SEKOLAH ISKANDARIAH

Didin Faqihuddin
Alumnus Ma’had Darul Amal Bekasi

Sekolah Iskandariah nyaris tidak muncul ke permukaan sampai sekolah-sekolah Athena kehilangan pamornya. Panji-panji ilmu dan filsafat telah lepas dari tangan sekolah-sekolah Athena. Kepemimpinan gerakan pemikiran kemudian selama delapan abad dipegang oleh sekolah Iskandariah, sejak ia didirikan pada abad IV SM sampai abad V M.
Selama masa itu sekolah Iskandariah mempunyai kecenderungan (orientasi) ilmiah khususnya matematika. Tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa pada abad pertama SM, sekolah ini menggeluti filsafat. Akan tetapi sejak abad I M, sekolah ini mulai melirik filsafat agama-agama secara khusus setelah munculnya agama Kristen dan terjadinya pertentangan pemikiran antara Kristenitas dengan paganisme Yunani, Romawi dan agama-agama orang Mesir kuno, terutama agama-agama lain yang datang dari Timur, seperti Yahudi, Zoroaster dan Manuisme. Dalam menumpas berbagai aliran pemikiran dan keagamaan ini, bangkitlah Neo-Phytagorisme di Sekolah Iskandariah yang berusaha memadukan antara berbagai agama. Neo-Phytagorisme inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya kelompok Ikhwan al-Shafa pada awal abad IV Hijriah di kalangan umat Islam. Demikian juga muncul Neo-Platonisme yang berusaha untuk memadukan antara ajaran Plato dan Aristoteles, sambil cenderung kepada Platonisme. Tendensi inilah, yang panjinya telah dikibarkan oleh seorang pemimpin lain filosof zaman kuna yaitu Plotinus, yang akan dibahas di bagian mendatang.
Sekolah Iskandariah tidak terbentuk sebelum Iskandar Agung membangun kota Iskandariah pasca penyerangan terhadap Mesir. Iskandar wafat pada tahun 323 SM setelah ia menetapkan kebijakan-kebijakan mengenai peradaban Yunani yang bercirikan memegang teguh pemikiran Yunani dan hanya pemikiran Yunani. Peradaban Helenisme pun dimulai. Hellenisme adalah peradaban Yunani yang keluar melintasi negara Yunani ke seluruh penjuru bumi yang dikenal waktu itu dan ditundukkan di bawah kekuasaan Iskandar untuk membangun satu dunia dan satu peradaban. Akan tetapi, pendiri sebenarnya, kota yang kemudian dinilai sebagai pusat ilmu, filsafat dan peradaban ini adalah Ptolomeus I yang memerintah di Mesir pasca wafatnya Iskandar. Ptolomeus adalah sahabat masa kecil Iskandar. Yang pertama selalu ikut dengan yang kedua di berbagai ekspedisi ke Asia Kecil. Ketika Ptolomeus membangun kota Iskandariah, di sana ia mengubur kerangka jasad Iskandar, dan kemudian di atasnya dibangun piramida, yang kini merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Ptolomeus juga membangun museum dan perpustakaan. Pemerintahan Ptolomeus berlangsung hingga tahun 285 SM. Ketika anaknya Ptolomeus Philadelpus (memerintah 285-247 SM) berkuasa, kekuasaannya melebihi kekuasaan ayahnya, dan puncaknya adalah pada masa kekuasaan Ptolomeus III (247-222 SM).
