MUHAMMAD : PERJALANAN PERTAMA KE SYAM

Didin Faqihuddin

Ketika berusia 12 tahun, Muhammad diajak oleh pamannya, Abu Thalib, dalam suatu perjalanan dagang ke negeri Syam. Saat kafilah mereka tiba di suatu tempat bernama Bushra, mereka berjumpa dengan seorang rahib yang bernama Buhayra. Yang tersebut ini adalah orang yang sangat menguasai kitab Injil dan masalah-masalah ke-Kristen-an. Dalam rombongan dagang itu, Buhayra melihat seorang anak yang tampak berbeda. Ia terus mengamatinya dan kemudian mengajaknya bicara. Selesai berbicara dengan Muhammad, Buhayra lalu menoleh kepada Abu Thalib dan berkata: “Siapa anak kecil ini?” Abu Thalib menjawab: “Dia anakku”. Abu Thalib mengaku bahwa Muhammad adalah anaknya karena memang dia sangat mencintai kemenakannya itu. Buhayra lalu menjawab: “Dia bukan anakmu, dan ayah anak ini tidak mungkin masih hidup saat ini” Abu Thalib menjawab: “Dia adalah putra saudaraku”
“Lalu bagaimana ayahnya?”
“Ayahnya wafat saat ibunya tengah mengandung anak ini”
“Engkau benar. Sekarang bawa kembali anak ini ke negerimu dan jaga dia dari kejahatan orang-orang Yahudi. Demi Allah, sekiranya mereka melihat anak ini di sini, pasti mereka akan berbuat jahat kepadanya. Sesungguhnya putra saudaramu ini akan menjadi orang besar suatu saat”.
Abu Thalibpun segera bergegas membawa kembali Muhammad ke Mekah.
Di Mekah, Muhammad tumbuh sebagai pemuda. Dia pun mencari usaha dengan menggembala kambing. Dan Allah senantiasa menjaganya dari segala pebuatan buruk yang biasa dilakukan para pemuda seusianya ketika itu. Nabi Muhammad menceritakan tentang dirinya:
“Aku tidak pernah ingin melakukan sesuatu yang selalu dikerjakan pemuda pada masa jahiliyah kecuali dua kali saja. Dan pada masing-masingnya, Allah menjaga aku dari perbuatan itu. Kemudian setelah itu aku tidak pernah lagi berkeinginan untuk melakukannya lagi sampai akhirnya aku mendapat risalah Tuhan. Pada suatu malam aku berkata kepada teman yang bersamaku menggembala kambing: “Sekiranya engkau bisa menjaga kambing-kambingku tentu aku bisa ke Mekah untuk ngobrol-ngobrol dengan para pemuda di sana”. Temanku menjawab: “pergilah, biar aku yang menjaga kambing-kambingmu”. Ketika aku turun menuju Mekah, di rumah pertama yang aku lewati, aku mendengar suara nyanyian. Akupun bertanya kepada seseorang di sana tentang apa yang terjadi. Mereka mengatakan itu adalah pesta perkawinan. Aku pun duduk mendengarkan musik itu. Allah kemudian membuatku tertidur dan tidak sempat mendengarkan musik itu, dan baru terbangun setelah sinar matahari menyengat kulitku. Aku lalu kembali ke tempat sahabatku, dan menceritakan semuanya. Pada malam berikutnya aku berkata seperti sebelumnya kepada sahabatku. Dia membolehkannya. Aku pun kembali turun ke Mekah. Namun apa yang menimpaku pada malam sebelumnya, kembali menimpaku pada malam berikutnya. Setelah itu, aku tidak pernah lagi berkeinginan untuk melakukan sesuatu yang buruk”.
Paparan singkat di atas memberikan beberapa pelajaran kepada kita. Pelajaran pertama, apa yang disampaikan oleh seorang rahib bernama Buhayra menunjukkan bahwa Ahlu al-Kitab dari kelompok Nasrani dan Yahudi sesungguhnya memiliki pengetahuan tentang kebangkitan risalah Muhammad saw. sekaligus mengetahui tanda-tandanya dari berita yang banyak mereka temukan dalam Taurat dan Injil.
Para sejarawan misalnya meriwayatkan bahwa kaum Yahudi selalu mengancam suku Aus dan Khazraj: “Sebentar lagi akan muncul seorang utusan Tuhan, kami akan mengikutinya lalu bersama dengannya kami akan memerangi kalian seperti ‘Ad memerangi ‘Iram”. Dan ketika mereka mengingkari janjinya itu Allah menyinggung mereka dalam QS. al-Baqarah (89): “Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”.
Imam al-Qurthubi dan para mufasir lainnya meriwayatkan bahwa ketika turun ayat: “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 146), Umar bin Khattab bertanya kepada Abdullah bin Salam yang merupakan seorang Ahlu al-Kitab yang masuk Islam: “apakah engkau mengenal Nabi Muhammad saw. seperti engkau mengenal anakmu?” Abdullah bin Salam lalu menjawab: “Yah, bahkan lebih. Sifat-sifat Muhammad aku ketahui dalam kitab-kitab suci. Sementara tentang anakku, aku tidak tahu apa yang dulu pernah terjadi pada ibunya”. Konon sebab keislaman Salmna al-Farisi adalah karena ia mengikuti berita tentang Nabi Muhammad saw dari Injil, para rahib dan ulama-ulama Ahlul Kitab.
