BAHASA: PERTUMBUHAN DAN ASAL-USULNYA

Didin Faqihuddin, MA
Alumni Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Alumni PPs. UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Konsentrasi Studi Bahasa Arab

Bahasa (lisan) adalah sarana ekspresi diri bagi manusia. Namun bahasa bukanlah satu-satunya sarana. Ada beberapa sarana lain yang bisa digunakan manusia dalam mengekspresikan diri, antara lain:
Pertama, isyarat. Manusia sering menggunakan isyarat sebagai ganti dari bahasa lisan dalam berekspresi. Dalam satu kelompok masyarakat, menggerakkan kepala ka atas dan ke bawah menunjukkan tanda setuju, sebaliknya menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan merupakan tanda tidak setuju; mengangkat ibu jari (jempol) berdiri ke atas menunjukkan tanda salut, sebaliknya mengarahkannya ke bawah menunjukkan penghinaan. Masih banyak lagi isyarat yang digunakan oleh masyarakat manusia dalam proses komunikasi.
Dalam kaitannya dengan penggunaan isyarat dan gerak tubuh saat berkomunikasi, ada perbedaan antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya. Di satu kelompok, ketika seseorang berbicara, yang bergerak nyaris hanya kedua bibirnya saja. Sementara di kelompok lain, ketika seseorang berbicara, anggota tubuh lain juga sering digerakkan seperti tangan dan pundak. Ekspresi dengan gerak tubuh ini bahkan kita ketahui masuk dalam dunia seni; kita misalnya mengenal tari-tarian yang memiliki ekspresi komunikasi, demikian juga pantomim. Dalam dunia keagamaan gerak tubuh juga merupakan ekspresi dari sebuah komunikasi. Dalam Islam kita mengetahui bahwa ruku’ dan sujud merupakan ekspresi penghormatan seorang hamba kepada Tuhannya.
Kedua, mimik wajah. Ekspresi dengan menggunakan mimik wajah kadangkala bersifat intensional (disengaja), misalnya menggerakkan dua sudut bibir sedikit ke bawah untuk mencibir; menggerakkan (membesarkan) hidung untuk menunjukkan arogansi; dan menutup kedua mata untuk menunjukkan rasa malu. Namun ada juga mimik wajah yang sifatnya non-intensional, misalnya wajah yang berseri-seri ketika mendapat kabar gembira, atau wajah yang memerah ketika seseorang malu.
Ketiga, teriakan. Maksudnya adalah suara-suara alamiah yang tidak bisa diterangkan dalam kaidah-kaidah gramatikal kebahasaan. Tertawa misalnya ada beberapa bentuk yang bisa digunakan untuk mengungkapkan rasa gembira, lucu, menghina, atau bahkan rasa takjub. Ketika seseorang menangis, ia pun kadang mengeluarkan suara; ketika merasakan sakit, khawatir, atau ketika berada dalam situasi genting seseorang juga biasa mengeluarkan suara untuk meminta tolong. Ada jug suara-suara yang bersifat memotivasi yang kita dengar dalam suatu pertandingan, tinju misalnya.
Keempat, ekspresi dengan alat-alat. Misalnya penggunaan drum, trompet, bendera, dan api pada masyarakat primitif. Atau penggunaan isyarat-isyarat cahaya, lonceng, dan sirine pada masyarakat modern.
Semua jenis ekspresi ini memiliki fungsi dalam mentransfer perasaan yang ada di dalam jiwa seseorang kepada orang orang lain. Namun tentu saja keempatnya tidak sampai pada taraf yang sederajat dengan bahasa lisan (bicara) yang merupakan terjemah dari pikiran manusia.
Pertanyaannya adalah, kapan makhluk manusia mulai mengenal ekspresi bicara? Sangat sulit untuk menentukan ‘kapan’ manusia mulai menggunakan “bicara” untuk proses komunikasinya. Alat-alat penelitian ilmiah yang dimiliki manusia modern saat ini masih belum mampu menentukan ‘kapan’ itu. Jika pun ada yang berpendapat, maka itu hanya bersifat dugaan saja.
Di akhir abad XIX banyak linguis menduga bahwa perbandingan antar berbagai bahasa satu sama lain akan membawa pada suatu kesimpulan tentang bahasa induk, atau paling tidak beberapa bahasa induk. Dengan begitu pada akhirnya kita akan sampai pada satu tahap menentukan titik awal di mana manusia menggerakkan lisannya dan mulai bicara untuk pertama kali. Mereka lupa bahwa betapapun mereka berusaha secara keras masuk ke dalam lorong-lorong sejarah, yang mereka akan temukan tidak lain adalah bahasa-bahasa yang sudah ‘matang’. Sementara untuk mengetahui kapan manusia mulai berbicara akan tetap sulit untuk menemukannya.
