PENGARUH ALQURAN TERHADAP KAJIAN LINGUISTIK DI KALANGAN BANGSA ARAB. Bag. Kedua

Didin Faqihuddin, MA
Alumnus Pondok Pesantren Darul Amal Buni Bakti, Bekasi

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan dua cabang kajian linguistik di lingkungan bangsa Arab yang merupakan pengaruh langsung dari pengkajian terhadap Alquran yaitu ‘Makna Lafaz Alquran’ dan ‘I’rab Alquran’. Pada bagian ini akan dijelaskan cabang berikutnya yaitu :

Ketiga, Qira’at. Para ulama klasik Islam mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap masalah bacaan Alquran. mereka banyak meninggalkan karya yang sangat berguna bagi para peneliti modern pada lapangan kajian linguistik Arab, dan pengetahuan terhadap dialek-dialeknya.
Ada sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab: “Pada suatu hari aku masuk ke masjid lalu aku shalat. Tidak berapa lama masuk seorang laki-laki yang kemudian shalat membaca surat al-Nahl. Namun bacaannya berbeda dengan bacaanku. Setelah dia selesai shalat, aku pun bertanya kepadanya siapa yang mengajarkan bacaan itu. Orang itu pun menjawab Rasulullah yang telah mengajarkannya. Setelah itu masuk lagi seseorang dan shalat. Ia pun membaca surat al-Nahl, namun bacaannya berbeda dengan bacaanku dan bacaan temanku. Selesai dia shalat, aku bertanya kepadanya siapa yang mengajarkan bacaan itu. Ia menjawab Rasulullah yang mengajarkannya. Aku pun mulai dirasuki keraguan terhadap Alquran melebihi keraguanku di masa jahiliyah. Segera kubawa kedua orang itu menghadap Rasulullah dan berkata kepada beliau agar meminta salah seorang di antara keduanya membacakan surat al-Nahl. Lalu Rasulullah meminta salah seorang di antara mereka. Selesai orang itu membaca, Rasulullah membenarkannya. Lalu orang kedua diminta membaca, dan selesai membaca Rasulullah pun embenarkannya. Kembali lagi keraguan itu muncul di dadaku. Lalu Rasulullah memukul dadanya dengan tanganku seraya berkata: “Aku memohon pe rlindungan Allah untukmu hai Ubay dari rasa ragu. Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan berkata bahwa Tuhan telah memerintahkan untuk membaca Alquran dengan satu dialek. Aku lalu meminta keringanan untuk umatku. Lalu ditambah menjadi dua dialek. Lalu aku memohon keringanan lagi. Akhirnya Tuhan memberikan titah kepadaku untuk membaca Alquran dalam tujuh dialek.
Riwayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah telah membacakan Alquran dengan beberapa dialek berbeda. Dan ini sesungguhnya merupakan suatu bentuk ‘pemudahan’ yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap banyak kabilah Arabia dalam membaca Alquran. Selain dua bacaan Surat al-Nahl yang berbeda dari kedua orang itu, Ubay bin Ka’ab bahkan pernah mendengar satu bacaan Surat al-Nahl lain yang juga berbeda. Ketiga bacaan tersebut sah adanya karena sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah.
Apa yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab ini mirip dengan apa yang terjadi pada Umar bin Khattab. Yang disebut terakhir itu pernah mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat al-Furqan ketika Rasulullah masih hidup. Umar mendengarkan bacaannya dan menemukan Hisyam membacanya dengan banyak bacaan yang tidak pernah Umar dengar dari Rasulullah. Nyaris Umar menarik Hisyam yang saat itu sedang shalat. Namun Umar dapat menahan emosinya dan menunggu Hisyam selesai shalat. Begitu Hisyam selesai shalat Umar segera menarik selendang Hisyam dan bertanya siapa yang mengajarkan bacaan surat al-Furqan yang Umar tidak pernah mendengar dari Rasulullah bacaan seperti itu. Hisyam menjelaskan bahwa Rasulullah yang mengajarkannya. Umar tidak percaya dan mengatakan bahwa Hisyam telah berbohong. Hisyam bersikukuh bahwa memang Rasulullah yang telah mengajarkannya bacaan tersebut. Umar lalu membawa Hisyam ke hadapan Rasul dab berkata: “Wahai Rasul, aku telah mendengar orang ini membaca surat al-Furqan tidak seperti yang engkau ajarkan kepadaku”. Rasulullah menjawab: “Lepaskan dia hai Umar. Dan engkau hai Hisyam, coba baca”. Hisyam pun lalu membaca surat al-Furqan itu seperti yang sebelumnya didengar oleh Umar. Selesai Hisyam membaca, Rasul berkata: “Ini benar. Begitulah Alquran ditrunkan. Sekarang coba kau baca hai Umar”. Umar pun membacanya. Dan selesai Umar membaca, Rasul berkata: “Ini benar. Beginilah Alquran diturunkan”. Lalu beliau bersabda: inna haza al-Qurana unzila ‘ala sab’ati ahrufin faqra’u ma tayassara minha (Sesunguhnya Alquran ini diturunkan dengan tujuh dialek, maka bacalah yang mudah menurut kalian).
