawi dengan mengetahui ilmu hitung, ilmu dagang, ilmu ekonomi dan ilmu-ilmu lainnya. Akan tetapi sekolah Sophisme mempunyai fungsi yang berbeda dari tiga yang disebutkan terakhir. Sekolah Sophis tidak mengajarkan soal kebenaran, seluas pengajaran untuk mengalahkan musuh. Karena itulah Plato bangkit membangun sekolah Akademia guna menentang ajaran kaum Sophis.
Anehnya Sokrates yang tidak pernah tercatat sebagai seorang yang mempunyai sekolah, telah digambarkan oleh Aristopanus, seorang penyair humoris, sebagai seorang pemilik sekolah yang mengajarkan para pemuda untuk mendebat kebenaran dan kebatilan. Namun penggambaran karikaturis ini tidak sesuai dengan kenyataan, karena Sokrates telah menghabiskan kehidupannya untuk mencari kebenaran, dan tidak merestui kebatilan. Sokrates diajukan ke pengadilan atas tuduhan telah merusak moral pemuda dengan mengobok-obok keyakinan nilai-nilai konservatif yang ada pada saat itu.
Ketika Sokrates dihukum mati, muridnya, Plato sangat terpukul. Ia marah terhadap demokrasi yang bertanggung jawab terhadap pengadilan dan keputusan yang diambil terhadap gurunya. Plato kemudian pergi dari Athena, mengembara ke negeri-negeri Syam, untuk menemui teman-temannya sesama filosof. Ia pergi ke negeri Syam dan tinggal bersama Eukledes selama beberapa waktu. Dia juga pergi ke Mesir dan bertemu dengan pendetanya, belajar sistem-sistem Mesir tentang agama, pengajaran, hukum dan seni. Plato mengagumi kemantapan sistem ini.
Setelah menghabiskan waktu di Mesir, Plato bermaksud pergi ke arah barat, yaitu ke Afrika Utara sampai ke kota Kirene, kota yang dibangun oleh orang-orang Yunani di satu pegunungan dekat laut. Pada abad VI M kota tersebut hancur karena gempa. Peradabannya tertimbun di bawah puing-puing. Dewasa ini ditemukan bekas-bekas peninggalan kota tersebut. Kita tidak mengetahui di mana letak sekolah Kirene itu. Plato pergi ke sana untuk menemui Feodres sang ahli ahli matematika untuk berdiskusi bersamanya.
Plato kemudian pergi ke Tarento di selatan Italia yang merupakan tempat berkumpulnya kelompok aliran Phytagoras di mana Plato bertemu dengan pimpinan sekolah Tarento yang bernama Archytas, ahli matematika yang terkenal. Archytas menggabungkan antara matematika dengan filsafat dan politik. Ia juga seorang komandan tangguh yang dipilih oleh penduduk kotanya sebagai hakim mereka. Dengan demikian ia adalah seorang hakim-filosof yang gambaran tentangnya menggoda imajinasi Plato sehingga ia menggambarkan adanya contoh bagi seorang pemimpin Kota Utama.
Tidak lama setelah itu, Plato pergi ke Sicilia, tepatnya di Zaragoza di mana ia berhubungan dengan Dion Syaqiq istri dari Dynosius, penguasa tiran Zaragoza. Dyonisius marah terhadap Plato karena filosof tersebut telah mengkritik politik yang dilakukannya. Sang penguasa pun memerintahkan agar Plato dijual di pasar budak. Dan Plato benar-benar dijual dengan harga 30 sen. Ia kemudian ditebus oleh murid-muridnya. Setelah itu Plato kembali ke Athena pada tahun 387 SM. Saat itu umurnya 40 tahun. Kemudian ia segera mendirikan Akademia.
Plato memilih tempat sekolah Akademianya di luar pagar Athena, dekat pintu sebelah barat. Akademia adalah nama dari satu kebun yang dulunya milik dari seorang pahlawan bernama Akademus. Jadi nama kebun itu dikaitkan dengan nama sang pemilik.
