PHYTAGORISME

By. Didin Faqihuddin, MA
Dosen Jurusan Dakwah STAIN Datokarama Palu

Sekolah filsafat yang paling mengagumkan adalah yang dibangun oleh Phytagoras di kota Kroton sebelah selatan Italia pada abad VI SM. Mengagumkan dari segi pembentukannya dan pengaruh yang dihasilkannya.
Hal pertama yang menakjubkan adalah penamaannya dengan “Phytagorisme” dan bukan “Sekolah Phytagoras”. Beda keduanya sangat besar, karena “Sekolah Phytagoras” mengandung penisbahan kepada diri pribadi (dalam hal ini Phytagoras) yang memilikinya, jika demikian maka akan berakhir setelah wafatnya Phytagoras. Sedangkan “Aliran Phytagorisme”, disamping menunjukkan adanya penisbahan terhadap Phytagoras, juga menjangkau kelompok pendukung aliran ini. Sekolah tersebut pada kenyataannya berada dalam naungan satu dewan pimpinan yang dipimpin oleh Phytagoras sendiri. Inilah rahasia mengapa sekolah ini tidak lantas menghilang lantaran wafatnya sang pemimpin. Lagi pula Phytagoras sendiri masih belum jelas keberadaannya, hal mana membuat sejarawan meragukan keberadaannya.
Bukannya hendak meremehkan keresahan para sejarawan, Phytagoras sesungguhnya adalah seorang individu yang jelas ada meskipun banyak cerita-cerita aneh sekitar riwayat hidupnya. Abad VI SM adalah masa-masa penuh pergolakan pemikiran di berbagai penjuru dunia. Masa itu adalah masa hidupnya Konfusius, Budha dan Zoroaster. Masa itu juga adalah masa munculnya filsafat Yunani (Greek) di tangan ahli-filosof Yunani. Kebangkitan Timur membuat Asia Kecil dan Mesir tertekan. Para pemikir Yunani berpindah dari Asia Kecil ke Selatan Italia, di antaranya adalah Phytagoras. Orang Yunani menganggap setiap negeri yang pernah disinggahinya termasuk bagian dari negerinya sendiri. Maka, kota-kota yang dibangun di selatan Italia, Sicilia, Afrika Utara dan Mesir, semuanya adalah termasuk kota-kota Yunani, di mana penduduknya berbicara dengan bahasa Yunani dan mengunakan sistem hukum Yunani. Maka tidak heran jika sekolah-sekolah yang tumbuh di kota-kota itu menyerupai apa yang ada di negara induknya (Yunani).
Akan tetapi aliran Phytagorisme jauh dari semangat asli Yunani, tidak berkaitan dengan warisan ketuhanan Olympus berupa hikmah (wisdom) yang ditransmisikan dari tuhan-tuhan Olympus. Juga tidak berkaitan dengan Dynosius, tuhan arak, yang terkenal dengan hawa nafsu, emosi dan khayalnya. Phytagoras mendatangkan ajaran-ajarannya dari Timur, tempat ia mengembara. Di Timur ada satu kepercayaan baru yang berasal dari Trosia dengan tuhannya bernama Orifius. Di sana juga ada kecenderungan pada asketisme yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Dynosius.
