MENETAPKAN WUJUD ALLAH

Didin Faqihuddin
Alumnus Pondok Pesantren Darul ‘Amal Buni Bakti Bekasi
Dosen STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Salah satu tugas seorang juru dakwah dalam Islam adalah memulainya dengan persoalan menetapkan wujud (keberadaan) Allah. Inilah pintu pertama untuk mempercayai Islam. Jika pintu ini gagal dilewati, maka dikhawatirkan objek dakwah tidak bisa masuk ke dalam Islam. Pembicaraan tentang persoalan penetapan wujud Allah ini harus dilakukan dengan cara yang sistematis dan jelas. Dalam menetapkan adanya Allah, kita dapat menggunakan tiga asumsi tentang wujud alam ini. Ketiga asumsi itu adalah: 1) Alam mewujudkan dirinya sendiri; 2) Alam ada secara kebetulan; dan 3) Ada kekuatan di balik alam yang telah mewujudkannya.
Asumsi pertama, bahwa alam mewujudkan dirinya sendiri, tidak mungkin muncul dari seorang yang berakal sehat. Mengapa? Karena benda-benda yang wujud (being) tidak mempunyai kekuatan untuk berbuat (melakukan sesuatu) kecuali setelah ia ada. Jadi bagaimana mungkin alam ini menciptakan dirinya sendiri, padahal sebelumnya ia belum ada?
Asumsi pertama ini secara pasti tertolak dengan sendirinya karena ia bertentangan dengan “hukum kausalitas” yang merupakan prinsip pertama akal manusia yang menolak adanya sesuatu tanpa sebab, sehingga adanya penyebab wujud alam ini menjadi sesuatu yang mesti dan tidak disangsikan lagi. Sejarawan menyebutkan bahwa orang-orang Zindiq pernah membuat janji dengan Imam Abu Hanifah untuk berdebat tentang Allah. Ketika tiba masa perjanjian itu, Imam Abu Hanifah datang terlambat, dan hampir saja orang-orang Zindiq itu tidak mengharapkan kedatangan Imam Abu Hanifah. Setelah beliau sampai di tempat, orang-orang Zindiq mulai mencaci Imam sebagai orang yang tidak bisa dipegang janjinya sehingga terlambat datang.
Mendengar caci maki itu Imam Abu Hanifah mulai angkat bicara. Beliau meminta maaf atas keterlambatannya memenuhi janji on time. Namun Imam Abu Hanifah menyampaikan alasan keterlambatannya demikian: “Sebenarnya aku sudah berusaha untuk datang on time. Namun aku tertahan di tepi sungai Dajlah karena tidak ada tukang perahu yang dapat membantuku menyebarangi sungai itu. Aku hampir putus asa karena tidak juga muncul tukang perahu sehingga aku memutuskan untuk pulang saja dan membatalkan perjanjian kita. Namun baru saja kakiku melangkah untuk pulang, tiba-tiba aku melihat sebatang pohon mengambang di atas sungai Dajlah dan perlahan namun pasti ia mengarah ke tepi sungai tempatku berada. Aku semakin terkejut karena perlahan-lahan batang pohon itu serta merta nerubah menjadi sebuah perahu. Dengan perahu itulah kemudian aku melintasi sungai Dajlah dan sampai di hadapan kalian sekarang”
Orang-orang Zindiq sangat marah mendengar cerita Imam Abu Hanifah: “Wahai tuan Imam tidak cukupkah anda menyakiti perasaan kami dengan keterlambatan anda memenuhi janji yang telah kita sepakati. Janganlah lagi anda sakiti kami dengan cerita bohongmu itu untuk menutupi kesalahanmu. Bagaimana mungkin sebatang pohon datang menghampirimu lalu merbah dirinya menjadi perahu? Ataukah anda mengira kami ini orang-orang bodoh?
Lalu Imam Abu Hanifah menjawab: “Saudara-saudara sekalian, tidak ada maksudku untuk menganggap kalian bodoh. Ketidakpercayaan kalian terhadap cerita yang aku sampaikan jelas menunjukkan bahwa kalian adalah orang-orang cerdas. Namun yang aku herankan adalah jika kalian tidak mempercayai adanya sebatang pohon yang mampu merubah dirinya sendiri menjadi sebuah perahu, lalu bagaimana mungkin kalian begitu yakin bahwa alam yang sangat besar ini terjadi dengan sendirinya dan kalian menolak keberadaan Allah sebagai penciptanya?”
Mendengar ucapan sang Imam, kaum Zindiq ini begitu tersentak. Mereka membenarkan apa yang terakhir disampaikan oleh sang Imam. Dan akhirnya mereka mengakui kesalahan mereka untuk kemudian masuk Islam di depan Imam Abu Hanifah.
