MASALAH I’RAB. Bagian Kedua

Didin Faqihuddin, MA
Alumnus Pondok Pesantren Darul Amal Buni Bakti, Bekasi

Orientalis lain yang juga meragu-ragukan bahasa Arab fusha adalah Paul E. Kahle yang menuangkannya pada salah satu pasal bukunya Dier Kairoer Genisa (Harta Karun Kairo). Pasal itu berjudul Teks Arab Alquran. Di sini ia menulis: “Kodifikasi Alquran dilakukan beberapa tahun pasca wafatnya Nabi Muhammad, tepatnya pada tahun 632 M, yang kemudian hasil paling akhirnya ada pada masa khalifah Utsman bin Affan (633-655M). Di sini muncul problem: bagaimana teks ini dibaca dan lafalkan? Nabi Muhammad dilahirkan–sebagaimana kebanyakan orang pada saat itu–dari sebuah suku Arabia (Quraisy). Dan bahasa Arab yang digunakan oleh suku itu adalah bahasa dari kaum terpelajar Mekah. Teks Alquran yang tidak memiliki syakal dan tanda apapun, secara jelas merefleksikan bahasa Arab yang dipakai di Mekah. Orang Arab telah terbiasa menganggap bahasa Badawi sebagai model pengucapan yang benar, sehingga dengan bahasa inilah mereka menyusun syair Arab jahili, dan setiap orang Arab bangga terhadap hal ini…pada saat itu, di pusat-pusat kota Islam seperti Kufah, Basrah, Madinah, dan Mekah, mulai muncul suatu kajian yang intens terhadap syair-syair badawi. Mereka yang memiliki perhatian terhadap bahasa Arab badawi ini pergi ke tetangga-tetangga mereja para penduduk badawi dan sebisa mungkin mengumpulkan syair-syair, dan hikayat-hikayat yang terkait dengan mereka (badawi) yang kebanyakan adalah cerita-cerita tentang peperangan kecil. Hikayat-hikayat ini dikumpulkan dalam satu judul Ayaam al-Arab. Materi-materi yang dikumpulkan dengan cara seperti ini lalu menjadi dasar bagi bahasa Arab model yang diciptakan oleh para ahli nahwu, lalu bahasa Alquran mengikuti polanya. Namun demikian mengapa penulisan mshaf Alquran mengalami perubahan , bahkan menciptakan sebuah “cara” sendiri di mana banyak tanda yang berbeda ditambahkan ke dalam teks Alquran untuk menjamin ketepatan bacaan”.
Kahle juga menyatakan bahwa kitab-kitab qira’at secara umum tidak menyebutkan sedikitpun tentang aktifitas awal para qurra. Kitab-kitab itu menurut Kahle telah hilang atau diabaikan, kecuali satu kabar yang baru belakangan ditemukan di mana ada penjelasan tentang perkembangan tanda-tanda kebahasaan (i’rab) tersebut.
