SEKOLAH-SEKOLAH FILSAFAT ISLAM (Bag. 1)

By. Didin Faqihuddin, MA
Alumnus Islamic State University of Bandung

SEKOLAH AL-KINDI
Dalam Islam tidak ada sekolah-sekolah filsafat reguler yang terbuka bagi para pelajar sebagaimana halnya di Akademia-nya Plato, Lyceum-nya Aristoteles atau Kebun-nya Epicur. Akan tetapi kalau pun sekolah filsafat itu muncul, maka ia ada dalam arti pertemuan, pengikutan dan pentaklidan terhadap mazhab. Ini berbeda dengan sekolah-sekolah fiqh, bahasa, tafsir dan hadits yang telah dibangun sejak abad V hijriah dan tersebar di berbagai penjuru dunia Islam, di mana para guru menyusun buku-bukunya, juga membangun gedung-gedung tempat belajarnya. Itu terjadi karena filsafat dipandang sebelah mata. Orang-orang yang bergelut dengan filsafat dituduh kafir dan atheis, sehingga negara tidak mampu menjaganya.
Kemudian para filosof muslim bukan hanya sebagai filosof an sich, tetapi juga sebagian besar mereka aktif di dunia kedokteran dan matematika dan dari sana mereka lalu berhubungan dengan filsafat sambil tetap menjaga hubungan dengan kedokteran dan matematika. Maka, mereka adalah filosof dan dokter sekaligus. Ada banyak sekolah kedokteran yang meluluskan para dokter. Akan tetapi diskusi kita secara mendasar adalah tentang sekolah-sekolah filsafat. Di manakah sekolah-sekolah itu? Kuat dugaan bahwa sekolah-sekolah tersebut dikelola oleh para filosof tersebut. Sebenarnya lebih tepat disebut majlis, dan bukan sekolah. Pengikut mereka tidak banyak, hanya beberapa orang saja.
Di antara sekolah itu adalah sekolah al-Kindi. Ia adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq bin Shabah bin ‘Imran bin Isma’il bin Muhammad Asy’ats al-Kindi, salah seorang filosof Arab dan salah seorang anak raja-raja Arab, karena Kindah adalah seorang raja di Yaman. Ishaq bin Shabah memangku jabatan gubernur Kufah pada masa Khalifah al-Mahdi, al-Hadi dan al-Rasyid. Anaknya yang bernama Ya’qub lahir di Kufah pada tahun 185 H. Di sana ia belajar membaca, menulis, mengkaji ilmu Nahwu, Bahasa Arab, Fiqh dan Ushuluddin. Kemudian ia beralih kepada ilmu kedokteran, astronomi, matematika dan filsafat. Ia juga ambil bagian dalam kegiatan penerjemahan. Buku-buku hasil karya terjemahannya sangat bagus, dengan ushlub bahasa Arabnya yang fasih. Ia banyak menafsirkan buku-buku Aristoteles. Ia juga banyak menulis buku-buku baru yang membuat para ahli sejarah filsafat menyebutnya sebagai filosof Arab. Ia begitu bersinar pada masa al-Makmun dan al-Mu’tashim. Dialah guru dari Ahmad bin al-Mu’tashimbillah. Ia hidup pada masa al-Mutawakkil, dan wafat pada tahun 255 H.
Al-Kindi adalah “filosof yang sebenarnya”. Ia pantas menyandang nama filosof. Ia dianggap sebagai kelanjutan dari pengajaran Iskandariyah yang diwariskan bangsa Arab setelah ditransfer ke dalam bahasa Arab. Al-Kindi sangat concern terhadap warisan ini. Ia memberikan warna keislaman terhadapnya seraya mengharmoniskan antara agama dan filsafat.
Al-Kindi hidup semasa dengan para penerjemah, sehingga dikatakan bahwa ia adalah salah seorang dari empat penerjemah terpandai. Tiga yang lainnya adalah Hunain bin Ishaq, Tsabit bin al-Qurrah dan ‘Amr bin Farkhan al-Thibri. Sebenarnya ia bukanlah seorang penerjemah handal. Untuk itulah ia hanya mengambil pemikiran Yunani yang dirasa penting saja. Ia memanfaatkan jasa para penerjemah dari Suryani untuk mendatangkan buku-buku yang diinginkannya. Al-Kindi dikenal cakap berbahasa Suryani. Dalam bahasa inilah ia mengarang sebuah risalah kecil. Sedangkan pengetahuan bahasa Yunaninya sangat diragukan.
