BAHASA ARAB DAN BAHASA-BAHASA SEMITIK. Bagian Kedua

Didin Faqihuddin
Alumnus PPS. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Dosen STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Bersama dengan dimulainya masa Hellenisme, berakhirlah masa hidup bahasa Ibrani, oleh karena sebagian besar orang-orang Yahudi yang hijrah ke arah Barat pada saat itu tidak mampu menjaga bahasa asli mereka di tengah-tengah masyarakat yang berbahasa Yunani. Demikian pula halnya dengan anak cucu mereka yang masih tinggal di tanah airnya, mereka berhadapan dengan bahasa Aramea yang begitu luas dipakai, yang membuat mereka juga akhirnya dengan mudah turut menggunakan bahasa ini, mengantikan bahasa mereka sendiri yaitu bahasa Ibrani, oleh karena kedua bahasa ini memiliki kedekatan yang sangat erat.
Bahasa Ibrani selama beberapa abad setelah itu masih menjadi bahasa agama dan sekolah. Teks-teks keagamaan masih ditulis dengan bahasa Ibrani, bahkanpun setelah bahasa ini punah masih cukup lama digunakan orang-orang tertentu yang menguasainya. Karakteristik bahasa sastra ini sangat bergantung pada perhatian para pengarang terhadap sastra Ibrani kuno. Kitab “Ibnu Sirah” yang ditulis sekitar tahun 200 SM ditulis dengan bahasa Ibrani murni dan sangat bagus, sementara kitab-kitab yang hampir sezaman dengannya, atau ditulis beberapa waktu setelahnya, di dalamnya terdapat pengaruh bahasa Aramea yang sangat kuat, seperti kitab Eshter dan beberapa Mazmur Daud.
Keterpengaruhan oleh bahasa Aramea ini tumbuh setiap harinya. Perdebatan hukum dan ritual di antara mazhab-mazhab fikih Yahudi pada abad pertama masehi, dan arsip dalam “Talmud” Babilonia dan Palestina, ditulis dengan bahasa Ibrani, namun kebanyakan kosa katanya dipinjam dari bahasa Aramea.
Hilangnya kekuasaan politik Yahudi, penghancuran Baitul Maqdis, dan pembakaran Kuil Sulayman oleh bangsa Romawi pada tahun 70 M adalah beberapa peristiwa yang yang sangat besar pengaruhnya terhadap sejarah keagamaan dan kebahasaan Yahudi, sekaligus mengubah perjalanan sejarahnya. Diaspora bangsa Yahudi ke berbagai negara membuat mereka terpengaruh oleh bahasa-bahasa negara yang mereka tuju. Dan yang paling banyak mempengaruhi bahasa mereka adalah bahasa Arab, setelah terjadi al-Fath al-Islamiy. Tingkat keterpengaruhan ini bahkan sampai pada keadaan di mana orang-orang Yahudi menuliskan kaidah gramatikal mereka seperti kaidah gramatikal bahasa Arab. Bahkan juga para penyair mereka wazan-wazan syair Arab sebagai pola-pola dalam syair-syair mereka. Bahasa Ibrani pada masa ini dinamakan dengan bahasa Ibrani “Tengah” yang tentu saja bukan bahasa Ibrani zaman modern yang sangat terpengaruh oleh bahasa-bahasa Eropa, baik dalam kosa kata maupun gaya bahasa.
Di antara dialek-dialek Kan’aniyah ada yang disebut “The Amarna Letters” yaitu surat-surat yang ditemukan di bukit Amarna, yang diperkirakan berasal dari tahun 1425 – 1350 SM, yang dikirimkan oleh para pemimpin Suria dan Palestina kepada Fir’aun Mesir pada masa itu, dengan menggunakan bahasa Asyiria, dan di dalamnya terdapat komentar-komentar dengan bahasa Kan’aniah.
Bahasa Muabiyah juga dianggap sebagai bahasa Kan’aniyah Selatan. Bahasa ini dikenal dari prasasti “Misya’” raja Muab, yang ditemukan pada tahun 1868 M di “Diban” wilayah Muab kuno. Prasati ini menceritakan tentang peperangan raja Misya’ bersama raja Israil yang bernama ‘Umri. Menurut kesepakatan para arkeolog, prasasti ini berasal dari tahun 842 SM. Sekarang prasasti ini disimpan di Museum Louvere, Perancis.
