PERNIAGAAN BANGSA ARAB : MASA JAHILIYAH DAN MASA ISLAM. Bagian Ketiga

Didin Faqihuddin
Alumnus Ma’had Islam Darul Amal Buni Bakti Bekasi
Dosen STAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah

Dalam Alquran terdapat isyarat yang menunjukkan adanya rehat sejarah dalam kehidupan perdagangan Mekah. Itu terjadi ketika turun ayat: ” Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjid al-Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Taubah : 28)
Ketika orang-orang musyrik diharamkan memasuki Mekah pada tahun 9 H, maka ada ketakutan di kalangan masyarakat akan terjadinya kemiskinan karena terputusnya perdagangan antara umat Islam dengan orang-orang musyrik pada musim-musim haji. Maka kemudian Allah menjanjikan kekayaan untuk mereka bukan melalui jalur perdagangan. Sebagai gantinya, seperti disebutkan oleh para mufasir, adalah rampasan perang dan penaklukan (futuh) dalam waktu dekat.
Dengan begini maka kondisi perdagangan bangsa Arab memasuki sebuah fase baru. Dan Islam sangat memperhatikan masalah perdagangan bangsa Arab ini dengan menetapkan untuk mereka apa-apa yang mereka perlukan. Banyak hadits Nabi yang menyinggung masalah hukum jual beli, monopoli, hutang piutang, laba, dlsb. Para khalifah sesudah Rasulullah pun sangat memperhatikan masalah perdagangan setelah persoalan-persoalan yang terakit dengan pembukaan wilayah (futuhat) selesai pada masa Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Perlu kita catat bahwa pada masa futuh itu sendiri masalah perdagangan ini tidak berhenti, bahkan para pegawai khalifah sendiri sibuk melakukan bisnis perdagangan. Ini cukup menjadi bukti ibagi kita bahwa bangsa Arab sangat memperhatikan masalah perdagangan yang memang menjadi profesi mereka. Umar sangat tegas kepada para pegawainya agar tidak melakukan bisnis perdagangan. Bahkan dia akan menghukum pegawainya yang menyibukkan diri dalam perdagangan dan sama sekali tidak mau menerima alasan apapun mengenai masalah ini. Umar berkata: “Aku ini mengutus kalian sebagai pegawai dan bukan sebagai pedagang”!
Para sejarawan sepakat bahwa ketiga khalifah yang pertama adalah para pedagang. Abu bakar dan Utsman adalah saudagar. Sedangkan Umar, pada masa jahiliyah adalah pedagang di Gaza, sementara Ali, kita tidak mengetahui bahwa dia melakukan bisnis dagang. Ketika Islam muncul, Ali masih seorang anak kecil. Namun dia pasti mengetahui soal perdagangan dan seluk beluknya karena perdagangan ini adalah profesi masyarakat sekitarnya. Ketika Ali menjabat sebagai khalifah ia memahami pentingnya masalah perdagangan ini.
Kita juga perlu melihat hal penting lainnya yang menunjukkan aktifitas, perhatian dan pemikiran masalah perdagangan dalam kehidupan bangsa Arab. Hal yang dimaksud adalah bahasa, syair dan amtsal yang memperlihatkan adat istiadat dan kondisi bangsa Arab: hal pertama yang kita catat dalam masalah ini adalah banyaknya kata-kata dalam bahasa Arab yang berhubungan dengan perjalanan (safar), singgah di wilayah yang berair, dan deskripsi tentang binatang-binatang yang digunakan untuk perjalanan (safar) yang dilakukan.
Para peneliti bahasa-bahasa semitik kuno membahas tentang kata-kata Arab yang aslinya berbahasa asing. Kajian mereka ini kemudian sampai pada kesimpulan bahwa bahasa Persia, Ethiopia dan Aramea adalah “juga merupakan bahasa-bahasa hubungan perdagangan karena para pedagang Mekah misalnya melakukan kontak dagang dengan orang-orang Aramea di Damaskus, dengan orang-orang Persia di Heirah dan Madain, dan juga dengan orang-orang Saba’ dan Himyar di Yaman. Kafilah-kafilah dari negara-negara ini melintasi jazirah Arabia dari satu penjuru ke penjuru yang lain. Para peniliti ini menyebutkan beberapa kata yang pada awalnya merupakan kata-kata barang dagangan yang didatangkan para pedagang Arab dari Persia seperti: Shoulajan (tongkat lambang kekuasaan), Shonj (canang, gembereng [alat musik]), Fil (unta), Jamus (kerbau), Misk (kesturi), dan terutama barang-barang tenunan seperti Dibaj (kain brokat sutera), Istabraq (brokat biasa), Ibrisim (sutera) Thaylasan (peci), dlsb.
Tidak disangsikan lagi bahwa percampuran kafilah-kafilah dagang jazirah Arab sejak masa lalu dengan bangsa Arab Syam dan yang lainnya telah membuat masuk banyak kata asing bidang perdagangan dan budaya dari Yunani, sampai datangnya masa jahiliyah. Dan kata-kata ini kemudian mengalami pengaraban dan digunakan untuk jangka waktu yang lama. Salah seorang peneliti bahkan mengidentifikasi puluhan kata yang jika dilihat secara sepintas tidak diduga berasal dari bahasa asing. Misalnya ‘iqlid’, ‘iqlim’, ’iksir’, ’bithar’, ’jizyah’, ‘dirham’, ’dukkan’, ’zabarjad’, dlsb.
Bahkan mengapa mengapa kita tidak menengok ke dalam Alquran? Di sana banyak keterangan yang menggambarkan kehidupan bangsa Arab, termasuk di dalamnya masalah perdagangan yang sering dijadikan sebagai perumpamaan. Misalnya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS. Fathir / 35 : 29); “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk” (QS. al-Baqarah / 2 : 16); dlsb. Dan kata-kata perdagangan (tijarah), keuntungan (ribh), kerugian (khusran) seringkali muncul dalam kosa kata Alquran. Dan ini cukup untuk menjadi keterangan bahwa perdagangan merupakan sesuatu yang melekat dalam kehidupan bangsa Arab.
Boleh jadi kita bertanya-tanya: “perdagangan adalah aktifitas yang meniscayakan bacaan dan hitungan. Lalu bagaimana bangsa Arab yang katanya ummiy (illiterate) bisa melakukannya? Jawabannya adalah bahwa penilaian buta huruf itu berlaku bagi bangsa Arab sebagai sebuah bangsa secara umum, bukan sebagai satuan-satuan.
Ada di antara orang-orang Arab yang pandai CaLisTung. Orang-orang Quraisy misalnya sudah sejak lama belajar menulis di Herah dan Anbar, demikian pula penduduk Thaif. Bahkan kita menemukan dalam Alquran di bagian akhir surat al-Baqarah suatu keterangan yang mendorong kita untuk berkesimpulan bahwa bangsa Arab akrab dengan CaLisTung dalam aktifitas perdagangan mereka: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya”. (QS. al-Baqarah : 282). Wallahu A’lam. To be Continued….
Palu, 24 Pebruari 2010
Kampus STAIN Datokarama

Referensi: Sa’id al-Afghani / AFA

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s