PERNIAGAAN BANGSA ARAB : MASA JAHILIYAH DAN MASA ISLAM. Bagian Pertama

Didin Faqihuddin
Alumnus Fakultas Adab IAIN Jakarta dan PPS. UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Bangsa Arab memiliki letak geografis di tengah negara-negara paling besar dan paling awal memiliki kebudayaan. Ke arah timur laut ada negara Persia, ke arah barat laut ada negara Romawi dan Mesir, ke arah barat daya di balik lautan ada negara Ethiopia, dan di sebelah selatan ada Samudera Hindia yang memisahkannya dengan negara India.
Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa sebagian besar perdagangan dunia, sejak zaman kuno sampai abad pertengahan adalah perdagangan di antara negara-negara ini. Dua negara besar yang yang selalu bersaing untuk mendapatkan pengaruh dan kekuasaan di dunia, yaitu Persia dan Romawi, memiliki hubungan-hubungan dagang dengan bangsa Arab di utara dan selatan. Meskipun dengan taraf yang lebih rendah, bangsa Arab juga memiliki hubungan dagang dengan India, Yaman, ‘Amman dan Bahrain.
Ada dua jalur transportasi perdagangan di jazirah Arabia; jalur pertama adalah jalur timur yang menghubungkan Yaman dengan Irak: membawa komoditas Yaman, India dan Persia lewat darat, melintasi bagian barat Irak kemudian gurun pasir dan akhirnya sampai di pasar-pasar Syam. Di jalur itu, para pedagang melintasi pasar-pasar Yaman, Irak, Palmyra, dan Syiria. Di setiap wilayah mereka menjual komoditas yang tidak ada di sana, dan juga membeli komoditas wilayah itu untuk dibawa ke wilayah-wilayah lain. Jalur kedua, dan merupakan yang paling penting, adalah jalur barat yang menghubungkan Yaman dengan Syam melintasi wilayah-wilayah Syam dan Hijaz, membawa komoditas Yaman, Ethiopia dan India ke Syam, dan sebaliknya membawa komoditas Syam ke Yaman lewat jalur laut.
Di kalangan bangsa-bangsa kuno, orang-orang Arab dikenal sebagai broker (pedagang perantara), yang selalu menjaga jalur perdagangannya sesuai dengan kebiasaan mereka dan penguasaan mereka terhadap gurun. Letak geografis negara mereka adalah lingkaran penghubung di antara kerajaan-kerajaan dunia masa lalu.
Bangsa Quraisy dalam jalur perdagangan itu adalah juaranya. Merekalah yang memimpin bangsa Arab di semua sisi. Nama Quraisy sendiri seolah terdengar seperti bentuk tashghir ta’zhim (pengubahan bentuk kata dengan maksud membesarkan) dari kata al-Qarsy yang adalah seekor binatang besar di laut, ditakuti oleh binatang-binatang laut lainnya.
Letak geografis negara Arab yang sangat srategis ini seringkali mengundang pihak lain untuk menguasainya. Alexander The Great misalnya pernah menyerang Arab, namun tidak lama kemudian ia meninggalkannya. Raja-raja Persia, Babilonia, dan Mesir di masa lalu juga sangat ingin menguasai negara Arab. Anehnya ia tetap terjaga seperti adanya sampai akhirnya Inggris berhasil menancapkan kekuasaannya di bagain timur dan barat jazirah Arabia. Mereka berhasil menguasai Eden, sebuah pelabuhan alamiah Yaman, di mana kapal-kapal dari Ethiopia dan India berlabuh. Inggris juga menguasai ‘Aqabah, sebuah tempat perhentian kafilah-kafilah Arabia di masa lalu, dan merupakan pelabuhan Romawi pertama yang dikuasai oleh bangsa Arab. Dengan begitu, Inggris berhasil menguasai wilayah-wilayah yang sangat berpengaruh terhadap kedua jalur perdagangan ini, yang menjamin jalur perdagangan India.
Sangat masuk akal jika bangsa Arab masa lalu, baik laki-laki maupun perempuannya, melakukan aktifitas perdagangan, khususnya bagi mereka yang negara-negaranya terletak dekat salah satu dari dua jalur perdagangan ini. Jika pun mereka tidak melakukan aktifitas perdagangan, maka mereka akan memanfaatkan perdagangan dengan cara bekerja sebagai pemandu jalan atau pengemudi dari kafilah-kafilah dagang itu. Oleh karena itu tidak salah jika salah seorang orientalis menyatakan bahwa bangsa Arab adalah bangsa pedagang dan broker, bukan bangsa yang suka berperang.
