ISLAM MELEGALKAN PERBUDAKAN? Bag. Pertama

By. Didin Faqihuddin, MA
Alumni PonPes. Darul Amal Buni Bakti, Bekasi.

Tuduhan Barat Terhadap Islam
Banyak penulis Barat yang sengaja menuduh Islam sebagai agama yang melegalkan perbudakan. Padahal perbudakan sesungguhnya merupakan sesuatu yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai dan harkat kemanusiaan. Hal ini tentu mementahkan apa yang selama ini diklaim oleh umat muslim bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang, rahmatan lil ‘alamin. Lalu bagaimana penjelasan mengenai hal ini?
Sesungguhnya ada beberapa poin yang menyebabkan Islam “tampak seperti” melegalkan perbudakan–saya sengaja menebalkan dan memberikan tanda petik pada kedua kata itu untuk menunjukkan bahwa Islam sebenarnya tidak melegalkan perbudakan. Salah satu di antara poin itu adalah “situasi ekonomi dan sosial saat Islam muncul memaksa setiap pembuat hukum (syaari’) untuk menetapkan perbudakan dalam suatu bentuk tertentu, dan bahwa setiap usaha untuk menghilangkan perbudakan secara cepat akan mengalami kegagalan”.
Islam sesungguhnya muncul pada suatu masa di mana sistem perbudakan menjadi dasar pijakan seluruh sendi kehidupan ekonomi dan berbagai cabang produksinya pada kebanyakan bangsa di dunia kala itu. Suatu usaha perbaikan sosial yang mencoba untuk menghilangkan perbudakan sampai ke akar-akarnya, akan mengalami kegagalan one hundred percent. Ini disebabkan karena sistem sosial yang ada pada masa itu sangat dominan untuk memelihara perbudakan. Ia siap mengerahkan segala daya upaya sampai tetes darah terakhir untuk menjaga, memelihara, dan melanggengkan perbudakan. Jika pun, katakanlah, ada kesempatan untuk menghilangkan perbudakan secara radikal dan instan, ini tidak akan menyelasaikan persoalan, bahkan justeru akan menambah persoalan baru. Hal ini disebabkan oleh karena budak-budak yang dibebaskan akan kebingungan mencari kerja. Sama seperti pada era sekarang ini, jika terjadi pemutusan kerja secara massif di berbagai perusahaan, tentu akan menimbulkan social chaos. Dan perusahaan-perusahaan itu tentu akan menurun daya produksinya akibat banyaknya tenaga kerja yang dihilangkan.
Demikianlah kondisi perbudakan ketika Islam datang. Budak adalah alat-alat produksi ekonomi yang menjadi tulang punggung kehidupan masa itu. Oleh karena itu maka sikap Islam terhadap perbudakan adalah sebuah sikap yang mempertimbangkan segi-segi kepentingan ekonomi dan sosial yang sangat berpengaruh pada masa itu.
Namun yang perlu dicatat dan dipahami adalah bahwa Islam tidak menetapkan perbudakan dalam bentuk yang mutlak dan langgeng. Yang ada, justeru Islam menetapkan perbudakan dalam suatu bentuk yang mengarah pada usaha mengikis habis perbudakan tersebut secara bertahap, tanpa mengakibatkan pengaruh yang buruk terhadap sistem sosial, dan bahkan tanpa seseorang merasakan adanya perubahan dalam alur kehidupan sosial.
Islam melakukan dua cara untuk sampai pada tujuan ini; pertama, mempersempit ruang (aliran) yang dapat memperluas dan melangengkan perbudakan, bahkan Islam berusaha untuk menutupnya; dan kedua, memperluas jalan untuk membebaskan budak.
Dengan demikian perbudakan seperti sebuah anak sungai kecil yang dibuatkan banyak saluran air, sambil menutup saluran utama yang menyuplai air ke dalam anak sungai ini. Semakin lama maka anak sungai ini akan mengering dengan sendirinya. Dengan begitu maka Islam memastikan akan hilangnya perbudakan dari muka bumi, dengan cara yang santun dan tidak secara langsung menimbulkan kekacauan sosial,
Saluran Perbudakan
Saluran-saluran yang melanggengkan perbudakan sebelum kedatangan Islam sangat banyak. Di sini akan disebutkan delapan hal:
Pertama, seseorang individu berafiliasi ke dalam satu bangsa atau lapisan sosial tertentu. Hanya dengan afiliasi seperti ini secara otomatis menjadikannya seorang budak, atau dianggap budak oleh kelompok bangsa-bangsa lain. Di antara bangsa-bangsa yang sering menganggap golongan lain sebagai bangsa budak adalah: Yahudi, India, Yunani, dan Romawi.
Kedua, peperangan dengan segala jenisnya, baik peperangan antar bangsa, maupun antar kelompok dalam bangsa yang sama. Seorang tawanan perang secara umum akan menghadapi dua hal, jika tidak dibunuh maka ia akan dijadikan budak.
Ketiga, penculikan. Korban kejahatan ini akan diperlakukan seperti tawann perang yang akan dijadikan budak. Dan cara seperti ini dilegalkan, bahkan negara seperti Yunani mempraktekannya.
Keempat, melakukan kejahatan yang berbahaya seperti membunuh, mencuri, dan berzina. Dalam banyak sistem hukum sebelum Islam datang, para pelaku kejahatan ini akan dijadikan budak untuk kepentingan negara.
Kelima, ketidakmampuan orang yang berhutang melunasi hutangnya pada batas waktu yang telah ditentukan, maka orang itu akan dihukum menjadi budak orang yang menghutanginya. Sistem hukum sebelum Islam melgelkan ini, misalnya sistem hukum Yahudi, Yunani dan Romawi.