Yang termasuk bahasa Kan’aniyah Selatan adalah bahasa Poenica yang sampai kepada kita dalam beberapa prasasti, di antaranya adalah prasasti-prasasti raja-raja Biblus, seperti prasasti “Syafat Ba’al” (abad XIII SM), prasasti Akhiram (+ 1100 SM), dan prasasti “Akhimilk” (+ 1000 SM). Prasasti terpenting yang ditulis dengan bahasa Poenica adalah prasasti raja “Kilamu” (+ 900 SM)salah seorang pangeran “Sam’al”. prasasti ini ditemukan di bukit Zanjirli di Suria, dan saat ini disimpan di Museum Berlin Timur.
Orang-orang Poenicia menyebarkan bahasa mereka melalui imperialisme yang banyak mereka lakukan di negeri-negeri terpenting pantai Laut Tengah, namun pada kenyataannya mereka tidak mendapatkan wilayah yang mereka jadikan sebagai tempat tinggal mereka kecuali di utara Afrika, di wilayah Chartage, dan di sana dinamakan dengan bahasa Buniah. Bahasa ini tidak kita kenal kecuali dari drama syair komedi dari seorang penyair Romawi bernama Plautus
Bagian kedua dari bahasa Semitik Barat Laut adalah bahasa Aramea. Di antara prasasti-prasasti kuno yang tertulis dengan bahasa ini adalah prasasti “Tall Helf” di sungai Khaubur (+ 900-850 SM), prasasti raja Banamo I (+ 800-750 SM), prasasti raja Banamo II (+ 750-700 SM). Masa kuno ini diikuti oleh masa lainnya di mana bahasa Aramea dikenal dengan nama “Aramea Negara”; Akmenon dari Persia, dan khususnya raja Daryuwis I telah memasukkan bahasa Aramea sebagai bahasa untuk menulis diwan-diwan di negara Persia, sebagaimana tampak pada prasasti “Beihistun” yang ditemukan di Iran pada paruh pertama abad XIX M.
Di antara yang dianggap termasuk bahasa Aramea Negara adalah bagian-bagian yang tertulis dengan bahasa Aramea pada Kitab Perjanjian Lama (Perjalanan Danial 2/4-7/28; Perjalanan Ezra 4/8-6/18; Perjalanan Irmia 10/11).
Demikian juga yang ditulis dengan bahasa Aramea adalah “Lembar-lembar Papirus” yang ditemukan di Pulau Feilah di Aswan (kurang lebih 100 papirus yang berasal dari tahun 495-400 SM).
“Tarjum” yang merupakan terjemah dari Kitab Perjanjian Lama-seperti disebutkan di awal-juga dibukukan dengan bahasa Aramea (diterjemahkan dari bahasa Ibrani). Ini terjadi ketika bahasa Ibrani mengalami kemunduran dan tidak lagi dipahami oleh bangsa Yahudi. Kebiasaan yang beralku adalah Perjanjian Lama itu dibacakan kuat-kuat di altar-altar Yahuhdi dan setiap ayatnya langsung diikuti oleh terjemahnya dalam bahasa Aramea. Penerjemahan ini berlangsung secara oral dalam waktu yang lama, dan belum dibukukan kecuali setelah undang-undang yang disucikan. Tarjum yang paling pertama dibukukan adalah Tarjum Onkelos yang pada abad V SM belum sempurna penulisannya.
Orang-orang Samaritan juga berbicara dengan bahasa Aramea. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang hanya mempercayai Taurat (yaitu Perjalanan Musa yang lima) dan mereka terjemahkan ke dalam bahasa mereka.Namun terjemahannya sangat buruk karena sifatnya yang tekstual Ibrani.
Yang juga ditulis dengan bahasa Aramea adalah prasasti-prasasti Nabatean, Palmyra (kota kuno Syiria), dan prasati-prasasti Sahara Sinai yang berasal dari abad I SM – IV M.
Di antara dialek-dialek Aramea adalah apa yang dikenal dengan bahasa Munda’iyah, yaitu dialek sekelompok ahli makrifah Kristen yang hingga saat ini masih ditemukan di selatan Irak. Dialek ini adalah dialek murni yang kata-kata dan strukturnya tidak bercampur dengan bahasa Ibrani atau bahasa-bahasa lain.
Dialek Aramea yang paling penting adalah Syriac. Orang-orang Aramea menamakan diri mereka sebagai orang Syrian, setelah mereka memeluk agama Kristen; karena nama bangsa sebelumnya menjadi aib yang menunjukkan pada kekufuran, persis seperti “Helenis” bagi bangsa Yunani.