Ptolomeus menyadari bahwa nilai keagungan, ketinggian dan kekekalan ingatan terhadap suatu negara, pertama-tama berasal dari ilmu pengetahuan yang berkembang di dalamnya. Banyak negara mempunyai keistimewaan kekayaan atau kekuatan, karenanya negara itu menghilang dan tak banyak dikenang orang. Oleh karena itu, Ptolomeus bermaksud menyaingi Athena secara khusus dengan mengambil alih kepemimpinan pemikiran dari negara tersebut. Itu dilakukannya dengan membangun suatu sekolah filsafat semacam Akademia atau Lyceum. Sekolah Iskandariah lebih dekat kepada Lyceum dibanding kepada Akademia, karena Demitreos dan Straton yang meletakkan fondasi sekolah Iskandariah merupakan dua orang pemimpi Lyceum. Akan tetapi sistem yang berlaku di Iskandariah tidak benar-benar mirip dengan sekolah Aristoteles itu, karena berbagai sebab, terutama karena Lyceum terkait dengan pendirinya yaitu Aristoteles, dan terus melanjutkan ajaran-ajaran peripatetiknya. Sedangkan sekolah Iskandariah sama sekali tidak terkait dengan ilmuwan atau filosof manapun. Sekolah Iskandariah tak lain dari satu institusi peradaban yang menyediakan kesempatan kepada para peneliti untuk melakukan kegiatannya. Sekolah ini sangat mirip dengan Akademia dari segi ilmu-ilmu yang menjadi objek kajiannya. Sebagai sebuah Perguruan Tinggi, saat itu pusat kegiatan sekolah bertempat di museum. Namun museum pada masa modern kini digunakan untuk menyimpan benda-benda purbakala. Dengan demikian kata museum telah berubah artinya dari arti zaman kuno. Museum adalah kuil untuk tuhan-tuhan seni (Mozeus) yang sembilan, yang merupakan anak-anak perempuan Zeus dan Nemozena. Tuhan yang sembilan ini adalah tuhan-tuhan sejarah, syair lagu, komedia, tragedi, cerita, tari dan musik, syair cinta, falak, dan syair patriotik. Ini menunjukkan bahwa orientasi paling umum dari museum adalah syair dengan segala jenisnya yang dikenal di Yunani. Akan tetapi, ketenaran Museum itu lebih dikarenakan ilmu yang ada di dalamnya ketimbang sastra dan syair.
Museum itu didirikan sebagai bagian dari istana-istana kerajaan. Ada jalan umum menuju museum dan ada juga kebun rindang sepanjang jalan yang berakhir di sebuah bangunan luas. Para ilmuwan menyelenggarakan pertemuan-pertemuan mereka di aula besar museum. Ada beberapa bangunan yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan ilmiah. Anggota-anggota sekolah hidup bersama. Apa yang mereka miliki menjadi milik bersama. Mereka diketuai oleh seorang kahin yang ditunjuk oleh raja.
Museum tersebut sebenarnya lebih mirip sebuah lembaga kajian ketimbang sebuah universitas atau sekolah. Kita tidak punya bukti-bukti kuat yang menunjukkan museum itu digunakan sebagai tempat pembelajaran. Kalaupun ada kegiatan pembelajaran itu terjadi antara guru dan para pembantunya. Tidak ada proses administrasi, ujian atau pun tingkatan-tingkatan akademik. Museum tersebut dilengkapi dengan perlengkapan astronomi, alat-alat operasi dan beberapa kebun tanaman. Tentu saja pembangunan dan pertumbuhan museum itu memakan waktu lama dan membutuhkan stabilitas. Dan itu dijamin seluruhnya oleh Ptolomeus I, II dan III. Pengalaman Demitrios dan Straton sangat berjasa dalam mengepalai sistem satu-satunya di museum tersebut. Kedua orang itu adalah kepala sekolah dan ilmuwan utama. Straton belajar pada Theophrastus, Ptolomeus kemudian mengajaknya untuk mengajarkan anaknya pada tahun 300 SM. Straton melaksanakan tugas mengajar tersebut hingga tahun 288 SM ketika ia kembali memimpin Lyceum setelah wafatnya Theophrastus.