Negara-negara Arab masa lalu seperti Tadamur (Palmyra), Saba, dan Ma’in, sibuk dalam perdagangan di wilayah timur, sampai-sampai Taurat merekam kekayaan dan perdagangan mereka. Penduduk Tadamur membawa barang dagangan bangsa Arab, Irak dan India ke Mesir dan selatan Eropa. Permata dan mutiara yang dibawa oleh penduduk Tadamur dari negara timur adalah benda-benda yang sangat disukai dan dibanggakan oleh para raja dan kaisar Eropa.
Tadamur terletak di tengah-tengah antara negara Persia dan Romawi, antara Irak, Syam dan jazirah Arab. Hal ini menjadikan Tadamur sebagai tempat persinggahan kafilah-kafilah dagang dari semua negara ini sejak masa lalu. Akibatnya dapat ditebak, perdagangan mereka menjadi ramai, kekayaan mereka semakin berlimpah, dan pasar-pasar mereka menjadi begitu terkenal sampai menjadi kiblat bagi para pedagang India, Persia, jazirah Arab, Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan Eropa.
Negara Romawi, yang merupakan negara paling kuat saat itu, sangat ditakuti oleh kabilah-kabilah Tadamur. Merekapun lalu mengambil hati negara itu dengan cara sering memberikan upeti dan mengirimkan utusan. Tadamur mengetahui bagaimana negara Romawi dan Persia seringkali bersaing untuk menguasai perdagangan Tadamur.
Ketika negara Ma’in di Yaman tumbuh pesat, penduduknya kemudian melakukan aktifitas perdagangan. Dalam hal ini mereka sangat terbantu oleh luasnya pengaruh mereka hingga mencapai wilayah-wilayah pantai di laut tengah dan pelabuhan-pelabuhan teluk Persia.
Sementara negara Saba’ begitu terkenal kekayaan dan perdagangannya, sehingga dalam Taurat disebutkan bahwa raja Saba’ menyerahkan kepada Nabi Sulaiman sebanyak 12.000 kg emas dan batu-batu mulia yang sangat banyak. Cukuplah ini menjadi bukti bagaimana kekayaan yang mereka miliki. Pada masa lalu, bangsa Saba’ adalah negara Arab yang paling kaya dan paling luas perdagangannya. Mereka membawa barang-barang dagang dari Ethiopia dan India ke Mesir, Syam, dan Irak. Dengan begitu mereka lalu membentangkan pengaruh perdagangan mereka sekaligus memonopoli perdagangan di wilayah-wilayah tersebut.
Nicholson, mengutip Muller, dalam bukunya Tarikh al-Arab al-Adabi menyatakan bahwa sejak masa yang sangat lama, kapal-kapal telah berlayar membelah lautan di antara pelabuhan-pelabuhan negara-negara Arab timur dan India. Kapal-kapal itu membawa berbagai produk khususnya rempah, kemenyan, hewan-hewan langka (seperti kera dan burung merak) ke pantai ‘Amman. Pada abad X SM mereka sudah familiar dengan Teluk Persia yang dari sana mereka menuju ke Mesir dan para raja Firaun beserta para pangerannya membeli barang-barang mereka. Sulitnya pelayaran di Laut Merah menyebabkan mereka lebih menyukai jalur darat untuk perdagangan antara Yaman dan Suria. Kafilah-kafilah dagang itu berangkat dari Chabot di Hadramaut menuju ke Ma’rib ibu kota Saba’, lalu ke utara menuju Makrabah (yang nantinya menjadi Mekah), dan tetap di jalurnya dari Batra menuju Gaza menyusuri Laut Mediterania, melalui laut sepanjang pantai-pantai Hadramaut. Akibat dari perubahan ini—yang tampaknya terjadi pada abad pertama masehi—adalah melemahnya kekuatan mereka sedikit demi sedikit.
Yang menggantikan mereka adalah bangsa Himyar yang menjadikan Arab Hijaz ada dalam kekuasaan mereka, yang kemudian mereka manfaatkan untuk membawa barang-barang dagangan  mereka.
Dengan demikian maka orang-orang Yaman di masa lalu melakukan transportasi perdagangan antara negara-negara Arab dan negara-negara yang ada di sekitarnya. Hal ini terus terjaga sampai datangnya abad VI M. Mereka bersama kerajaan-kerajaan lainnya memonopoli perdagangan di kawasan jazirah Arabia. Mereka membawa kurma, kismis, kulit, kemenyan, batu-batu mulia, kain-kain tenun yang mereka dapatkan dari negara asal dengan cara menukarnya dengan barang-barang lain. Mereka juga membawa barang-barang dagangan yang mereka buat sendiri seperti parfum dan minyak wangi dan kemudian mereka jual di pasar-pasar dunia di masa lalu seperti Asia, Afrika dan Eropa. Untuk jangka waktu yang lama mereka menjadi pengawas perdagangan dunia. Wallahu A’lam…. To be Continued…
Palu, 14 Pebruari 2010

Referensi : Said al-Afghani / AFA

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s