ALQURAN : DASAR EKSISTENSI BAHASA ARAB

By. Didin Faqihuddin, MA
Alumnus Ma’had Islam Darul Amal Buni Bakti Bekasi

Kajian-kajian kebahasaan Arab sesungguhnya sangat terkait dengan Alquran, kitab suci umat muslim. Alquran boleh diibaratkan sebagai poros yang dikelilingi oleh banyak kajian, baik yang secara langsung berhubungan dengan penafsiran Alquran, penjelasan maknanya, istinbath hukun syariah darinya, ataupun kajian-kajian yang berujung pada pengkhidmatan terhadap tujuan-tujuan itu, dalam bentuk kajian terhadap dilalah lafaz, derivasi bentuk, struktur kalimat, gaya bahasa, jenis-jenis kalimat, bahkan juga kajian-kajian yang berhubungan dengan astronomi dan matematika. Kajian-kajian ini seluruhnya mempunyai dasar tujuan yang sama, yaitu berkhidmat kepada agama Islam dan memahami Alquran sebagai sumber hukumnya.
Agama Islam, dalam berbagai fase sejarahnya, sangat erat terkait dengan bahasa Arab. Motif awal para linguis mengumpulkan pola-pola kalimat Arab dan kemudian mengkaidahkannya adalah suatu motif yang bersifat keagamaan, yaitu memastikan akurasi nash-nash Alquran dan mengajarkan para siswa bahasa Alquran tersebut. Metode pengajaran yang berlaku sejak awal-awal sejarah Islam adalah menggabungkan antara pengetahuan-pengetahuan keagamaan dengan pengetahuan-pengetahuan kebahasaan, yang berlangsung di maktab, masjid, dan sekolah-sekolah reguler pada era-era belakangan. Dari sinilah kemudian kita dapat memastikan bahwa seorang linguis kebanyakan adalah juga orang yang ahli di bidang agama. Para ahli bahasa zaman klasik Islam, juga adalah seorang mufassir, muhaddis, mutakallim, dan faqih.
Hal ini diakui oleh kalangan orientalis. Noeldeke misalnya mengatakan bahwa “bahasa Arab tidak bisa menjadi bahasa dunia kecuali disebabkan oleh peran Alquran dan Islam. Di bawah komando suku Quraisy, orang-orang Badui mampu menundukan penduduk sahara Arabia, dan setengah dari dunia adalah milik mereka, dan milik keimanan Islam. Dengan demikian maka bahasa Arab juga menjadi sebuah bahasa suci.”
Para ulama muslim berusaha untuk mengkaji dan meneliti bahasa Arab dengan segala rahasianya untuk mengetahui segi-segi kemukjizatan Alquran.
Seperti kita ketahui, Alquran turun dengan bahasa fusha yang melebihi tingkatan bahasa awam penduduk Arabia. Oleh karena itu pada masa awal Islam, banyak orang bertanya kepada para sahabat mengenai tafsir suatu ayat, dan lafaz-lafaznya yang asing dalam pandangan mereka. Banyak riwayat yang misalnya menceritakan seorang sahabat terkenal bernama Abdullah bin Abbas ditanya tentang makna lafaz-lafaz tertentu dari Alquran. Ibnu Abbas lalu menjelaskannya dengan sebuah penafsiran yang dukungan penjelasannya ia ambil dari bait-bait syair Arab.
Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya ini dihimpun dalam sebuah buku berjudul “Sualaat Nafi’ Ibn al-Azraq Ilaa Abdillah ibn Abbas” (Pertanyaan-pertanyaan Nafi bin al-Azraq Kepada Abdullah bin Abbas) yang diterbitkan oleh Dr. Ibrahim al-Samirai di Bagdad tahun 1968.
Kitab ini dimulai dengan ungkapan berikut: “Ketika Abdullah bin Abbas sedang duduk-duduk muka Ka’bah, merendamkan kakinya di kolam zam-zam, tiba-tiba banyak orang mendatanginya dan bertanya tentang penafsiran Alquran. Abdullah bin Abbas pun menjawabnya dengan mendasarkan makna tafsirannya pada syair-syair Arab.
Penafsiran-penafsiran yang dilakukan oleh Abdullah bin Abbas ini, didengar oleh Nafi’ bin al-Azraq yang lalu berkata kepada Najdah bin ‘Uwaymir: “Mari kita menemui orang yang gegabah dalam menafsirkan Alquran, memberikan fatwa terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya”. Keduanya lalu pergi menemui Ibnu Abas dan berkata: “Kami bermaksud menanyakan kepada engkau tentang beberapa hal yang berkenaan dengan kitabullah lalu engkau menafsirkannya untk kami, sesuai dengan perkataan orang Arab, karena sesungguhnya Allah menurunkan Alquran dalam bahasa Arab yang jelas.” Ibnu Abbas menjawab: “Tanyakanlah kepadaku, insya Allah aku akan bisa menjawabnya”.
Nafi’ : Jelaskan kepada kami firman Allah : ‘An al-yamin wa ‘an al-syimal ‘iziin (QS. al-Ma’arij : 37)
Ibn Abbas : ‘iziin artinya kelompok-kelompok yang membentuk lingkaran. Ini dijelaskan oleh syair ‘Ubayd bin al-Abrash: Fa Jaa’uu yuhra’uun ilayhi hattaa yakuunuu hawla minbarihi ‘iziin (lalu mereka bergegas mendatanginya sehingga di sekeliling mimbarnya mereka berkelompok-kelompok)
Nafi’ : Jelaskan tentang firman Allah: wabtaghuu ilayhi al-wasilah (QS. al-Maidah : 35)
Ibn Abbas : al-wasiilah artinya hajat / kebutuhan. Hal ini dijelaskan oleh syair ‘Antarah al-‘Abbasi: inna al-rijaala lahum ilayki wasiilatun in ya’khuzuuki takahhalii wa takhadhdhabii (sesungguhnya para lelaki itu mempunyai kebutuhan terhadapmu (perempuan) maka jika mereka mengambilmu engkau harus bersolek)
