PERNIAGAAN BANGSA ARAB : MASA JAHILIYAH DAN MASA ISLAM. Bagian Kedua

Didin Faqihuddin
Alumnus Fakultas Adab IAIN Jakarta

Seiring berjalannya waktu, di tengah jalur yang sering mereka lewati ini, muncul dua stasiun perdagangan besar yaitu Mekah dan Madinah. Kedua kota ini menjadi penting, dan para penduduknya ikut ambil bagian dalam bisnis dagang bersama dengan orang-orang Yaman. Ketika masuk abad VI M, secara bertahap kendali perdagangan mulai berpindah dari tangan orang-orang Yaman kepada suku Quraisy, sebuah kabilah Mekah yang disegani. Suku ini mulai menggantikan peran orang-orang Yaman dalam memonopoli perdagangan kawasan jazirah Arabia, apalagi dalam suasana keamanan yang tidak menentu. Peperangan, krisis, dan persaingan yang terjadi antara Persia dan Romawi merupakan beberapa faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap muncul dan berkembangnya perdagangan Mekah. Namun perdagangan Persia tetap berada dalam kendali orang-orang Yaman.
Wilayah-wilayah Arab tidak memiliki kesamaan karakter antara satu dengan yang lain. Manakala Nejed adalah wilayah yang kering berpasir dan tidak ada usaha pertanian bagi penduduknya, maka di Yaman kita menemukan banyak wilayah pertanian yang sangat subur yang memberikan hasil berlimpah. Kita juga menemukan sebagian kota di Hijaz ada yang memiliki ketandusan seperti Mekah, namun sebagian yang lain banyak terdapat wilayah pertanian dan perkebunan kurma seperti Madinah dan Taif, meskipun keduanya tidak setaraf dengan Yaman. Imam al-Alusi mengatakan bahwa penduduk Yaman, ‘Amman dan Bahrain memiliki perniagaan yang sangat luas dan penghidupan yang sejahtera karena negeri-negeri mereka sangat subur dan mengandung banyak kekayaan alam. Sementara kekayaan dan perniagaan penduduk Nejed berada di bawah mereka karena sebagaian besar wilayah negeri mereka adalah pasir.
Ada dua unsur yang sangat berpengaruh dalam perdagangan di negeri Arab yaitu: orang-orang Nabatean dan orang-orang Yahudi. Yang pertama membawa minyak dan kapur dari Syam ke Hijaz dan Irak, lalu dari kedua wilayah itu mereka membawa kulit, kurma dan produk-produk lainnya. Mereka ikut ambil bagian dalam kafilah dagang bangsa Arab, sekaligus membangun pasar untuk mereka sendiri di negeri-negeri Arab. Ibn Sa’d menyebutkan bahwa Hasyim, dalam salah satu perjalanannya singgah di pasar-pasar orang-orang Nabatean. Ketika terjadi futuh Islam dan banyak pertempuran, para pedagang Nabatean berperan sebagai pembawa berita antara Syam dan Hijaz.
Sementara orang-orang Yahudi sangat terkenal dalam soal perdagangan, khususnya Yahudi Hijaz. Salah satunya adalah Rafi’ al-Khaybari yang mengirim barang dagangannya lewat kafilah-kafilah dagang ke Syam. Dari Syam ia kemudian mengimpor berbagai macam kain. Dapat dikatakan bahwa bisnis kurma dan gandum merupakan kekhususan mereka di utara Hijaz.
Namun posisi orang-orang Yahudi lebih tinggi dibanding orang-orang Nabatean karena yang disebut pertama itu menetap di jazirah Arabia, sehingga mereka dapat bersaing dengan penduduk asli Arabia. Mereka juga memiliki keahlian di bidang pertanian, perdagangan, dan pengembangan kekayaan. Dengan begitu mereka dapat membangun perkampungan, perkebunan, benteng, dan pusat-pusat kegiatan umum mereka yang paling terkenal di Madinah dan Khaibar.
Yang perlu dicermati adalah bahwa setelah orang-orang Yahudi turut serta menikmati keuntungan-keuntungan perdagangan bersama dengan penduduk Madinah namun mereka takut kalah dalam rivalitas ini, akhirnya yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi adalah menyemai benih-benih permusuhan di antara dua suku : ‘Aus dan Khazraj. Ketika permusuhan sudah benar-benar terjadi antara keduanya, orang-orang Yahudi pun memanfaatkan situasi ini untuk menguasai perdagangan dan mengembangkan harta benda mereka. Ketika orang-orang muslim hijrah ke Madinah, dan kemudian penduduk Madinah sendiri masuk ke dalam agama Islam, orang-orang yahudi kerapkali melakukan kejahatan terhadap umat Islam, dan mendorong suku-suku Arab untuk mendukung mereka. Di samping itu mereka juga memutuskan perjanjian dengan Nabi Muhammad, sekaligus menikam umat Islam dari belakang. Terhadap hal itu, Nabi memandang perlunya mengambil tindakan tegas terhadap mereka. Maka Nabi mengusir Yahudi Bani Qaynuqa dan kemudian Bani Nadhir dari wilayah Syam. Tindakan serupa juga diambil terhadap Bani Quraizah. Maka Madinah dan sekitarnya bersih dari orang-orang yahudi. Dengan begitu, kendali perdagangan kembali kepada penduduk setempat.