Kedua sisi jalan menuju Akademia dipenuhi oleh patung orang-orang besar Yunani. Tempat itu sangat disenangi oleh Plato karena tanamannya yang hijau, airnya yang jernih, serta kolamnya yang banyak. Dalam pembukaan salah satu dialog “Phyderos” Plato menggambarkan bahwa Sokrates dan muridnya Phedros pergi ke kebun itu. Keduanya berjalan tanpa alas kaki. Mereka mandi di kolam lalu duduk di bawah sebatang pohon tinggi. Tempat itu juga merupakan tempat suci bagi dewa-dewi Athena. Didirikanlah di sana sebuah tempat ibadah untuk memujinya. Tempat ibadah tersebut dikelilingi oleh hutan pepohonan Zaitun yang memberikan minyaknya bagi mereka yang beruntung di hari raya terbesar Athena. Di samping itu ada juga arena bermain matematis yang didirikan oleh panglima Athena bernama Qimeon pada awal-awal abad V SM. Di tempat ini, atau di sekitar tempat yang mengagumkan ini, Plato membeli kebun tersebut dan sebidang tanah dimana kemudian ia mendirikan Akedemianya. Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana bentuk sekolah itu. Kuat dugaan bahwa sekolah tersebut terdiri dari sebuah tempat ibadah untuk dewa-dewi, kamar-kamar untuk para guru dan pelajar, aula-aula untuk berbagai pertemuan dan mendengarkan ceramah sekaligus tempat makan dan minum bersama. Telah menjadi kebiasaan di sana pada musim panas para pelajar mendengarkan ceramah di koridor-koridor kebun atau di bawah atap serambi. Meskipun kebiasaan mendengarkan ceramah sambil berjalan ini merupakan hal yang sangat umum di sekolah-sekolah filsafat pada waktu itu, namun sekolah yang mempunyai kekhususan nama “orang-orang yang berjalan” adalah sekolahnya Plato.
Sekolah itu mirip sebuah kelompok keagamaan. Di sana ada tempat ibadah terhadap dewa-dewi, di mana para pelajar memberikan persembahan kepada mereka pada waktu-waktu tertentu, khususnya kepada Hermes, Dewa Kebijaksanaan. Kehidupan antara anggota sekolah itu–pemimpin dan pelajar–mempunyai komitmen bersama dalam hal pakaian, makanan, tidur serta sebagian hal yang menjadi kelaziman sekolah tersebut seperti merapikan rambut, memakai topi dan berjalan dengan tongkat.
Plato adalah pemilik sekolah tersebut. Ia telah membuat pesan untuk kepemimpinan sekolah itu pasca kewafatannya. Pesan itu menyangkut sistem penentuan kepemimpinan lewat wasiat. Namun begitu, penentuan kepemimpinan sekolah tersebut setelah itu berlangsung lewat pemilihan secara rahasia oleh civitas akademikanya.
Berbeda dengan kaum sophis, dalam mengajar, Plato tidak meminta bayaran. Di Athena saat itu banyak sekolah yang memungut bayaran yang sangat berat, seperti sekolah retorika. Plato tidak mau mengambil bayaran dalam mengajar karena mengikuti kebiasaan gurunya, Sokrates, yang berpendapat bahwa “makrifah” bukanlah sesuatu yang dipelajari, melainkan sesuatu yang terbuka (kasyf) dalam jiwa manusia. Atau dengan kata lain, ilmu itu “diingat”, sedangkan kebodohan adalah “kelupaan”—demikian ungkapan Sokrates yang terkenal. Bagaimana seorang guru meminta bayaran untuk sesuatu yang tidak dimilikinya juga tidak diberikannya. Jika dalam kemiskinannya Sokrates tidak pernah mengambil upah (bayaran), maka lebih-lebih Plato melarang anak-anak golongan Aristokrat dan orang-orang kaya belajar di Akademia.
Namun demikian Dion telah megeluarkan sejumlah uang untuk digunakan Plato membeli sebidang tanah dan kebun. Orang-orang kaya juga banyak memberikan bantuan kepada banyak sekolah sesuai kemampuan mereka.
Karena metode pembelajaran didasarkan pada metode dialog dan diskusi, maka tempat belajar yang dilengkapi dengan berbagai sarana pembelajaran bukanlahlah hal yang terlalu penting.
Dosen di Akademia, duduk di atas kursi tinggi sambil dikelilingi oleh para pelajar. Ia mulai menjelaskan pelajaran. Yang umum adalah, sang dosen menyampaikan pelajaran sambil berjalan dikelilingi para pelajarnya. Tidak pernah diriwayatkan bahwa Plato memberikan kuliah dari buku, atau bahan tertulis lainnya. Tetapi sebagian orang mengaitkan beberapa diktat kepada Plato, khususnya kuliahnya tentang “kebaikan”. Ada satu cerita menarik bahwa seorang pelajar pergi mendengarkan ceramah-ceramahnya tentang kebaikan ini. Orang tersebut merasakan adanya sesuatu yang baru karena selama ini ia hanya mendengarkan ceramah-ceramah tentang teknik dan astronomi.