Sosok Orifius sendiri sebenarnya masih belum jelas, apakah ia tuhan, nabi, sastrawan atau seoranng musikus yang musiknya menakjubkan dunia. Sekte Orifisisme ini mempunyai pandangan tentang alam dan hakekat manusia. Pada mulanya alam ini adalah masa (waktu, zaman). Dari masa ini timbullah ether dan awan tebal. Pada ether ini kemudian masa membentuk substansi. Substansi tersebut kemudian terbuka maka muncullah cahaya. Lalu substansi itu terbelah menjadi dua; satu menjadi langit dan yang lain menjadi bumi. Keduanya lalu menikah, maka lahirlah tiga anak perempuan dan enam anak laki-laki. Akan tetapi kemudian langit melemparkan anak-anak laki-lakinya ke sungai Tartarus, ketika ia mengetahui bahwa mereka hendak menghabisinya. Perbuatan langit membuat bumi marah. Ia pun melahirkan Tytan (raksasa setan yang kejam), Cronos, Rai, Okyanius dan Tyss. Mitos tersebut selanjutnya menceritakan bagaimana Dynosious terlahir dari Zeus. Tytan kemudian menculik Dynosious dan memakannya. Diceritakan juga bahwa Zeus kemudian menghidupkan kembali Dynosious, kilat dan petir menyambar Tytan dan menewaskannya. Abunya dikumpulkan Zeus untuk bahan penciptaan manusia. Karena itulah manusia mempunyai dua karakter; karakter Tytan yang merupakan sifat jahat dan dosa, serta karakter Dynosius berupa sifat Tuhan yang tinggi.
Begitulah sekolah Pytagoras mensisntesiskan ajaran Orifisisme, khususnya teori tentang jiwa dan misterinya.
Ketika Phytagoras membuka sekolahnya, langsung menarik banyak pengikut. Ada yang mengatakan jumlahnya mecapai 10.000 orang. Angka ini pun bukan angka sebenarnya, hanya dugaan sementara karena angka itulah yang paling tinggi yang dikenal saat itu. Tidak heran jika sekolah ini mempunyai banyak pengikut karena ia menampung laki-laki dan perempuan. Kami mengatakannya sebagai sekolah yang memili batasan-batasan yang sama, karena menyerupai aliran keagamaan, dan organisasi persaudaraan yang dekat dengan aliran sufisme dalam Islam.
Sekolah Phytagoras ini mengajarkan dua bidang ilmu: matematika dan etika agama. Matematika tidak banyak yang mempelajari karena tingkat kesulitannya. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu mengikutinya. Sedangkan materi etika-agama diikuti oleh orang kebanyakan (awam). Pola seperti ini banyak berkembang di sekolah-sekolah filsafat. Kita tahu Aristoteles misalnya, yang menyampaikan pelajaran-pelajaran untuk kalangan tertentu pada pagi hari, dan pelajaran lain untuk kalangan awam pada sore hari. Pelajaran-pelajaran khusus inilah yang tidak boleh diketahui oleh orang awam. Ia dinamakan “pelajaran yang dirahasiakan” atau dalam istilah al-Ghazali “yang dirahasiakan dari yang bukan ahlinya.”
Tentu saja matematika yang diajarkan oleh aliran Phytagorisme pada abad VI SM masih sangat sederhana dan primitif yang mencerminkan tingkat awal “ilmu” ini. Kata “ilmu” ini digunakan untuk membedakannya dari pengetahuan praktis-empiris. Karena sesungguhnya manusia tidak dapat memperoleh level ilmiah dalam arti yang sesungguhnya kecuali setelah melewati ratusan bahkan ribuan tahun, itu pun masih sebatas pengetahuan empiris yang didasarkan pada persepsi.
Matematika, baik berupa ilmu hitung ataupun teknik merupakan ilmu pertama yang ditemukan manusia, khususnya oleh Phytagoras. Ilmu hitung tidak terpisah dari ilmu teknik karena ilmu hitung merupakan ilmu tentang angka yang menggambarkan bangunan bentuk-bentuk teknik. Ilmuwan-ilmuwan masa itu menggunakan “papan sempoa”, yakni papan yang diisi pasir dan di atasnya dibuat bentuk-bentuk yang diinginkan. Adapun ilmu hitung menggunakan batu-batu kecil dan diletakkan dalam pola-pola teknik.
