BAHASA ARAB DAN BAHASA-BAHASA SEMITIK. Bagian Ketiga

Didin Faqihuddin
Dosen STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Negara Asal Bangsa Semitik
Ada beberapa pendapat dan teori para ahli tentang masalah ini. Kajian ilmiah mengenai asal mula bangsa Semitik terbagi menjadi beberapa mazhab:
Pertama, Mazhab Afrika, dengan tokohnya Theodore Noldekhe yang mengatakan bahwa kedekatan eksistensial antara Semitik dan Hamitik mengundang kita untuk meyakini bahwa negara asal bangsa Semitik adalah Afrika, karena aneh jika ada yang berpendapat bahwa bangsa Hamitk mempunyai tanah air asal selain benua hitam. Noldekhe mendasarkan pendapatnya ini pada kemiripan sifat alamiah antara bangsa Hamitik dan bangsa Semitik, khususnya penduduk bagian selatan Jazirah Arabia. Noeldekhe mengatakan bahwa otot kaki bangsa-bangsa Semitik kecil sama persis dengan penduduk asli Afrika, sebagaimana kedua bangsa memiliki kemiripan pada rambut kepala dan penampakan rahang. Namun Noeldekhe buru-buru mengatakan bahwa pendapatnya ini hanyalah asumsi yang bisa memiliki kelemahan.
Teori ini tidak lepas dari kritik yaitu “bagaimana bisa semua bahasa Semitik menghilang dari wilayah Afrika dan tidak muncul kembali kecuali pada wilayah-wilayah jajahan Phoenicia di wilayah pantai, terutama di Cartaghe Tunis, dan ketika terjadi pembebasan bangsa Arab (al-Fat al-Arabi) pada abad VII M. argumentasi ini sangat kuat dan tidak ada yang bisa menolaknya.
Kedua, Mazhab Armenian, dengan tokohnya Ernest Renan. Bersama pendukungnya, Renan berpendapat bahwa bangsa Semitik datang dari tempat-tempat tertentu dari bangsa-bangsa Armenia. Pendapat ini bersumber dari Genesis (10/22-24; 11/12) yang banyak merujuk bangsa-bangsa ini ke Irfiksyad yang terletak di perbatasan Armenia dan Kurdistan.
Tampaknya mazhab ini mendasarkan pendapatnya pada apa yang dituturkan dalam kitab Taurat (Genesis 8/4) yaitu bahwa perahu Nuh mendarat di suatu tempat dekat Irfiksyad. Kelemahan pendapat ini adalah bahwa sekiranya kita menerimanya sebagai suatu kontroversi dan tidak didiskusikan, maka hal itu akan berimbas bahwa dataran-dataran tinggi Kurdistan adalah buaian (tempat kelahiran) seluruh umat manusia, bukan hanya bangsa Semitik, oleh karena yang turun dari bahtera Nuh di tempat yang diasumsikan ini adalah: Nuh dan ketiga anaknya (Sam, Ham, dan Yafits).
Lebih dari itu pengarang Genesis tidak bersandar pada bukti-bukti ilmiah yang meyakinkan, namun malah mengambil pendapat para tukang cerita. Pendapat mereka mengenai tempat mendaratnya perahu Nuh adalah pendapat yang sangat imajinatif, lebih-lebih sangat bertentangan dengan pendapat lain dalam Genesis (11/1) yang merujuk pada sumber-sumber lain, menyebutkan bahwa semua bangsa, termasuk di antaranya juga adalah bangsa Semitik, pada asalnya berasal dari Babilonia.
Ketiga, Mazhab Babilonia. Di antara tokohnya adalah Ignatius Guide dan Frith Homel. Guide, dalam kajiannya yang ia terbitkan di Roma tahun 1878/1879 M, berusaha untuk membuktikan bahwa tanah air asli bangsa Semitik terletak di bawah Eufrat. Guide ingin menegaskan bahwa konsep-konsep geografis, flora dan fauna yang diungkapkan di setiap bahasa semitik dengan kata-kata yang sama, tidak menunjuk kecuali pada kondisi-kondisi alamiah di wilayah itu.
Mazhab ini mendasarkan pendapatnya pada kajian tentang kosa kata-kosa kata bahasa-bahasa Semitik. Guide misalnya meneliti kata نَهَرٌ (sungai) yang hampir sama di semua bahasa Semitik. Sementara kata yang menunjukkan makna gunung, berbeda-beda di antara bahasa-bahasa itu: جَبَلٌ dalam bahasa Arab, هَرْ dalam bahasa Ibrani, طُورا dalam bahasa Aramea, dan شَد dalam bahasa Akadia.
Setelah orientalis ini membanding-bandingkan banyak kata dalam bidang barang tambang, tumbuh-tumbuhan, hewan, perubahan cuaca dan perubahan geologis, ia menentapkan bahwa banyak di antaranya yang mirip dengan yang ada di bahasa Akadia. Guide berkesimpulan bahwa bahwa dataran Irak adalah wilayah asal bangsa Semitik.
