GALERI DAN KEBUN

By. Didin Faqihuddin, MA
Alumnus PPs. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Dosen STAIN Datokarama Palu

Sekolah filsafat banyak terdapat di Yunani. Pada akhir-akhir abad IV dan awal abad III SM, muncullah empat sekolah filsafat; Kalbiyah, Syukkaak, Stoikisme dan Epicurisme. Yang paling terkenal adalah sekolah Stoik dan Epicur. Sekolah Stoik dikaitkan dengan tempat berlangsungnya pengajaran yaitu di galeri. Sedangkan Epicur dikaitkan dengan pendirinya, Epicur, yang mengajar di kebun.
Meski kedua sekolah ini telah menghilang sejak awal abad I M, namun semangat Stoikis selalu hidup hingga abad ini. Sedangkan Epicurisme mendapatkan trade mark  “menyimpang” di mana seseorang yang disifatkan sebagai Epicuris adalah orang yang tenggelam dalam nafsu dan kesenangan.
Kita mulai pembicaraan ini dengan Stoikisme. Adalah Zenon yang membangun sekolah ini. Ia berasal dari kota Aktaiom di pulau Kypros. Kota ini adalah salah satu kota Yunani yang ditempati oleh para imigran dari Ponicia yang terletak di pinggir pantai yang berhadapan dengan pulau Kypros. Diceritakan bahwa Zenon pergi berdagang, kemudian kapal yang ditumpanginya tenggelam dekat Paereos, sebuah pelabuhan Athena. Zenon selamat dan segera menuju Athena, tinggal dan belajar di sana. Ada yang mengatakan bahwa saat itu ia berusia 30 tahun. Ketika ia sudah mantap tinggal di sana, dari seorang penjual buku, ia membeli sebuah buku Zenopon tentang Sokrates yang merupakan catatan-catatan terkenal. Zenon sangat mengagumi Sokrates, dan bertanya di mana ia dapat menemukan orang seperti Sokretes itu. Sang penjual menyarankan si penanya untuk mengikuti Ikrates. Selama 20 tahun Zenon berpindah dari satu sekolah ke lain sekolah filsafat di Athena. Kemudian ia mulai mengajar di filsafat di galeri terkenal di Athena yang dulunya ditempati oleh Nikolos Polibinotes, seorang pelukis Yunani paling terkenal abad V SM. Dahulunya, galeri tersebut menjadi tempat berkumpul para sastrawan dan penyair. Sampai saat itu setiap pengunjung masih dibolehkan masuk. Maka ketika Zenon menjadikannya sebagai markas belajar dan mengajar, ia dan para pengikutnya dinamakan “penghuni galeri”.
Pada kenyataannya cara pengajaran di Yunani berlangsung antara guru dan para pelajar, adakalanya di galeri dan adakalanya sambil berjalan di antara pepohonon (kebun). Akademia pada dasarnya adalah satu kebun yang diambil dari nama seorang pahlawan, Akadimus. Para pengajar Sophis yang mengajar di rumah para bangsawan Athena menyampaikan pelajaran-pelajarannya di galeri. Istana-istana dibangun dengan memperluas galeri yang diberi atap penghalang panas. Akan tetapi sebagian sekolah secara historis terkenal dengan ciri khusus tertentu seperti sekolah lykeum, kebun Epicur dan galeri Stoik.
Stoikisme adalah satu mazhab yang berubah dalam putaran masa. Stoik di tangan Zenon sang pendiri, berbeda dengan Stoik ditangan Epiktikos atau Orilios misalnya. Akan tetapi dalam perkembangannya serta perubahan orientasinya ke arah materialisme dan naturalisme, mazhab Stoikisme tetap memiliki ciri umum yang tidak pernah hilang hingga saat ini, yang membedakannya dari sekolah filsafat manapun. Stoikisme–khususnya dalam bahasa-bahasa Eropa–adalah kata yang digunakan untuk mengistilahkan “pribadi yang memiliki tiga hal etis”; terbebas dari belenggu nafsu, tidak hanyut dalam kegembiraan dan kesedihan, serta menerima keputusan hukum Tuhan. Jika seseorang mudah mengendalikan jiwanya seperti itu, maka ia adalah seorang bijak Stoikis. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa orang bijak Stoikis adalah orang yang sabar terhadap segala peristiwa dalam bentangan waktu, ia rela dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ini bukan hal yang mudah bagi setiap orang.