Di dalam angka, mereka menemukan banyak karakter mengagumkan, baik penjumlahan, pengurangan, penambahan dan proses yang lain. Misalnya jumlah pangkat dari dua angka yang berurutan (3 dan 4) sama denga jumlah pangkat angka selanjutnya (5). Lebih jelasnya 9 + 16 = 25. Kekhususan numeris inilah yang diterapkan pada ilmu teknik dalam teori Phytagoras yang mengatakan: pada segi tiga siku-siku, kuadrat panjang sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi yang lain. Tidak penting bagi kita untuk membuktikan kebenaran teori ini; soal teknik dengan cara praktik. Yang penting adalah menetapkan kebenarannya dengan argumentasi matematis. Maksudnya secara teoritis dan bukan praktis. Phytagoras lebih mementingkan teori daripada praktik. Dialah orang yang mempunyai teori pembagian manusia menjadi dua kelompok; awam dan elit. “Awam” adalah kelompok orang kebanyakan yang sibuk dengan urusan-urusan dunia; berkebun, berdagang dan profesi-profesi lain. Sedangkan kelompok “elit” adalah mereka yang tidak ikut ambil bagian dalam urusan-urusan dunia. Mereka hanya mengamati dari jauh terhadap mereka yang bekerja itu.
Tradisi yang memisahkan antara teori dan praktik di satu sisi, dan yang mementingkan teori dari pada praktik di sisi lain, terus berlanjut dalam tradisi filsafat Yunani secara umum. Plato dan Aristoteles mengikuti tradisi ini dan kemudian berpindah juga ke Arab (umat Islam) saat terjadi transfer filsafat Yunani. Eropa pun pada masa kebangkitan dan masa modern mengikuti tradisi yang sama. Tradisi Phytagoras ini baru berubah pada abad XX .
Kita kembali pada soal matematika. Persoalan-persoalan ilmu hitung dan teknik sederhana yang dipelajari oleh anak-anak kecil di sekolah-sekolah pada saat ini merupakan persoalan yang sangat sulit yang hanya difahami oleh sekelompok kecil filosof pada masa lalu. Kita juga tidak mengetahui berapa banyak halaqah (lingkaran studi) mereka yang berminat pada kajian matematika karena sifat rahasianya itu, sampai-sampai ada ketetapan siapapun yang mencoba untuk menyebarkan kajian tersebut kepada publik akan diusir. Para sejarawan berbeda pendapat tentang siapa yang telah berani menyebarkan kajian metematika itu kepada publik, ada yang mengatakan bahwa ia bernama Filolos, seorang penganut ajaran Phytagoras yang menulis satu buku (tiga jilid) yang kemudian dibeli oleh Dion, hakim Saragosa di Sicilia. Penulisan buku tersebut sesuai permintaan Plato. Dengan ditulisnya buku itu maka Plato mudah mempelajari pandangan-pandangan matematis Phytagoras. Akan tetapi riwayat ini ditolak oleh apa yang diketahui Sokrates dari para pengikut Phytagorisme, khususnya bahwa Plato sendiri mengetahui hubungan Sokrates dengan para pengikutnya tersebut yang dapat kita temukan pada dialog pertama “FIDEON”. Pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah bahwa orang yang menyebarkan ajaran-ajaran Phytagoras adalah Hybasus yang mencatatkan ajaran-ajaran ini dalam sebuah buku yang karenanya ia diusir dari kelompok Sekolah Phytagorisme.
Phytagorisme bukanlah seperti sekolah biasa dengan jalinan persaudaraan. Ia lebih menyerupai sebuah kuil. Angota-anggotanya hidup dalam suasana zuhud (asketik). Mereka memakai pakaian seragam berwarna putih, dan berjalan tanpa alas kaki. Ada indikasi bahwa bahwa Sokrates termasuk salah seorang dari mereka. Jika berjalan misalnya Sokrates tidak mengunakan alas.
Phytagorisme adalah sekolah pertama yang “membuka pintu” untuk wanita. Dengan demikian Sekolah Phytagorisme lebih dahulu dua abad sebelum Plato, dalam menetapkan prinsip persamaan antara pria dan wanita. Dengan demikian Phytagorisme telah lebih dahulu dua abad dibanding Plato dalam menetapkan kesetaraan antara pria dan wanita, ketika yang terakhir tersebut menulis tentang hal itu di Republica.
