SIKAP PARA MUFASSIR TERHADAP AYAT-AYAT KAUNIYAH DALAM ALQURAN. Bagian Kedua

Didin Faqihudin
Alumnus Fakultas Adab IAIN Jakarta_PPs. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Dosen STAIN Datokarama Palu Sulawesi Tengah

Ada sejumlah besar ulama Islam yang merasakan pentingnya ijtihad dalam menafsirkan kitab suci Alquran. Akan tetapi mereka membatasinya pada pendekatan-pendekatan tertentu saja. Antara lain adalah pendekatan kebahasaan yang memperhatikan masalah makna lafaz, cara pengucapan kata, gaya bahasa, dan gramtikanya; pendekatan bayani yang berusaha untuk menjelaskan keindahan gaya bahasa Alquran; dan pendekatan fikih yang memusatkan diri pada penetapan hukum syariah dan ijtihad-ijtihad fikih. Ada mufassir yang menyerukan penggaungan keseluruhan pendekatan itu dalam menafsirkan Alquran. Inilah yang disebut dengan pendekatan komprehensif (manhaj mawsu’i). Ada pula yang menyerukan untuk menafsirkan Alquran sesuai dengan tema yang dicakupnya dengan cara mengumpulkan ayat-ayat dalam Alquran yang memiliki kesamaan tema dalam semua ayat Alquran, lalu menafsirkan dan menetapkan pengertiannya berdasarkan kaidah bahwa sebagian Alquran menafsirkan sebagian lainnya. Pendekatan ini dikenal dengan pendekatan tematik.
Sementara itu penafsiran ilmiah yang dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah Alquran berpegang pada wilayah pengetahuan manusia masih ditolak oleh sebagian besar mufassir dengan alasan sebagai berikut:
Pertama, bahwa israiliyat telah meresap ke dalam turats Islam melalui usaha para penafsir ayat-ayat kauniyah Alquran masa lalu. Allah menghendaki manusia memahami hakekat semesta alam ini dengan usaha-usaha mereka sendiri, dari satu masa ke masa berikutnya, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Olehkarena itu, ayat-ayat Alquran yang terkait dengan alam semesata hadir dalam bentuk global, yang bisa dipahami oleh masin-masing generasi sesuai kemampuannya. Oleh karena itu pula Rasulullah tidak memberikan penjelasan yang rinci mengenai hal ini, padahal beliau berkedudukan sebagai penafsir Alquran. Namun, karena jiwa manusia selalu saja sangat ingin mengetahui segala rahasia alam wujud ini, juga karena manusia sejak masa lalu telah menyibukkan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai kemunculan dan permulaan alam semesta, bagaimana penciptaan manusia, kapan itu terjadi, dan lain-lain yang terkait dengan alam semesta, maka terjadilah akumulasi jawaban terhadap hal itu sepanjang sejarah. Namun dalam jawaban-jawaban itu banyak terjadi campur aduk antara kebenaran dan kebatilan, antara ilmu dan khurafat. Dan kebanyakan yang mengganderungi pengetahuan macam ini adalah para tokoh agama dalam berbagai masa. Ketika awal munculnya negara Islam di jazirah Arabia, ia dikelilingi oleh banyak kebudayaan yang memiiki latar belakang pengetahuan yang berbeda mengenai alam semesta. Lalu setelah wilayah negera Islam semakin meluas, kedekatannya dengan kebudayaan-kebudayaan sekitar, banyaknya orang dengan latar belakang keyakinan yang berbeda ke dalam agama Islam, dan ini kemudian ini diwarisi oleh generasi belakangan. Sebagian mufassir lalu berusaha menggunakannya sebagai alat bantu dalam menjelaskan isyarat-isyarat kauniyah yangada dalam Alquran, maka merekapun kemudian tersesat jalan karena masa itu bukanlah masa kemajuan ilmu pengetahuan seperti yang kita jalani sekarang, dan juga karena mayoritas warisan penafsiran ini bersumber dari keterangan orang-orang Yahudi yang sejak awal mula kemunculan Islam selalu berusaha untuk menjatuhkan Islam. Transfer warisan Yahudi itu terjadi dari mereka yang telah masuk Islam dan yang tidak masuk Islam. Rasulullah sendiri telah memperingatkan umat Islam sejak awal: “Jika Ahlul Kitab berbicara kepada kalian, maka janganlah kalian benarkan dan jangan pula kalian dustakan, sebab boleh jadi mereka berbicara tentang sesuatu yang benar lalu kalian dustakan, dan boleh jadi juga mereka berbicara tentang sesuatu yang salah lalu kalian membenarkannya”.
