ISLAM MELEGALKAN PERBUDAKAN? Bag. Kedua

By. Didin Faqihuddin, MA
Alumni PonPes. Darul ‘Amal Buni Bakti, Bekasi.

Bukti lain yang menunjukkan bahwa Islam sangat ingin menghapus perbudakan adalah bahwa ia membuka seluas-luasnya jalan untuk membebaskan dan memerdekakan budak. Sebelum Islam datang, jalan untuk membebaskan budak sangat sempit. Hanya ada satu jalan untuk membebaskan budak pada masa itu, yaitu keinginan majikan untuk memerdekakan budaknya. Tanpa keinginan tuan, maka seorang budak beserta keturunannya akan tetap menjadi budak selamanya. Apalagi hukum-hukum yang berlaku sebelum Islam datang sangat melarang seorang tuan untuk membebaskan budaknya kecuali karena keadaan-keadaan khusus dan dengan syarat-syarat yang sangat ketat dan setelah melewati serangkaian proses hukum dan keagamaan yang berbelit-belit. Dan ternyata, seseorang yang membebaskan budaknya, diwajibkan membayar jumlah uang tertentu kepada negara, karena pembebasan budak dianggap sebagai penghilangan hak negara.
Islam datang dalam kondisi di mana pintu-pintu pembebasan budak begitu sempitnya dan dengan syarat-syarat yang begitu ketat. Ia berusaha untuk membuka seluas-luasnya jalan utnuk membebaskan budak. Cara-cara yang dilakukan Islam untuk melempangkan jalan ini adalah sebagai berikut:
Pertama, memberlakukan secara hukum ucapan pembebasan oleh majikan terhadap budaknya. Tidak perduli apakah ia sengaja mengucapkannya ataupun tidak sengaja, misalnya terpeleset ucapa; apakah ia serius atau main-main dengan ucapannya; apakah ia secara suka rela mengucapkannya maupun karena dipaksa. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat serius dalam membebaskan perbudakan.
Kedua, memberlakukan secara hukum ucapan tertentu seorang majikan dalam bentuk tadbir, yaitu ucapan yang menunjukkan wasiat untuk membebaskan budak setelah sang majikan wafat. Hanya dengan terucapnya tadbir itu maka seorang budak terjamin kemerdekaannya setelah sang majikan wafat. Islam berusaha sekuat tenaga untuk melindungi hak budak dalam masalah ini. SeoranTg majikan yang telah mengucapkan tadbir untuk seorang budak tertentu, maka ia tidak boleh menjual budak tersebut, atau menggadaikannya, atau menghadiahkannya kepada orang lain. Jika yang ditadbir adalah seorang budak wanita, maka hukum itu akan diberlakukan juga terjadap anak yang dilahirkannya. Artinya anak yang terlahir akan merdeka bersama dengan ibunya ketika snag majikan meninggal dunia.
Ketiga, jika terjadi seorang majikan menggauli budak wanitanya, maka secara otomatis anak yang ada dalam kandungan sang budak akan merdeka begitu ia terlahir. Demikian pula ibunya akan memperoleh kemerdekaan begitu tuannya meninggal. Para fuqaha menamakan budak-budak wanita kelompok ini dengan sebutan ummahaat al-awlaad. Islam juga melarang sang majikan untuk menjual, menghadiahkan, atau tramsaksi lainnya yang membuat kepemilikan budak menjadi berpindah. Dari sini jelas terlihat bahwa jika seorang tuan menggauli budak wanitanya dan menghasilkan anak, maka ini akan membawa pada kemerdekaan budak wanita ini beserta keturunanannya sampai hari kiamat. Tampak pula bahwa tujuan Islam membolehkan seorang majikan menggauli budaknya tidak lain kecuali sebagai sarana untuk membebaskan budak. Islam tidak mensyaratkan adanya akad, ijab-qabul, ataupun jumlah budak wanita yang digauli sang majikan semata untuk hikmah mempermudah proses memerdekakan budak-budak itu.
Keempat, jika seorang majikan membuat perjanjian, atau kesepakatan dengan budaknya bahwa sang budak akan bebas jika membayar sejumlah tertentu uang kepada majikan, maka ini pun dapat menjadi jalan pembebasan budak. Dalam hal ini Islam membolehkan si budak bekerja, layaknya orang merdeka, untuk mengumpulkan uang demi dapat menebus dirinya. Allah berfirman: “Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu” (QS. al-Nur : 33). Ayat ini jelas menunjukkan bahwa seorang majikan tidak boleh menolak untuk menerima perjanjian ketika seorang budak menyampaikan keinginannya untuk memerdekakan dirinya.
Kelima, sekelompok fuqaha, yang paling depan di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hambal, berpendapat bahwa seorang majikan yang menyakiti budaknya akan secara otomatis membuat budaknya menjadi merdeka tanpa adanya proses hukum apapun.
Keenam, Islam menetapkan sejumlah besar perbuatan jahat yang banyak terjadi dengan menjadikan pembebasan budak sebagai kaffarah-nya (penebus kesalahan). Manakala syariat-syariat sebelum Islam menetapkan perbuatan jahat mengakibatkan seseorang menjadi budak, maka dalam Islam justeru sebaliknya, menjadi sarana untuk membebaskan budak. Islam menjadikan pemebebasan budak sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Islam misalnya menjadikan pembebasan budak untuk menebus kesalahan perbuatan membunuh yang dilakukan secara tidak senagaja. Allah berfirman: “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali Karena tersalah (Tidak sengaja)[334], dan barangsiapa membunuh seorang mukmin Karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu)…” (QS. al-Nisa : 92)
Islam juga menjadikan pembebasan budak sebagai kaffarah sumpah palsu. “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi Pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. al-Maidah : 89)
Demikian juga jika seorang suami mengucapkan zihar (menyamakan punggung istri dengan punggung ibu; atau ucapan yang semacamnya) maka ia tidak boleh menggauli istrinya kecuali setelah ia membayar kaffarah berupa pembebasan budak. “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mujadilah : 3) Demikian pula orang yang menggauli istrinya di siang hari bulan Ramadhan tanpa alasan syar’I, maka kaffarah-nya juga membebaskan budak.
Bagi mereka yang dikenakan hukum kaffarah membebaskan budak, namun tidak memiliki budak, maka ia wajib membeli dan kemudian membebaskannya.
Ketujuh, Islam mengkhususkan sebagian harta zakat yang dikuasai oleh negara, ada yang dialokasikan untuk membeli dan memerdekakan budak, atau membantu mereka yang ingin membebaskan dirinya dari perbudakan. “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak…” (QS. at-Taubah : 60)
Kedelapan, Islam menjadikan perbuatan membebaskan budak sebagai amal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Tuhannya. Allah berfirman: “Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. al-Balad : 11-13)
Wallahu A’lam
Palu, 22 Desember 2009
Referensi : al-Hurriyah Fil Islam
Dr. Abdul Wahid Wafi

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s