Anehnya meskipun Plato termasuk penyeru kesederajatan pria dan wanita, ia tidak tertarik untuk membuka pintu Akademia-nya bagi wanita. Sebaliknya saat itu banyak sekolah-sekolah filsafat Yunani yang selain mengajar pria, juga wanita, seperti sekolah Epicure.
Emansipasi wanita sangat terkait dengan pengajaran yang dilakukan terhadapnya. Kaum wanita baru mulai memperoleh kesempatan belajar pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Sedangkan pada masa lalu yang ada hanyalah usaha-usaha seperti riak-riak kecil yang nyaris tidak berpengaruh. Karena alasan inilah dalam sejarah kita tidak mengenal adanya filosof, ahli matematika dan ahli ilmu alam wanita. Tampaknya Sokrates berpendapat bahwa pengajaran filsafat kepada wanita merupakan suatu keburukan. Istrinya ditemani anaknya pergi ke penjara untuk mengunjunginya sebelum ia dihukum mati. Hampir saja sang istri tidak dapat melihat suaminya jika ia tidak berteriak-teriak. Mendengar teriakan istrinya, Sokrates berkata kepada temannya: “Keluarkan wanita itu”. Cerita ini dapat kita temukan pada dialog pertama Phideon.
Wanita yang belajar di Sekolah Phytagoras terkenal dengan keutamaan dan kebersihan jiwanya. Mereka adalah wanita Yunani yang mulia, karena mereka menjalankan etika, prinsip-prinsip filsafat, tata boga dan tata cara mengurus keluarga. Partisipasi wanita dalam jangkauan yang luas ini menjadikan sekolah Phytagoras menyerupai masyarakat ideal atau kota utama.
Kota-kota utama merupakan perhatian utama kerja para filosof Yunani. Karena itu dapat dikatakan bahwa tujuan filsafat adalah untuk membentuk masyarakat ideal atau kota utama seperti yang terbaca pada buku Republica-nya Plato. Akan tetapi kebanyakan kota-kota utama–seperti nampak pada masa lalu–tak ubahnya utopia yang dikhayalkan oleh para penganutnya yang tak pernah terwujud secara praksis dalam kenyataan, kecuali sebagian kecil kota utama, di antaranya adalah Sekolah Phytagoras.
Meskipun sekolah Phytagoras menerima banyak pengikut dan pelajar, tetapi pengajaran yang diberikan kepada mereka adalah materi-materi yang khusus buat mereka seperti agama dan etika, bukan ilmu-ilmu matematika. Kita telah mengetahui bahwa ajaran yang mereka anut adalah Orifisisme. Yang paling penting adalah bahwa Phytagorisme tidak bersikap fanatik terhadap keberagamaan tertentu. Tapi ia mengambil dari setiap agama satu sisi, dengan begitu Phytagoras telah melakukan harmonisasi antara berbagai ajaran agama. Ia mengambil ajaran agama Babilonia, Mesir, Troxia juga keyakianan-keyakinan orang Yunani di samping ajaran Orifisisme. Kecenderungan harmonisasi ini terus dilakukan aliran Phytagorisme sepanjang eksistensinya. Ketika “Phytagorisme Baru” muncul di Iskandaria pada tiga abad pertama masehi, ia pun memiliki kecenderungan (karakter) harmonisasi ini, khususnya setelah munculnya agama Kristen. Bahkan ketika aliran Phytagorisme ini sampai ke dunia Arab pada abad VI Hijriah (X Masehi) ciri harmonisasi ini ada pada mereka seperti tampak pada risalah-risalah “Ikhwân al-Shafâ wa Khallân al-Wafâ”, di mana para penulisnya menyembunyikan identitas (nama) mereka dan mengaku bahwa ajaran-ajaran mereka bersifat rahasia. Mereka memulai risalah-risalahnya dengan materi “ilmu angka”, mereka juga menyerukan untuk hidup asketis (zuhud) serta membersihkan jiwa.