Ibnu Khaldun menjelaskan sebab-sebab terjadinya transfer israiliyat ini sebagai berikut: “sebab masuknya israiliyat adalah karena orang Arab bukanlah Ahlul Kitab dan tidak memiliki pengetahuan. Mereka adalah orang-orang badui yang buta huruf. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu tentang alam semesta, permulaan penciptaan, dan apa rahasia alam wujud ini, maka mereka kemudian bertanya kepada Ahlul Kitab sebelum mereka, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara.
Kedua, Alquran pada asalnya adalah kitab petunjuk dari Tuhan. Artinya ia adalah kitab tentang akidah, ibadah, dan mu’amalah. Atau dengan kata lain ia adalah kitab agama Allah yang Dia wahyukan kepada NabiNya. Oleh karena itu maka perlu ditegaskan bahwa Alquran bukanlah sebuah kitab pengetahuan empirik, dan isyarat-isyarat ilmiah yang ada di dalamnya berposisi sebagai petunjuk dan nasehat, bukan berposisi sebagai keterangan ilmiah dalam pengertiannya yang sempit. Dan kebanyakan isyarat-isyarat kauniyah tersebut berbentuk mujmal (global), dengan tujuan untuk mengarahkan manusia supaya berpikir, merenung, dan memperhatikan secara cermat ciptaan Allah, bukan untuk tujuan pengabaran keilmuan secara langsung.
Ketiga, Alquran itu tetap dan tidak berubah, sementara capaian-capaian ilmu-ilmu empiris senantiasa berubah dan berkembang. Apa yang dinamakan dengan hakekat-hakekat pengetahuan tidak lain adalah teori-teori dan asumsi-asumsi yang membatalkan apa yang kemarin diyakini, dan bahkan besok bisa jadi membatalkan apa yang hari ini diyakini. Dengan begitu, tentu tidak boleh menafsirkan kitab Allah dengan asumsi ilmiah karena tidak boleh menafsirkan yang tetap dengan sesuatu yang berubah.
Keempat, Alquran itu adalah keterangan yang datang dari Allah, sementara capaia-capaian ilmu pengetahuan empiris tidak lebih dari sekedar usaha insani untuk mencapai suatu hakekat. Oleh karena itu menurut mereka (mufasir yang menolak tafsir ilmiah), tidak boleh melihat kalam Allah dalam lingkaran usaha-usaha manusia, sebagaimana juga tidak boleh “memenangkan” kitab Allah dengan capaian-capaian ilmu pengetahuan, karena Alquran sebagai kalam Allah adalah hujjah terhadp seluruh manusia dan juga ilmu pengetahuan.
Kelima, pada kebanyakan negara, ilmu-ilmu empiris dibentuk dengan titik tolak materi semata-mata, dengan mengabaikan adanya hal-hal gaib, termasuk Tuhan. Dan banyak praktisi ilmu-ilmu kealaman yang memiliki sikap permusuhan terhadap masalah keimanan terhadap Allah, malaikat, kitab-kitab, dan para rasul-Nya, ketentuan (qodar)-Nya yang baik dan buruk, kehidupan alam barzakh, kebangkitan, hisab, kehidupan abadi di akherat yang boleh jadi di surga atau di neraka.