Stoikisme adalah sekolah yang menakjubkan. Muncul di Yunani, tapi pendirinya bukan orang Yunani. Menggabungkan antara tuan dan hamba dalam satu barisan, tidak membedakan antara orang timur dan barat. Stoik tidak menetap hanya di satu tempat atau dalam gedung satu sekolah. Ajaran-ajarannya tersebar luas dan berlaku hingga sekarang. Pandangan-pandangannya terus berkembang sepanjang masa, namun ciri etiknya tetap terjaga. Ciri yang membedakannya dari sekolah lain.
Resminya, sekolah Stoik terus eksis selama lima abad, dari abad III SM sampai dengan abad II M. Aktor pertamanya adalah Zenon, dan yang terakhir adalah Orilios si penari (w. 180 M). Biasanya–menurut sejarawan–sekolah tersebut diklasifikasikan menjadi tiga (masa): kuno, pertengahan dan modern. Masa kuno adalah masa di Athena, diwakili oleh Zenon, Klientes dan Karisipus. Masa pertengahan diwakili oleh Benathius dan Pozadonius. Sedangkan masa modern ada di Roma yang diwakili oleh Seneka Epiktikus dan si penari Orilios. Pandangan-pandangan Stoik kemudian terserap ke dalam agama Kristen dan terus diwarisi oleh Barat hingga saat ini. Stoik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap para penguasa dan raja yang menganut filsafat ini, sehingga dikatakan bahwa kebanyakan raja pasca Iskandar Macedonia adalah pengikut filsafat Stoik.
Stoikisme mempunyai dua dasar utama yang diharmoniskan. Keduanya adalah; kepastian hukum dan kebebasan manusia. Yang pertama khusus untuk alam dan yang kedua untuk manusia. Hal itu karena segala peristiwa di alam semesta ditentukan oleh hukum-hukum pasti. Dalam pandangan Stoik tak ada yang namanya kebetulan. Menurut mereka segala sesuatu di alam ini diarahkan pada suatu tujuan dan diatur untuk kepentingan manusia. Inilah teori “Perhatian Ilahiyah”. Manusia, dengan kehendaknya, kemerdekaannya dan pilihannya mesti berusaha untuk menyerasikan diri dengan hukum-hukum alam yang umum. Dengan begitu keutamaan ada pada kemerdekaan kehendak yang diserasikan dengan alam. Selama demikian keadaannya maka orang bijak Stoik “mesti menjadi tuan bagi jiwanya”, kaya atau miskin tidak meresahkannya. Kekuatan luar apapun tidak mencegahnya dari menggapai keutamaan.
Ketika pandangan-pandangan sekolah ini tidak terpisah dari kehidupan para pemimpinnya, maka perlulah kita membicarakan mereka dimulai dengan pendirinya, yakni Zenon.
Kami telah menyebutkan bahwa Zenon Stoikis–berbeda dengan Zenon Illia murid Parmendes–berasal dari Phonikia. Dilahirkan di Kypros di kota Akhtayom dan masyhur pada awal-awal abad III SM. Bapaknya adalah seorang pedagang. Karena itu sejak kecil Zenon telah sibuk dengan kegiatan perdagangan. Menggunakan kapal laut, ia pergi ke Yunani untuk membeli barang dagangan. Namun naas, kapal yang ditumpanginya tenggelam, tapi Zenon selamat. Segera ia pergi ke Athena dan mulai belajar filsafat. Diriwayatkan bahwa Zenon seringkali mengunjungi kedai pemilik perpustakaan. Di situ ia membaca catatan Zenopon yang banyak membicarakan tentang Sokrates. Dialog-dialog Sokrates sangat mengesankan Zenopon. Ia bertanya di mana dapat didapati orang semacam Sokrates. Kepribadian Sokrates selalu menjadi ideal bagi mazhab Stoik. Para pengikut Stoikisme mengagumi sikapnya dalam hal proses hukum, penolakannya untuk melarikan diri dari penjara, ketenangannya dalam menghadapi kematian, dan secara global mengagumi perjalanan hidup etisnya. Orang-orang Stoik juga mengagumi kesederhanaan Sokrates dalam hal makan, minum dan berpakaian. Tidak peduli panas atau dingin, serta keengganannya untuk hidup dalam kemewahan. Oleh karena itu Stoik identik dengan sikap hidup asketik dan etika mulia.
