MASALAH I’RAB. Bagian Pertama

Didin Faqihuddin, MA
Alumnus Fakultas Adab IAIN Jakarta dan PPS. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Staf Pengajar STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Seluruh ahli Nahwu Arab, kecuali Abu Ali Muhammad bin al-Mustanir yang dikenal dengan nama Quthrub (w. 206 H), berpandangan bahwa harkat-harkat i’rab menunjukkan berbagai macam makna berbeda, yang mempengaruhi kata-kata benda (isim), seperti kasus subjektif (fail), objektif (maf’ul), genitif (idhafah), dlsb. Berkaitan dengan hal ini Abu al-Qasim al-Zujaji dalam kitab al-Idhah Fi ‘Ilal al-I’rab menyatakan: “Jika seseorang berkata kepadamu bahwa I’rab sudah inklusif dalam kalam lalu apa yang membuat l’rab itu harus dan perlu? Maka kita menjawab bahwa ketika isim dimasuki oleh makna, di mana ia menjadi pelaku, atau menjadi objek, atau menjadi mudhaf, atau mudhaf ileih, namun bentuk dan struktur katanya tidak memilki dalil-dalil yang menunjukkan pada makna-makna itu (melainkan seragam saja), maka harkat-harkat I’rab yang ada padanya itulah yang menunjukkan makna tersebut. Kita mengatakan ضرب زيدٌ أمرا (Zaid memukul Amr), maka harkat rafa’ pada Zaydun menunjukkan bahwa dialah yang melakukan aksi pukul itu, sementara harkat nashab pada Amran menunjukkan bahwa aksi pukul itu mengenai dirinya…demikian pula makna-makna yang lain. Harkat-harkat menjadi dalil bagi makna-makna tersebut”.
Dalam kitab yang lain, yaitu kitab al-Jumal, al-Zujaji menulis: “Pada dasarnya i’rab itu adalah untuk isim (kata benda), sedangkan mabni untuk fiil dan huruf. I’rab masuk ke dalam isim untuk membedakan antara fail dan maf’ul, antara mudhaf dan mudhaf ileih. Makna-makna itu hanya masuk ke dalam isim dan tidak kepada fiil dan huruf”.
Sementara Ibnu Faris, dalam kitab al-Shahibi Fi Fiqh al-Lughah, menyatakan: “I’rab itu untuk membedakan makna, dan untuk menentukan maksud si pembicara. Seandainya seseorang mengucapkan: ما أحسن زيد tanpa memberikan I’rab (dalam hal ini harkat), maka kita tidak bisa mengetahui apa yang dia maksud. Namun jika dia mengatakan ما أحسن زيداً (Betapa baiknya si Zaid) yang menunjukkan makna ta’ajjub, atau mengucapkan ما أحسنَ زيدٌ (Zaid tidak berlaku baik) yang menunjukkan khabar nafiy, atau mengatakan ما أحسنُ زيدٍ (Apa yang paling baik pada diri si Zaid?) yang menunjukkan suatu pertanyaan, maka kita akan mengetahui makna yang dimaksud oleh si pembicara (I’rab menjelaskan makna).
Pandangan Ibnu Faris ini benar adanya. Kalimat berikut menunjukkan bahwa pengaruh I’rab sangat menentukan makna. Jika tidak ada I’rab maka ia akan memiliki kemungkinan beberapa makna: أكرم الناسُ محمداً- أكرم الناسَ محمدٌ- أكرم الناسِ محمدٌ- أَكْرِمِ الناسَ محمدُ!
Sementara itu, Quthrub, sendirinya, berpandangan bahwa harkat-harkat ini didatangkan untuk mempercepat ucapan (li al-sur’ah fi al-kalam), dan untuk menjaga jangan sampai terjadi pertemuan dua huruf yang mati (takhallush min iltiqa al-sakinayn) ketika berbicara secara bersambung. Lebih jelas Quthrub menyatakan: “Sesungguhnya orang-orang Arab melakukan I’rab dalam ucapannya, oleh karena isim, ketika dalam keadaan waqaf (berhenti) lazimnya disukunkan, seandainya mereka mewashal (sambung kata) juga dengan sukun, maka pasti mereka akan melazimkan sukun dalam keadaan waqaf (berhenti) dan washal (bersambung). Ketika mereka melakukan washal dan memungkinkan untuk memberikan harkat di akhir setiap kata, maka mereka menjadikan harkat itu sebagai pengganti sukun, agar ucapan mereka menjadi lebih berimbang. Bukankah kita melihat orang-orang Arab membangun struktur kalimat mereka dengan satu huruf berharkat dan satu huruf mati (sakin), dua huruf berharkat dan satu huruf sakin, dan tidak pernah mereka menggabungkan antara dua huruf sakin di tengah-tengah sebuah kata, karena dalam pertemuan dua huruf mati itu mereka akan lambat mengucapkan kata, sedangkan jika mengharkatkannya maka mereka akan cepat mengucapkannya, oleh karena itulah mereka menjadikan harkat sebagai ganti dari sukun ketika berbicara secara bersambung (washal)”.