Plato berpendapat bahwa filsafat tidak boleh dicatatkan. Dalam hal ini ia terpengaruh/terkesan oleh sikap gurunya, Sokrates, yang “menginfakkan” kehidupannya untuk berdiskusi dan berdialog, dan tidak mewariskan sesuatu yang tercatat. Benar bahwa sebelum Plato dan Sokrates, ada kelompok filosof yang mencatatkan filsafatnya di buku-buku. Buku-buku itu sebagian dijual dengan harga yang terjangkau, sebagian buku itu disusun dalam bentuk kasidah, misalnya filsafatnya Pharmanedes. Akan tetapi Plato berbeda dengan mereka. Menurutnya pengetahuan yang sebenarnya (filsafat) tidak boleh dibuku-catatkan. Pada pesan ketujuh terhadap Dion, Plato menulis “Sesungguhnya hakekat-hakekat filsafat tidak mungkin diungkapkan dengan kalimat-kalimat seperti objek lainnya. Hal itu karena setelah seseorang menerima pengetahuan dari mursyid-nya (pembimbing) dalam kajian-kajian filsafat ini, dan kemudian untuk beberapa lama tidak berhubungan dengannya lagi, maka pada saat itu cahaya pemahaman menyinari jiwanya…Aku tidak yakin bahwa buku-buku yang dikarang mengenai kajian ini dapat memberi manfaat kepada manusia, kecuali bagi sebagian kecil mereka yang mampu mengungkap kebenaran dengan dirinya sendiri”.
Sebab utama mengapa Plato–dan juga Sokrates—menolak pembukuan filsafat adalah karena fungsi filsafat adalah untuk menghidupkan, menyucikan dan menjernihkan jiwa agar dapat menyingkap berbagai hakekat, dengan dan oleh jiwa itu sendiri, dan bukan menghafal atau mempelajarinya dari para filosof, sehingga filsafat menjadi beku dan mati.
Akan tetapi, wasiat Plato tidak terwujud karena sebagian muridnya, khususnya Aristitoles telah menceritakan kepada kita pandangan-pandangan gurunya itu, bukan pengkisahan yang sifatnya historis, melainkan dilajukannya dengan cara “mengkritik”, seperti yang dilakukannya pada buku “Metafisika” ketika ia menggambarkan dan mengktritik pandangan Plato bahwa ide-ide itu berbilang-bilang. Namun demikian, adalah berbahaya dan tidak dapat dipercaya bersandar pada Aristoteles untuk mengetahui pendapat Plato, seperti juga berbahaya berpegang pada Plato dalam mengetahui pandangan-pandangan Sokrates.
Kita tahu bahwa Plato menulis beberapa dialog yang 28 di antaranya masih ada sampai sekarang. Satu di antara yang paling penting adalah “Republik”. Dalam karyanya, Plato membuat dialog lewat lisan Sokrates, hal mana membuat orang yakin bahwa apa yang ada dalam dialog-dialog itu menggambarkan pemikiran Sokrates dan bukan Palto. Padahal yang sesungguhnya adalah sebagian dialog itu menggambarkan pemikiran Plato. Dialog-dialog ini, baik yang Sokratis maupun yang Platonis, digunakan oleh Plato untuk berbicara kepada masyarakat luas dan bukan khusus pada murid-muridnya. Dialog-dialog itu mendapat sukses besar. Orang-orang membacanya dengan penuh semangat seperti ramainya panggung teater masa Chicero. Meski Plato mewanti-wanti para pelajarnya agar jangan membukukan filsafat, dan menjelaskan bahwa dialog-dialog ini tidak mengungkapkan pandangan-pandangan filsafatnya, namun orang-orang modern berpegang pada dialog-dialog itu dalam mengetahui filsafat Plato, khususnya teori tentang ide. Dialog-dialog tersebut, atau paling tidak sebagiannya seperti Phideon Thimeus dan Republik, menjadi bahan kajian di sekolah Akademia sampai akhir masa sekolah Akademia itu, para guru memberikan penjelasan tentang semua itu. Para pelajar yang datang ke Athena untuk mengenal filsafat, mendapatkan keinginan mereka dalam dialog-dialog ini berikut penjelasan para gurunya. Pada abad III M, kita lihat Phirphirius menghadiri penjelasan Leoninus tentang dialog-dialog Plato.
