SEKOLAH-SEKOLAH FILSAFAT ISLAM. Bag. Kedua

By. Didin Faqihuddin, MA
Peminat Studi Bahasa dan Filsafat

SEKOLAH AL-FARABI
Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan bin Auzlagh al-Farabi, lahir pada pada tahun 259 H dan wafat pada tahun 339 H. Al-Farabi adalah nisbah kepada kota Farab, perbatasan antara Persia dan Turki. Al-Farabi pindah ke Baghdad dan belajar filsafat dengan seorang yang bernama Yuhana bin Hailan. Ia menguasai filsafat yang membuatnya dipanggil ke istana Saif al-Daulah al-Hamdaniy. Al-Farabi berbakti pada khalifah ini hingga wafatnya pada tahun 339 H.
Kuat dugaan bahwa al-Farabi dinamakan “guru kedua” karena ia yang membawa (memperkenalkan) mantiq (logika) di kalangan orang-orang Arab, dengan catatan bahwa Aristoteles—sebagai sang empunya logika—sebagai guru pertama. Al-Farabi telah dideskreditkan bahwa ia tidak mengetahui mantiq (logika), khususnya kemampuan menganalisa dan argumentasi. Padahal al-Farabi adalah orang yang telah menguasai, mempermudah dan menafsirkan logika sebenarnya. Al-Kindilah pelopor pembuka jalan logika. Ia mengalami kesulitan dalam membuat peristilahan Arab untuk padanan istilah-istilah Yunani. Istilah-istilah yang dibuatnya ditolak, baru pada masa al-Farabi istilah-istilah tersebut dapat diterima. Al-Farabi berjasa dalam hal ini. Seperti kita ketahui, al-Kindi tidak mempercayai logika sebagai alat utama untuk memperoleh filsafat, ia lebih memilih matematika. Karena itu, al-Kindi tidak terlalu ngotot untuk menguasai logika, meskipun karya-karyanya banyak yang ia tulis untuk menafsirkan buku-buku logikanya Aristoteles.
Al-Farabi menulis banyak buku terkenal. Di antaranya adalah Arâ’ Ahl al-Madînah al-Fadhîlah, Ihshâ al-Ulûm, Tahshîl al-Sa’âdah wa al-Tanbîh ‘alâ Sabîl al-Sa’âdah serta al-Jam’ bain Ra’y al-Hakîmayn dan lain lain. Ia mempunayi banyak karya, namun sebagiannya telah hilang.
Al-Farabi tidak hanya belajar kepada Yuhana bin Hailan saja, tetapi juga kepada Abu Basyar Mata bin Yunus. Ibnu Khalkan menyebutkan bagaimana al-Farabi berhubungan dengan Abu Basyar dan bagaimana ia belajar kepadanya, hal mana menjelaskan terjadinya proses pembelajaran: “Ketika al-Farabi masuk wilayah Baghdad, di sana ada Abu Basyar Matta bin Yunus, sorang ahli bijak terkenal. Ia juga seorang syeikh besar. Abu Basyar mengajarkan ilmu logika pada orang-orang di Baghdad. Setiap hari, orang-orang yang mengganderungi filsafat berkumpul di halaqah-nya. Ia membacakan buku logika Aristoteles dan memberikan penjelasan kepada murid-muridnya. Pada saat itu tidak ada orang yang memiliki keahlian logika seperti dirinya. Abu Basyar memiliki bahasa yang bagus, gaya bicaranya lembut dan sederhana. Sebagian ahli mantiq mengatakan: “Aku tidak mengetahui al-Farabi memperoleh cara mudah memahami makna-makna yang sukar dengan begitu mudah kecuali dari Abu Basyar. Al-Farabi selalu mengahadiri halaqah Abu Basyar. Kemudian ia pergi ke kota Harran. Di sana ada Yuhana bin Hailan, ahli bijak Kristen. Kepadanya al-Farabi belajar ilmu logika. Kemudian ia kembali ke Baghdad, mengkaji filsafat dan melahap buku-buku Aristoteles, sehingga menjadi mahir dalam menyarikan makna-maknanya dan mengetahui tujuan filsafat Aristoteles. Dari sini jelaslah bahwa Abu Basyar Matta bin Yunus adalah kepala sekolah di Baghdad. Akan tetapi bukan dia yang membangunnya. Bahkan ia belajar filsafat dari orang lain dalam satu rangkaian panjang.