Di antara ilmuwan-ilmuwan termasyhur yang namanya dikaitkan dengan sekolah Iskandariah pada masa pertamanya adalah Eukledes, Archimedes, Apolonius serta Apolodores. Eukledes pertama kali belajar matematika di Akademia Athena. Seiring kekacauan yang terjadi di Athena, ia pun pergi ke Iskandaria, Ia hidup di bawah perlindungan Ptolomeus I dan II. Banyak cerita yang dikaitkan dengan Eukledes ini. Di antaranya adalah bahwa sekali waktu Ptolomeus bertanya kepadanya: “apakah ada jalan yang lebih dekat untuk sampai kepada ilmu teknik dibandingkan jalan “al-Ushul?” Ia menjawab: “tidak ada”. Al-Ushul adalah buku yang dikarang oleh Eukledes yang berisi matematika dan teknik. Sistematisasi teoritis teknik dari buku ini tetap menjadi dasar ilmu teknik hingga saat ini. Semua tokoh matematika yang terkenal setelah masa itu adalah mereka yang menjadi pensyarah dari Eukledes. Jika pun dalam hal ini mereka melakukan banyak penambahan di sana-sini, maka hal itu tak lebih dari sekedar “memecahkan beberapa persoalan atau penyusunan sistematisasi bab untuk menjelaskan ilmu ini kepada para pelajar”.
Orang-orang Arab telah mengenal para ahli matematika yang ada di Iskandariah ini pada masa terakhirnya sebelum penaklukan Arab terhadap Mesir. Misalnya Paous yang hidup pada abad III M, Theon al-Iskandari abad IV M, Brokleus dan Marinos abad V M.
Diantara pemimpin matematika sekolah Iskandariah pada masa pertamanya adalah Archimedes, Aristhorekhos dan Apolonius. Archimedes-lah yang paling terkenal di antara ketiganya. Hingga saat ini para pelajar di sekolah-sekolah tetap mengenal hukum Archimedes yang terkenal dalam ilmu alam, yaitu hukum “massa mengapung’.
Di antara ilmuwan sekolah Iskandariah paling terkenal pada masa kedua adalah Ptolomeus sang ahli astronomi, si pengarang buku “Majesty” (buku tentang astronomi, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Hunain Bin Ishak). Ptolemeus hidup di sekolah Iskandariah pada abad II M, tumbuh dan besar di sana. Pada waktu itu Mesir berada di bawah kekuasaan Romawi. Orang Arab mengenal bukunya karena mereka telah menterjemahkan buku tersebut. Kedudukan buku tersebut bagi mereka sama dengan buku Eukledes “al-Ushul”. Di antara dasar-dasar paling terkenal yang dijadikan landasan sistem astronomi dalam buku ini adalah pendapat bahwa bumi merupakan pusat sistem tata surya (solar system). Ini dkenal dengan sistem Ptolomeus. Teori ini terus dipelajari hingga akhirnya datang Copernicus yang melakukan revolusi terkenalnya dalam ilmu astronomi dengan mengatakan bahwa bumi beredar mengelilingi matahari. Orang Arab banyak menceritakan kita tentang sekolah-sekolah di Iskandariah pada masa terakhirnya. Para sejarawan Arab banyak menyimpan cerita tentang seolah-sekolah itu. Kita hanya dapat menerimanya saja. Dalam bukunya Akhbâr al-Hukamâ’, al-Qifthi meriwayatkan bahwa kelompok Iskandariah adalah “mereka yang di sekolah Iskandariah menyusun kurikulum pelajaran dan majlis-majlis kajian kedokteran. Mereka membaca buku-buku Galenos dan menyusunnya dalam bentuk seperti yang kita baca sekarang ini. Mereka melakukan penafsiran terhadapnya, dan meringkaskan makna-maknanya sehingga memudahkan pembacanya untuk menghafal dan membawanya. Menurut ishak bin Hunain mereka adalah Stefan Iskandranigasius, Encleus dan Marinos. Empat orang inilah yang merupakan tokoh-okoh utama dokter kelompok Iskandariah. Merekalah yang melakukan penafsiran dan pembukuan”.