Itu tidak berarti bahwa dialog-dialog tersebut, pada saat Plato menulisnya tidak dipelajari di Akademia. Dialog-dialog tersebut tersebar luas, namun saat itu tidak menjadi dasar pengajaran filsafat. Para pelajar mengkaji dialog-dialog tersebut sebagai pribadi anggota masyarakat. Boleh jadi mereka mengkritik pemikiran-pemikiran yang ada. Karena itulah, dialog-dialog tersebut tetap eksis, yang belakangan menyederhanakan dialog-dialog tersebut dari yang terdahulu. Karena kebebasan kritik dan diskusi pandangan-pandangan yang datang belakangan semakin berkembang. Kritik tersebut berlangsung dengan semangat keberanian tanpa rasa takut. Kita lihat misalnya Aristoteles yang merupakan pelajar Akademia menulis dalam buku Etika-nya: “Aku mencintai Plato, aku juga mencintai kebenaran. Akan tetapi cintaku kepada kebenaran lebih besar dibanding cintaku kepada Plato”. Sokrates mengakui kedekatan dengan gurunya sekaligus mencintainya. Akan tetapi memegang teguh kebenaran tidak akan dikorbankan hanya karena kedekatan itu.
Karena tujuan utama pembangunan Akademia adalah untuk mencetak ahli hukum dan politik, maka tentu saja kajian hukum, pokok-pokok hukum dan sistem hukum-lah yang menjadi basis kajian di Akademia. Karena itulah penduduk kota yang ada di sekitar sekolah Akademia, datang untuk mempelajari hukum seperti yang dilakukan oleh Iphamanondes, ketika ia ingin mencari pola hukum untuk kota Megalopolis. Di samping itu, Akademia juga mengajarkan ilmu matematika (ilmu hitung, ilmu teknik, ilmu astronomi, dan ilmu musik). Di muka telah disebutkan bahwa banyak orang yang berharap dapat mendengarkan sesuatu tentang kemuliaan ketika mereka menghadiri kajian-kajian Plato tentang kebaikan. Namun ternyata mereka hanya mendengarkan ilmu Astronomi, ilmu hitung serta wacana tentang yang satu dan yang terbatas, serta persoalan-persoalan matematika lainnya. Ini terjadi karena Plato berpendapat bahwa matematika merupakan pengantar yang tidak dapat dipisahkan dalam menuju filsafat. Karena itu Plato menulis di pintu sekolah Akademianya: “Siapa yang bukan ahli teknik, maka jangan masuk bergabung dengan kami”. Di antara asumsi-asumsi astronomis yang berkembang di sekolah Akademia adalah: ”kesistematisan gerak benda-benda langit”. Atas dasar asumsi inilah para ilmuwan Akademia menafsirkan kebingungan bintang-gemintang.
Di antara para ilmuwan itu ada yang sangat membantu Plato. Merekalah yang menyebabkan Akademia-nya terkenal sebagai pusat kajian matematika. Sulit untuk mengetahui nama mereka satu persatu. Hubungan para pelajar dengan guru-guru mereka bukanlah hubungan guru-murid, melainkan hubungan persahabatan. Kita mengetahui bahwa Plato pergi menemui Theodores si ahli matematika, Archytas dan Eukledes. Semuanya ditemui di negerinya masing-masing, dan Plato bukanlah murid mereka. Demikian juga beberapa orang sahabat yang mungkin dapat dianggap sebagai ilmuwan-ilmuwan Akademia datang menghadiri kuliah Plato. Di antaranya Chitatos dan Eudoksis. Sebagian sejarawan berpendapat bahwa mereka benar-benar murid-murid Plato.