Agar kita memahami kedudukan al-Farabi dalam rangkaian ini, ada baiknya jika kita menelusuri dari awal semenjak ia berada di Iskandariah. Ada satu riwayat yang dinukil oleh Ibnu Abi Ushoibi’ah dalam “Thabaqat al-Aththibba” tentang ucapan al-Farabi mengenai kemunculan filsafat, yaitu zaman orang-orang Yunani sampai masa Aristoteles, kemudian pindah ke Iskandariah pada masa pemerintahan Ptolisi hingga Cleopatra. Ketika Romawi menguasai Mesir, mereka mengkopi buku-buku yang ada di Iskandariah. Filsafat pun lalu mempunyai dua tempat pengajaran, salah satunya di Roma. Ketika Kristenitas menang, sekolah filsafat Roma menghilang, sekolah Iskandariah tetap ada. Dari sana pengajaran filsafat berpindah ke Antiokia dan terus ada di sana sampai tersisa satu guru saja. Darinya dua orang belajar. Keduanya kemudian keluar dan membawa buku-buku. Salah seorang dari Harran dan seorang lagi dari Merv. Yang dari Merv mempunyai dua orang murid, salah seorang di antaranya adalah Ibrahim al-Marwazi dan yang lain adalah Yohana bin Hailan. Yang dari Harran mempunyai siswa benama Ismail al-Asqaf dan Quwairy. Keduanya pergi ke Baghdad. Ismail sibuk dengan agamanya, sedangkan Quwairy mulai mengajar. Yuhana bin Hailan juga sibuk dengan agamanya, sementara Ibrahim al-Marwazy pergi ke Baghdad dan tinggal di sana. Dari al-Marwazy, belajarlah Matta bin Yunan (Yunus)…Abu Nashr al-Farabi berkata tentang dirinya bahwa ia belajar dari Yohana bin Hailan, sampai menamatkan kitab “al-Burhân”
Jika kita mengetahui sekelumit tentang Abu Basyar, maka kita mengalami kesulitan tentang siapa Yohana bin Hailan. Tampaknya, keterpengaruhan al-Farabi oleh Abu Basyar begitu besar. Ada yang mengatakan bahwa al-Farabi lebih muda dibanding Abu Basyar. Tetapi al-Farabi mempunyai otak yang lebih tajam dan bicaranya lebih menarik, sebab al-Farabi melakukan sharing dengan Abu Bakar bin Siraj, sang ahli nahwu. Al-Farabi belajar nahwu pada Abu Bakar, dan Abu Bakar sendiri belajar logika kepada al-Farabi.
Kita hanya tahu sedikit tentang metode mengajar al-Farabi. Metode ini dapat kita lihat dari daftar buku-bukunya yang ada dalam kitab “Thabaqât”-nya Ibnu Abi Ushaibi’ah. Al-Farabi kurang hobi mengarang. Buku-bukunya hanya merupakan komentar-komentar. Tampaknya ketika ia mengarang, ia memerlukan waktu yang sangat panjang karena buku Arâ’ Ahl al-Madînah al-Fadhîlah mulai ditulisnya di Baghdad “lalu ia bawa ke Syam pada akhir tahun 330 H, dan ia menyempurnakannya di Damaskus pada tahun 331 H. Setelah itu ia membuatkan bab-babnya. Ada teman-temannya yang memintanya untuk juga membuatkan pasal-pasalnya, al-Farabi pun mengerjakannya pada tahun 337 H….”Yang perlu kita ketahui dari cerita ini adalah bahwa sekelompok muridnya telah memintanya untuk menulis buku ini. Akan tetapi sulit untuk mengetahui nama-nama mereka ini. Tampaknya juga al-Farabi tidak punya waktu untuk menulis dan lebih suka mengimlakan (mendiktekan)-nya kepada murid-muridnya. Dari situlah ia memiliki satu kitab “Syarh Kitâb al-Burhân-nya Aristoteles dengan model komentar yang didiktekannya kepada Ibrahim bin ‘Uday, siswanya di Halb”. Ada juga satu kitab yang semodel dengannya dan dikomentari oleh Ibnu Abi Usoibi’ah sebagai: “pembicaraan yang didiktekannya terhadap penanya yang bertanya kepadanya tentang arti zat, makna, dan substansi, serta makna alam”
Beberapa siswanya yang terkenal adalah Yahya bin ‘Uday, sang ahli logika, yang pada dirinyalah puncak pengetahuan hikmah (pada masanya). Ia belajar kepada Abu Basyar Matta dan Abu Nashr al-Farabi. Ia adalah seorang Kristen Ya’kubi yang wafat pada tahun 364 H. Ia juga seorang penerjemah dari bahasa Suryani, dan mayoritas karyanya adalah tentang logika. Melalui Yahya bin Udai-lah sekolah mantiq di Baghdad terus bertahan, yang kemudian dikepalai oleh Abu al-Khair al-Hasan bin Siwar yang dikenal dengan Ibu al-Khimar, dilahirkan tahun 331 H. Ia adalah seorang filosof, dokter dan ahli logika. Ia memiliki beberapa syarah dan komentar terhadap Organon-nya Aristoteles. Kemudian Abu Ali Isa bin Ishak bin Zur’ah, seorang Nasrani Ya’kubi yang memiliki beberapa terjemahan buku-buku Aristoteles. Juga Abdullah bin Thayyib, siswa Ibnu Khimar, seorang filosof dan dokter yang sibuk di rumah sakit. Ia menggabungkan antara kedokteran dan filsafat. Ia juga mensyarah Metafisika dan buku-buku logika Aristoteles dan melakukan korespondensi dengan Ibnu Sina teman semasanya.