Diduga, dalam penelusurannya tentang perkembangan tanda-tanda itu, Kahle mengutip al-Farra yang ia temukan dalam satu kumpulan manuskrip di perpustakaan Chester – Beatty nomor 507. Di situ ada keterangan: “al-Farra berkata: “kami melihat ahli qira’ah yang mengetahui Alquran dan sunnah, dan termasuk ahli fasahah (memiliki kefasihan berbahasa), bersepakat bahwa Alquran diturunkan dalam bahasa yang paling fasih. Pada saat itu muncul kritik dari kelompok-kelompok yang mengetahui syair Arab dan sejarahnya. Mereka yang terakhir ini berpendapat bahwa Alquran itu memiliki kemulian dan kelebihan hanya karena Allah memerintahkan untuk mengagungkannya. Sementara jika kita menengok kefasihan, maka kita akan menemukannya ada dalam bahasa Badawi. Di sini mereka berbeda pendapat tentang siapa yang paling fasih di kalangan suku badawi Arab. Penduduk Kufah berpendapat bahwa yang paling fasih adalah Bani Asad karena kedekatan mereka dengannya. Sementara penduduk Basrah berpendapat bahwa fasahah ada di Bani Tamim bagian atas yaitu kelompok ‘Akl, dan Bani Qayis bagian bawah yaitu kelompok ‘Aqil. Penduduk Madinah lain lagi, menurut mereka yang paling fasih adalah Bani Gathfan. Sedangkan penduduk Mekah mengatakan bahwa yang paling fasih adalah Bani Kinanah dan Bani Tsaqif. Kami ingin menjawab mereka dengan mengetengahkan bukti-bukti bahwa dialek Quraisy adalah dialek yang paling unggul dibandingkan dialek-dialek lain…. Suatu ketika Umar mendengar seseorang membaca عتى حين dengan maksud حتى حين. Umar lalu berkata kepada orang itu: “Siapa yang mengajarkan bacaan itu kepadamu?” “Abdullah bin Mas’ud”, jawabnya. Umar lalu menulis surat kepada Abdullah bin Mas’ud demikian: “Sesungguhnya Alquran diturunkan dengan dialek Quraisy dan bukan dengan dialek Huzail, maka ajarkanlah manusia bacaan Alquran dengan dialek Quraisy, dang jangan ajarkan mereka dengan dialek Huzail”. Abu Bakar juga pernah berkata: “Sesungguhnya I’rab Alquran lebih aku sukai dari pada menghafal sebagian ayatnya”. Ibnu Mas’ud berkata: “Perbaguslah bacaan Alquran kalian, hiasilah dengan suara yang merdu, i’rablah karena Alquran itu bahasa Arab, karena Allah suka Alquran itu dii’rab”.
Kahle mengomentari kata “i’rab” pada ucapan Abu Bakar demikian: “i’rab adalah harkat-harkat yang ada di akhir kata-kata bahasa Arab sesuai dengan kaidah-kaidah gramatikal Arab fusha”. Dari situ Kahle berkesimpulan bahwa “penekanan untuk membaca Alquran dengan menggunakan i’rab tampak tidak masuk akal, kecuali bahwa Alquran itu pada kenyataannya dibaca tanpa i’rab, dan kemudian dikehendaki agar Alquran dibaca dengan i’rab yang pada masa-masa belakangan dianggap sebagai fenomena kebenaran berbahasa”.
Kahle salah dalam kesimpulannya ini, oleh karena i’rab dalam pengertian istilah tidak dikenal pada masa Abu Bakar dan Ibnu Mas’ud. Makna kata “i’rab Alquran” dalam hadits konteks itu adalah kejelasan dalam membaca Alquran.
Jika Vollers dan Kahle adalah dua orientalis dengan pandangan negatif terhadap bahasa Arab Fusha dan masalah i’rab, maka ada cukup banyak orientalis lain yang mendukung orisinalitas i’rab dalam bahasa Arab seperti Theodore Noldeke. Dalam satu tulisannya berjudul “Beberapa Catatan Tentang Bahasa Arab Klasik” Noeldeke menulis: “Tidak masuk akal jika Muhammad menggunakan dalam Alquran, suatu bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa yang berkembang pada saat itu di Mekah. Juga tidak masuk akal jika Muhammad begitu memiliki perhatian terhadap i’rab sementara kaumnya tidak menggunakan i’rab ini dalam bahasa mereka”. Pada kesempatan lain ia menulis: “Sangat salah jika ada ada orang yang meyakini bahwa bahasa Arab yang berkembang pada masa Nabi Muhammad tidak mengenal i’rab; karena ulama-ulama pada masa Harun al-Rasyid menemukan i’rab dengan sangat rinci di kalangan badawi”. Johan Fuck berpendapat: “Bahasa Arab fusha senantiasa menjaga perubahan i’rab yang merupakan salah satu ciri kebahasaan paling tua, di mana bahasa-bahasa semitik lain—kecuali Babilonia kuno—telah kehilangannya”. Sementara G. Bergstrasser menyatakan: “i’rab asli dari bahasa semitik, yang diikuti oleh bahasa Akadia, Etiopia, dan kita temukan juga pengaruhnya pada bahasa-bahasa lain”.