Kita tidak banyak mengetahui tentang Chitatos. Meski demikian, Plato telah mengabadikan namanya ketika yang terakhir itu menjadikan judul satu dialognya dengan nama Chitatos. Dari dialog ini kita dapat mengetahui bahwa ia adalah penduduk Athena. Ia belajar pada Sokrates dan Theodores dari Kirene. Ia hidup semasa dengan Archytas dan Plato. Tampaknya Chitatos adalah seorang ahli matematika ulung dan memiliki banyuak inovasi dalam bidang ini, hal mana mendorong Plato untuk mengabadikan namanya. Dialog ini diketahui membahas tentang teori pengetahuan dan cara memperolehnya. Dari persepsi (indera) atau dari rasio (akal)? Sedangkan Eudekses berasal dari Chenides belajar teknik pada Archytas dan kemudian pergi ke Athena pada umur 23 tahun, dua tahun setelah dibukanya Akademia (38 SM). Pada masa mudanya, ia sangat fakir, akan tetapi kemudian mendapat kekayaan yang besar dari hasil mengajar setelah ia pergi ke Mesir dan mendapatkan kemasyhuran di bidang filsafat dan matematika.
Itu bukan berarti bahwa hanya dua orang ini yang lulus dari Akademia. Ada banyak nama besar lainnya seperti Liodemes, Neokledes dan Leon. Tiga orang ini mempunyai pengaruh dalam kemajuan ilnu teknik, sistematisasi kajiannya dan penyusunannya secara ilmiah. Dengan begitu, mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam mempersiapkan munculnya Eukledes sang ahli teknik.
Tentu saja metode kajian tersebut disesuaikan dengan ilmu-ilmu matematis yang merupakan lambang (ciri) ketenaran Akademia. Metode-metode itu mulai memiliki karakter yang jelas sejak Sokrates, yang terkenal dengan metode “sarkasme”. Metode Sokratis ini pada dasarnya berpegang pada dialog, karena kajian-kajian yang diselaminya adalah ilmu-ilmu humaniora seperti sastra, seni, bahasa, syair, agama, etika, sosial dan politik. Metode ini kemudian dilanjutkan di Akademia (oleh Plato), digambarkan dengan sangat bagus dalam bentuk dialog-dialog. Metode ini didasarkan pada pendefifinsian makna-makna universal, pembatasan kata serta induksi.
Pada dasarnya dalam dialog terdapat diskusi yang berlangsung antara dua orang pribadi atau lebih. Dialog berasal dari bahasa Yunani dan terambil dari dua kata DIA dan LOGOS artinya “pembicaraan dua orang”. Dialog yang ada pada Sokrates berkembang menjadi perdebatan pada Plato yang dalam bahasa Yunani disebut dengan “dialektik, terambil dari kata DIA dan LEKTIKON artinya “pembicaraan”. Perbedaan antara dialog dengan dialektika adalah, jika yang pertama artinya pembicaraan antara dua orang, maka yang kedua artinya pembicaraan antara pribadi dengan jiwanya. Ia adalah kerja berfikir yang terjadi dalam jiwa. Plato membagi debat menjadi dua; menaik dan menurun. Debat dengan arti seperti ini merupakan metode falsafi yang tidak berpenghalang, karena jiwa menaik ke dunia ide (hakekat), kemudian turun dari dunia ide ke dunia persepsi, dari dunia tetap ke dunia berubah.
Sedangkan metode yang cocok untuk Matematika adalah metode analisis dan pembagian. Ada yang berpendapat bahwa Plato-lah yang menciptakan metode analisis. Ini yang kemudian diajarkan kepada muridnya Leodemes. Metode analisis ini pada akhirnya menjadi dasar logika Aristoteles pada dua buku utamanya; Analotika I (analogi) dan Analotika II (pembuktian). Ambil misalnya konsep persamaan dan bagaimana ia menganalisisnya dalam dialog Phydeon. Brookles berkata dalam komentarnya terhadap buku pertama Eukledes tentang Leodemes: “Sesungguhnya Plato menjelaskan kepadanya tentang metode analisis yang sangat membantunya dalam menemukan banyak hal yang berkaitan dengan ilmu teknik”
Akademia terkenal dengan penggunaan metode pembagian, khususnya pembagian dualisme. Dalam dialog Shopisme terdapat contoh tentang metode ini. Metode pembagian sangat berguna dalam membuat klasifikasi dan definisi. Dialog Shopisme berlangsung antara Theodores orang Kirene, Chitatos ahli matematika, Sokrates dan orang keempat dari Ilia. Orang-orang yang berdialog ini–seperti yang kita lihat mereka adalah ahli matematika–bersusaha untuk membatasi makna-makna Shopisme politik dan filsafat. Shopistisisme menangani satu di antara berbagai disiplin pengetahuan. Disiplin tersebut boleh jadi diusahakan atau diciptakan.