Keenam, sebagian capaian ilmu pengetahuan empiris kadang-kadang berbeda dengan pokok-pokok keyakinan dalam kitab suci dan sunnah karena ia bertolak dari tumpuan materialistik, sambil mengingkari atau pura-pura tidak tahu terhadap hal-hal gaib.
Ketujuh, sejumlah mufassir yang mengajukan ta’wil terhadap sebagian isyarat kauniyah dalam Alquran, terpaksa membebani ayat-ayat Alquran dengan makna-makna yang sesungguhnya tidak dikandungnya.
Namun demikian, ketujuh argumentasi yang dikemukakan oleh mereka yang menolak penafsiran ilmiah ini, menuai kontrakritik sebagai berikut:
Pertama, hari ini kita tidak lagi memerlukan israiliyat dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah oleh karena capaian ilmu pengetahuan modern sudah sedemikian tinggi dibanding masa-masa sebelumnya. Jika penggunaan israiliyat dalam menafsirkan ayat-ayat kauniyah seperti dilakukan oleh generasi sebelumnya dan kemudian mereka tersesat jalan, maka penggunaan hakekat-hakekat ilmu yang ajeg dalam menjelaskan ayat-ayat itu, dapat dipastikan akan membawa pada pemahaman yang tepat yang sangat sulit untuk dicapai di masa lalu.
Kedua, tidak ada pertentangan sama sekali antara keberadaan Alquran sebagai kitab petunjuk dari Tuhan yang berisi ketentuan tentang akidah, ibadah dan mu’amalah, dengan cakupan yang dimilikinya terhadap sejumlah isyarat ilmiah yang berfungsi sebagai pembuktian akan kebesaran sang Pencipta dalam mencipta makhluk dan menghilangkan apa yang telah diciptakanNya, dan kemudian mengembalikannya seperti semula. Isyarat-isyarat itu adalah keterangan-keteranga yang berasal dari Tuhan, sang Pencipta semesta alam, maka isyarat-isyarat itu pasti benar adanya. Sekiranya umat muslim menyadari sepenuhnya hakekat ini sejak awal, dapat dipastikan mereka akan menjadi yang paling ungul dalam lapangan kajian-kajian alam. Hari ini kita mengetahui bahwa ayat-ayat kauniyah yang ada dalam Alquran terbukti memiliki ketelitian yang luar biasa dalam hal ungkapan kata dan cakupan maknanya, sekaligus mendahului penemuan-penemuan ilmiah lebih dari 14 abad. Ini merupakan bukti kuat yang tidak terbantahkan oleh siapapun bahwa Alquran adalah firman Tuhan.
Ketiga, pandangan yang melarang penafsiran sesuatu yang tetap dengan sesuatu yang berubah adalah pandangan primitif, karena itu berarti stagnansi pada satu pemahaman saja terhadap kitab Allah. Realitas kehidupan manusia bersifat dinamis. Selalu ada perkembangan di setiap generasi. Sementara sifat keajegan Alquran yang Allah berikan, tidak menghalangi kita untuk memahami isyarat-isyarat kauniyah yang ada di dalamnya dengan menggunakan capaian-capaian ilmu pengetahuan. Ilmu memiliki sifat yang terus berkembang. Apa yang tidak diketahui di satu masa, maka akan diketahui pada masa berikutnya. Dengan demikian maka generasi yang belakangan lebih banyak pengetahuannya dari pada generasi sebelumnya. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran (zikr), maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. al-Qomar : 17). Para mufassir bersepakat bahwa salah satu makna ‘zikr’ pada ayat itu adalah ‘tadabbur’ (meneliti) yang berimplikasi pada adanya perkembangan pemahaman karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan. Wallahu A’lam…
Palu, 25 Pebruari 2010

Referensi: Dr. Zaghlul al-Najjar / al-I’jaz Fil Qur’an

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s