Seperti dijelaskan pada bagian pertama tulisan ini bahwa Prof. Dr. Ibrahim Anis memiliki teori berbeda tentang i’rab dengan kebanyakan ulama nahwu lain. Yang pertama berpandangan bahwa i’rab tidak memiliki makna, sementara yang kedua sebaliknya, i’rab menentukan makna seperti fail, maf’ul, idhafah, dlsb. I’rab bukan semata harkat tanpa makna yang berfungsi menyambung kata-kata seperti dituduhkan Prof. Anis. Argumentasi para ulama nahwu tentang hal ini adalah sebagai berikut:
Argumentasi pertama, bahwa keberadaan i’rab benar-benar nyata di sebagian bahasa semitik kuno, seperti Akadia yang mencakup dua bahasa lain yaitu Babilonia dan Asyuria pada masa-masa klasik keduanya. Dalam tulisan Hukum Hamurabi (1792-1750 SM) yang tertulis dalam bahasa Babilonia kuno terdapat i’rab, sama persis seperti dalam bahasa Arab fusha: fail dirafa’kan, dan maf’ul dinashabkan. Tanda rafa’nya dhammah, tanda nashabnya fathah, dan tanda jarnya kasrah, sama persis seperti dalam bahasa Arab fusha. Pada paragraf pertama hukum Hamurabi kita menemukan kalimat berikut: “šummâ awēlum awēlam ubbirma”, yang dalam bahasa Arabnya adalah: إذا اتهم إنسان إنسانا (jika seorang manusia menuduh manusia lain…) , dalam hal ini kata “awēlum” pertama artinya إنسان dalam keadaan sebagai pelaku (fail) dirafa’kan dengan dhammah, sementara huruf mim di akhirnya itu, dalam bahasa Akadia, sepadan dengan tanwin dalam bahasa Arab. Dan kata “awēlam” yang kedua dalam posisi objek (maful), dinashabkan dengan fathah.
Pada paragraf kelima kita menemukan kalimat: “šummâ dayânum dinam iddin” yang dalam bahasa Arabnya adalah: إذا حكم قاض حكما (Jika seorang hakim memutuskan suatu hukum…), dalam hal ini kata “dayânum” berarti قاض sebagai pelaku (fail) dirafa’kan dengan dhammah; dan kata “dinam” berarti حكما dalam sebagai maf’ul (objek) dinashabkan dengan fathah.
Pada paragraf 195 hukum Hamurabi ini kita menemukan kalimat: “šummâ maru abâšu imtahas” yang dalam bahasa Arabnya adalah: إذا ضرب إبن أباه (Jika seorang anak memukul bapaknya…). Di sini kita lihat kata “abâšu” artinya adalah “أباه” sebagai maful (objek) yang dinashabkan dengan alif karena ia termasuk isim yang lima (الأسماء الخمسة), persis seperti dalam bahasa Arab.
Tidak sebatas itu saja, bahkan isim mutsana dan jamak muzakar juga mirip dalam i’rab; dalam bahasa Arab isim mutsanna dirafa’kan dengan alif, sementara dinashabkan dan dijarkan dengan ya, yang kemudian berubah menjadi suara kasrah yang dipanjangkan sambil di-imalah (penyuaraan ke suara “e”). Dalam bahasa Akadia misalnya, kita menemukan kata “īnān” dengan makna عينان dalam keadaan rafa’, dan “īnēn” untuk keadaan nashab dan jar. Untuk jamak muzakkar dirafa’kan dengan wawu, dan dinashabkan dan dijarkan dengan ya. Maka dalam bahasa Akadia kata “šarrū” yang berarti raja, dalam keadaan rada’, dan “šarri” untuk keadaan nashab dan jar.
Argumentasi kedua, adalah bahwa Alquran yang sampai kepada kita secara mutawatir, melalui periwayatan oral yang sangat dipercaya dari satu genarasi ke genarasi lain, juga (datang kepada kita) dalam keadaan memiliki i’rab. Kita tidak yakin ada orang yang mempunyai dugaan bahwa Nabi tidak mengharkatkan akhir kata-kata dalam bacaannya atas Alquran, kecuali dalam kondisi darurat, misalnya karena pertemuan dua huruf mati.