Ada perbedaan di kalangan ulama tentang angka ‘tujuh’ yang terdapat dalam hadis tersebut. Apakah yang dimaksud benar-benar tujuh ataukah hanya simbol tertinggi sebuah bilangan?
Mengapa pula Alquran diturunkan dalam tujuh dialek, sementara kitab-kitab suci sebelumnya diturunkan dalam satu bahasa? Para nabi diutus khusus kepada kaumnya. Sementara Nabi Muhammad di utus untuk seluruh umat manusia. Bangsa Arab, yang Alquran turun dengan bahasa mereka, juga terdiri dari berbagai suku yang secara otomatis mempunyai dialeknya masinh-masing. Setiap suku akan sulit berpindah ke dialek suku lainnya. Bahkan kadang-kadang ada yang tidak mampu sekalipun sudah diajarkan, terlebih para lansia, dan mereka yang buta huruf.
Pertanyaan yang juga muncul adalah tentang makna ‘huruf’ dalam riwayat tersebut. Dalam hal ini ada dua hal yang dapat dijelaskan:
Pertama, bahwa Alquran diturunkan dalam tujuh segi bahasa. ‘Harf’ kadang-kadang bermakna ‘segi’ / ‘tepi’, misalnya QS. al-Hajj ayat 11: يعبد الله على حرف (…menyembah Allah dengan berada di tepi), maksudnya ketika ia berada dalam kenikmatan dan kebaikan maka ia menyembah Allah. Namun jika dalam kesulitan ia pun menjadi kafir. Dari sini kemudian Nabi menamakan segi-segi berbeda pembacaan Alquran dengan istilah harf.
Kedua, penamaan bacaan-bacaan berbeda terhadap Alquran dengan istilah harf adalah semacam penamaan sesuatu dengan sesuatu yang merupakan bagiannya. Orang Arab biasa melakukan hal ini. Shalat dalam Alquran sering juga disebut dengan ‘sujud’ saja atau ‘ruku’ saja. Demikian pula Nabi menamakan qiraat dengan harf oleh karena yang dibaca dalam qiraat itu adalah kumpulan huruf-huruf.
Ibnu Qutaybah memberikan keterangan bahwa setelah mendalami segi-segi perbedaan dalam qiraat Alquran, ia menemukan ada tujuh segi berikut:
Segi pertama, perbedaan dalam i’rab sebuah kata,a atau harkat mabninya, namun tidak sampai mengubah bentuk tulisan dan maknanya dalam Alquran. Misalnya QS. Hud (78): هؤلآء بناتي هنّ أطهرُ لكم (huruf ra pada kata athur di-dhammah-kan), namun ada yang membaca أطهرَ (mem-fathah-kan huruf ra). Juga QS. Saba (17): وهل نُجازِي إلا الكفور tetapi ada yang membaca يُجازَى. Juga QS. al-Nisa (37): ويأمرون الناس بالبُخل dan ada yang membaca بالبَخَل . Juga QS. al-Baqarah (280): فنظرة إلى مَيسَرة dan ada yang membaca ميسُرة .
Segi kedua, perbedaan pada I’rab kata dan harkat mabninya, mengubah makna, namun tidak menghilangkan bentuk tulisannya dalam Alquran. Misalnya QS. Saba (19): ربَّنا باعِدْ بين أسفارنا namun ada juga yang membaca ربُّنا باعَدَ بين أسفارنا .
Segi ketiga, perbedaan terletak pada huruf kata dan bukan pada i’rabnya, mengubah maknanya namun tidak menghilangkan bentuk tulisannya. Misalnya QS. al-Baqarah (259): وانظر إلى العظام كيف ننشزها (menggunakan huruf ‘za’ pada kata ننشزها )namun ada yang membaca ننشرها (menggunakan huruf ‘za’ pada kata ننشرها ). Demikian juga QS. Saba (23): حتى إذا فُزِّعَ عن قلوبهم (dengan huruf ‘za’ dan ‘ain’ pada kata فُزِّعَ), namun ada yang membaca فُرِّغَ (menggunakan huruf ‘ra’ dan ‘ghain’ pada kata فُرِّغَ).
Segi keempat, perbedaan terletak di sebuah kata yang berbeda bentuk tulisannya namun tidak berubah maknanya. Misalnya QS. Yasin (29): إن كانت إلا صيحة namun ada yang membaca زقية. Juga QS. al-Qariah (5): كالعهن المنفوش namun ada yang membaca كالصوف.
Segi kelima, perbedaan terletak pada sebuah kata sekaligus menghilangkan bentuk dan maknanya. Misalnya QS. al-Waqiah (29): منضود وطلح (dengan menggunakan huruf ‘ha’ pada kata طلح yang berarti ‘pohon pisang’) dan ada yang membaca وطلع منضود (dengan menggunakan huruf ‘ra’ pada kata طلع yang berarti ‘mayang’).
Segi keenam, perbedaan terletak pada segi taqdim-ta’khir (didahulukan-dibelakangkan). Misalnya QS. Qaf (19): وجاءت سكرة الموت بالحق dan ada yang membaca وجاءت سكرة الحق بالموت.
Dan segi ketujuh, perbedaan terletak pada segi penambahan dan pengurangan huruf. Misalnya QS. Yasin (35): وما عملته أيديهم dan ada yang membaca وما عملت أيديهم.
Wallahu a’lam….. To be continued…
Palu, Kampus STAIN Datokarama, 08 Januari 2010
Referensi: Fiqh al-Lughah Wa ‘Ilm al-Lughah / Dr. Mahmud Sulayman Yaqut

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s