Ilmu pengetahuan yang diusahakan (al-muktasabah) dapat berupa yang dipelajari maupun yang ditiru, seperti berdagang, perang dan berburu.
Berburu ada dua jenis; yang hidup dan yang tidak hidup. Berburu yang hidup misalnya berburu ikan di laut, burung di udara dan binatang melata. Berburu dilakukan dengan berbagai alat; jaring, perangkap dan tombak.
Kaum Shopis adalah pemburu. Seninya dipelajari. Hasilnya menjaring orang-orang terhormat dan orang kaya, memberikan ilmu kepada mereka sebagai ganti dari upah yang diambilnya.
Ini adalah contoh metode dan pembagian dualisme. Manfaatnya adalah untuk mengklasifikasi dan mendefinisi.
Sekolah Akademia tidak hanya mengkaji ilmu-ilmu matematika saja, melainkan juga mengkaji ilmu-ilmu hayat. Tetapi secara umum, orientasi sekolah ini adalah kajian matematika. Salah seorang penyair komedian telah merekam kajian (dialog) tentang tumbuh-tumbuhan yang berlangsung di sekolah Akademia:
 Ceritakan kepadaku tentang Plato, Sphisipus dan Minendos. Apa yang mereka lakukan sekarang? Konsep apa yang mereka kaji secara mendalam? Juga perdebatan apa yang sangat sering terjadi di antara mereka?

 Aku tahu banyak, tapi akan kuberi tahu kamu secara ringkas. Pada hari Raya Athena aku melihat sekelompok pemuda di taman bermain Akademia. Di sana aku mendengar hal-hal yang sulit dibenarkan. Mereka mendefinisikan dan membagi dunia alam, serta membedakan kebiasaan-kebiasaan hewan, sifat pohon dan jenis-jenis sayuran. Aku lihat Yaqthin ada pada mereka, kemudian mereka membahasnya dari jenis apakah dia itu?

 Apakah mereka menetapkan tumbuhan apakah ia itu? Beritahu aku jika kamu tahu!

 Baik! Pada awalnya mereka diam saja, dan rencananya akan menelitinya nanti. Tiba-tiba ketika mereka masih membahasnya, salah seorang pelajar berkata bahwa Yaqthiin adalah dari jenis sayuran, yang lain mengatakan ia adalah jenis rerumputan dan yang lain mengatakan bahwa ia termasuk jenis pepohonan. Ketika seorang dokter mendengar apa yang mereka perbincangkan, ia menjadi sangat marah.

 Aku kira mereka harus marah juga dan berteriak dimukanya, karena sangat tidak sopan apa yang dilakukannya saat mereka sedang berdiskusi.

 Aku tidak memperhatikan reaksi para pelajar. Akan tetapi Plato yang ada pada saat itu dengan penuh simpati memberitahukan mereka agar berusaha mendefinisikan jenis Yaqthin itu. Mereka pun kemudian membuat definisinya masing-masing.

Dari penjelasan di muka, jelaslah bahwa Akademia mengkaji ilmu-ilmu hayat. Kemudian Sphisipus, anak saudara perempuan Plato sekaligus penggantinya dalam memimpin sekolah Akademia, menulis beberapa karya tentang hewan dan tumbuhan. Ada yang membahas tentang bunga karang dan mutiara. Akademia masa Plato diperlengkapi dengan banyak sarana ilmiah dan peta. Tak ada perbedaan pendapat bahwa Akademia secara umum sangat berorientasi matematis, sementara sekolah –Aristoteles Lykeon–berorientasi biologi alamiah.
Jelaslah bahwa Akademia sangat memperhatikan semua ilmu dan pengetahuan, namun ia mengutamakan sebagian atas sebagian lain sesuai dengan orientasi filsafatnya. Sesuai dengan tingkatan kepentingannya, ilmu dapat dibagi kepada empat kelompok; filsafat, humaniora (politik, etika, psikologi dan biologi), matematika (ilmu hitung, teknik dan asronomi), dan ilmu alam (ilmu hayat). Filsafat adalah mahkota dari semua ilmu ini. Filsafatlah tujuan akhir setiap pelajar setelah mengarungi berbagai samudera ilmu, khususnya matematika. Filsafat Plato tersingkap dalam sebuah kata ideal. Platolah yang menciptakan filsafat idealisme. Ideal-ideal yang ada hingga saat ini, kecenderungannya selalu berpegang pada ideal Plato.