Namun ini memang tidak menafikan banyaknya Ahlu al-Kitab yang mengingkari masalah pemberitaan tentang kenabian di kitab Injil. Dalam kitab-kitab Injil yang beredar sekarang ini juga tidak ada keterangan tentang hal ini. Namun kita tahu bahwa kitab-kitab Injil yang ada pada masa ini sudah mengalami banyak perubahan dan penggantian. Maha Benar Allah dalam firmanNya: “Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan” (QS. al-Baqarah : 78-79).
Pelajaran kedua adalah tentang usaha Muhammad mencari nafkah dalam bentuk menggembala kambing. Di sini ada tiga poin penting yang patut diperhatikan:
a) Muhammad memiliki sensitifitas yang sangat tinggi terhadap keluarganya (baca : Abu Thalib). Muhammad sadar bahwa pamannya begitu mencintai dirinya sebagaimana ia mencintai anaknya sendiri. Namun Muhammad memiliki kesadaran bahwa sebagai laki-laki ia harus membantu pamannya dalam mencari nafkah, apalagi kondisi ekonomi pamannya itu bukan tergolong yang berpunya. Apa yang dilakukan Muhammad memang tidak banyak membantu ekonomi keluarga, namun ushanya itu merupakan ekspresi moral yang sangat tinggi tentang rasa terima kasih.
b) Bagi Allah sangat mudah untuk membuat rasulNya hidup dalam kesenangan harta benda, sehingga tidak perlu rasulNya bekerja keras menggembala ternak. Namun apa yang kita lihat pada diri Nabi Muhammad sesungguhnya memiliki hikmah Ilahiyah yang patut kita renungi. Hikmah itu adalah bahwa harta paling baik yang dimiliki seorang manusia adalah harta yang ia peroleh dari usaha kerasnya sendiri membanting tulang dan memeras keringat. Sementara seburuk-buruk harta yang dimiliki manusia adalah yang didapat tanpa usahanya sendiri, tanpa banting tulang, tanpa peras keringat.
c) Seorang pendakwah tidak akan memiliki nilai di mata masyarakatnya jika ia menggantungkan hidupnya dari pemberian orang. Seorang pendakwah, sepatutnya adalah seseorang yang memiliki usaha keras dalam mencari kehidupannya, bukan karena pemberian orang lain. Karena ketika ia mengandalkan pemberian orang untuk urusan asap dapurnya, maka dikhawatirkan hal itu akan menjadi sandungan dalam menyampaikan kebenaran dakwahnya. Pemahaman seperti ini tentu tidak pernah terlintas dalam pikiran Muhammad karena pada saat itu dia tidak mengetahui tugas besar yang dipikulnya di masa depan. Namun cara yang Allah persiapkan kepada Muhammad mengandung hikmah ilahiyah ini sekaligus menjelaskan bahwa Dia menghendaki agar tidak ada sedikitpun dalam kehidupan Muhammad sesuatu yang akan menghambat, atau berpengaruh negatif terhadap dakwahnya di masa mendatang.
Sementara itu, kisah yang disampaikan sendiri oleh Nabi Muhammad tentang penjagaan yang Allah lakukan terhadapnya dari segala perbuatan sia-sia di masa mudanya, menjelaskan kepada kita dua hakekat penting sebagai berikut:
Pertama, bahwa Nabi Muhammad saw. juga seperti manusia pada umumnya yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan seutuhnya. Muhammad menemukan pada dirinya apa yang ditemukan oleh setiap pemuda pada dirinya sendiri kecenderungan-kecenderungan fitrawi yang memang Allah ciptakan untuk manusia. Muhammad merasakan senangnya bercengkerama, bercanda, dan hal-hal lainnya. Ia berkata pada dirinya sendiri sekiranya ia juga merasakan semua itu sebagaimana orang lain menikmatinya.
Kedua, Allah memelihara Muhammad dari segala perbuatan sia-sia yang tidak sesuai dengan tuntutan-tuntutan dakwah yang telah Allah persiapkan untuk dirinya, sehingga jikapun bukan dalam bentuk wahyu yang menjaganya dari perbuatan sia-sia itu, Muhammad menemukan penjagaan dalam bentuk lain yang mencegahnya melakukan perbuatan sia-sia, yaitu dengan cara Allah membuatnya tertidur. Wallahu A’lam

Palu, 02 Pebruari 2010
Referensi: Fiqh al-Sirah / Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan al-Buthi

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s