SEKOLAH PLOTINUS

Didin Faqihuddin
Alumnus PPs. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Dosen STAIN Datokarama Palu

Jika yang pertama kali mendorong munculnya Neo-Platonisme adalah Oregeon, maka pembawa panji sebenarnya adalah Plotinus. Meskipun sekolahnya ada di Roma, namun dianggap sebagai sekolah Iskandariah. Plotinus adalah seorang filosof Iskandariah. Lebih dari itu ia adalah orang Mesir.
Plotinus dilahirkan di Likopholis–sekarang Asyuth–Mesir tengah, pada tahun 205 M dan wafat tahun 270 M. Kita tidak mengetahui bagaimana masa kecil Plotinus dan juga keluarganya. Seperti diceritakan temannya, Phorphorius, ia enggan berbicara tentang orang tua, keluarga dan tanah airnya. Phorphorius adalah satu-satunya orang yang menulis biografi Plotinus. Dialah yang menerbitkan makalah-makalah filsafat Plotinus (Tâsû’at). Kita akan membahasnya setelah membicarakan Plotinus. Yang kita paparkan sekarang tentang Plotinus ini bersumber dari apa yang dicatatkan oleh Phorphorius.
Phorphorius berkata:
“Meskipun secara umum ia enggan berbicara tentang kehidupan pribadinya, namun ada juga riwayat-riwyat tentang dirinya. Pada umur 28 tahun ia tekena “demam filsafat”. Segera saja ia pergi ke para filosof termasyhur di Iskandariah. Namun segera saja ia pulang setelah mendengar ceramah-ceramah mereka. Ia sangat kecewa. Ketika salah seorang sahabat melihat kesedihannya, ia segera mengajaknya ke Amonios yang tak pernah didatangi oleh plotinus sebelumnya. Setelah mendengarkan ceramah Amonios, ia berkata kepada temannya dengan sangat kagum: “inilah orang yang aku cari”.
Sejak saat itulah Plotinus mengikuti Amonios, dan mengalami kemajuan filsafat bersamanya. Ia ingin mengkaji filsafat-filsafat Persia dan mazhab yang berkembang di kalangan ahli bijak India. Kebetulan Kaisar Geordian sedang mempersiapkan ekspedisinya yang akan dikirim ke India. Plotinus bergabung di dalamnya. Saat itu ia berusia 39 tahun. Dengan demikian ia telah melewati masa 11 tahun mengikuti Amonios. Ekspedisi itu kemudian dikalahkan di Irak. Sang Kaisar terbunuh dan Plotinus lari ke Antiochia, lalu ke Roma dan menetap di sana. Saat itu usianya 40 tahun.
Roma adalah Ibu kota kekaisaran Romawi dan jantung peradaban dunia waktu itu. Karenanya banyak ilmuwan, filosof dan sastrawan yang tertarik untuk datang ke sana. Di Roma inilah Plotinus membangun sekolahnya, yang beruntung mendapat bantuan sang Kaisar. Sekolah Plotinus tidak terbatas pada masa Kaisar Galianus yang memerintah dari tahun 260 hingga 268 M. Galianus sendiri adalah seorang sastrawan dan filosof. Istrinya juga ikut menghadiri sekolah Plotinus. Tampaknya sekolah ini menerima wanita, di samping pria, dalam kegiatan belajar. Salah satu di antara wanita itu adalah “Gamena”. Plotinus tinggal di rumah wanita ini. Demikian pula tampak bahwa sekolah tersebut membuka pintunya lebar-lebar bagi setiap pelajar. Dalam biografi Plotinus, Phorphorius menyebutkan bahwa Plotinus melarang duduk di depan pelukis atau pemahat guna dibikin lukisan atau patung. Ketika muridnya yang bernama Ameleos meminta izin untuk berdiri di depan pelukis, Plotinus menjawabnya: “Tidakkah cukup kita memikul “gambar” yang telah diikatkan alam kepada kita? Apakah engkau mengira benar bahwa aku mesti rela meninggalkan di belakangku “gambar” bagi “gambar”? Maka ketika Plotinus tidak mengizinkannya. Amilios segera pergi kepada temannya, Katarius, yang mahir menggambar. Yang tersebut pertama itu memasukkan yang tersebut kedua ke sekolah Plotinus untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran Plotinus.
Dengan sekolahnya itu, Plotinus bermaksud bisa menjadi pelita yang membimbing jiwa pada ketakwaan dan kebaikan. Ia mengajarkan murid-muridnya agar berpaling dari urusan-urusan duniawi sambil membawa mereka pada satu kehidupan asketis yang dapat mengarahkan jiwa pada kesucian dan kejernihan yang bebas dari segala macam bentuk syahwat. Plotinus sendiri mengabaikan badannya. Ia mengharamkan dirinya memakan daging. Ajarannya banyak menarik pelajarnya, sehingga Rogetianus, seorang yang sudah lanjut usia, meninggalkan semua harta bendanya untuk kemudian menempuh jalan hidup asketik, sampai-sampai ia tidak makan kecuali satu kali dalam dua hari. Semua orang, baik laki-laki dan perempuan, memiliki keyakinan yang besar dalam hal ini. Sehingga ketika tiba saat ajal mereka, mereka berpesan pada anak-anaknya agar tetap menjaga keyakinan ini. Kediaman Plotinus selalu ramai dikunjungi para muda-mudi. Plotinus juga mengajarkan mereka sastra dan syair. Ia mengajak mereka untuk menempuh jalan filsafat, menyimpan harta mereka dan baru menggunakannya ketika mereka dewasa.