Bahasa Syriac, mengikuti pembagian gereja Kristen, terbagi kepada Syriac Timur, yaitu bahasa Syriac orang-orang Kristen pengikut ajaran-ajaran Nestorius (mereka disebut dengan kaum Nestorian), dan Syriac Barat, yaitu bahasa Syriac orang-orang Kristen pengikut ajaran-ajaran Ya’qub al-Barda’i (mereka disebut Yacobian).
Pembebasan oleh bangsa Arab (al-Fath al-‘Arabiy) telah mengakibatkan terjadinya pemusanahan secara drastis bahasa Aramea dari negara-negara yang menggunakan bahasa ini. Hanya sedikit saja yang selamat, yaitu wilayah-wilayah pegunungan yang sangat jauh seperti desa Ma’lulah dekat Damaskus, Tour Abidin di Irak, dan tempat-tempat lain yang masih menggunakan bahasa Aramea modern, yang banyak bercampur dengan ungkapan-ungkapan bahasa Arab, Turki, Kurdi, dll.
Sekarang kita sampai pada bagian bahasa Semitik Barat Daya, yang mencakup dua bahasa yaitu bahasa Arab dan bahasa Abysinia (Ethiopia). Abysinia adalah bahasa bangsa Semit yang keluar dari bagian selatan jazirah Arabia ke negara-negara yang berhadapan dengannya yaitu Abysinia, yang kemudian dijajahnya dan berasimilasi secara erat dengan penduduknya, orang-orang Hamitic.
Kita tidak mengetahui kapan bangsa Semitik ini migrasi ke sana. Kuat dugaan bahwa itu terjadi selama beberapa masa jauh sebelum kelahiran Nabi Isa as.bahasa mereka dinamakan Ja’ziyah sebagai nisbah kepada nama bangsu kuno, sebagaimana juga dinamakan dengan nama yang diambil sendiri oleh orang-orang Abysinia, dari bahasa Yunani, yaitu “Ethiopia”. Teks-teks yang tertulis dengan bahasa ini yang ada di tangan kita berasal dari tahun 350 M.
Bahasa Ja’ziyah ini tidak bisa berumur panjang. Ketika masuk abad XII M, banyak terjadi kekacauan politik di tengah-tengan bangsa Ja’ziyah, dan kemudian bahasanya terpecah menjadi beberapa dialek, yang paling menonjol di antaranya adalah dialek Amhariyah, yaitu sebuah dialek yang unsur Hamitiknya sangat kental. Pengaruh Hamitik ini tampak begitu jelas terlihat pada struktur kalimat yang hampir mengubah semua kaidah bahasa aslinya. Demikian pula persoalan kata ganti nama yang tidak tampak pada berbagai bahasa Semitik, kecuali sedikit, tampak pada bahasa Amhariyah ini. Sementara dalam hal kosa kata, sebagiannya dipinjam dari bahasa Hamitik, sementara sebagian lain yang murni bahasa Semitik telah jauh dari aslinya karena banyaknya perubahan yang terjadi.
Sedangkan bahasa Arab terbagi menjadi dua: bahasa Arab Selatan dan bahasa Arab Utara. Yang pertama, di kalangan linguis Arab dikenal dengan bahasa Himyariyah, berasal dari Yaman dan selatan jazirah Arabia, terbagi menjadi dua dialek yaitu Saba’iyah dan Ma’iniyah. Dari kedua dialek ini banyak prasasti yang sampai ke tangan kita, berasal dari masa abad XII SM, dan abad VI M.

Sementara bahasa Arab Utara adalah bahasa pertengahan jazirah Arabia dan bagian utaranya. Bahasa inilah yang kita kenal dengan bahasa Arab fusha. Bahasa ini abadi karena menjadi media tulis kitab suci Alquran sehingga ia tersebar luas, bahkan bahasa dunia yang paling luas tersebar ke mana-mana. Di samping bahasa Arab fusha ini, ada banyak dialek Arab di jazira Arabia, namun pengetahuan kita tentang hal itu tidak begitu banyak karena kurangnya perhatian dari kalangan linguis Arab untuk mengkajinya. Wallahu A’lam….To be Continued
Palu, 12 Pebruari 2010

Referensi:  Dr. Ramdhan Abd. al-Tawwab / FFFA

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s