Ideal menurut Plato adalah bentuk perenial permanen yang digunakan untuk menafsirkan dan mengetahui berbagai wujud (being) yang ada. Persoalan yang dihadapi oleh para pemikir Yunani sekaligus berusaha untuk mencarikan jawabannya adalah persoalan asal-usul wujud-wujud (being) yang ada ini, dan persoalan yang muncul ke alam wujud dan kemudian menghilang. Singkatnya adalah persoalan penafsiran tentang yang berubah dan yang banyak. Apakah yang banyak ini merupakan wujud hakiki ataukah ia kembali kepada wujud yang satu? Apakah perubahan yang kita saksikan ini bersifat hakiki ataukah ia hanya fenomena yang akan hilang di balik sesuatu yang permanen? Sudut pandang para filosof Yunani mengenai hal ini berbeda satu sama lain sejak abad VI SM. Mereka berbicara tentang prinsip materi yang satu seperti air, udara dan api. Sebagian lagi berpendapat tentang unsur-unsur yang empat seperti Anpedekles, dan yang lain berpendapat tentang atom-atom, misalnya Demokritos. Di samping itu, ada juga kelompok Phytagorisme yang menafsirkan wujud dengan prinsip matematis dan bentuk teknis. Kemudian muncullah Parmanedes di Ilia, sebelah selatan Italia, yang menegaskan bahwa “wujud ini benar-benar ada. Ia satu dan tetap”. Inilah “jalan yang sebenarnya”. Sedangkan jika seseorang menggunakan “jalan dugaan” maka ia melihat yang ada ini sebagai banyak dan berubah.
Ideal Platonis menggabungkan antara yang satu-nya Phytagorisme dengan yang satu-nya Parmanendes. Ideal permanen yang satu adalah asal usul dari wujud-wujud yang dapat dirasa dan berubah. Inilah solusi tepat yang ditawarkan oleh Plato untuk menafsirkan wujud yang banyak dan berubah di alam inderawi.
Namun Plato menjadi sadar tentang kelemahan dan keterbatasan teori ini. Dalam menjelaskan banyak persoalan yang dihadapi pikiran, Plato mengkritik dirinya sendiri dan menarik pemikirannya sebagaimana nampak dalam dialog-dialog Pharmenendes. Ia bertanya-tanya tentang asal-usul yang terindera, apakah ia berserikat dengan ideal ataukah ia hanya imitasi (peniruan) dari ideal? Perserikatan mengasumsikan bahwa ideal adalah suatu totalitas (keseluruhan) dan tiap-tiap yang dapat dirasa (terindera) adalah bagian (partikular) dari yang keseluruhan itu. Sedangkan “imitasi” menyatakan ideal sebagai asal, kemudian dari sana hal-hal yang dapat dirasa muncul dan menjadi banyak, seperti banyaknya gambar dalam banyak cermin. Ketika filsafat Yunani berpindah ke Arab, al-Ghazali memanfaatkan teori ini dalam banyak bukunya.
Ideal, karena ia bersifat rasional, maka di dalamnya tidak terdapat materi. Sedangkan Yang dapat dirasa (terindera), karena ia berbentuk, maka ia adalah materi. Lalu bagaimana yang mahsus-material itu muncul dari yang rasional-imaterial? Inilah inti persoalan yang memaksa Aristoteles–murid Plato–untuk memecahkannya dengan menyatakan bahwa yang mahsus (terindera) tersusun dari dua prinsip; substansi (primordial matter) dan bentuk. Ia juga menyatakan bahwa alam adalah material. Itu tidak berarti bahwa filsafat Aristoteles bersifat material, bahkan filsafatnya menunjukkan penerimaannya terhadap wujud material di samping juga bentuk.
Ideal-nya Plato ini secara bertahap terus berkembang hingga berhenti pada tiga hal; kebenaran, kebaikan dan keindahan. Pembagian ini tetap dikenal hingga saat ini.