Tidak aneh jika banyak mazhab filsafat yang mengutip pandangan-pandangan al-Farabi yang kepemimpinannya dalam dunia filsafat diakui oleh banyak kalangan sehingga ia dinamakan “guru kedua”. Pandangan-pandangan al-Farabi dapat disimpulkan pada tiga hal; (1) logika, (2) kesinambungan wujud dengan cara emanasi, dan (3) teori ittishâl (perhubungan).
Logika adalah alat berfikir dan standar (ukuran) untuk menilai. Kedudukannya dalam filsafat sama dengan kedudukan nahwu dalam bahasa, kecuali bahwa nahwu menangani lafaz, maka logika menangani makna. Dalam filsafat Islam, dari segi logika, al-Farabi memiliki tiga macam pengaruh: (1) memperbagus pembentukan ungkapan logika (‘ibârah manthiqiyah), hal mana menjadikan logika mudah diterima dan difahami; (2) memperhatikan uraian-uraian kedua (argumentasi / pembuktian); dan (3) memasukkan logika ke dalam ilmu kalam sehingga setelah abad V hijriah ia menjadi bagian pembahasan ilmu kalam tersebut.
Sedangkan kesinambungan wujud bersumber dari “yang satu”. Ini merupakan teori campuran al-Farabi yang ia ambil dari Plato dan Aristoteles. Plotinus juga melakukan hal yang sama. Teori tersebut tidak didasarkan pada dua asas; yang wujud dan yang satu, melainkan didasarkan pada satu asas yang porosnya adalah bahwa yang maujud itu adalah yang satu itu. Dari yang ada yang pertama itu muncullah semua yang ada (al-maujûdât) “dari segi bahwa emanasi satu wujud ada karena adanya wujud yang lain”. Dari wujud pertama muncullah akal pertama, kemudian dari situ muncullah akal kedua, demikian seterusnya hingga akal kesepuluh. Akal kesepuluh adalah yang mengatur alam bumi, alam semesta dan empat unsur.
Teori ini, pada dasarnya diambil dari Neo-Platonisme. Dan ia menyelesaikan persoalan materi kuno yang ada pada Aristoteles. Dalam mazhab ini, alam hayûlî (ketuhanan) berhubungan dengan kesatuan wujud bersama dengan wujud pertama. Ini bertentangan secara diametris dengan Islam yang mengatakan tentang penciptaan dari ketiadaan. Kita melihat bahwa al-Kindi lebih dekat kepada spirit Islam, ketika ia menyerukan tentang penciptaan, bahklan ia menggunakan peristilahan yang lebih halus dari makna penciptaan (al-khalq), yakni pembuatan (al-ibdâ’). Ketika filsafat al-Farabi telah menyebar luas melalui sekolahnya, dan melalui Ibnu Sina sesudahnya, serangan-serangan kelompok ahl al-sunnah tidak pernah berhenti, sampai-sampai Al-Ghazali mengibarkan bendera peperangan terhadap mereka lewat buku Tahâfut-nya.
Yang dimaksud dengan teori ittishâl (perhubungan) adalah, hubungan akal-akal kita dengan akal-akal lain yang bersambung dari yang satu, yaitu akal kesepuluh. Jika kita mudah berhubungan dengan akal fa’al, maka menjadi mungkin untuk mengetahui semua jenis pengetahuna melalui “pancaran” dari sinar-sinar ketuhanan. Seorang filosof berhubungan dengan akal fa’al ini melaui “kajian teoritis”, sedangkan seorang nabi atau wali berhubungan dengannya lewat cara “imajinasi” di mana ia menerima berbagai ilham dalam mimpi yang benar, atau dalam keadaan terjaga dalam bentuk wahyu. Dengan cara ini, al-Farabi telah menyerasikan antara hikmah dengan syarî’ah, karena hakekat-hakekat keagamaan dan hakekat-hakekat filsafat merupakan buah dari pancarana (emanasi) Ilahi, baik lewat imajinasi atau lewat pandangan dan pengamatan.
Wallahu A’lam
Palu, 28 Desember 2009
Referensi: al-Madaris al-Falsafiyah / Dr. Fuad al-Ahwani

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s