SHALAT : SARANA KETENTRAMAN JIWA DALAM ISLAM

Didin Faqihuddin
Dosen STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Di Amerika berkembang apa yang disebut dengan meditasi transendental (transendental meditation) yang merupakan ‘trend’ impor dari India. Meditasi transendental ini adalah bentuk bidat (penyimpangan) dari Yoga. Sebagaimana penyimpangan-penyimpangan lain, meditasi transendental ini mendapat sambutan luas ditengah publik Amerika. Maka dibikinlah buku-buku dan majalah-majalah. Konferensi-konferensi banyak dilaksanakan, sehingga trend ini mendapatkan banyak pengikut, mengirimkan para misionarisnya keempat benua untuk memperkenalkan meditasi transendental ini.
Secara singkat, mazhab meditasi transendental ini mengajak setiap kita menyisihkan sedikit waktu setiap hari di mana kita melepaskan segala beban hidup dan kegelisahan jiwa, kemudian duduk dengan tenang dan bersandar dengan santai di sebuah kursi, menutup kedua mata, mengosongkan jiwa dari segala sesuatu bahkan dari jiwa kita sendiri untuk sampai kepada kekosongan, ketenangan….dan kedamaian dalam ketiadaan.
Misionaris meditasi ini memberikan setiap orang ‘amalan’ yang mesti dilafalkan secara terus menerus selama proses meditasi ini, yang biasanya berbahasa Sansekerta. Kalimat dalam ‘amalan’ ini sama sekali tidak ada manfaatnya bagi seorang murid (baca : pengikut) kecuali hanya sebagai alat bantu untuk lebih bisa mengeluarkan jiwanya, melepaskannya dari alam materi, keluar dari segala gundah gulana kehidupan menuju sesuatu yang tentram dan damai.
Seruan ini adalah semacam seruan ‘keheningan mental’ di mana jiwa mendapatkan ketenangan dan lepas dari segala bebannya. Misionaris pemandu meditasi ini sering membawa buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah yang berisi penegasan banyaknya kesembuhan yang dicapai pelaku meditasi dari berbagai penyakit seperti tekanan darah, dipteri, gangguan hormon, dan sakit kepala menahun setelah melakukan meditasi ini selama beberapa bulan.
Dalam salah satu penelitian, seorang dokter mengikuti tekanan darah seorang pasien selama yang bersangkutan duduk melakukan meditasi. Lalu alat pengukur memperlihatkan adanya penurunan tekanan darah secara signifikan, turunnya kecepatan detak jantung, dan perubahan campuran kimiawi darah sehingga terjadi keseimbangan yang terus meningkat.
Dalam Islam, persoalan mencapai ketenangan seperti diajarkan oleh meditasi ini bukanlah barang baru. Islam bahkan secara praktis mengajarkan umatnya untuk melakukan itu lima kali sehari dalam bentuk shalat. Pencapaian ketenangan itu adalah bagian dari shalat yang diajarkan Islam melalui Nabi Muhammad saw.
Shalat dalam ajaran Islam, dimulai dengan syarat psikologis ini, yaitu bahwa pelakunya secara utuh harus mengosongkan diri dari segala beban kehidupannya, melepaskannya dan kemudian mengosongkan jiwanya dari segala sifat buruk rakus, tamak, hawa nafsu dlsb. Lalu ia mengucapkan ألله أكبر (Allah Maha Besar)..artinya Allah lebih basar, lebih hebat dan lebih segala-galanya dari yang ada dalam kehidupan dunia fana ini. Dalam shalatnya, seorang muslim khusyu’ menghadap Tuhannya dengan penuh ketundukan yang sempurna, seolah ia keluar secara total dari alam dunia ini.
Namun shalat dalam Islam berbeda dengan meditasi transendental. Shalat bukanlah keluar dari dunia kegelisahan menuju alam kehampaan-ketiadaan. Shalat adalah keluar untuk menuju kehadiran Ketuhanan (al-hadhrah al-Ilahiyah), kehadiran Zat yang Maha Kaya. Kita umat muslim tidak menggunakan amalan-amalan Sansekerta seperti maditasi itu, tetapi kita memuji Tuhan dengan nama-namaNya yang indah agar dalam hati kita terpatri rasa perasaan kehadiran Tuhan yang maha Indah yang tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya.
Shalat dalam Islam juga memberikan ketenangan dan kedamaian jiwa seperti yang dajarkan oleh meditasi transendental itu. Bahkan lebih dari itu, shalat bukan hanya mengajak pada ‘keheningan mental’ namun ia juga merupakan seruan untuk membuka hati dan jiwa agar sesuatu yang baru datang mengisinya. Sesuatu itu adalah cahaya Tuhan.
Shalat adalah saat yang sangat indah karena ia kembali menghubungankan antara seseorang mu’min dengan Zat yang menjadi sumber keberadaannya. Dialah Allah swt. Keterpisahan dari dunia yang fana ini mengantarkannya berhubungan dengan dunia kesempurnaan, dan oleh karenanya maka shalat akan memberikan efek berlipat kepada pelakunya. Seorang muslim, jika melakukan shalat secara utuh dan sempurna maka shalatnya itu akan menjadi penyembuh dari segala penyakit yang disebutkan di atas.
Jika dilakukan penelitian apa yang akan terjadi pada diri seseorang yang melakukan shalat, yang berhubungan dengan tekanan darah, gelombang listrik otak, dan campuran kimiawi darah, tentu akan ditemukan hasil yang lebih mencengangkan dibandingkan apa yang terjadi pada seseorang yang melakukan meditasi.
Orang Barat salah jika mengira bahwa shalat dalam Islam hanyalah gerakan-gerakan badan tanpa makna. Shalat memang berupa gerakan, namun gerakan itu adalah simbol-simbol yang sarat dengan makna. Ia adalah sikap untuk membesarkan Zat Tuhan yang dimulai dengan kalimat takbir ألله أكبر (Allah Maha Besar), lalu diikuti ruku’ dan sujud dengan cara merendahkan diri dan meletakkan kening di tanah, tempat paling bawah. Inilah bentuk penghambaan total kepada Zat Yang Maha Kuasa. Dari situ kemudian ketenangan dan kedamaian jiwa bisa diperoleh secara utuh, dan yang tersisa adalah rasa keagungan Tuhan.
Wallahu A’lam.
Palu, 07 Pebruari 2010
Referensi : Ma Huwa al-Islam? / Mustafa Mahmud

