PENGARUH ALQURAN TERHADAP KAJIAN LINGUISTIK DI KALANGAN BANGSA ARAB. Bag. Ketiga

Didin Faqihuddin
Alumnus Fakultas Adab IAIN Jakarta

Tujuh ( Imam) Qiraat
Pada bagian kedua telah dijelaskan tentang qira’at dan beberapa perbedaan bacaan terhadap Alquran. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang tujuh orang Quraa’ sebagai berikut:
Pertama, Abu Abd. Al-Rahman Nafi’ bin Abd. Al-Rahman bin Abi Na’im (7 – 169 H). Dia adalah salah seorang yang sangat berpengetahuan tinggi dan terkenal kesalihannya. Beliau berasal dari Isfahan, berkulit gelap namun berwajah cerah, dan perilakunya sangat terpuji.
Beliau mengajarkan Alquran kepada masyarakat selama hampir 75 tahun. Dialah tokoh paling atas dalam bidang bacaan Alquran di Madinah dan menjadi rujukan masyarakatnya. Imam Malik pernah berkata: “Qiraat Nafi adalah Qiraat yang paling disukai oleh Imam Ahmad bin Hambal. Nafi’ adalah orang yang sangat mengetahui banyak hal tentang Qiraat. Ia mengikuti imam-imam Qiraat masa lalu di negerinya. Ia adalah orang yang sangat zuhud dan pemurah. Shalat di masjid Nabawi selama 60 tahun.
Kedua, Abdullah ibn Katsir (45-12 H). Dia aslinya dari keturunan Persia. Imama Qiraat penduduk Mekkah. Ibnu Katsir adalah orang yang sangat fasih, bertubuh tinggi dan memiiliki pembawaan yang tenang. Abu ‘Amr bin al-‘Ala berkata: “Aku tamat membaca Alquran kepada Ibnu Katsir setelah aku menamatinya kepada Mujahid. Ibnu Katsir dalam pandanganku lebih pintar dalam bidang bahasa Arab dibanding Mujahid”. Sampai wafatnya, Ibnu Katsir adalah imam Qiraat di lingkungan masyarakat Mekkah.
Ketiga, Abu Bakar ‘Ashim bin Abi al-Najud (-127 H). Dialah pemimpin Qiraat di Kufah. Menggabungkan antara kefasihan dan kecerdasan. Dialah orang yang terbaik suaranya dalam membaca Alquran. Abu Ishaq al-Sabi’iy berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yag lebih pandai dalam membaca Alquran daripada ‘Ashim”. ‘Ashim belajar Alquran secara langsung kepada Zurr bin Jaysy, Abu Abd al-Rahman al-Salma dan Abu ‘Umar al-Syaybani.
Keempat, Hamzah bin Habib al-Zayyat (8-156 H). Dia adalah salah satu di antara sekian orang yang mendedikasikan dirinya hanya untuk Alquran. Selain itudia adalah seorang yang sangat zuhud dan ahli ibadah. Sangat menguasai bahasa Arab dan ilmu Faraidh. Dia belajar Alquran secara langsung kepada Sulayman al-A’masy, Hmran bin A’yun, Abu Ishaq al-Sabi’iy, dan Ja’far bin Muhammad al-Shadiq. Hamzah menjadi imam Qiraat setelah ‘Ashim.
Kelima, Abu al-Hasan bin Hamzah al-Kisai (119-189 H). Menjadi imam Qiraat di Kufah setelah Hamzah al-Zayat. Dia mpelajari Alquran secara langsung kepada Hamzah al-Zayyat, sebanyak empat kali, dia juga belajar dari Muhammad bin Abi Layla, dan Isa bin Umar al-Hamdani. Dia lalu melakukan perjalanan ke Basrah dan belajar bahasa Arab kepada Khalil bin Ahmad. Al-Kisai adalah tokoh utama mazhab Kufah dalam nahwu.
Keenam, ‘Amr bin al-‘Ula Zabban bin al-‘Ula al-Tamimi al-Mazini (68-154 H). Dialah imam para qurra di Basrah. Al-Zubaydi berkata: “Dia adalah seorang Basrah yang belajar kepada Ibnu Abi Ishaq dan dalam bidang bahasa Arab ia lebih ‘alim dibanding Abdullah bin Abi Ishaq. Dia mengajarkan Alquran kepada masyarakat di masjid Basrah, dan al-Hasan bin Abi al-Hasan (al-Basri) hadir di situ”.