Kami mengutip teks panjang ini untuk menjelaskan bahwa sekolah-sekolah filsafat memang sudah ada di Iskandariah sejak didirikannya sampai penaklukan Arab. Majlis pembelajaran yang dilakukan di museum tetap ada sejak saat itu, sampai kemudian punah pada abad III M yang disusul dengan munculnya sekolah-sekolah lain. Kuat dugaan bahwa sekolah Iskandariah memiliki lebih dari satu cabang (fillial). Dan tentu saja dalam proses belajarnya ada digunakan tempat / majlis khusus.
Anda jangan mengira bahwa ketika kami membatasi pembicaraan pada para ahli matematika, astronomi dan kedokteran, itu berarti bahwa kami telah jauh melenceng dari objek (kajian) sekolah-sekolah filsafat. Bahkan yang demikian itu termasuk ke dalam inti filsafat. Karena filsafat pada masa keemasannya sangat berpegang pada ilmu pengetahuan. Para filosof sendiri adalah para ilmuwan. Ketika museum didirikan, yang bangkit membangunnya adalah dua orang pemimpin Lyceum. Keduanyalah yang telah mengorientasikan museum tersebut kepada orientasi ilmiah ini. Ketika filsafat pindah ke Arab, maka para filosofnya adalah para ulama, dokter dan ahli matematika. Mereka menggabungkan antara ilmu dan filsafat, seperti dilakukan oleh Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.
Museum bukanlah satu-satunya tempat bagi sekolah Iskandariah. Ada satu tempat lain yang dibangun bersamanya. Dan sekolah Iskandariah tidak sempurna tanpanya. Sesuatu yang dimaksud itu adalah perpustakaan. Perpustakaan telah dikenal sebelum sekolah Iskandariah dibangun, khususnya di Athena yang merupakan ka’bah peradaban dunia sejak abad V SM. Kemudian kota-kota lain melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Athena. Berbagai perpustakaan didirikan di kota-kota itu untuk menyimpan karya-karya para penyair, sastrawan, ulama dan filosof. Ptolomeus I tidak mau prestise ibu kota negaranya lebih rendah dibanding kota-kota lain. Maka ia pun memerintahkan pembangunan satu perpustakaan yang pada masa selanjutnya sangat terkenal karena banyaknya karya yang disimpan di sana.
Perpustakaan Iskandariah didirikan oleh Dimitrios dari Paleron. Ia hidup pada abad IV SM. Dimitrios adalah murid Theophrastus. Ia sibuk dengan politik dan menjadi hakim Athena dari tahun 317-307 SM. Kemudian ia diasingkan dari Athena. Ptolomeus menyambutnya dan memerintahkannnya untuk membangun sebuah perpustakaan. Perpustakaan tersebut memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan buku-buku dari berbagai disiplin ilmu.
Buku-buku yang ada pada saat itu sangat berbeda dengan yang kita kenal saat ini. Buku yang ada dewasa ini dicetak dari kertas tipis dan dalam bentuk yang kecil. Buku pada zaman dahulu ditulis di atas kertas papirus dan mempunyai ukuran yang besar. Saat itu, buku-buku, merupakan istilah dari kumpulan-kumpulan kertas papirus, dan karena itu memerlukan tempat yang luas, khususnya jika perpustakaan tersebut memuat ribuan buku.
Di sekolahIskandariah, pada masa pendirinya, Ptolomeus I, buku-buku tersebut mencapai jumlah 200.000. Jumlah itu terus bertambah hingga mencapai 700.000 buku pada masa Julius Kaisar.
