MEMBUAT BUNYI. Bag. Pertama

Didin Faqihuddin, MA
Peminat Studi Linguistik

Bicara dan Menulis
Kita dapat mengirimkan pesan bahasa kita lewat dua cara: berbicara dan menulis. Kita semua menyadari bahwa ‘menulis’ melibatkan hal-hal seperti: menggunakan pensil atau pulpen di tangan, dan membuat tanda-tanda khusus (huruf) di atas kertas. Namun kita semua tidak menyadari apa yang terlibat ketika kita berbicara. Berbicara sesungguhnya melibatkan bunyi-bunyi yang keluar dari mulut kita. Namun bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan? Dan apakah ia berhubungan dengan huruf-huruf yang kita tulis?
Alasan yang membuat kita lebih sadar terhadap menulis adalah karena kita diajarkan bagaimana menulis, bagaimana memegang pensil dengan benar, dan bagaimana membentuk huruf-huruf sehingga diakui dan dipahami oleh orang lain. Tetapi kita belajar bahasa di bawah lutut ibu kita. Tidak seorang pun pada awalnya yang mengajarkan kita bagaimana cara mengeluarkan bunyi secara benar, dan apa yang harus dilakukan oleh lidah kita atau bibir kita. Semua bahasa alami telah ditransmisikan lewat bicara (lisan), bahkan tidak ada yang diwariskan dengan tulisan. Dan semua anak kecil normal yang sehat telah belajar berbicara dengan bahasa mereka pada masa kecil, bahkan tidak semua yang belajar menulis. Dalam pengertian ini bahasa ucap lebih dahulu ada dari pada bahasa tulisan, dan ia menjadi karakter manusia.
Ketika kita berbicara, kita menggunakan lebih dari setengah badan kita, mulai dari diaprgama (sekat rongga badan antara dada dan perut) yang terletak di bawah paru-paru, sampai ke mulut dan hidung yang ada di wajah. ‘Berbicara’ secara sederhana adalah penyaluran udara yang bermula di paru-paru, dan kemudian dubah dalam berbagai arah sebelum perjalanannya melalui bibir, dan kemudian keluar dari mulut menuju udara untuk membuat gelombang suara. Sama seperti suara yang lain, berbicara adalah vibrasi (getaran), dan karakteristik-karakteristik gelombang suara ditentukan oleh organ-organ vokal manusia.
Apa yang dideskripsikan di atas adalah dasar berbicara yang paling lazim, yaitu udara paru-paru egressive (mekanisme gerak udara keluar)—udara bermula dari paru-paru dan kemudian jalan keluar. Mungkin juga untuk berbicara saat menghirup udara, dengan udara paru-paru ingressive (mekanisme gerak udara ke dalam). Kita kadang-kadang berbicara seperti ini dalam momen-momen tertekan, tetapi itu bukanlah cara normal menghasilkan suara ucapan.
Pita Suara
Ketika udara dihembuskan keluar, ia melewati saluran udara (trakea) masuk ke pangkal tenggorokan (larynx). Di pangkal tenggorokan terdapat celah suara (glottis), yaitu jalan di antara pita-pita suara. Di sini, udara yang datang dari paru-paru menerima modifikasi pertamanya yang cukup besar. Pita suara adalah sepasang daging lunak, selaput-selaput seperti bibir, yang bergantung di depan, dan dapat bergerak bersama atau terpisah untuk menghalangi atau membiarkan jalan udara melalui celah suara (glotis).
Gerak pita suara (keadaan celah suara) menentukan apakah suara yang dihasilkan bersuara atau tidak bersuara. Ketika pita suara didekatkan, namun tidak sampai merapat, maka udara yang keluar menyebabkan getaran: inilah yang disebut dengan “penyuaraan”, dan suara yang dihasilkan ketika pita suara bergerak adalah suara nyaring. Sebaliknya, ketika pita suara berjauhan, tidak ada getaran yang terjadi, dan suara yang dihasilkan dalam keadaan celah suara seperti ini dinamakan suara tak nyaring. Ini juga merupakan keadaan glotis ketika bernafas normal. Aksi bergetar pita suara, dengan mudah dapat didemonstrasikan dengan (kita) menutup telinga dan kemudian mengeluarkan ‘s’ suara atau suara ‘z’. “S’ suaranya kurang nyaring, sementara ‘z’ suaranya nyaring.
