RASULULLAH SAW. : NASAB DAN KELAHIRANNYA

Didin Faqihuddin, MA
Alumnus Ma’had Darul Amal al-Islamiy Buni Bakti Bekasi

Nasab Rasulullah adalah sebagai berikut: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (namanya Syaibah al-Hamd) bin Hasyim bin Abdi Manaf (namanya Mughirah) bin Qudhoy (namanya Zaid) bin Kilab bin Murroh bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaymah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma’d bin ‘Adnan.
Inilah nasab yang disepakati oleh para ulama. Sedangkan nasab ke atasnya banyak terjadi perbedaan di kalangan ulama, dan tidak bisa dijadikan pegangan. Yang tidak diperselisihkan adalah bahwa ‘Adnan merupakan keturunan Ismail as. putra Nabi Ibrahim as. Allah telah memilih Nabi Muhammad dari kabilah dan keluarga terbaik. Tidak ada sedikitpun dari silsilah Rasulullah yang dilekati oleh ‘kotoran’ jahiliyah.
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah di antara keturunan Ismail, memilih Quraisy di antara keturunan Kinanah, memilih bani Hasyim di antara keturunan Quraisy, dan memilihku di antara keturunan bani Hasyim”.
Rasulullah dilahirkan pada tahun ‘Gajah’, yaitu tahun terjadinya upaya Abrahah al-Asyram menyerang Mekah untuk menghancurkan Ka’bah. Riwayat yang paling kuat mengatakan bahwa itu terjadi pada hari senin malam ke-12 bulan Rabiul Awal.
Muhammad terlahir dalam keadaan yatim. Ayahnya yang bernama Abdullah telah wafat ketika Muhammad masih dalam kandungan ibunya, Aminah. Yang disebut terakhir itu hanya dua bulan mengasuh anaknya, dan kemudian Muhamad kecil diasuh oleh seorang wanita dari Bani Sa’d bin Bakr yang bernama Halimah binti Abi Zuayb. Mencari ibu asuh di pedalaman memang menjadi kebiasaan bangsa Arab saat itu agar anak memiliki kecakapan bahasa yang murni.
Para sejarawan sepakat bahwa wilayah Bani Sa’d pada saat itu sedang mengalami masa sulit. Ladang tandus, kering kerontang tidak bisa untuk bercocok tanam. Namun keberadaan Muhammad di rumah Halimah membawa keberkahan. Kambaing-kambingnya kiah hari kian bertambah banyak.
Ketika tinggal di Bani Sa’d inilah terjadi peristiwa pembelahan dada Muhammad oleh Malaikat. Karena peristiwa inilah maka Halimah kemudian mengembalikan Muhammad kecil yang saat itu berusia lima tahun kepada ibunya.
Saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya, Aminah, wafat. Muhammad lalu diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, yang kemudian meninggal dunia ketika Muhammad berusia delapan tahun. Dan setelah itu, Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
Dari sepenggal kisah hidup Muhammad kecil ini, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:
Pertama, bukanlah merupakan sebuah kebetulan Muhammad terlahir dalam keadaan yatim, dan setelah itu ia juga ditinggal wafat kakeknya. Dengan demikian maka masa-masa awal kehidupan Muhammad kecil tidak dalam pengasuhan ayahnya, juga kakeknya (yang hanya dua tahun mengasuh cucunya). Allah memilihkan kehidupan seperti ini bagi Muhammad untuk sebuah hikmah yang sangat besar. Yang paling penting di antaranya adalah untuk menjawab orang-orang yang sering mengatakan bahwa Muhammad telah mempersiapkan ajarannya dari semenjak ia masih kecil dengan bimbingan ayah dan kakeknya. Bagaimana tidak ada tuduhan seperti itu seandainya Muhammad lama diasuh oleh kakeknya karena yang terakhir itu adalah pemuka Quraisy yang pada masanya memiliki tugas rifadah dan siqayah (koordinator untuk memberikan bantuan makanan dan minuman bagi mereka melaksanakan ibadah haji di Ka’bah).
Hikmah Ilahiyah di balik wafatnya orang-orang terdekat Muhammad kecil secara beruntun, adalah bahwa Muhamad tumbuh bukan dalam pendidikan ayahnya, ibunya, dan juga kakeknya, bahkan pada saat Muhammad masih begitu kecil ia telah ‘diungsikan’ di suku Bani Sa’d yang jauh dari keluarga. Setelah kewafatan kakeknya, Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, yang sepanjang hidupnya tidak mau masuk ke dalam agama Islam.
Kedua, para perawi sirah sepakat bahwa setelah Muhammad hidup di lingkungan keluarga Halimah, telah terjadi keajaiban di mana unta-unta Halimah yang sebelumnya tidak mengeluarkan ssunya, kini melimpah ssunya, demikian pula tanaman-tanamannya. Ini menunjukkan tingginya derajat Muhamamd bahkan saat dia masih begitu kecil seperti anak-anak kecil lainnya. Ini tidaklah aneh, sebab dalam Islam kita diajarkan untuk meminta diturunkan hujan pada musim kering dengan berkah orang-orang soleh, apatah lagi seorang calon nabi.
Ketiga, peristiwa pembelahan dada Muhammad ketika tinggal di Bani Sa’d adalah irhash (tanda) kenabian dan bukti pemilihan Allah terhadap Muhammad untuk sebuah tugas besar di masa depan kehidupan Muhammad. Anas bin Malik, dan banyak banyak sahabat lain, meriwayatkan peristiwa ini: Muhammad kecil, saat sedang bermain bersama teman-temannya (anak-anak Halimah), didatangi oleh Jibril yang kemudian memeluknya. Jibril lalu membelah dada Muhammad tepat di bagian hati, dan kemudian dikeluarkannya. Dari hati itu Jibril mengeluarkan segumpal darah hitam dan mengatakan bahwa itu adalah bagian di mana setan mengambil tempat pada diri Muhammad. Jibrilpun mencuci hati Muhammad dengan air zamzam, dan lalu mengembalikan ke tempatnya semula. Melihat peristiwa itu, teman-teman Muhammad ketakutan dan lari menemui ibu mereka mengatakan bahwa Muhammad telah dibunuh. Mereka segera menemui Muhammad yang terlihat sangat pucat.
Hikmah di balik peristiwa ini–Allah lebih mengetahui yang sebenarnya–bukanlah menghilangkan kelenjar keburukan pada tubuh Rasulullah. Karena sekiranya sumber kejahatan adalah kelenjar atau segumpal darah hitam yang ada pada tubuh manusia, tentu sumber kejahatan itu bisa dihilangkan dengan proses operasi. Tampaknya hikmah yangada di balik peristiwa pembelahan dada Muhammad ini adalah untuk memproklamirkan diri Muhammad yang dipersiapkan sebagai seorang utusan Allah. Dan itu dilakukan secara fisik agar terlihat jelas bagi manusia sehingga lebih mudah memahami dan membenarkan risalahnya. Wallahu A’lam.
Palu, 09 Januari 2010
Referensi: Fiqh al-Sirah / Dr. Muhammad Said Ramdhan al-Buthi

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s