Tidak aneh jika perdagangan merupakan mata pencaharian uatama bagi orang-orang Hijaz. Mereka sangat mengganderungi dunia perdagangan sehingga mereka sering pergi ke berbagai wilayah di muka bumi untuk mencari rejeki melalui profesi dagang ini. Oleh karena itu, sebelum masa Islam, mereka telah mengenal banyak kota di Syam seperti Bushra, Gazat, Aylah, dan Masyarif. Demikian juga halnya dengan kota-kota di Irak, Yaman, sampai ke Mesir.
Tidak ada satupun pihak yang berusaha untuk mengambil alih kendali perdagangan mereka, kecuali bangsa Ethiopia yang bermaksud menguasai Mekah, pusat perdagangan yang sangat besar di jazirah Arabia. Sebagian ahli menaksir parfum yang dibeli oleh negera Romawi dari negara-negara Arab, Persia, dan Cina mencapai 100 juta dirham. Shaydan adalah pasar parfum yang paling terkenal.
Jauh sebelum kedatangan Islam, orang-orang Mekah telah mencapai posisi yang sangat penting dalam dunia perdagangan, itu terjadi pada saat aroma permusuhan antara Persia dan Romawi begitu kuat. Perdagangan Mekah merupakan jantung kehidupan Romawi dalam banyak hal, termasuk dalam hal-hal yang mereka sangat ganderungi, yaitu kain sutera. Bahkan para sejarawan Inggris menduga bahwa di Mekah itulah orang-orang Romawi membangun outlet-outlet perdagangan yang mereka gunakan untuk urusan-urusan dagang dan memata-matai keadaan bangsa Arab. Demikian pula di Mekah itu ada orang-orang Ethiopia yang mencoba peruntungan perdagangan mereka.
Setiap wilayah terkenal dengan produknya masing-masing. Pisau adalah produk unggulan Yaman. Wilayah Hijaz terkenal dengan parfum, kain, dan anggur. Sementara al-Najasyi mengatakan bahwa yang paling mengagumkan dari Mekah adalah produk kulitnya. Yang lain mengatakan bahwa Mekah adalah pasar budak paling besar.
Yang menjamin kelangsungan geliat perdagangan ke dalam dan ke luar jazirah Arabia adalah adanya perbedaan produk di setiap wilayah baik produk ekspor maupun produk inpor.
Al-Hamdani, dalam kitab al-Buldan, menggambarkan masalah ini dengan sangat bagus: “seandainya bukan karena kemurahan Allah yang memberikan kekhususan setiap wilayah sesuatu yang tidak dimiliki oleh wilayah lain, pastilah perdagangan itu akan segera lenyap. Hanya karena perbedaan itulah maka satu kelompok pergi ke tempat lain untuk membeli produk, dan kelompok lain pergi ke kelompok lainnya lagi untuk membeli produknya. Begitu seterusnya sehingga perdagangan ini terus berlangsung. Allah berfirman: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain” (QS. 43 / al-Zukhruf : 32). Juga: “Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya” (QS. 41 / Fushshilat : 10).
Yang patut diperhatikan adalah isyarat-isyarat yang ada dalam Alquran berkenaan dengan orang-orang musyrik Mekah. Di sana ada keterangan yang sangat jelas tentang kesibukan dagang yang dilakoni oleh orang-orang Arab. Mislanya firman Allah: “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. 8 / al-A’raf : 188). Para mufasir menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah bahwa orang-orang musyrik berkata: “mengapa Tuhannya Muhammad tidak mewahyukannya harga-harga barang dagangan sehingga kami membelinya di waktu murah dan akan menjualnya di waktu mahal sehingga harta benda kami akan berlipat ganda”.
Ketika Islam berkuasa, kegiatan perdagangan bangsa Arab tidak dibatasi, melainkan tetap berlanjut seperti di masa Jahiliyah. Bahkan perdagangan pada masa Islam merupakan kelanjutan dari perdagangan masa Jahiliyah.
Orang-orang muslim mempersiapkan karapan-karapan dagang ke Syam sebagaimana halnya di masa Jahiliyah. Mereka membawa barang-barang mereka dan menjualnya di sana. Dari Syam mereka membawa dagangan yang lain untuk dijual di Hijaz dan Madinah. Bahkan mereka menyambut karapan-karapan dagangnya dengan menabuh rebana sebagai tanda kegembiraan mereka. Para mufasir menyebutkan bahwa Dahyah bin Khalifah al-Kalbi suatu hari kembali dari perniagaan ke Syam dengan membawa minyak dan makanan. Saat itu Nabi sedang memberikan kutbah di masjid Madinah, lalu orang-orang menyambut kedatangan Dahyah–sebagaimana kebiasaan mereka pada zaman Jahiliyah–dengan sangat gembira. Mereka yang hadir di masjid takut ketinggalan karapan dagang Dihyah sehingga mereka tidak kebagian membeli dagangan untuk dijual lagi. Dan itu berarti kehilangan keuntungan. Maka kemudian  mereka meninggalkan Nabi yang sedang menyampaian khutbah. Hanya 12 orang saja yang bertahan dalam masjid. Maka kemudian Allah menurunkan ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah).” (QS. 62 / al-Jumu’ah : 11). Wallahu A’lam
Palu, 19 Pebruari 2010
Kampus STAIN Datokarama

Referensi: Sa’id al-Afghani / AFA

1 Komentar

Filed under Uncategorized

One response to “PERNIAGAAN BANGSA ARAB : MASA JAHILIYAH DAN MASA ISLAM. Bagian Kedua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s