Zenon hidup hingga umur 90 tahun. Ia mendapatkan ketenaran yang luas. Ia memiliki banyak murid di sekolah yang kepemimpinannya diwariskan kepada Klianetes. Zenon terkenal karena dua hal: pertama, keyakinannya bahwa bumi adalah pusat alam semesta, oleh karena itu Aristorekos harus dihukum mati karena pendapatnya bahwa matahari adalah pusat alam, dan bukan bumi. Yang kedua, kasidah yang disusunnya untuk mensucikan Zeus. Namun Karisipus (280-207 SM)– penggantinya di sekolah Stoik–lah yang dalam sejarah dikatakan sebagai orang yang mengokohkan pilar-pilar sekolah Stoik, mengorganisasikan mazhab Stoik serta begitu memperhatikan logika dan teori pengetahuan. Zenon pernah mengatakan bahwa filsafat adalah kebun dan logika adalah pohonnya, etika adalah buahnya. Dengan itulah Zenon menjadikan etika sebagai inti filsafat dan kajian-kajian teoritis tentang tabiat dan logika. Akan tetapi nampak bahwa Karisipus secara khusus telah memisahkan kajian teoritis dalam porsi yang lebih luas, khususnya mengenai logika, yang merupakan bagian dari filsafat, bukan seperti Aristoteles yang menganggap logika sebagai alat untuk menggapai filsafat saja. Di antara ucapan-ucapannya tentang etika adalah bahwa orang mulia akan bahagia selamanya, dan orang durjana akan merana selamanya. Jiwa tetap kekal setelah kehancuran raga, sampai tiba saatnya keterbakaran umum.
Mazhab Stoik kemudian pindah ke Roma di Barat bersama dengan munculnya kekaisaran Romawi. Mazhab Stoik kemudian mengalami perubahan, pertama oleh Pinatus (w. 110 SM) yang telah memasukkan unsur-unsur Platonisme ke dalam mazhab Stoikisme dan meninggalkan orientasi materialistik yang ada pada sekolah Stoik kuno. Pinatius adalah teman Chipeo. Ia juga mempunyai pengaruh terhadap diri Chicheron dalam menyebarkan mazhab Stoik di kalangan orang-orang Roma. Pozidonius telah belajar kepada Pinatius dan pengggantinya. Pozidonius adalah orang Yunani dari Suria. Di masa kecilnya ia menyaksikan akhir negara Salukiya di Suria. Kekacauan yang disaksikannya mendorongnya untuk mengungsi ke arah barat, tepatnya kekaisaran Romawi di utara Afrika, Spanyol dan Perancis. Dari Pozidoniouslah Chicheron belajar mazhab Stoikisme. Ia memiliki kecenderungan orientasi matematis, sambil mengharmoniskan antara ajaran-ajaran asli Plato–bukan ajaran-ajaran Akademia yang menciptakan mazhab keraguan–dengan etika Stoik.
Kami telah menyebutkan bahwa pada masa akhirnya, Stoikisme terkenal karena tiga orang. Yang paling utama adalah Seneca (3 SM – 65 M). Ia berasal dari Spanyol. Ayahnya menetap di Roma. Ia terdidik dalam suasana politik yang mempersiapkannya untuk bergelut dengan dunia politik. Ia kemudian menjadi seorang menteri bagi Kaisar Claudius yang telah mengasingkannya ke Koresca karena memusuhi Mosalena, isteri Kaisar. Kemudian Ajreba, istri kedua sang Kaisar memanggilnya kembali dan mengangkatnya menjadi guru untuk anaknya yang telah berusia 11 tahun. Anak inilah yang bernama Nero, yang nantinya akan menjadi kaisar. Demikianlah Seneka menjadi guru bagi sang Kaisar sebagaimanba Aristoteles menjadi guru bagi Iskandar Macedonia.
