ALI DAN SEORANG TUA NASRANI

Didin Faqihuddin

Dikisahkan bahwa suatu ketika Ali bin Abi Thalib hendak menunaikan shalat subuh di masjid Nabi. Ia pun bergegas mempercepat langkahnya. Di jalan ia melihat seorang yang sudah tua tengah berjalan ke arah yang sama. Ali tidak berani mendahului orang itu karena menghormatinya sebagai orang yang sudah tua. Karena sudah tua, tentu jalannya sangat pelan, otomatis hal ini membuat Ali lambat datang ke masjid. Bahkan matahari hampir terbit. Mendekati pintu masjid, ternyata orang tua itu tidak masuk ke dalam masjid. Sadarlah Ali bahwa ternyata dia adalah seorang Nasrani.
Masuk ke dalam masjid, Ali mendapati Nabi yang mengimami shalat tengah ruku’. Ruku’nya cukup lama hampir dua kali lebih lama dari ruku’ yang biasa Nabi lakukan. Dalam hatinya, Ali memuji Tuhan karena ia tidak ketinggalan raka’at. Selesai shalat, para sahabat bertanya kepada Nabi mengapa beliau tidak biasanya melakukan ruku’ yang cukup lama. Nabi menjawab:
“Ketika aku tengah ruku’ dan membaca “subhana rabbiy al-‘azhim wa bi hamdihi” lalu aku bermaksud mengangkat kepalaku, tiba-tiba datang Malaikat Jibril meletakkan sayapnya di atas punggungku. Setelah ia melepaskan tekanannya. Akupun mengangkat kepalaku”
“Apa yang menyebabkan Jibril melakukan itu?”
“Aku tidak menanyakan alasannya mengapa Jibril melakukan itu. Dialah sendiri yang menjelaskan kepadaku: “Hai Muhammad, sesungguhnya ‘Ali telah bergegas datang ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Namun karena di jalan ia berjumpa dengan seorang tua, ia tidak mau mendahuluinya karena menghormatinya. Akibatnya Ali terlambat datang. Allah memerintahkan agar aku menekan punggungmu saat ruku’ agar Ali tidak tidak ketinggalan rakaat. Ini sebenarnya tidak mengagumkan. Yang lebih mengagumkan adalah bahwa Allah memerintahkan malaikat Mikail untuk menahan matahari dengan sayapnya agar jangan dulu terbit sehingga Ali bisa mencapai masjid dan melakukan shalat jama’ah. Derajat ini Ali dapatkan karena Ali menghormati orang tua, meskipun ia seorang Nasrani”. Wallahu A’lam…
Palu, Kampus STAIN Datokarama,10  Pebruari 2010
Referensi: al-Mawa’izh al-‘Ushfuriyah / Syeikh Muhammad bin Abu Bakr

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s