PENGARUH ALQURAN TERHADAP KAJIAN LINGUISTIK DI KALANGAN BANGSA ARAB. Bag. Pertama

Didin Faqihuddin, MA
Alumnus Pondok Pesantren Darul Amal Buni Bakti, Bekasi
Kini Staf Pengajar Jurusan Dakwah STAIN Datokarama Palu

Kajian linguistik di kalangan bangsa Arab tumbuh dan berkembang dalam keluasan Alquran. Hal ini terjadi karena para ulama muslim berdiri di depan teks suci Alquran sambil berusaha untuk memahami dan menjangkau maknanya. Ini bisa dilakukan hanya dengan cara mengkaji dan memahami bahasa apa Alquran diturunkan. Oleh karena itu kita akan menemukan banyak cabang pengetahuan dalam kaitannya dengan keluasan Alquran tersebut. Berawal dari ayat-ayat Alquran sebagai titik tolak, kajian tersebut bisa meliputi kajian terhadap makna lafaz, i’rab, qira’at, dan cabang-cabang pengetahuan lain.
Dr. Abduh al-Rajihi menjelaskan banyak peneliti yang berpendapat bahwa kajian linguistik di kalangan bangsa Arab, khususnya masalah nahwu (gramatika Arab), bermula dari tersebarnya banyak lahn (kesalahan berbahasa) sebagai akibat dari masuknya bangsa-bangsa non-Arab ke dalam agama Islam. Artinya bahwa kajian nahwu ini muncul untuk menjaga Alquran dari apa yang disebut dengan lahn tersebut. Menurut beliau pendapat ini benar adanya. Akan tetapi kebenarannya tidak hanya sampai di situ saja. Benar bahwa menjaga Alquran dari lahn merupakan salah satu di antara banyak sebab munculnya kajian linguistik ِArab ini, namun ia bukan merupakan sebab pertama dan bukan merupakan tujuan utama. Sebab pertama dan utama dari  muncul dan berkembangnya kajian-kajian linguistik tidak lain adalah usaha untuk memahami nash Alquran sebagai sumber hukum yang mengatur kehidupan umat muslim. Tentu ada perbedaan yang sangat besar antara ilmu yang berusaha untuk ‘memahami’ nash Alquran, dengan ilmu yang berusaha untuk ‘menjaga’ Alquran dari lahn.
Berikut ini adalah sebagian kajian linguistik yang muncul di sekeliling Alquran:
Pertama, Makna Lafaz Alquran. Para ulama Arab menaruh concern yang sangat besar terhadap lafaz-lafaz Alquran sejak masa-masa awal munculnya kajian linguistik Arab ini. Rasul pernah bersabda:
“Siapa membaca Alquran lalu memahami i’rabnya, maka pada setiap hurufnya ia mendapatkan 20 kebaikan. Dan siapa membaca Alquran dengan tidak memahami i’rabnya maka pada setiap hurufnya ia mendapatkan sepuluh kebaikan.”
Para ulama mengisyaratkan bahwa i’rab yang dimaksud dalam ayat itu adalah “mengetahui makna-makna lafaz Alquran”. Jadi bukan i’rab dalam pengertian para nuhat (ulama nahwu) yang mengartikan i’rab sebagai perubahan keadaan akhir kata karena adanya faktor yang mempengaruhinya. Membaca Alquran tanpa i’rab dalam pengertian ulama nahwu tidak lagi disebut membaca, dan sama sekali tidak berpahala.
Perhatian terhadap makna lafaz Alquran ini sudah dimulai sejak zaman Rasulullah saw. Suatu ketika seorang Arab mendatangi Rasulullah dan bertanya tentang sebagian lafaz Alquran, misalnya firman Allah: wa lam yalbasu imanahum bi zhulmin (QS. al-An’am : 82) seraya berkata: “siapakah di antara kita yang tidak pernah melakukan kezaliman terhadap dirinya?” Lalu Raslullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan zalim di situ adalah syirik (menyekutukan Allah). Beliau merujuk kepada ayat: inna al-syirka lazulmun ‘azhim (QS. Luqman : 13)
Seperti kita ketahui, Alquran sesungguhnya turun dalam bahasa Arab yang fasih, pada era Arab dengan budaya bahasa yang juga sangat fasih. Mereka mengetahui makna zahir Alquran. Sementara untuk makna-makna yang agak sedikit mendalam, mereka baru mengetahuinya setelah melakukan pengkajian dan pengamatan yang mendalam pula, dan dari jawaban Rasulullah terhadap pertanyaan yang mereka ajukan. Oleh karena itulah Dr. Subhi Shalih dalam Mabahits Fi Ulum Alquran mengatakan bahwa Rasulullah telah dianugerahi Alquran dan pengetahuan terhadap maknanya. Dari sini maka pada masa Rasulullah masih hidup, karya-karya yang berhubungan dengan Ulumul Quran tidak diperlukan karena semuanya bisa ditanyakan kepada beliau.