Begitulah Nafi’ bertanya dan Abdullah Ibnu Abbas menjawab dengan penafsiran yang didukung dengan syair-syair Arab. Ada sekitar 250 persoalan yang dikemukakan oleh Nafi’.
Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa penafsiran Abdullah bin Abbas terhadap Alquran seperti itu adalah sebagai cikal bakal mu’jam-mu’jam (kamus) Arab. Kajian tentang kamus sendiri, yang merupakan bagian dari bahasa, dimulai dengan kajian terhadap makna-makna asing dalam Alquran. Oleh karena itu kita menemukan karangan-karangan awal tentang mu’jam selalu memakai kata Gharib Alquran. Karya paling awal yang menggunakan kata itu ditulis oleh Abu Sa’id Aban bin Taghlab bin Rabbah al-Balry (w. 141 H).
Para ulama, sejak masa awal Islam merasa butuh kepada syair Arab untuk membantu memahami makna-makna lafaz yang kurang jelas, dan uslub-uslub asing yang ada dalam Alquran dan hadis-hadis Nabi. Oleh karena itu merekapun mempelajari syair-syair kuno dan gaya bahasanya, sekaligus mempelajari sejarah bangsa Arab dan peristiwa-peristwa penting yang mereka alami. Sekiranya bukan karena ini tentu tidak sedikitpun syair jahili sampai ke tangan kita.
Ibnu Abbas berkata: “Syair itu adalah diwan-nya orang Arab. Jika ada satu kata dalam Alquran yang samar maknanya bagi kita, maka kita kembalikan ke diwan Arab itu, karena Allah menurunkan Alquran dengan bahasa Arab.” Katanya juga: “Jika kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu yang asing dalam Alquran, maka carilah pengertiannya pada syair, karena syair itu adalah diwan-nya orang Arab.”
Dari sini kita dapat melihat bahwa sesungguhnya kajian terhadap Alquran merupakan salah satu sebab adanya perhatian terhadap syair Arab, dan juga terhadap kemunculan mu’jam-mu’jam bahasa Arab.
Sedangkan jika kita melihat Nahwu Arab (Gramatika Bahasa Arab), kita akan menemukan bahwa ghirah (semangat) mempelajari Alquran sekaligus menjaganya dari berbagai penyimpangan kebahasaan oleh orang-orang non-Arab, merupakan sebab dibuatnya kaidah-kaidah nahwu. Bayak riwayat yang menyatakan bahwa Abu Aswad al-Dualiy adalah orang pertama yang menyusun kaidah nahwu. Sebabnya adalah karena ia mendengar seseorang membaca ayat Alquran: Inna Allah bariiun min al-musyrikin wa rasulihi (dengan mengkasrahkan huruf lam yang sesungguhnya harus didhammahkan). Hatinya gelisah dan ia pun mulai menyusun kaidah-kaidah nahwu.
Tidak berbeda halnya dengan kajian uslub atau apa yang dikenal dengan Ilmu Balagah (Bayan, Ma’ani, dan Badi’). Beberapa sumber Arab menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menyusun ilmu ini adalah Abu ‘Ubaydah, dengan tujuan menjelaskan uslub-uslub Alquran.
Sementara ilmu rasam-imlai (tulis-dikte) tidak disangsikan telah ada jauh sebelum Alquran turun. Namun perhatian terhadap Alquran dan penjagaan terhadapnya dari lahn (salah baca) itulah yang mendorong para ulama Islam era awal untuk mengkaji cara yang dapat menjaga orang yang membaca Alquran terjatuh pada kesalahan ketika membacanya. Ini disebabkan oleh karena Alquran pada masa itu tidak memiliki simbol-simbol harkat. Riwayat-riwayat Islam menyebutkan bahwa Abu Aswad al-Dualiy adalah orang pertama yang membuat simbol-simbol harkat untuk memudahkan pembacaan terhadap Alquran. Abu Aswad menggunakan simbol titik untuk harkat. Satu titik di depan huruf untuk dhammah dan dua titik untuk dhammatayn. Satu titik di bawah untuk kasrah dan dua titik untuk kasratayn.
Titik-titik yang digunakan sebagai simbol bagi ketiga harkat tersebut dibedakan warnanya dalam penulisan. Hal ini kemudian sangat menyulitkan para penulis Alquran, karena harus menggunakan dua pulpen dan dua warna. Sampai kemudian datanglah Khalil bin Ahmad yang menciptakan simbol baru yang kita kenal sampai saat ini. Namun demikian, para ulama tidak segera (berani) menggunakan inovasi Khlalil ini dalam penulisan Alquran. Mereka awalnya hanya menggunakannya untuk menulis syair.
Demikianlah kita dapat melihat bahwa Alquran menjadi poros bagi semua kajian Arab yang pada awalnya dialamatkan untuk berkhidmat kepada Alquran. Di antara kajian-kajian itu adalah kajian kebahasaan. Sekiranya tidak ada Alquran, maka tidak akan ada bahasa Arab fusha. Seandainya tidak ada Alquran maka bahasa Arab hanya akan menjadi seperti bahasa Latin dan bahasa Sansekerta yang pada akhirnya hilang dari peredaran….wallahu a’lam.
Palu, 24 Desember 2009
Referensi : Fushul Fi Fiqh al-Arabiyah (Dr. Ramdhan Abd. Al-Tawaab).

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s