7 Komentar

Filed under Uncategorized

7 responses to “SHALAT : SARANA KETENTRAMAN JIWA DALAM ISLAM

  1. Ya Allah tetapkan hatiku agar slalu dalam agamamu Ya Allah

  2. shalat adalah jiwa itu sendiri …

  3. Subhanallah… Islam is the best. Sudah semestinya tiap muslim bersyukur dan bangga dengan kesempurnaan Islam dalam hal apapun. Tulisan yang buagus mas… izin nyimpan artikelnya, maturnuwun.

  4. ajaran hindu yg berenkarnasi ajaran budha, sdh lahih ribuan thun yg lalu,sblom anda lahir, menyebar ke kawasn eropa, arab,mesir,afganistan, dn sluruh asia, 80% penybarn ny, dn sngt lambat krn tdk scanggih skarang, bs lwt tv buku,internet, anda bru lahir kmrin sdh bs benci dan anggp kami kafir,krn cukup 1 generasi sj, klu ortu anda tidak paham ajaran nenek moyang mrka, smua ajaran hindu yg rumit smua di jiplak kaum muslim , cm ego dan munafik yg di ajarkan, keliing kaabah 7 x , dan lambang bulan sabit,adalah ajaran civa hindu di himalaya, sbgi lmbg civa,istana raja india ribuan tahun,adalah di mekah, pas di kaabah, bisa cek di musium di turki, ata di wikilipedia, silahkan, kami harap anda hormati leluhur mu, om namobudhayana,om shanti3 om, yavur veda

    • Komentar saudara Nyoman sangat berlebihan, untuk tidak mengatakan “pedas”. Coba baca baik-baik tulisan saya, tidak ada kata kafir mengkafirkan. Anda sendiri yang menuliskan kata-kata itu. Lagi pula, kalau mau jujur, hampir setiap agama memiliki doktrin “truth claim” sehingga ada kecenderungan untuk menyebut dirinya yang benar, dan yang lain salah. Termasuk agama Hindu. Tetapi itu tidak menjadi soal sejauh tidak diejawantahkan dalam bentuk pemaksaan dan anarkisme. Tulisan saya ini dialamatkan untuk pembaca seiman dengan saya. Soal ka’bah dan bulan sabit? Itu pandangan saudara. Kami lebih tahu tentang agama kami. Tks

  5. Jodi

    Meditasi itu banyak macamnya ada yg nyebut Nama Tuhan ada yg tidak… demikian juga dengan Yoga… Tidak usah ngajarin Zat Tuhan ini itu… Agama Hindu sudah ada ribuan tahun bahkan jutaan tahun sebelum agama samawi muncul, jadi sedikit banyak unsur2 agama samawi berasal dari Hindu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s