Meskipun Guide telah melakukan penelitiannya dengan kerja luar biasa, namun kita tidak boleh menerima kesimpulan-kesimpulannya begitu saja, karena kita menemukan sebagian kosa kata yang ada pada bahasa-bahasa Semitik Utara, ada juga di bahasa-bahasa Semitik Selatan. Namun itu tidak berarti bahwa kosa kata itu berasal dari wilayah Eufrat.
Keempat, Mazhab Arabia. Tokohnya antara lain adalah Sprenger, de Goideh, Keitani, dan D. Moscati. Mereka berpendapat bahwa Jazirah Arabia adalah buaian (tempat kelahiran) pertama bangsa Semitik. Mereka menunjukkan bukti-bukti yang sangat kuat. Yang terpenting di antaranya adalah:
a) Sejarah menuturkan kepada kita bahwa bangsa Semitik yang hidup di luar Jazirah Arabia, mereka pergi ke wilayah-wilayah itu sebagai imigran. Berbagai fase sejarah memperlihatkan bagaimana negara-negara yang memiliki kebudayaan tinggi di antara Mesopotamia dan Syiria selalu menjadi selalu dibanjiri oleh gelombang imigran dari kabilah-kabilah badui sahara Arabia. Sampai akhirnya datang satu gelombang imigran yang sangat besar yang dalam sejarah disebut “gelombang Arabia”. Imigran itu juga pergi menuju Asia dan bagian utara Afrika.
Bukti-bukti sejarah menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang Semitik keluar dari jazirah Arabia ke negara-negara yang berkebudayaan di sekitarnya. Oleh karena itu, kita bisa meneliti Jazirah Arabia dan saharanya sebagai tempat asal bangsa Semitik.
b) Sejak lama, wilayah-wilayah yang yang diasumsikan sebagai asal bangsa Semitik, dihuni oleh bangsa-bangsa non-Semitik, kecuali wilayah jazirah Arabia. Sejarah, misalnya, tidak pernah menyebutkan bahwa bangsa Akadia adalah penduduk asli negeri Mesopotamia. Bahkan sebaliknya, sejarah justeru mengatakan mereka adalah para imigran yang datang ke wilaya itu, dan kemudian menundukkan penduduk setempat yang dikenal dengan bangsa Sumerian. Salah seorang raja Semiti awal di Irak, yaitu Sarjun I (+ 2600 SM) menulis di salah satu prasasti yang isinya menunjukan bahwa dia dan keluarganya telah bermigrasi ke Irak, dari wilayah timur jazira Arabia.
c) Para sejarawan menemukan sebagian prasasti yang ditulis dalam bahasa Sumeria menunjukkan bahwa negeri mereka selalu dalam bahaya serangan suku-suku yang dinamakan Arib yang datang dari arah barat atau barat daya.
d) Penelitian-penelitian sejarah politik selalu memperlihatkan bahwa penduduk sahara dan gunung-gunung tandus selalu dan selalu ingin kehidupan yang berbudaya dan kehidupan perkotaan, menetap di negara-negara yang dekat dengan sungai di mana mereka bisa menjadikan pertanian sebagai sandaran hidupnya. Inilah yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan serangan-serangan terhadap wilayah-wilayah yang ada di sekitarnya. Sebaliknya tidak ada satu contoh pun dalam sejarah yang memperlihatkan bahwa bangsa-bangsa berbudaya bermigrasi ke wilayah-wilayah badui sahara.
Dengan demikian migrasi bangsa Semitik dari jazirah Arabia sangat sesuai dengan hukum-hukum sosial dan ekonomi; situasi-situasi kehidupan yang keras di gurun sahara yang mendorng orang-orang badui yang tinggal di sana untuk mencari suatu kehidupan yang stabil, di negara-negara berbudaya tetangga mereka.
Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa jazirah Arabia adalah tanah air asal bangsa Semitik. Dari sana mereka melintasi sejarah, ke negeri Mesopotamia, Syiria, Palestina, Ethiopia, Afrika Utara, dan Mesir. Di sana mereka kemudian mendirikan negara dan kerajaan, yang sebelumnya (di bagian terdahulu) telah kita kenal. Wallahu A’lam…
To be Continued……

Palu, 13 Pebruari 2010

Referensi: Dr. Ramdhan Abd. al-Tawwab / FFFA

1 Komentar

Filed under Uncategorized

One response to “BAHASA ARAB DAN BAHASA-BAHASA SEMITIK. Bagian Ketiga

  1. Ping-balik: Resources for Genesis 10:22 - 24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s