Asumsi kedua, bahwa alam ini ada secara kebetulan, hanya dipercayai oleh kaum materialis. Sesungguhnya tidak pernah ada sesuatu yang dinamakan ‘kebetulan’. Manusia mengatakan ‘kebetulan’ karena ia tidak mengetahui ‘sebab’-nya, namun setelah ia mengetahuinya, ia pun kemudian mengingkari ‘kebetulan’ itu. Seorang ilmuwan bernama Chris Morison membuat contoh sederhana untuk menolak prinsip kebetulan ini. Ia berkata: “Ambillah sepuluh potong kayu kecil yang sama ukurannya. Tulislah pada masing-masing potongan kayu masing-masing satu angka sehingga akan ada angka dari satu sampai sepuluh. Kemudian masukan sepuluh potong kayu itu dalam kantong baju, dan mulai diacak-acak. Setelah itu mulailah ambil satu persatu potongan-potongan kayu itu, dengan catatan harus berurut. Ambilan pertama adalah angka satu, ambilan kedua adalah angka dua, dan seterusnya sampai ambilan kesepuluh yang adalah angka sepuluh. Pertanyaannya adalah mungkinkah itu terjadi, sepuluh kali ambilan bisa berurutan? Jawabannya sangat jauh dari kemungkinan terjadi. Jika pun terjadi maka perbandingannya adalah 1 : 1.000.000.000
Tujuan dari perumpamaan sederhana itu adalah untuk menunjukkan bahwa ‘kebetulan’ dalam kaitannya dengan wujud alam semesta ini sangat mustahil, karena tidak mungkin alam semesta yang demikian besar dan teliti ini terjadi secara kebetulan. Asumsi kebetulan terhadap wujud alam semesta ini hanya muncul dari orang-orang yang sombong. Cukuplah bagi kita melihat ketelitian alam semesta ini secara ilmiah sehingga akan hilang keyakinan salah tentang ‘kebetulan’ itu.
Berikut ini adalah sebagian contoh kecermatan dan ketelitian dalam alam semsta yang sulit untuk mengatakannya sebagai kebetulan: 1) seandainya kulit bumi lkebih tebal dari yang ada sekarang ini, maka oksigen kedua dari dari H20 akan menyusut sedikir demi sedikit sehingg tidak akan ada kehidupan; 2) seandainya atmosfir ini sedikit lebih tinggi dari yang ada sekarang, maka sebagian dari jutaan meteor yang terbakar setiap harinya akan jatih menimpa seluruh bagian permukaan bumi dan akan membakar sesuat yang bisa terbakar; 3)sekiranya matahari mengurangi sinarnya setengah dari yang ada sekarang pastilah kita akan membeku. Sebaliknya seanainya ia menambahkan setengah dari yang ada sekarang tentu sudah sejak alam kita telah menjadi debu; 4) sekiranya jarak bulan menjauh 20,000 mil dari yang ada sekarang, maka bumi akan tenggelam oleh air; 5) sekiranya oksigen di atmosfer berubah menjadi 50% dari sekitar 21% yang ada sekarang ini, maka benda-benda di bumi yang mudah terbakar akan terbakar; 6) seandainya air yang ada di samudera-samudera dunia ini manis maka kehidupan yang ada di daratan akan menjadi busuk dan lapuk, karena garamlah yang mencegah terjadinya melapuk dan membusuknya material bumi.
Oleh karena itulah maka yang tersisa hanya asumsi ketiga bahwa di balik alam semesta ini, ada satu Zat yang telah menciptakannya. Inilah asumsi yang diyakini oleh orang-orang beriman.
Namun persoalannya tidak berhenti sampai di situ. Katakanlah kita menerima asumsi ketiga ini, bahwa di balik semesta alam ada sang pencipta yaitu Allah, namun boleh jadi akan ada yang bertanya: “tidak bisakah kita bisa melihat pencipta itu dengan indera kita?”
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita dapat menjelaskan kepaa penanya bahwa indera kita, yang kita andalkan untuk mengenal wujud sekitar kita, sesungguhnya memiliki keterbatasan kualitas dan kuantitas, antara lain: a) ruang kosmis dipenuhi oleh benda-benda yang tidak dapat kita lihat dengan mata kepala kita; b) ruang kosmis juga dipenuhi oleh suara-suara yang di atas atau di bawah tingkatan pendengaran kita, yang hanya bisa kita dengar dengan alat bantu elektronik khusus; dan c) tanah yang kita pijak ini dipenuhi dengan barang tambang yang tidak bisa kita lihat dengan mata kita tanpa bantuan alat khusus.
Jika demikian, bahwa indera kita tidak mampu menangkap sesuatu yang riil-kecil di sekeliling kita, maka apakah mungkin ia akan mampu menangkap zat yang ada di balik alam semesta? Apalagi Dialah Zat yang menciptakan alam semesta ini, yang tidak ada sesuatupun yang setara denganNya? Oleh karena itu, maka sikap kita adalah meyakini keberadaanNya melalui bukti-bukti yang menjadi dalil keberadaanNya. Wallahu A’lam
Palu, Kampus STAIN Datokarama, 07 Pebruari 2010

Referensi: Kayfa Nad’u Ila al-Islam / Fathi Yakan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s