Bagaimana anda dapat melupakan jumlah yang sangat besar ini? Para raja Ptolisi mengambil berbagai macam cara untuk mendapatkan buku-buku. Mereka tidak segan-segan untuk mengeluarkan hartanya atau menetapkan satu kebijakan. Diantaranya adalah kebijakanya dalam memerintahkan agar setiap delegasi negara lain yang melintasi perairan lautnya, maka buku-buku yang dibawanya akan diteliti jika tidak ada diperpustakaan maka akan diambil dan diadakan pengkopian. Hasil kopian itulah yang akan diberikan pada sang delegasi dan bukan yang asli. Para pemimpin perpustakaan mempunyai jasa yang sangat besar dalam hal ini.
Inilah daftar nama-nama mereka:
1. Demitrios dari Paleron (284 SM)
2. Zenodotes (284-260 SM)
3. Kalimakos dari Kyrene (260-240 SM)
4. Apolonius dari Rodese (240-230 SM)
5. Arotistenus dari Kyrene (235-195 SM)
6. Aristopanes dari Byzantin (195-180 SM)
7. Apolonius Eidografes (180-160 SM)
8. Aritorakes (160-145 SM)

Dua orang diantara mereka yaitu Kalimakos dan Arotistenus, akan sedikit dibahas. Karena membicarakan keduanya akan mengantarkan kita kepada sekolah filsafat Kirenis. Nama itu dinisbahkan kepada kota Kirene di Libia sekarang ini tempat kota Kirene adalah kota Syahat. Kota Kirene dibangun oleh para imigran dari pulau Kereta pada abad VII, di satu pegunungan dekat laut. Mereka menjadikannya sebagai sebuah kota Yunani tulen dengan bangunan-bangunan berupa tempat ibadah, tempat bermain (gymnasium), pengadilan dan lain-lain. Di sana berdirilah satu sekolah filsafat yang dibangun oleh Aristhipus, si pemilik mazhab etik yang terkenal karena penerimaannya terhadap “kesenangan”. Mazhab tersebut pada hakekatnya membimbing seseorang pada “seni kehidupan”. Di Kirene itulah Theodores si ahli matematika yang belajar di Athena bekerja. Tampaknya sekolah tersebut menggabungkan kajian-kajian sastra, filsafat dan matematika. Arotistenus adalah salah seorang ahli matematika yang paling terkenal.
Kalimakos dilahirkan di Kyrene sekitar tahun 300 SM. Di sana ia belajar dan menyempurnakannya di Athena. Ia kemudian ditunjuk sebagai kepala perpustakaan Iskandariah tahun 260 SM. Dia wafat pada tahun 240 SM.
Dialah yang mengarang buku-buku perpustakaan dan mengerjakan katalog dengan membaginya pada delapan kategori sesuai dengan para pengarangnya:
1. Para penyair drama
2. Para penyair lagu
3. Para ahli hukum
4. Para Ahli Sejarah
5. Para Ahli Retorika
6. Para Sastrawan
7. Para filosof
8. Lain-lain

Kuat dugaan bahwa para ahli matematika, dokter dan imuwan ada di kategori filosof.
Arotistenus hidup pada abad III SM (247-194 SM). Belajar di Kyrene, kemudian ke Athena. Ia menggeluti kajian matematika, Astronomi dan Geografi. Ptolomeus III mengundangnya dan mengangkatnya sebagai anggota museum. Kemudian mengangkatnya sebagai kepala perpustakaan pada tahun 235 SM dan terus memangkunya sampai wafat. Jadi hampir 40 tahun ia memegang jabatan kepala perpustakaan. Arotistenus terkenal karena analoginya terhadap luas bumi merupakan analogi yang paling mendekati kebenaran. Analoginya didasarkan pada analogi jarak antara Iskandariah dan Asiwan yang sudah dikenal. Pertimbangannya adalah bahwa Asiwan terletak di sebelah garis utara (Sarton), yaitu lebih kurang garis lintang 23. Di sini kita dapat bertanya-tanya tentang hubungan antara perpustakaan dan museum. Kita telah melihat bahwa para ilmuwan begitu mencurahkan perhatiannya pada museum, dan barang kali mereka melakukan kegiatan ilmiahnya di sana.