Baru setelah Rasulullah wafat, keperluan terhadap karya-karya semacam Ulumul Quran–yang salah satu pembahasannya adalah tentang makna lafaz-lafaz Alquran–mulai dirasakan. Buktinya para sahabat yang nyata-nyata adalah orang-orang Arab dengan kemampuan bahasa yang sangat tinggi kadang-kadang ‘menyerah’ di hadapan lafaz-lafaz yang mereka tidak mengetahui maknanya. Satu riwayat menyebutkan bahwa Abu Bakar ditanya tentang Wa Fakihatan Wa Abban (QS. ‘Abasa : 31), lalu ia berkata: “Bagaimana mungkin aku mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui?” Umar bin Khattab juga diriwayatkan membaca Wa Fakihatan Wa Abban di atas mimbar, lalu berkata: “fakihah ini kita kenal, lalu apa makna al-Abb?” Ibnu Abbas diriwayatkan pernah berkata: “sebelumnya aku tidak memahami apa maksud Fathir al-samawati wal ardhi, sampai kemudian aku melihat dua orang Arab sedang berselisih dalam persoalan sebuah sumur. Salah seorang di antaranya berkata: “Ana fathartuha” (aku yang pertama membuatnya). Dalam masalah makna lafaz Alquran ini, Abdullah bin Abbas mempunyai kedudukan yang sangat penting, sampai-sampai Abdullah bin Mas’ud menggelarinya Tarjuman Alquran (Terjemah Alquran). Tentang keutamaan Abdullah bin Abbas, silahkan baca ALQURAN : DASAR EKSISTENSI BAHASA ARAB.
Berkaitan dengan diskusi wacana makna lafaz-lafaz Alquran adalah kajian-kajian leksikologis yang dibuat oleh para ulama mengenai nama-nama Alquran. Di antara yang menulis tentang masalah ini adalah al-Qadi Abu al-Ma’ali Azizi bin Abdul Malik, al-Imam Abu Ja’far al-Thabari yang menulis tentang al-Qawl Fi Asma al-Quran wa Suwarihi wa Ayihi, juga Abu al-Qasim al-Husayn bin Muhammad yang dikenal dengan nama al-Raghib al-Isfahani yang menulis al-Mufradat Fi Gharib al-Quran dan yang ketiga adalah AbuUbayd al-Qasim bin Salam yang menulis Lughat al-Qabail al-Waridah Fi al-Quran.
al-Thabari misalnya menjelaskan tentang makna Alquran yang–dengan merujuk penjelasan Ibnu Abbas–ia artikan sebagai ‘bacaan’. Ia juga menjelaskan makna al-Furqan yang oleh para ulama diartikan sebagai jalan keluar dan keselamatan. Menurut Thabari bahwa meskipun ada banyak makna yang dikemukakan tentang al-furqan ini, namun semuanya memiliki kedekatan makna. Dia sendiri mengartikan al-furqan sebagai pembeda dan pemisah antara dua hal. Alquran dinamakan al-furqan oleh karena ia memisahkan antara yang haq dan yang batil. al-Thabari juga menjelaskan makna al-Kitab, al-Zikr dan nama-nama Alquran lainnya.
Semenetara itu al-Raghib al-Isfahani dalam kitab al-Mufradat-nya menjelaskan bahwa hal pertama yang harus dipenuhi dalam memahami Alquran adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah lafaz. Kitab Isfahani ini, selain membahas tentang makna lafaz mufradat Alquran juga membahas tentang qiraat al-Quran, pembahasan tentang penggunaan konteks yang berakibat pada munculnya makna-makna yang beraneka ragam untuk sebuah mufradat.
Kedua, I’rab al-Quran. Secara bahasa i’rab berarti menjelaskan seperti ucapan Arab: a’raba ‘an nafsihi (ia menjelaskan tentang dirinya). Sementara dalam al-Mu’jam al-Wasith ada beberapa makna i’rab yang kebanyakan berkisar pada kejelasan dan kefasihan dalam berbicara. Sementara secara istilah, i’rab adalah perubahan yang terjadi pada akhir kata (rafa’, nashab, jarr, dan jazm) dalam bahasa Arab akibat karena adanya‘amil.
Persoalan i’rab ini mendapatkan perhatian yang sangat besar dari kalangan ulama muslim, oleh karena i’rab merupakan salah satu perangkat yang harus dipenuhi oleh mereka yang hendak menafsirkan Alquran. Sebegitu besar perhatian terhadap masalah i’rab ini, sampai-sampai ada sebagia ulama yang menjadikan i’rab Alquran ini sebagai sebuah ilmu, dan menganggapnya sebagai cabang ilmu tafsir dan bukan cabang ilmu nahwu. Ada banyak kitab tentang i’rab Alquran yang ditulis oleh para ulama dan mendapat perhatian para muhaqqiq untuk diterbitkan, antara lain adalah Musykil I’rab Alquran karya Abu Muhammad Makkiy bin Abi Thalib al-Qaysiy. Dalam pendahuluan kitab ini, penulis mengemukakan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu mengenai kitab Allah, dan ilmu tentang i’rab merupakan keharusan bagi mereka yang hendak mengkaji Alquran. Bahkan I’rab merupakan cabang Ulumul Quran yang paling penting, karena dengan i’rab ini seseorang akan selamat dari lahn, mengetahui hukum-hukum lafaz, memahami makna yang kadang berbeda karena perbedaan harkat. Dengan demikian ia akan mengetahui apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah dalam sebuah ayat. To be continued…
Palu, 04 Januari 2010
Referensi:
Fiqh al-Lughah Wa ‘Ilm al-Lughah : Nushush Wa Dirasat
Dr. Mahmud Sulayman Yaqut

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s