Ia mempunyai banyak karangan yang memperoleh 260 buku, dan risalah dalam bahyak cabang pengetahuan mulai dari logika, matematika, astronomi, musik, ilmu alam, metafisika, etika, politik, kimia dan lain-lain. Kita dapat mengatakan bahwa al-Kindi adalah seorang filosof peradaban Arab pada abad III hijriah. Kebanyakan bukunya didedikasikan untuk Mu’tashim, atau Ahmad bin Mu’tashim, atau juga sebagian teman dan sahabatnya, di mana mereka meminta untuk ditafsirkan tentang beberapa persoalan. Risalah-risalah tersebut ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kebanyakan risalah yang ada di tangan kita, menggunakan metode ini, tanya-jawab. Ini menegaskan bahwa al-Kindi bukanlah seorang penerjemah murni. Ia hanya seorang pemikir murni, mengetahui berbagai pengetahuan masa lalu, dan menelurkan pandangannya setelah melakukan pemikiran yang mendalam. Dalam satu risalah misalnya al-Kindi menjawab tentang tiga soal berbeda: pertama, mengapa uap membeku di angkasa; kedua, tentang teriakan dan gema; ketiga, jika angka-angka itu tidak terhingga, maka apakah yang terhitung juga tak terhingga. Si penanya tidak mesti melakukan korespondensi langsung dengan al-Kindi, karena barangkali saja al-Kindi telah mengkajinya, dan hasil kajiannya itulah yang kemudian menjadi essainya. Begitulah yang ia lakukan terhadap muridnya Ahmad bin Mu’tashimbillah. Karena itu, esai-esai al-Kindi memiliki model pengajaran yang sistematis.
Tampaknya al-Kindi menerima para siswa di rumahnya, di mana terdapat satu perpustakaan luas, dan termasuk perpustakaan paling besar. Perpustakaan itu dinamakan “Perpustakaan al-Kindi”. Di antara pelajar al-Kindi adalah Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad al-Khurrasaniy yang sangat mengagumi sang guru. Juga Ibnu Kirnib al-Katib yang dianggap termasuk kelopok mutakallimin. Demikian juga Ali bin al-Jahm, salah seorang penyair Mutawakkil. Ada juga selain mereka kelompok yang dinamakan Naftiwih da Hasnawih.
Menurut al-Kindi, cara memperoleh pengetahuan boleh jadi secara hissy (inderawi) atau secara ‘aqliy (rasio), atau gabungan hissy dan‘aqli. Berkenaan dengan hal itu, ada empat hal yang mesti diikuti oleh seorang pelajar filsafat, yaitu: mencari, mengkaji, alat dan masa. Mencari adalah berusaha untuk sampai pada tujuan. Mengkaji adalah memeriksa rahasia-rahasia, pengetahuan adalah buah dari kajian, dan kajian adalah buah dari pencarian. Alat (perkakas) dari kajian adalah matematika dan logika. Masa adalah sesuatu yang masuk ke dalam setiap aktivitas manusia. Sedangkan ilmu ketuhanan “terjadi tanpa pencarian, tanpa dibuat-buat, tanpa dikaji, tanpa alat bantu matematika dan logika, dan tanpa memerlukan waktu”. Dari empat hal ini, matematika dan logika-lah yang menjadi perhatian kita.
Orang Arab telah mewarisi filsafat Plato seperti juga mewarisi filsafat Aristoteles. Dalam filsafat, Plato berpegang pada metode matematis, sedangkan Aristoteles berpegang pada logika. Karena al-Kindi adalah seorang filosof matematika yang ulung, maka tidaklah aneh jika ia menjadikan matematika sebagai sebuah “pengantar” yang mesti dipelajari sebelumi mempelajari filsafat. Dalam hal ini setelah menyebutkan buku-buku Aristoteles yang perlu diketahui oleh seorang filosof sejati, Al-Kindi menyatakan bahwa ilmu matematika lah yang terlebih dahulu perlu diketahui. Jika seorang pelajar filsafat tidak secara mencukupi memiliki ilmu matematika, maka ia tidak mungkin mengenal filsafat dengan benar. Oleh karena itu, matematikalah yang pertama harus diajarkan.
Akan tetapi karena para filosof Arab setelah al-Kindi memiliki orientasi peripatetik, mereka menjadikan logika sebagai sarana untuk mempelajari filsafat sebagaimana halnya pada al-Farabi dan Ibnu Sina.
Al-Kindi dianggap sebagai orang Arab pertama yang mengarang banyak cabang ilmu. Dialah orang yang membagi ilmu pada dua macam; ilmu keagamaan dan ilmu filsafat. Pembagian ini diikuti oleh banyak ilmuwan sesudahnya, mulai dari al-Farabi hingga Ibnu Khaldun. Yang mendorong al-Kindi menambahkan ilmu-ilmu keagamaan adalah alasan karena Islam membawa ilmu yang kita butuhkan seperti ilmu fiqh, hadits, tafsir dan lain-lain yang berhubungan dengan kedua ilmu tersebut.
Al-Kindi menyatakan bahwa jalan menuju ilmu matematika dapat dicapai melalui ilmu hitung, teknik, astronomi dan musik. Pada masa pertengahan, al-Kindi dianggap sebagai salah seorang ilmuwan astronomi terbesar dunia saat itu. Di Eropa, al-Kindi terkenal karena buku-bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin, dan sebagiannya masih ada sampai saat ini.