Akan tetapi sungguh jauh berbeda antara kedua murid, dan kedua guru. Kebaikan Seneka dibalas kebusukan oleh muridnya. Nero begitu marah kepadanya karena ada tuduhan bahwa Seneka melakukan konspirasi untuk membunuh Nero dan berusaha untuk menempatkan Kaisar lain di singgasana. Seneka mengizinkzn Nero untuk melaksanakan hukuman mati ala Romawi dengan cara hukum gantung. Tapi kemudian Seneka lebih memilih untuk dipotong saja pembuluh arterinya. Meskipun Seneka sangat meremehkan harta benda namun ternyata ia telah mengumpulkan banyak kekayaan, yang konon memperoleh satu juta pound.
Sedangkan Epiktetos (60–100 M) dulunya adalah seorang budak Yunani yang dibebaskan oleh Nero dan kemudian diangkat sebagai menteri. Ia hidup di Roma dan tetap tinggal di sana sampai tahun 90 M. Kemudian ia diasingkan oleh Kaisar Domitien. Ia tidak menyukai para pemikir meskipun sepaham dengan para filosof. Epiktikos pergi ke Nikopales di Epiros, di mana ia mengajar dan menulis buku.
Sedangkan Kaisar Markus Orilius (121-180 M) hidup dalam keyakinan mazhab Stoikisme utama. Masa kekuasaannya ditandai dengan banyaknya bencana; gempa, wabah penyakit dan peperangan panjang. Anaknya, (kaisar) Komodus termasuk playboy paling buruk dalam sejarah. Ia menyembunyikan niat jahat terhadap ayahnya sepanjang hidupnya. Markus Orilius terkenal dengan bukunya yang dipublikasikan pasca wafatnya. Buku dimaksud adalah “Meditasi” yang merupakan ekspresi getaran-getaran jiwa yang telah dicatatkannya. Ia sendiri sesungguhnya tidak bermaksud untuk mempublikasikannya. Istrinya, Faustena dituduh bermoral buruk, tapi sang suami tetap yakin akan kemuliaan sang istri. Orilius telah menindas kaum Kristiani karena mereka telah keluar dari agama negara, yang oleh Orilius dianggap sebagai darurat politk. Secara umum kehidupan Orilius sangat baik.
Filsafat Epiktetos dan Markus Orilius adalah filsafat yang cocok dengan masa di mana mereka hidup. Masa yang bercirikan bencana, kekacauan dan ketidaktenangan. Tidak ada cita-cita untuk memperbaiki keadaan yang berjalan dari yang buruk ke arah yang lebih buruk, sehingga akhirnya kekaisaran Romawi menjadi hancur. Oleh karena itulah etika Stoik yang diajarkan dan dilaksanakan oleh kedua filolosof ini sangat cocok untuk masa itu karena menyerukan untuk selalu bersabar menghadapi penderitaan dan rela terhadap berbagai cobaan.
Kebun Epicur menjadi trade mark bagi kajian filsafat di bidang etika dan persahabatan filsafat untuk terjadinya tukar menukar opini. Umum diketahui bahwa mazhab Epicur cenderung pada penerimaan kesenangan (kelezatan). Tak ada seorang filososf pun yang lebih terzalimi biografi dan ajarannya selain Epicur itu. Para musuhnya telah menyebarkan banyak isu secara semena-mena terhadap Epicur. Kuat dugaan bahwa musuh-musuh utama Epicur dalam pemikiran adalah kelompok Stoik dan mereka yang mazhabnya bersaing dengan mazhab Epicur. Ada misalnya yang mengatakan bahwa ibunya Epicur adalah sorang klenik. Pernah Epicur katanya berjalan bersama ibunya dari satu rumah ke rumah lain sambil melafalkan mantra-mantra. Seandainya riwayat-riwayat ini benar, ada tanda tanya besar karena ternyata nantinya Epicur sangat membenci superstitusi keagamaan seperti tampak dalam ajaran-ajarannya.