Pencapaian kebahagiaan tertinggi sesungguhnya tidak dapat terwujud kecuali hanya dengan membersihkan jiwa. Pembersihan jiwa ini dilakukan lewat beberapa prinsip dan keyakinan, terutama keyakinan tentang keterpisahan jiwa dari jasad, keyakinan lebih tingginya jiwa dari jasad serta keyakinan kekekalan jiwa setelah kehancuran badan. Mereka juga meyakini apa yang disebut transmigration of soul (perpindahan jiwa). Mereka mengikuti jalan hidup asketik serta latihan spiritual untuk menyucikan jiwa.
Konsep transmigration of soul ini banyak berkembang di kalangan penganut Phytagorisme akibat masuknya konsep tersebut dari filsafat India dan aliran Orifisisme. Phytagoras diriwayatkan sangat mempercayai hal tersebut. Dikisahkan bahwa ia pernah melihat seseorang memukul anjing yang sedang menyalak, kemudian orang tersebut menghentikan pukulannya karena dia tahu dari suara anjing tersebut bahwa ia adalah salah seorang temannya yang telah meninggal dan jiwanya ber-transmigrasi ke tubuh anjing ini. Sebagai konsekwensi dari keyakinan ini, maka orang yang hidup di dunianya penuh dengan amal kebajikan jiwanya akan menempati jasad orang yang saleh. Sedangkan yang hidup dengan amal buruk maka jiwanya akan menempati tubuh hewan. Inilah teori kebahagiaan dan kesengsaraan yang mereka anut.
Pandangan-pandangan ini berkembang luas di sekolah Phytagoras. Plato membicarakan hal ini dalam dialog Phideon, di mana ia berbicara tentang kekekalan jiwa. Sokrates adalah penganut faham Phytagorisme. Akan tetapi ia mulai berfikir tentang sejauh mana kebenaran yang ada di balik pandangan-pandangan tersebut. Ia menerima sebagian dan menolak sebagian yang lain. Ia menerima pandangan sekte Orifisisme bahwa badan merupakan penjara bagi jiwa. Akan tetapi seseorang tidak dapat membebaskan diri dari penjara ini dengan cara membunuh diri, karena kita manusia tak ubahnya segerombolan ternak yang tak kuasa menyimpang dari kekuasaan sang gembala. Seseorang mesti melewati “penjara” di badan ini. Meski begitu Sokrates menolak konsep transmigration of soul dan menerima konsep pensucian jiwa.
Konsep pensucian jiwa tersebut, yang mulai berkembang sejak Phytagoras mendirikan sekolahnya, telah berubah menjadi beberapa pola serta mengambil bentuk yang berbeda-beda pada Sokrates, Plato dan Aristoteles pada zaman kuno. Pada masa kini, kita melihat ada ajaran Phsycoanalysis-nya Frued, hal mana dalam pengobatan kejiwaan Frued berpegang pada konsep penyucian jiwa (catharsis). Tujuan dari penyucian jiwa adalah menyelamatkan diri dari transmigrasi jiwa ke tubuh hewan, karena dengan berpindahnya jiwa ke tubuh hewan berarti manusia menderita sepanjang masa transmigrasi tersebut, keluar dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Dalam rangka penyucian jiwa tersebut, Phytagoras tidak hanya mengikuti kaedah-kaedah tertentu dalam hal makan-minum serta pelaksanaan ibadah tertentu secara sistematis melalui bimbingan para orang suci, tetapi ia juga menambahkan sesuatu yang baru pada sistem kezuhudan (asketisme) dan ibadah, berupa penerapan matematika dan musik untuk menjernihkan jiwa, seperti digunakannya obat untuk membersihkan badan dari penyakit. Umum diketahui bahwa Phytagoras telah mengangkat musik dari tingkatan praksis menjadi ilmu teoritis harmonis yang dituangkan dalam tangga-tangga nada. Dengan demikian Phytagoras telah mengubah konsep penyucian jiwa tersebut dari semata-mata kecenderungan praksis menjadi ilmu teoritis. Sokrates dan Plato mengikuti metode penyucian seperti ini. Keduanya menggabungkan antara asketisme dan tingkah laku utama dengan perolehan ilmu-ilmu matematis khususnya teknik. Plato menulis di pintu sekolahnya : ”Siapa yang bukan arsitek, janganlah ia masuk”.