Dialah pemilik sekolah musik dalam Islam. Ia telah menulis beberapa risalah mengenai musik untuk kepentingan para pelajar, sekaligus menjelaskan cara mengajarkannya. Dalam salah satu risalahnya, ketika membicarakan cara memetik dawai (senar) al-Kindi menulis : “ia adalah jalan dan pengantar pengajaran, maka siapa yang mempergunakannya secara tepat dan cepat, sebelum ia masuk dalam proses belajar, ia akan lebih cepat menerima pelajaran, dan mudah baginya untuk menyerap penyampaian sang guru…”
Akan tetapi meskipun ada kajian-kajian teoritis dalam musik, serta dasar-dasar dan perhitungan matematisnya, al-Kindi tetap berpandapat bahwa seni pengajaran musik “yang ada pada ahli bidang ini (musik) dan dipelajari dari mereka secara langusung, hasilnya akan lebih cepat difahami dari pada yang dipelajari dari buku”.
Al-Kindi memiliki perhatian terhadap hal-hal praktis yang membentuk peradaban (kebudayaan) bangsa dari segi material. Oleh karena itu ia menyibukkan diri dalam ilmu kimia. Tidak aneh kalau kemudian al-Kindi melaksanakan banyak eksperimen kimia di rumahnya. Ia menulis satu risalah tentang pedang. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan yang cukup kuat mengenai besi dan baja, yang ia peroleh dari para ahli bidang ini. Semua ini menunjukkan bahwa pada masa itu, filsafat tidak terpisah dari dunia sosial beserta segala problematikanya. Filsafat juga mempunyai keinginan untuk bekerja meningkatkan dan memajukan masyarakat.
Mazhab filsafat al-Kindi dapat diringkaskan pada dua hal yang mempunyai satu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan itu adalah menegaskan “Yang Satu Yang Haq”, yaitu Allah SWT. karena Islam bertujuan untuk menegaskan keesaan Allah, Sang pencipta alam dari ketiadaan, dan filsafat sendiri pada intinya mencari pengetahuan tentang Tuhan Yang Satu dan Yang Haq, maka tidak ada kontradiksi antara agama dan filsafat atau antara hikmah dengan syari’ah. Keaktifan dalam dunia filsafat tidaklah termasuk kekufuran seperti dituduhkan sebagian orang, karena memang tidak ada nash dalam agama Islam yang mengharamkan dan mengkufurkan filsafat.
Hal kedua, adalah usahanya untuk menyerasikan antara Plato dan Aristoteles. Kita telah mengetahui bahwa penyerasian itu telah dimulai di Iskandariah, khususnya oleh Plotinus dan Phorporius. Akan tetapi inti filsafat Plato yang mempercayai ideal sebagai asal dari segala yang ada, berbeda dengan inti filsafat aristoteles yang menganggap filsafat telah ada sebelum ada segalanya. Juga berbeda dengan inti filsafat Plotinus yang berpegang pada “Yang Satu” yang dari-Nya, segala sesuatu muncul melalui proses emanasi. Al-Kindi tidak mampu menyelesaikan problem ini. Al-Kindi memasukkan filsafat tentang wujud dan filsafat tentang Yang Satu ke dalam sebuah mazhab baru yang menyerasikan antara keduanya. Inilah yang dilakukan oleh al-Farabi sesudahnya.
Jelaslah al-Kindi bukanlah seorang kepala sekolah Iskandariah di Baghdad dengan pengertian sekolah sebagai sebuah bangunan yang memiliki ruangan-ruangan di mana proses pembelajaran berlangsung secara reguler. Karena sekolah-sekolah pada saat itu pada umumnya memang memiliki bangunan setelah berpindahnya filsafat dan ilmu pengetahuan dari Iskandariah ke Antiokia dan dari Antiokia ke Harran dan Jundisapur, dan dari Jundisapur ke Baghdad. Oleh karena itu, Dr. Mierhoff dalam kajiannya mengenai perpindahan proses belajar-mengajar dari Iskandariah ke Baghdad mengatakan bahwa sesungguhnya “Al-Kindi yang pada saat itu hidup di Baghdad dan merupakan filosof muslim pertama, tidak mengelola sekolah apapun, ia hanya memberikan pelajaran-pelajaran khusus saja”
Al-Kindi mampu tampil sebagai seorang filosof. Ia dapat menguasai filsafat hanya dengan mempelajari buku-buku terjemahan. Al-Kindi mampu menciptakan satu generasi pelajar di Baghdad. Mereka memang tidak banyak. Yang paling terkenal ada tiga orang; Ibnu Kirnib yang memiliki sekolah di Baghdad, Ahmad bin Thoyyib al-Sarkhasyi dan Abu Yazid al-Balkhy.
Wallahu A’lam
Palu, 22 Desember 2009
Referensi : al-Madaris al-Falsafiyah
Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s