Bapaknya tinggal di Samos. Di sanalah Epicur mulai mempelajari filsafat saat berusia 14 tahun. Pada umur 18 tahun ia pergi ke Athena berharap dapat menjadi penduduk Athena. Akan tetapi saat itu para imigran dari Samos tidak diterima di Athena. Maka ia bersama dengan keluarganya pergi ke Asia Kecil. Epicur belajar mazhab Atomis dari Neozepanos yang merupakan salah seorang pengikut Demeritos. Epicur mulai membuka sekolah filsafatnya pada tahun 311 SM di Mitillin.
Pada tahun 307 SM ia membuka sekolahnya di Athena. Epicur tetap mengajar di sana sampai akhir hayatnya, tahun 270 SM. Sekolahnya merupakan sekolah terbesar keempat setelah Akademia, Lykeum dan Stoik. Kebun Epicur dianggap sebagai sekolah reguler seperti tiga lainnya itu. Inilah rahasia bagi eksisnya sekolah Epicur hingga akhir abad I SM. Ini karena sekolah Epicur memiliki tempat yang permanen dan dikepalai oleh para pemimpin yang mengatur operasionalisasinya pasca Epicur. Ini berbeda dengan dua sekolah lainnya yaitu sekolah Kalbiyah dan Syukkak.
Di Athena, Epicur membeli sebuah rumah dan sebidang kebun yang dijadikan tempat mengajarnya. Sejak saat itu Epicur menjalani hidup dengan tenang. Tak ada yang mengeruhkan kehidupannya kecuali sakit yang dialaminya.
Sejak Epicur membangun sekolahnya di Mitillin tiga saudara dan beberapa sahabatnya turut serta membantu mengembangkannya. Akan tetapi jumlah pelajar baru bertambah ketika ia pindah ke Athena. Sekolah Epicur tidak hanya menerima pelajar-pelajar filsafat saja. Bahkan Sekolah Epicur juga menerima anak-anak dan budak untuk belajar di sana selain tentunya para sahabat Epicur sendiri. Partisipasi wanita dalam belajar di Sekolah Epicur menimbulkan kesan buruk bagi sekolah tersebut. Musuh-musuh memanfaatkan hal itu untuk menjatuhkannya, karena tidak biasanya sekolah-sekolah filsafat mengikutsertakan kaum wanita, kecuali sekolah Phytagorisme yang pada kenyataannya merupakan sebuah kelompok (sekte) keagamaan.
Tali pengikat antar individu di sekolah Epicur adalah tali persahabatan. Kehidupan kelompok ini begitu sederhana bukan karena ajaran-ajaran sekolah ini menasehatkan untuk mejalani hidup secara sederhana, sebagaimana halnya sekolah-sekolah lain. Tetapi karena dilihat dari kebutuhannya terhadap harta benda. Makanan Epicur adalah roti dan air, demikian juga pelajarnya. Kedua makanan itu dianggap cukup untuk mempertahankan hidup. Di antara ucapan Epicur: “Sesungguhnya ragaku menjadi mabuk ketika aku hidup dengan roti dan air, aku sungguh meninggalkan kesenangan yang berlebihan, bukan karena zatnya, akan tetapi karena akibat-akibat buruk yang akan ditimbulkannya”.
Sekolah Epicur ditopang oleh bantuan-bantuan yang dimintakan oleh para pemimpin sekolah dari para kolega dan pelajar. Bantuan ini sebagian berupa makanan yang mereka kumpulkan pada hari-hari raya, sebagian lagi berupa materi. Ada satu riwayat yang mengatakan bahwa Epicur meminta salah seorang siswanya untuk menyumbangkan mentega ke sekolah untuk dimakan pada hari raya.
Epicur adalah orang yang tak tahu berbalas budi terhadap orang-orang yang telah mengajarkan filsafat kepadanya. Ia mengingkari jasa Demokritos dan Lekobos pemimpin mazhab atomis. Malah ia sering mencaci-maki keduanya. Mazhab Epicur dilihat dari segi filsafat alam, termasuk ke dalam orientasi materialis atomis, dan dari segi etik, berorientasi pada kesenangan.