Ada usaha lain yang dilakukan sebagaian linguis dalam menguak rahasia kapan manusia mulai bicara. Yaitu dengan melakukan penelitian terhadap bahasa-bahasa kaum primitif yang masih ada sekarang ini. Caranya adalah dengan merekam / mencatat bahasa-bahasa kelompok masyrakat yang hingga kini masih dalam tingkatan primitif. Namun kita dapat segera mengatakan bahwa kelompok-kelompok masyarakat ini ada dalam taraf primitif dalam segala hal kecuali bahasa. Mereka adalah kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di lingkungannya masing-masing dan saling memahami satu sama lain semenjak ribuan tahun lalu yang tidak bisa kita hitung. Dan seringkali, kelompok-kelompok masyarakat ‘prmitif’ ini memberikan kita satu materi kebahasaan yang begitu matang, yang ketelitian dan kejelasannya menyamai bahasa-bahasa yang berperadaban modern. Dengan sedikit lebih cermat, kita akan melihat bahwa perbedaan bahasa antara kelompok-kelompok yang masih ‘primitif’ saat ini dengan kelompok-kelompok masyarakat yang berperadaban modern bukan terletak pada pola ekspresi mengungkapkan pikiran, bukan pula dalam tataran gramatikal dan fonologi. Perbedaan itu terletak pada kekayaan kosa kata. Dengan demikian bahasa-bahasa kelompok ‘primitif’ sekarang ini boleh jadi dapat menjelaskan hubungan antara pikiran dan bahasa, antara bahasa dan kebudayaan, dan tidak sedikitpun ada kemungkinan bahwa bahasa-bahasa itu adalah bahasa-bahasa yang diduga baru muncul pertama kali di lingkungan mereka.
Di antara pemikiran-pemikiran yang banyak ‘menggoda’ para linguis sejak dulu untuk mengetahui awal mula munculnya bahasa lisan adalah dengan memperhatikan / mengamati bahasa anak-anak keci. Dari segi metodologi apa yang mereka lakukan tidak lebih benar dibanding pandahulunya. Apa yang akan dihasilkan penelitian semacam itu? Tidak lain hanya akan memberitahukan kita bagaimana anak kecil secara bertahap menerima (baca : mempelajari) bahasa kedua orang tuanya dan bahasa masyarakat di mana ia hidup. Seorang anak tidak menciptakan bahasanya dari ketiadaan. Seorang anak sedikit demi sedikit akan mempelajari bahasa orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan itu sama sekali bukan bahasa yang sama yang dihasilkan suatu kelompok masyarakat primitif. Memang tidak disangsikan bahwa mempelajari proses pemerolehan bahasa seorang anak kecil akan memberikan kita suatu pengetahuan mengani banyak hal tentang faktor-faktor perkembangan bahasa yang dipelajari oleh sang anak, bukan hanya melalui lisannya saja, melainkan juga lewat lisan orang-orang dewasa di sekitarnya sepanjang hidupnya. Seorang anak pada awalnya akan salah ucap antara sura ‘R’ dan ‘L’, antara kata kerja masa lampau dengan masa kini, atau antara mana yang harus didulukan dan dibelakangkan. Semua ini pada akhirnya memberikan kita pemikiran tentang kesulitan-kesulitan alamiah yang ada dalam suatu bahasa, dan bagaimana lisan manusia berusaha untuk menundukkannya. Namun kita tetap berada dalam suatu ‘ruang sempit’ suatu bahasa yang mampu diucapkan dengan sangat baik oleh seorang anak. Dan dalam proses pemerolehan bahasa ini, tugas seorang anak bukan untuk menciptakan bahasa baru, namun hanya terbatas pada meniru apa yang dia dengar dari orang-orang dewasa. Jika terdapat perbedaan antara bahasa sang anak dengan bahasa orang dewasa, maka itu disebabkan oleh kemalasan si anak, atau kelemahan fisiologisnya, atau ketidakmampuannya dalam meniru, dan disebabkan bukan oleh kemampuan khusus untuk mencipta bahasa.