Itulah pendapat Quthrub. Tidak pernah ada seorangpun yang berpendapat seperti itu sebelumnya. Dan sejauh ini tidak ada seorangpun yang mengikuti pendapatnya kecuali satu orang, yaitu Prof. Dr. Ibrahim Anis dalam bukunya yang sangat bagus Min Asrar al-Lughah.
Sebelum mendiskusikan secara lebih rinci pandangan Prof. Dr. Ibrahim Anis, ada baiknya di sini kita ingat bahwa di-rafa’-kannya fa’il, di-nashab-kannya maf’ul, di-jar-kannya mudhaf ileih, adalah fakta-fakta yang sudah diterima demikian adanya, yang tidak seorangpun ulama nahwu masa klasik yang meragukannya. Oleh karena itu dalam menjawab pandang Quthrub, mereka mengatakan: “Seandainya dia (Quthrub) benar-benar berpegang terhadap pendapatnya, tentu dia membolehkan untuk meng-khafadh-kan fa’il pada satu ketika, dan me-rafa’-kan serta me-nashab-kannya pada ketika yang lain; juga membolehkan untuk me-nashab-kan mudhaf ileih, karena tujuannya hanyalah harkat yang mengantikan sukun agar suatu ucapan menjadi lebih berimbang. Dengan demikian harkat apapun yang diletakkan sifatnya pilihan. Ini tentu merupakan sesuatu yang rusak dalam bahasa, dan keluar dari pakem-pakem gramatikal yang telah ditentukan oleh bangsa Arab”.
Sementara Dr. Ibrahim Anis dalam ulasannya tentang masalah i’rab ini menjelaskan bahwa para ahli nahwu memiliki dominasi yang sangat kuat terhadap para penyair dan sastrawan. Mereka tidak menemukan lawan yang sepadan kecuali pada sedikit orang, salah satu di antara yang sedikit itu adalah Ibnu Madha al-Qurthubi, yang menulis sebuah kitab yang berisi sanggahan terhadap alasan-alasan (I’rab) para ahli nahwu. Yang kedua, menurut Ibrahim Anis, adalah usaha yang dilakukan oleh Ibrahim Mustafa dalam kitabnya Ihya al-Nahwu, yang merupakan sebuah usaha edukatif untuk memudahkan kaidah-kaidah i’rab bagi para generasi muda.
Dari kajian yang dilakukan Prof. Dr. Ibrahim Anis, kita dapat menyimpulkan teorinya sebagai berikut:
Pertama, harkat I’rab tidak memiliki madlul (maksud). Harkat-harkat i’rab tidak menunjukkan bahwa sesuatu isim itu sebagai fail (pelaku), maf’ul (objek), idhafah, atau lainnya.
Kedua, harkat-harkat ini tidak lebih dari sekedar harkat belaka yang kebanyakan dibutuhkan untuk menyambung kata-kata satu sama lain. Artinya harkat tersebut diperlukan untuk menghindari bertemunya dua huruf sakin ketika terjadi penyambungan kalam. Makna fail, maf’ul, idhafah, dan lainnya sama sekali tidak dipahami dari harkat-harkat ini, namun dari kedudukan masing-masing dalam suatu struktur kalimat Arab.
Ketiga, ada dua faktor yang campur tangan dalam menentukan harkat penghindar bertemunya dua huruf sakin, yaitu: a) preferensi satu huruf terhadap harkat tertentu seperti preferensi huruf halaq terhadap harkat fathah; dan b) kecenderungan untuk menyamakan harkat yang berdekatan, atau yang disebut dengan harmoni vokal (vowel harmony).
Keempat, ketika para ahli nahwu klasik mendengar harkat-harkat ini mereka salah menafsirkannya dengan mengatakan bahwa ia adalah tanda dari kasus subjek, objek, dlsb., padahal ia hanya harkat biasa, tidak lebih hanya untuk menyambung kata.