Sekolah Akademia berusia sampai sembilan abad. Didirikan pada tahun 327 SM di Athena dan ditutup oleh Kaisar Justinian pada tahun 529 M. Dalam rentang sembilan abad ini sekolah Akademia mengalami perubahan keadaan dari klasik, pertengahan hingga modern, serta Akademia pasca masehi. Pembagian tersebut berasal dari para sejarawan filsafat modern, dan merupakan sintesis sebagian, karena di situ ada pengaitan ciri yang berlaku pada suatu masa tertentu dikembalikan kepada kepribadian dan kepemimpinan pemimpinnya.
Kepemimpinan sekolah Akademia pasca wafatnya Plato dipegang oleh Esphisipus, anak saudara perempuan Plato, yang telah menyempurnakan organisasi sekolah tersebut pada bentuknya yang terakhir. Ia terus memimpin Akademia dari tahun 347 SM (setelah wafatnya Plato) sampai tahun 339 SM. Kemudian ia digantikan oleh Zenokrates (339-315SM), lalu Polimeon (315-270 SM) dan terakhir Ekrotes sejak 270 SM yang ditangannya bentuk klasik Akademia yang mempunyai ciri Platonis telah berakhir. Pada masa itu banyak ilmuwan terkenal muncul, di antaranya: Iodekses dan Henokledes. Dikatakan bahwa Krentor. Murid Polimeon adalah yang pertama membuat penjelasan-penjelasan dari dialog-dialog Plato.
Akademia kemudian berubah menjadi sekolah yang berkecenderungan skeptis. Dimulai dengan kepemimpinan Ariklisius yang dianggap pendiri Akademia pertengahan. Orientasi ini menjadi semakin jelas di tangan Karniades yang pada masanya (213-129 SM), Akademia dinamakan dengan Akademia Ketiga. Orang-orang Athena telah mengutusnya sebagai duta ke Roma dan ia sukses menjalankannya.
Akademia Keempat ada di bawah kepemimpinan Philon dari Larisa yang telah mengarahkan Akademia dalam orientasi Stoikisme. Akademia Kelima ada di bawah kepemimpinan Anthiochis al-Asqollany (w. 68 SM) yang mengharmonisasikan antara Platonisme, Sokratisme dan Stoicisme. Biasanya Akademia Kelima ini dikenal dengan Akademia baru. Dapat dikatakan bahwa Karnides dan Anthiochis adalah orang yang berjasa dalam menyebarkan ajaran-ajaran Akademia setelah sekolah ini berpindah ke Jundishapur.
Bagaimanapun, sejarah Akademia hingga abad 5 M belum begitu jelas. Yang kita ketahui bahwa Akademia mulai bersinar pada abad 5 M di mana ia menjadi baru dan menjadi pusat Platonisme modern yang terpengaruh oleh filsafat Iskandariah (Mesir). Pada masa ini, beberapa nama terkenal muncul, khususnya dalam filsafat Arab, di antaranya Brookles, Flotorkes, Marianos, Izodores dan Al-Dimasyqi yang merupakan pemimpin terakhir sekolah Akademia (510-529 M).
Tampaknya sebab utama dari ditutupnya Akademia–demikian juga Lykeum– adalah karena ia (dianggap) merupakan buaian ajaran-ajaran paganisme. Kristen menang dan berkuasa. Ia ingin menghancurkan setiap jejak paganisme. Para filosof Akademia memilih untuk meninggalkan Akademia ke tempat lain yang memungkinkan untuk mempraktekan ajaran-ajarannya secara bebas. Mereka disambut oleh Kisra Anusyirwan yang kemudian menempatkan mereka di Jundisyapur. Kisra memberikan kebebasan kajian ilmiah kepada mereka. Maka filsafat, kedokteran dan ilmu-ilmu lain mulai berpindah ke Jundisyapur ini. Akademia tetap eksis di tangan ilmuwan Romawi khususnya Chicheron yang mengalami peristiwa perpindahan Akademia ke Baghdad pada masa Abbasiyah dan mentransfer ilmu dan filsafat Yunani ke Bahasa Arab. Demikianlah kita melihat bahwa Sekolah Akademia yang orisinil telah hilang dari Athena, berpindah ke tempat dan bahasa yang lain. Akan tetapi, ajaran-ajarannya tidak mati. Akademia senantiasa hidup, pikiran dan filsafat matematikanya sekali lagi telah kembali ke permukaan pada masa kini, diadaptasikan dengan karakter kekinian dengan segala tuntutan zaman dan perkembangan besar yang terjadi selama kurun 20 abad.
Palu, 17 Desember 2009

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s