Keenam, kekuasaan orang tua terhadap anak-anaknya. Pada sebagian bangsa, orang tua diperbolehkan menjual anak-anaknya baik lelaki ataupun perempuan. Sementara pada bangsa yang lain hanya membolehkan menjual perempuan, khususnya jika keluarga itu dalam kondisi miskin.
Ketujuh, kekuasaan seseorang atas dirinya sendiri. Seseorang yang terkena musibah bisa menjual dirinya seharga tertentu yang membebaskannya dari krisis itu.
Kedelapan, keturunan budak. Seorang wanita budak bila melahirkan seorang anak, maka secara otomatis anak itu menjadi budak bagi tuannya, meskipun ayahnya adalah seorang yang merdeka.
Kondisi seperti ini menyebabkan jumlah budak setiap hari semakin meningkat dan meningkat lagi. Sampai-sampai di banyak negara jumlah budaknya melebihi jumlah orang yang merdeka. Di Athen misalnya, jumlah budaknya mencapai 100.000 orang, sementara jumlah orang merdekanya tidak lebih dari 20.000 orang saja. Seperti diceritakan oleh Plato, seorang kaya di Athena bisa memiliki 50 orang budak bahkan lebih.
Islam datang dalam kondisi seperti ini. Pintu-pintu masuk perbudakan begitu banyak. Islam menutup semua pintu ini kecuali dua hal yaitu perbudakan lewat pintu pewarisan (seseorang menjadi budak ketika ia terlahir dari seorang wanita budak); dan perbudakan lewat pintu peperangan (seorang tawanan hampir dipastikan akan menjadi budak). Namun demikian Islam tetap berusaha untuk mengikis kedua pintu ini.
Di antara pembatasan yang dilakukan Islam lewat pintu pewarisan adalah bahwa Islam mengecualikan anak-anak budak yang terlahir karena tuan-tuannya. Islam menetapkan jika seorang wanita budak melahirkan bayi hasil hubungannya dengan tuannya maka bayi itu merdeka. Jika kita perhatikan, kebanyakan anak-anak yang terlahir dari wanita budak berasal dari benih tuannya sendiri. Ini disebabkan oleh karena orang-orang kaya mau membeli budak-budak wanita hanya untuk kenikmatan semata. Maka jelaslah bagi kita mengapa kemudian Islam membatasi perbudakan lewat pintu warisan ini. Dan Islam sendirilah yang melakukan hal ini, tidak demikian dengan sistem-sistem hukum lainnya yang membolehkan perbudakan.
Sementara perbudakan lewat pintu peperangan, Islam membatasinya dengan cara mengecualikan orang-orang yang tertawan dalam peperangan dua kelompok sesama muslim. Tawanan dari pihak yang menyerang maupun yang diserang tidak boleh dijadikan sebagai budak.
Adapun peperangan antara kelompok muslim dengan non-muslim, maka mereka yang tertawan tidak dijadikan budak kecuali dengan syarat-syarat yang cukup banyak. Yang terpenting di anaranya adalah bahwa peperangan itu dienarkan secara syar’i, artinya Islam membenarkan terjadinya peperangan tersebut, dilaksanakan sesuai ajaran Islam dan atasa dasar komando khalifah.
Islam membolehkan peperangan hanya dalam tiga keadaan:
Pertama, dalam keadaan mempertahankan diri yang dibenarkan oleh agama. Dalam hal ini Allah berfirman: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-Baqarah : 190).
Kedua, ketika terjadi pengkhianatan terhadap perjanjian yangtelah disepakati. Dalam hal ini Allah berfirman: “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, Karena Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti” (QS. al-Taubah : 12)
Ketiga, adanya sebab-sebab genting yang berhubungan dengan keselamatan negara dan menimbulkan fitnah. Dalam hal ini Allah berfirman: ” Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah : 193)
Peperangan yang dilakoni oleh Rasulullah tidak pernah keluar dari tiga kondisi tersebut. Baik peperangan terhadap orang-orang Arab maupun dengan Yahudi dan Romawi.
Jika sesuatu peperangan tidak bisa dibenarkan secara syariat sesuai dengan tiga keadaan di atas, peperangan yang sifatnya ingin memperluas kekuasaan, atau tidak dilakukan sesuai dengan ketetapan Islam, atau tidak diumumkan oleh khalifah, maka peperangan semacam ini tidak dibenarkan untuk menjadikan tawanannya sebagai budak.
Bahkan, jikapun syarat-syarat itu terpenuhi, Islam tidak menjadikan perbudakan sebagai kemestian terhadap tawanan, melainkan sang komandan boleh membebaskan tawanan dengan tebusan tertentu, atau dengan imbalan kerja tertentu, atau ditukar dengan tawanan muslim yang ada di pihak musuh. Malah Alquran menyebutkan perlakuan terhadap tawanan hanya dua macam: dibebaskan atau minta tebusan. Allah menegaskan: “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) Maka pancunglah batang leher mereka. sehingga apabila kamu Telah mengalahkan mereka Maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” (QS. Muhammad : 4). Dan dalam peperangan yang dilakoni oleh Rasulullah, beliau lebih suka membebaskan dan atau meminta tebusan terhadap tawanan daripada menjadikannya sebagai budak. To be continued…..
Palu, 18 Desember 2009
Sumber : al-Hurriyyah Fil Islam
Prof Dr. Abd. Wahid Wafi

1 Komentar

Filed under Uncategorized

One response to “ISLAM MELEGALKAN PERBUDAKAN? Bag. Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s