Argumentasi ketiga, rasam Alquran yang sampai kepada kita secara mutawatir juga menegaskan adanya i’rab dalam bahasa Arab fusha, dan itu sama sekali bukan karangan para ulama nahwu. Jika tidak demikian bagaimana kita menafsirkan adanya alif pada khat Utsmani pada sebuah kata yang ada dalam keadaan dinashabkan dengan tanwin? Jika kita misalnya mengambil ayat: وما الله بغافل dan ولا تحسبن الله غافلا sulit bagi kita memahami rahasia mengapa huruf lam pada kata غافل yang pertama diharkatkan dengan kasrah, sementara pada ayat kedua dengan fathah, sekiranya persoalan itu tidak lebih dari sekedar harmoni musik (insijam musiqiy).
Hal ini juga yang dipahami oleh Dr. Abdul Wahid Wafi ketika ia mengatakan: “Sesungguhnya dalam rasm mushaf Utsmani—meskipun tidak memiliki syakal dan tanda—mematahkan mazhab yang menegasikan i’rab. Ini karena dalam mushaf Utsmani banyak tanda-tanda i’rab dengan huruf (seperti: المؤمنون dan المؤمنين) dan tanda i’rab manshub tanwin (رسولا، شهيدا، بصيرا) dlsb. Tidak disangsikan lagi bahwa mushaf Utsmani dikodifikasi jauh dari masa ulama Kufah dan Basrah, yang menurut mazhab anti i’rab sebagai para pencipta kaidah-kaidah i’rab tersebut”.
Argumentasi keempat adalah banyaknya riwayat yang menunjukkan bahwa i’rab itu sudah dikenal pada masa awal Islam. Mereka yang menjaganya akan dianggap cerdas, sementara mereka yang mengabaikannya akan dicap sebagai orang yang tidak fasih. Meskipun kita meragukan keabsahan sebagian riwayat ini, namun secara umum kita melihat bukti nyata tentang adanya i’rab dalam ucapan dan tulisan bangsa Arab masa silam, sebelum para ulama nahwu mengeluarkan teori-teori gramatikal mereka kepada masyarakat.
Suatu riwayat menceritakanbahwa sekretaris Abu Musa al-Asy’ari menulis surat untuk Umar bin Khattab berbunyi: من أبو مسى yang seharusnya adalah من أبي موسى. Umar kemudian menulis balasan kepada Abu Musa: “سلام الله عليك، فاضرب كاتبك سوطا واحدا وأخر عطاءه سنة” (Semoga keselamatan selalu Allah berikan kepadamu. Hukum cabuk satu kali sekretarismu itu, dan tunda gajinya selama satu tahun)
Riwayat lain menceritakan bahwa Abu Aswa al-Duali menghadap Ziyad, Gubernur Bashrah, lalu berkata: “Aku melihat orang Arab sudah banyak berbaur dengan non-Arab yang mengakibatkan bahasa mereka rusak. Apakah engkau izinkan aku untuk menuliskan kaidah-kaidah bahasa Arab agar mereka dapat memperbaiki kembali bahasanya?” Ziyad menjawab: “Tidak perlu”. Beberapa hari setelah itu seorang rakyat mengadu di hadapan Ziyad: “أصلح الله الأمير، توفى أبانا وترك بنونا” yang seharusnya adalah توفي أبونا وترك بنينا”. Mendengar ini Ziyad lalu memanggil Abu Aswad dan memerintahkannya untuk menuliskan kaidah.
Itulah dua contoh riwayat yang menunjukkan bahwa i’rab adalah sesuatu yang melekat dalam bahasa Arab. Ia bukan sekedar harkat tanpa makna, melainkan ada makna-makna yang ditunjuk oleh harkat –harkat i’rab itu. Wallahu a’lam….
Lembah Palu, Kampus STAIN Datokarama 01 Pebruari 2010,
Referensi: Fushul Fi Fiqh al-Arabiyah / Dr. Ramdhan Abd al-Tawwab

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s