Ketika ia bersama ayahnya melarikan diri dari al-Hajjaj, ia menetap di Mekah dan Madinah mengajar Alquran di sana. Ia juga mengajarkan Alquran pada para jamaah di Kufah dan Basrah. Dia sempat belajar Qiraat kepada Alial-Hasan al-Basri, Abu ‘Aliyah, Sa’id bin Jabir, ‘Ashim bin Abu al-Najud, Abdullah bin Abu Ishaq al-Hadrami, Ibnu Katsir al-Makki, ‘Ikrimah Mawla Ibn Abas, Ibnu Mahishan, Nashr bin ‘Ashim, Yazid bin al-Qa’qa’ al-Madani, dan Yahya bin Ya’mar.
Ketujuh, Ibnu Amir al-Dimasyqi Abdullah Abu ‘Imran al-Yahshabi (8-118 H). Dia adalah imam Qiraat pendduk Syam. Belajar Qiraat secara langsung kepada Abu Darda, seorang pengajar Qiraat di lingkungan Syam, juga kepada Ali al-Mughirah bin Abu Syihab. Memegang jabatan qadi (hakim agung) di Damaskus setelah Abu Idris al-Khawlani, sekaligus menjadi imam di Masjid Agung Damaskus di mana khalifah Umar bin Abdul Aziz bermakmum kepadanya. Ibnu Amir adalah seorang imam yang sangat ‘alim, terpercaya, jujur, dan termasuk tabi’in terbaik.
Pandangan Ulama Modern Tentang Qiraat
Masalah Qiraat banyak mendapat perhatian kalangan ulama muslim modern, di antaranya adalah Dr. Abduh al-Rajihi dan Dr. Abdul Shabur al-Syahin.
Menurut al-Rajihi, tidak disangsikan lagi Qiraat memerankan suatu metode periwayatan bacaan yang tingkat kepercayaannya tidak bisa ditandingi bahkan oleh metode yang ada di zaman modern saat ini. Lebih lanjut menurut beliau, Qiraat Alquran adalah cermin ‘jujur’ yang merefleksikan kenyataan bahasa yang berkembang di semenanjung Arabia sebelum kedatangan Islam. Qiraat dapat dianggap sebagai sumber utama untuk mengetahui dialek-dialek Arab.
Sementara Dr. Abdul Shabur al-Syahin berpendapat bahwa Ilmu Qiraat Alquran–baik yang masyhur maupun yang syaz–merupakan salah satu ilmu yang dapat dijadikan pegangan dalam mempelajari bahasa Arab Fusha, karena periwayatannya merupakan suatu kesaksian yang sangat dipercaya terhadap segi fonologisnya, morfologis, sintaksis, dan linguistik secara umum, di berbagaه bahasa dan dialek Arab. Lebih lanjut al-Syahin menatakan bahwa jika kita sudah mengetahui bahwa Qiraat Alquran merupakan dokumen historis yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam kajian Fiqh Lughah Fusha dari semua seginya, suatu dokumen yang sampai kepada kita bentuk dan suaranya, dan diwarisi dari generasi ke generasi, kita pasti mengatahui pentingnya mengkaji Qiraat ini secara ilmiah. Qiraat-Qiraat ini, dengan segala perbedaan periwayatannya merupakan catatan yang sangat rinci terhadap standar-standar fonologis dan kebahasaan yang berlaku di lingkungan bangsa Arab. Tidak ada perbedaan di situ antara bacaan yang tujuh atau apa yang dinamakan dengan Qiraat syaz. Qiraat ini dinamakan syaz bukan karena lemah riwayatnya, juga bukan karena ia mengandung fenomena-fenomena dialek yang tidak umum dalam bahasa yang fasih. Ia dinamakan syaz karena berbeda dari qiraat yang tujuh.
Berikut ini kupasan tentang sebauh kitab tentang qiraat yang berjudul “Kitab al-Sab’ah Fil Qira’at” karya Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid al-Tamimi al-Baghdadi (245-324 H).
Di awal kitab ini, Mujahid menjelaskan bahwa banyak terjadi perbedaan bacaan (qiraat) di kalangan masyarakat sebagaimana perbedaan yang terjadi dalam bidang hukum. Banyak riwayat yang menjelaskan terjadinya perbedaan di kalangan sahabt dan tabiin, namun itu justeru memperlihatkan adanya keluwesan dan rahmat bagi umat Islam. Beberapa perbedaan qiraat yang dijelaskan oleh Mujahid antara lain sebagai berikut:
Pertama, suara (al-ashwat). Di sini ada beberapa hal yang dijelskan oleh Mujahid:
(a) Tentang idgham (memasukkan huruf ke huruf lain), nun mati dan tanwin. Seluruh quraa membaca secara terang nun mati dan tanwin ketika bertemu huruf-huruf: hamzah, ha (besar), ha (kecil), kha, ‘ayn, dan ghayn. Sementara itu jika bertemu huruf ra, lam, mim, ya, dan wawu, maka nun mati dan tanwin diidghamkan ke dalam huruf-huruf tersebut.