Kesenangan adalah kebaikan yang merupakan ujung dan pangkal kehidupan bahagia. Di antara ucapan Epicur: “Aku tidak mengetahui bagaimana aku menggambarkan kebaikan jika aku mencabut cita rasa kesenangan, wanita dan keindahan dari pendengaran dan pandangan”. Juga katanya: “Awal dan dasar setiap kebaikan adalah kesenangan perut, sampaipun hikmah dan peradaban berasal dari padanya”.
Meskipun kesenangan merupakan dasar kehidupan, namun manusia hendaknya jangan menerima kesenangan begitu saja tanpa melihat akibat-akibatnya. Jika buruk, maka harus ditinggalkan. Kesenangan menurut Epicur adalah keadaan jauh dari rasa sakit. Dan menjauhi rasa sakit harus lebih diutamakan daripada merasakan kesenangan. Itulah pangkal sebab dari sikap hidup asketik, tidak terlalu rakus terhadap makanan karena efek buruk yang ditimbulkannya. Hubungan badan (suami sitri) selamanya tidak membawa kebaikan. Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak tertimapa kecelakaan karena melakukan hubungan badan. Sedangkan kebaikan yang paling utama adalah sedekah. Yang tersebut ini tidak terpisah dari kesenangan. Tanpanya, seseorang tidak dapat hidup aman dan tanpa rasa takut.
Rasa takut adalah inti dari filsafat Epicur. Jauh dari rasa takut dapat mewujudkan kesenangan. Di antara ucapan Epicur: “Jangan berlebihan dalam makanan karena dikhawatirkan mengakibatkan penyakit buruk. Jangan minum berlebihan karena dikhawatirkan mengompol esok pagi. Remehkan politik, wanita dan semua laku syahwat. Kesimpulannya, hidup dan hindarilah rasa takut”.
Sumber-sumber rasa takut ada dua–ini tentu menurut Epicur–agama dan kematian. Keduanya saling berhubungan. Karena agama yang berkembang pada saat itu mengajarkan bahwa kematian adalah pintu gerbang menuju penderitaan. Karena itu Epicur menyerukan filsafat yang menganggap remeh agama karena membangkitkan rasa takut. Mazhab Epicur berpendapat bahwa tuhan tidak campur tangan dalam kehidupan manusia. Jiwa hancur karena kehancuran raga. Epicur tidak mengingkari wujud tuhan. Tuhan itu ada tapi Dia tidak campur tangan dalam perilaku manusia. Tuhan tidak mempunyai perhatian terhadap mereka. Karena itu tidak ada alasan untuk takut kepada-Nya, takut akan murka-Nya dan meminta kasih sayang-Nya atau takut dilemparkan ke neraka setelah mati. Filsafatnya, naturalisme atomis, merupakan kelanjutan dari filsafat Demokritos. Alam tersusun dari atom-atom dan ruang hampa. Akan tetapi atom-atom tersebut menurut Epicur selalu tunduk terhadap hukum-hukum alam yang pasti seperti banyak dianut oleh filsafat Yunani dan bersumber dari agama. Atom-atom tersebut menurut Epicur mempunyai berat, karena itu ia terus menerus bergerak ke bawah dan bukan bergerak ke pusat bumi. Antara satu waktu, sebagian atom tersebut melenceng dari keterjatuhannya karena terpengaruh oleh suatu kehendak merdeka. Jiwa bersifat material dan tersusun dari atom-atom yang menempati seluruh bagian badan.
Epicur mewariskan “kebun”-nya kepada para penggantinya yang disebutkan oleh Deogenes dalam buku sejarahnya. Akan tetapi tidak satupun di antaranya yang terkenal kecuali Lekroteos yang tinggal di Roma dan menulis kasidahnya yang terkenal “Tentang Sifat Segala Hal” di mana ia menjelaskan filsafat Epicur. Kasidahnya itu tidak dikenal pada masanya–ia hidup tahun 99–55 SM–dan baru diketahui pada masa Renaissance.
Wallahu A’lam
Palu, 07 Januari 2010
Referensi : al-Madaris al-Falsafiyah / Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s