Kelima, ketika para ahli nahwu meyakini bahwa harkat-harkat ini adalah harkat-harkat i’rab, mereka pun kemudian mengharkatkan akhir kata-kata yang sebenarnya tidak perlu untuk diharkatkan untuk menyesuaikan kaidah-kaidah mereka. Maka mereka misalnya mengatakan: الرجلُ قائم dengan mengharkat dhammahkan huruf lam pada kata rajul, padahal sesungguhnya cukup mengatakan الرجلْ قائم, dengan mensukunkan huruf lam, karena tidak ditemukan darurat apapun yang mengharuskannya untuk diberi harkat.
Keenam, kata-kata yang diirab dengan huruf, merupakan salah satu bentuk irab yang khusus untuk kabilah (suku) tertentu, sementara bentuk-bentuk lain merupakan kekhususan kabilah-kabilah lain, namun para ahli nahwu menggabung semua bentuk ini dan mengkhususkan setiap bentuk di antaranya dengan satu keadaan i’rab tertentu. Misalnya ada kabilah Arab yang yang mengucapkan mutsanna dengan ya dalam semua keadaan, lalu ya ini berkembang dan berubah menjadi alif pada semua keadaan oleh sebagian kabilah. Para ulama nahwu ini idak memahami rahasia ini dan kemudian mengabungkan kedua bentuk, dengan mengkhususkan yang pertama untuk nashab dan jar, dan mengkhususkan yang kedua untuk keadaan rafa’.
Itulah teori Prof. Dr. Ibrahim Anis dalam menfasirkan I’rab pada bahasa Arab fusha. Sebelum mendiskusikan teori beliau–dan menjelaskan bahwa I’rab seperti diterangkan oleh para ahli nahwu adalah merupakan karakteristik bahasa-bahasa semitik–perlu disampaikan bahwa teorinya ini tidak diterima oleh para peneliti manapun, bahkan memantik penolakan dari salah seorang di antara mereka, yaitu Dr. Mahdi Makhzumi dalam bukunya Madrasah al-Kufah Wa Manhajuha Fi Dirasah al-Lughah Wa al-Nahwu. Di antara kritikan tajam Dr. Mahdi al-Makhzumi adalah bahwa teori Prof. Dr. Anis Ibrahim tidak dapat menafsirkan perbedaan-perbedaan dialek-dialek Arab dalam masalah waqaf. Misalnya dialek Azad al-Sarraah yang jika waqaf pada kata rafa’ mereka mengucapkan dhammahnya dan memanjangkannya, sehingga tampak sebagai wawu. Jika mereka melakukan waqaf pada kata yang dikasrahkan mereka memanjangkan kasrahnya sehingga tampak seperti ya. Pada kalimat Hal Jaa’a Khalidun? Dan Hal Mararta bi Khalidin? Mereka akan membacanya Hal Jaa’a Khaliduu dan Hal Mararta bi Khalidii? ketika mereka melakukan waqaf. Dalam hal ini Dr. Mahdi al-Makhzumi menyatakan: “Jika harkat-harkat tersebut bukan merupakan tanda dari makna-makna yang dimaksudkan ol eh seorang pembicara, melainkan hanya sekedar harkat belaka yang dibutuhkan dalam banyak kesempatan untuk menyambung kata-kata satu sama lain, maka bagaimana kita menafsirkan waqaf pada dialek yang memanjangkan harkat? Dan mengapa huruf dal dirafakan, dinashabkan dan dijarkan pada ketiga keadaan? Mengapa tidak dikasrahkan saja agar harkatnya sesuai (harmonis) dengan harkat kasrah yang ada pada huruf lam?
Apa yang dipaparkan oleh Dr. Mahdi al-Makhzumi adalah sedikit di antara yang mematahkan teori Prof. Dr. Ibrahim Anis. Sebenarnya jika mau diteliti lebih jauh bahasa-bahasa Semitik lain akan terbukti bahwa orisinalitas I’rab memang ada pada bahasa semitik ini dan termasuk bahasa Arab. Insya Allah pada bagian akhir seri tulisan ini masalah tersebut akan dipaparkan.
Di kalangan orientalis, sebelum Prof. Dr. Anis Ibrahim, ada juga yang meragukan bahasa Arab fushah, dan karakter terpentingnya yaitu i’rab. Di antaranya adalah Karl Vollers yang berpendapat bahwa nas asli Alquran sebenarnya ditulis dengan salah satu dialek suku Arab yang berkembang di Hijaz, yang dalam dialek ini dan juga dialek-dialek lainnya tidak mengenal akhiran-akhiran yang dinamakan dengan i’rab…. To be Continued

Palu, 29 Januari 2010
Semoga membawa manfaat untukku dan untuk yang membaca…ameen.

Referensi: Fushul Fi Fiqh al-Arabiyah / Dr. Ramdhan Abd. Thawab

1 Komentar

Filed under Uncategorized

One response to “MASALAH I’RAB. Bagian Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s