(b) Tentang hamzah. Abu ‘Amr misalnya, jika membaca Alquran dia tidak menghamzahkan setiap hamzah yang sukun. Misalnya QS. al-Baqarah (232): ذلك يوعظ به من كان منكم يؤمن بالله واليوم الآخر
ia membacanya يومن. Namun jika hamzah tersebut mati sebagai tanda jazam maka ia tetap membacanya, seperti pada QS. al-Maidah (101): يا أيها الذين أمنوا لا تسألوا عن أشياء إن تبد لكم تسؤكم
(c) Tentang bentuk kata dalam Qiraat, antara lain tentang “mengubah fathah menjadi dhammah”. Misalnya QS. al-Rum (54): ألله الذي خلقكم من ضعق ثم جعل من بعد ضعف قوة وشيبة
‘Ashim dan mazah membacanya dengan mem-fathah-kan huruf dhad (ضَعْفٍ). Sementara Ibnu Katsir , Nafi’, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Amir, dan Kisai membacanya dengan mendhammahkan semua huruf dhad (ضُعْفٍ).
Dalam QS. Yasin : (9) Allah berfirman : وجعلنا من بين أيديهم سدا ومن خلفهم سدا
Hamzah, Kisai, dan Hafsh berdasarkan riwayat yang mereka terima dari ‘Ashim, membacanya dengan men-fathah-kan huruf sin (سَدًّا) namun Ibnu Katsir, Nafi’ Abu ‘Amr, dan Abu Bakr, juga berdasarkan riwayat yang mereka terima dari ‘Ashim membacanya dengan men-dhammah-kan huruf sin (سُدًّا).
Ibnu Mujahid juga membicarakan tentang “mengubah sukun menjadi dhammah”. Misalnya QS. al-Kahfi : (44): هنالك الولية لله الحق هو خير ثوابا وخير عقبا
Ibnu Katsir, Nafi’, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Amir dan Kisai membacanya dengan men-dhammah-kan huruf ‘Qaf’ (عُقُباً), sementara ‘Ashim dan Hamzah me-sukun-kan huruf tersebut (عُقْبا).
Ada juga persoalan takhfif dan Tasydid. Misalnya QS. al-An’am (63-4): قل من ينجيكم من ظلمات البر والبحر تدعونه تضرعا وخفية لئن أنجـنا من هذه لنكونن من الشكرين قل الله ينجيكم منها ومن كل كرب ثم أنتم تشركون
Ibnu Katsir, Nafi’, Abu ‘Amr, dan Ibnu ‘Amir membacanya dengan men-tasydid-kan huruf Jim pada kalimat (قل من ينجيكم), dan mensukunkannya pada kalimat ُ(قلِ اللهُ يُنْجِيْكُمْ). Sementara ‘Ashim, Hamzah, dan Kisai mentasydidkan keduanya.
Ibnu Mujahid kemudian menjelaskan tentang soal fathah/dhammah huruf mudhara’ah. Misalnya dalam QS. al-A’raf (202): وإخوانهم يمدونهم في الغي ثم لا يقصرون
Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, ‘Ashim, Ibnu ‘Amir, Hamzah dan Kisai mem-fathah-kan huruf mudhara’ah ya dan men-dhammah-kan huruf mim pada kata (يمدونهم). Sementara hanya Nafi’ sendiri yang men-dhammah-kan huruf mudhara’ah ya dan men-kasrah-kan huruf mim sehingga terbaca (يُمِدذُونَهُمْ).
(d) Tentang ‘membuang satu vokal’ sebuah kata, dan konsekwensinya merubah bentuk kata tersebut. Misalnya QS. al-Fatehah (4): مالك يوم الدين
‘Ashim dan Kisai membacanya dengan alif pada kata (مَالِك) sedangkan imam-imam lainnya tanpa alif (مَلِك).
Juga dalam QS. al-Nisa (5): ولاتؤتوا السفهآء أموالكم التي جعل الله لكم قيما
Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, ‘Ashim, Hamzah, dan Kisai membaca dengan alif pada kata (قِيَاماً) , sementara Nafi’ dan Ibnu ‘Amir membacanya tanpa alif (قِيَماً).
Dalam QS. al-Nisa (43):
أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسآءَ
Ibnu Katsir, Nafi’, ‘Ashim, Abu ‘Amr, dan Ibnu ‘Amir membacanya dengan alif pada kata (لاَمَسْتُمُ), sementra Hamzah dan Kisai membacanya tanpa alif (لَمَسْتُمُ). Wallahu A’lam

Palu, Kampus STAIN Datokarama 03 Pebruari 2010
Referensi:  Dr. Mahmud Sulayman Yaqut / FLWIL

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s