Kuat dugaan bahwa meskipun perpustakaan tersebut bersifat independen, namun ia mengabdi untuk museum karena para ilmuwan museum tersebut sangat memerlukan “bantuan” buku-buku yang ada di perpustakaan. Namun demikian kita tidak punya cukup bukti yang menjelaskan hubungan ini.
Perpustakaan Iskandariah mengalami banyak kemalangan yang pada akhirnya membuatnya punah. Kesengsaraan pertama yang menimpanya adalah blokade Julius Kaisar terhadap kota Iskandariah. Perpustakaan Iskandariah adalah perpustakaan yang megah. Ketika Julius Kaisar membakar pelabuhan Iskandariah, jilatan api sampai ke perpustakaan. Dikatakan bahwa Antonio memberikan kleopatra 200.000 buku sebagai ganti buku-buku yang telah lenyap dimakan api.
Ketika kristenisasi sedikit demi sedikit mulai menguat sejak abad II M, orang –orang Kristen meyakini bahwa perpustakaan dan museum merupakan dua sayap bagi benteng kekufuran dan atheisme. Kita belum tahu bahwa Kristenitas menemui kesulitan besar dalam memerangi paganisme yang berdiri di atas dasar filsafat Yunani. Pertentangan antara Kristenitas sebagai agama dengan paganisme sebagai kebudayaan, sastra dan filsafat, adalah pertarungan pahit di mana Kristenitas tidak mampu mengalahkannya kecuali baru pada abad IV, ketika orang-orang Epicur sendiri membantunya dan memperkuat agama dengan kekuatan negara. Perpustakaan Iskandariah dihancurkan pada masa Kaisar Theodosius atas perintah Patriak Theofel, komandan Romawi di Iskandariah (385–412) yang sangat memusuhi paganisme. Ada kabar angin bahwa Umar bin Khattab-lah yang memerintahkan panglimanya, Amr bin ‘Ash untuk menghancurkan perpustakaan itu. Ini adalah cerita yang tidak benar, karena pada kenyataannya perpustakaan tersebut tidak ada saat terjadi pembebasan (fath) Islam terhadap Mesir.
Dalam sejarah diketahui ada banyak sekolah filsafat Kristen yang tumbuh di Iskandariah. Tentulah ajaran-ajaran reguler dari sekolah-sekolah filsafat tersebut dapat memerangi paganisme Yunani. Sekolah yang paling maju di antaranya adalah yang didirikan oleh Pantaenus yang mengepalai sekolah Epicuris di Iskandariah. Ia kemudian berkonversi ke Kristen. Lalu kepemimpinan sekolah ini dipegang oleh Clement Iskandar yang dilahirkan di Iskandariah tahun 100 SM, dan berkonversi ke Kristen setelah mengkaji agama ini di beberapa kota. Pengajaran yang dilakukan oleh Pantaenus sangat mengesankannya. Ia pun mengikutinya. Ia mengepalai sekolah ini pada tahun 200 SM. Dari sekolah inilah munculnya Oregeon yang di satu sisi belajar pada Clement dan di sisi lain belajar pada Amonios Sakkas. Dalam satu riwayat Oregeon dianggap sebagai pendiri Neo-Platonisme, tapi menurut riwayat yang lain, Amonios Sakkas (175-250)-lah yang mendirikannya. Orang tua Amonios adalah penganut agama Kristen, akan tetapi Amonios sendiri murtad dari agama ini dan menganut filsafat dan kepercayaan Yunani. Ajaran-ajarannya bersifat oral-audio. Dikatakan bahwa ia menyerasikan antara ajaran-ajaran Plato dan Aristoteles. Wallahu A’lam

Palu, 29 Januari 2010
Referensi: al-Madaris al-Falsafiyah / Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani

5 Komentar

Filed under Uncategorized

5 responses to “SEKOLAH ISKANDARIAH

  1. Considerably well written read

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s