Lebih jauh ada dua keadaan glotis yang dapat menghasilkan kemampuan bicara–namun dengan tingkat interest yang marginal. Pertama ketika pita suara dirapatkan dan glotis (celah suara) benar-benar tertutup. Kita melakukan ini ketika kita sedang mengangkay objek-objek berat; dan kedua terjeadi ketika keadaan glotis ada pada pertengahan antara bergetar dan benar-benar terbuka. Keadaan ini terjadi ketika kita berbisik.
Kesimpulannya ada empat kemungkinan keadaan glotis: 1) Terbuka dan dikendurkan: digunakan untuk nafas normal dan membuat suara kurang nyaring; 2) Bergetar: digunakan untuk membuat suara nyaring; 3) Tertutup sama sekali: digunakan untuk membuat ‘pengehentian glotal’ (glottal stop) seperti suara ‘tt’ pada kata ‘butter’; dan 4)Merapat namun tidak bergetar: digunakan untuk berbisik.
Suara Oral dan Suara Nasal
Sepanjang lajur jalan udara melalui glotis dan lewat kerongkongan, maka ada dua kemungkinan jalan untuk udara keluar dari wajah: melalui mulut, atau melalui hidung. Di belakang mulut, di ujung langit-langit, adalah langit-langit mulut lunak atau velum. Ini ada di bawah kontrol muscular, dan bisa dalam dua kemungkinan posisi: menaik, atau menurun. Jika langit-langit lunak dinaikkan, maka jalan melalui hidung ditutup dan udara dapat keluar hanya melalui mulut. Jika langit-langit lunak diturunkan, maka jalan melalui hidung terbuka dan udara dapt keluar baik melalui hidung maupun melalui mulut. Suara-suara yang dihasilkan dengan langit-langit lunak diturunkan disebut suara nasal (nasalized sounds). Dan suara-suara yang dihasilkan dengan langit-langit lunak dinaikkan dan udara yang keluar hanya melalui mulut disebut suara oral (oral sounds). Perbedaan antara suara oral dan suara nassal dapat diilustrasikan dari kata ‘sudden’. Ketika dilakukan pengucapan kata ini secara cepat, maka dua suara terakhir adalah dn. ‘d’ adalah suara oral, sementara ‘n’ adalah suara nasal. Jika kita memonitor pengucapan kita secara teliti, kita akan dapat merasakan gerakan langit-langit lunak dalam transisinya dari d kepada n, yaitu dari posisi yang dinaikkan menjadi posisi yang diturukan.
Dengan demikian, fungsi langit-langit lunak ada dua; membiarkan, atau menahan jalan udara melalui hidung. Ketika langit-langit lunak direndahkan, ia tidak menahan jalan keluar udara melalui mulut. Namun begitu, jalan keluar udara melalui mulut dapat ditahan dengan cara yang lain, dan udara hanya dapat keluar melalui hidung. Misalnya dalam menyuarakan huruf ‘m’, udara tidak dapat keluar dari mulut karena kedua bibir ditutup secara rapat, sehingga udara hanya bisa keluar lewat hidung.
Modifikasi-modifikasi paling rumit jalan udara yang berasal dari paru-paru terjadi di mulut. Di sini kita melihat dua aspek artikulasi: pertama, cara artikulasi; dan kedua, tempat artikulasi. ‘Cara artikulasi’ merujuk pada cara suara dibuat, dan tempat artikulasi merujuk pada posisi di dalam mulut tempat suara dibuat. Sejumlah suara dibuat dengan cara-cara yang berbeda, boleh jadi dibuat pada posisi yang sama.
Cara Artikulasi
Dengan ‘cara artikulasi’ kita pertama-tama membuat suatu perbedaan yang besar antara suara-suara yang dihasilkan tanpa halangan di mulut, dan suara-suara yang dibuat dengan suatu halangan. Yang pertama kita sebuat dengan vokal (vowel), dan yang kedua kita sebut dengan konsonan (consonant). Kualitas berbeda dari suara-suara vokal ditentukan oleh keterbukaan mulut, konfigurasi lidah, dan bentuk bibir. Kualitas suara-sura konsonan ditentukan oleh jenis halangan terhadap jalan udara (closure), juga tempat artikulasi. To be Continued……
Palu, 18 Januari 2010
Referensi: Analyzing English An Introduction to Descriptive Linguistics / Howard Jackson

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s