Asal-usul bahasa manusia tetap menjadi misteri dalam relung-relung gelap sejarah, dan bahkan pada masa pra-sejarah. Sama seperti juga asal-usul manusia yang terus menerus menjadi misteri. Demikianlah, para ilmuwan menjelaskan bahwa mustahil untuk menjelaskan bagaimana bentuk pertama bahasa manusia. Jikapun mungkin mengkaji situasi-situasi yang melempangkan jalan makhluk bernama manusia ini untuk berbicara, maka itu hanyalah situasi-situasi yang bersifat psikologis-rasional di satu sisi, dan situasi sosial di sisi lain.
Di antara pandangan-pandangan yang dapat diterima dalam persoalan bahasa manusia ini adalah pandangan yang mengatakan bahwa penciptaan manusia dari segi fisiologis berbeda dengan penciptaan hewan. Manusia dilengkapi dengan perangkat suara, otot dan syaraf yang memungkinkannya untuk membuat bahasa, saling berbagi informasi dengan bahasa, dan sekaligus mengembangkan bahasa–berbeda seratus persen dengan teori kuno yang mengatakan bahwa Tuhanlah yang telah mewahyukan bahasa kepada manusia pertama. Di sini kita menmukan bahwa Tuhan telah menciptakan pada diri manusia suatu perangkat kebahasaan, sebagaimana Dia telah menciptakan mekanisme pada burung untuk bisa terbang di udara, ikan yang bisa bernafas dan berenang dalam air, dan rahasia-rahasia penciptaan lainnya yang hanya Tuhan saja yang mengetahuinya. Lebih lanjut teori ini mengatakan bahwa manusia, di awal keberadaannya di muka bumi ini, menggunakan suaranya sebagaimana hewan-hewan lain menggunakannya, seperti teriakan untuk memanggil, memperingatkan, memperlihatkan perasaan gembira, khawatir, rasa sakit, dlsb.
Diduga, manusia mengalami kesulitan ketika menghadapi sebuah pekerjaan berat yang tidak bisa ditangani sendiri. Misalnya ketika ia berburu hewan besar yang tidak bisa ia bawa sendiri, ia pun kemudian memanggil orang-orang yang ada di sekitarnya untuk membantu. Namun ia harus menciptakan suatu suara komando yang dapat menggerakkan orang-orang yang membantunya itu bekerja secara serentak, sehingga pekerjaan itu dapat berjalan baik. Dari sinilah kemudian manusia mengenal suara untuk mengomandoi suatu kerja bersama. Dan dari sini pula dengan kecerdasannya manusia mengetahui bahwa bahasa yang digunakannya bersifat fleksibel yang dapat dipakai sesuai kehendaknya. Selanjutnya manusia menyingkap sistem / perangkat kebahasaan yang Tuhan telah siapkan dalam dirinya sehingga ia bisa mengatur volume suara dan intonasinya sesuai yang dikehendakinya. Menurut teori ini, di sinilah manusia mulai berbicara, bukan dalam bentuk kalimat-kalimat, melainkan dalam bentuk suara-suara tertentu yang memiliki makna yang dipahami secara umum, dan memiiki nada-nada tertentu. teriakan-teriakan suara seperti ini masih kita temukan di kalangan para pekerja yang membawa benda berat, para anak buah kapal, para tentara di medan tempur dlsb.
Setelah itu manusia mulai memberi nama segala hal, merincikan benda-benda di sekitarnya dengan memberinya nama untuk membedakan satu sama lain. Akan tetapi berapa lama manusia melakukan semua itu sampai kemudian ia membuat suatu sistem komunikasi antar sesama dengan sesuatu yang pantas dinamakan dengan bahasa? Tidak ada yang tahu secara pasti.
Namun yang pasti adalah bahwa usaha yang bersifat intensional untuk mengekspresikan pikiran yang berkecamuk pada diri manusia telah tumbuh bersama dengan penciptaan pikiran manusia itu sendiri. Itu berarti ketika manusia yang berakal muncul di muka bumi ini. Yaitu manusia yang berbeda dari jenis-jenis hewan lain karena memiliki kemampuan memahami hubungan-hubungan antara segala sesuatu, kemampuan membedakan banyak fenomena alam yang dilihatnya, dan usaha yang dilakukannya untuk mengungkapkannya kembali secara meyakinkan di mana ia menggabungkan antara suara, gerak dan ekspresi dengan mimik wajah.
Wallahu A’lam
Kampus STAIN Datokarama 11 Januari 2010
Referensi: al-Lisan Wa l-Insan : Madkhal Ila Ma’rifat al-Lughah / Dr. Hasan Zhazha

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s