Aristoteles mengunakan metode penyucian jiwa dalam seni. Ia berusaha mengeksplorasi berbagai cara yang dapat menghilangkan rasa takut, khawatir dan cemas yang dapat membuat orang yang sedang dilanda kesulitan terpengaruh oleh kesan-kesan dan suasana-suasan ini, ia pun keluar dari batin jiwanya (yang resah) dan terbebas dari perasaan-perasaan negatif tersebut. Diceritakan bahwa pada abad IV SM sebagian orang yang terkena penyakit nervous (gelisah) dapat disembuhkan dengan metode Phytagorian, khususnya melalui terapi musik.
Sekolah Phytagorisme sangat besar pengaruhnya dalam sejarah pemikiran filsafat. Hal itu dapat terlihat dari kenyataan bahwa interpretasi matematis terhadap alam berkembang sampai masa Plato, dimana seorang pelajar diisyaratkan untuk mempelajari teknik sebelum mempelajari filsafat. Alasannya karena ilmu hitung {matematika} adalah ilmu yang sifatnya positif {meaykinkan} dan eksak {tepat} yang diturunkan dari akal sendiri dan bukan dari luar. Dasar–dasarnya adalah aksioma-aksioma alamiah didalam akal yang tidak memerlukan bukti, cukup hanya menggambarkannya untuk meyakininya, misalnya aksioma persamaan dan aksioma besar-kecil. Artinya segala sesuatu yang mempunyai persamaan dalam satu hal adalah sama, dan semua itu lebih besar dari sebagian dalam dialog-dialognya Plato menjelaskan bahwa seorang budak yang tidak mendapatkan pengajaran apapun dapat mengetahui hakekat aksiomatik secara sendiri, hal mana menunjukkan sifat natural aksioma-aksioma tersebut dalam akal. Aliran yang meyakini naturalisme aksioma-aksioma matematis ini terus berlangsung sejak zaman Plato hingga Descartes, Kant dan Russell pada zaman modern.
Akan tetapi ketika aliran Matematis Phytagoras ini muncul, pada saat yang sama muncul pula aliran lain yang menafsirkan alam secara alami, yakni bahwa alam berasal dari satu materi. Ini dianut oleh Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Aliran penafsiran naturalis ini berakhir dengan datangnya Aristoteles. Yang tersebut terakhir ini menafsirkan bahwa alam tersusun dari “substansi” (primordial matter) dan “bentuk” (form). Disamping itu, ia mengembalikan unsur kepada empat hal: api, udara, air dan tanah. Penafsiran Aristoteles ini berlangsung selama 20 abad, sampai kemudian untuk kedua kalinya alam ditafsirkan secara matematis, tetapi bukan seperti penafsiran masa silam, melainkan dengan equotasi-equotasi matematis.
Sesungguhnya yang mengarahkan studi-studi dengan orientasi matematis adalah Phytagoras. Karena itu, adalah tidak aneh bahwa Bertrand Russell mengatakan dalam bukunya The History of Western Philosophy: “Saya tidak melihat seorang selain Phytagoras yang memiliki pengaruh yang sama dengannya di dunia pemikiran, karena gagasan yang muncul dari Plato, kita dapati secara substansial menggunakan analisa Phytagorian.”
Wallahu A’lam
Palu, 24 Desember 2009
Referensi: al-Madaris al-Falsafiyah / Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani

1 Komentar

Filed under Uncategorized

One response to “PHYTAGORISME

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s