Kota utama adalah impian yang menarik banyak filosof Yunani, terutama Plato si pengarang Republika, dan Kota Utama. Plotinus tidak menyia-nyiakan kedekatan posisinya dengan Kaisar Galianus dan istrinya Salonena. Posisi yang sangat dimuliakan oleh Kaisar. Plotinus meminta mereka agar dapat tinggal di Cambania bersama para pengikutnya. Kota ini dulunya diriwayatkan sebagai sebuah kota para filosof zaman kuno yang kemudian hancur dan musnah. Plato memandang perlunya kota tersebut direnovasi, di mana nantinya penduduk kota ini akan hidup di bawah perlindungan hukum yang dibuat untuk mereka. Kota tersebut dinamakan Platonopolis. Polis, dalam bahasa Yunani bererti kota. Sama dengan Heliopolis, salah satu kota satelit Kairo, yang berarti kota matahari. Plotinus dan para pengikutnya berkeinginan kuat untuk tinggal di sana, kalau saja bukan karena kedengkian beberapa orang di lingkungan istana, tentu janji Kaisar dapat terwujud.
Sekolah Plotinus banyak memiliki pelajar. Namun yang paling terkenal adalah Ameleos, juga seorang dokter dari Iskandariah bernama Istokebos yang selalu mengikuti Plotinus menjelang akhir hayatnya. Ia juga mengikuti mazhab Plotinus, dan menjadi seorang filosof yang sebenarnya. Ini tentunya di samping Phorphorius, penulis biograpi Plotinus yang mengedit buku Plotinus atas permintaan Plotinus sendiri. Plotinus berusia 59 tahun ketika Phorporius datang kepadanya dari Athena. Plotinus selama 10 tahun tidak mencatatkan filsafatnya sedikit pun, apalagi menulisnya. Bahkan ia berdialog dengan sejumlah sahabatnya seperti yang ia pelajari dari Amoneos. Selanjutnya Phorporius meriwayatkan: “Ketika pertama kali aku berjumpa dengannya, ia telah mengarang sebanyak 25 makalah–yang kemudian dinamakan Tâsû’at–yang aku peroleh hanya sedikit saja. Makalah-makalah itu belum lagi diberikan judul oleh Plotinus. Maka setiap orang yang memperolehnya berusaha untuk memberikan judul yang sesuai. Aku selalu berhubungan dengannya selama enam tahun. Setelah itu Plotinus mengarang 25 makalah lainnya, dan ia kirimkan kepadaku empat makalah lain ketika aku di sicilia tidak lama sebelum ia wafat. Jadilah jumlah makalah seluruhnya 54 buah”. Ketika Phorporius menerbitkan makalah-makalah ini, ia membaginya menjadi enam bagian, dalam setiap bagian (juz) terdapat sembilan makalah. Dari situlah makalah-makalah tersebut dinamakan Tâsû’at (sembilan-sembilan) Plotinus. Sebagian makalah itu pada masa penterjemahan menjadi berkurang. Pada masa tersebut makalah-makalah itu dinamakan buku “Ketuhanan” yang secara salah dinisbahkan kepada Aristoteles. Penterjemahan dilakukan oleh Ibnu Naimah al-Hamsyi dan dikoreksi oleh Ya’qub al-Kindi.
Lebih lanjut Phorporius berkata: “Adalah saya yang mesti memeriksa apa yang telah ditulisnya, karena ia tidak lagi mampu membaca apa yang telah ditulisnya. Penglihatannya tidak mengizinkan untuk hal itu. Tulisannya jelek. Hubungan antar kalimat juga sangat buruk. Ia juga tidak memperdulikan kaidah penulisan, karena perhatiannya diarahkan hanya pada ide. Kebiasaan ini berlangsung sepanjang hidupnya. Plotinus terbiasa melakukan kajiannya dengan menuangkan apa yang ada dalam benaknya secara langsung, dari pertama hingga akhirnya. Sehingga ketika ia duduk untuk mencatatkan idenya, pena di tangannya bergerak di atas kertas seolah ia sedang mengkopinya dari sebuah buku terbuka. Jika ada orang yang ingin berbicara kepadanya, ia menerimanya dengan sepenuh diri dengan tetap menjaga alur pikirannya secara jelas dalam benaknya, sehingga setelah orang tersebut pergi, ia segera melanjutkan tulisannya tanpa melihat ulang apa yang telah ditulisnya, seolah tak ada sesuatu pun yang dapat memalingkannya dari berfikir. Demikianlah ia mampu hidup dalam jiwanya sendiri dan bersama dengan orang lain dalam satu waktu.
Dalam ceramah, Plotinus adalah orang yang brilian dan memiliki kemampuan tinggi dalam memberikan pemahaman terhadap audiensnya. Ketika berbicara, cahaya akalnya nampak jelas menyinari wajahnya. Plotinus selalu siap menerima berbagai kritik dan akan menjawabnya sebanding dengan kekuatan kritik itu. Selama tiga hari Phorporius terus melancarkan pertanyaan tentang keterkaitan antara jiwa dan raga, Plotinus menjawabnya tanpa henti pula. Plotinus juga memiliki gaya bahasa yang singkat, mementingkan ide dan makna yang dikandung lebih luas dari lafaz yang diucapkannya. Seolah ia mendapatkan ilham dalam mengungkapkannya. Dalam tulisan-tulisannya, Plotinus menggabungkan antara mazhab Stoikisme dan Epikurisme sambil memperkuatnya dengan metafisika Aristoteles. Plotinus memiliki ilmu teknik teoritis, mekanika, optik dan musik. Akan tetapi ia tidak memiliki banyak waktu untuk menyempurnakan kajiannya secara lebih mendalam.
Metodenya dalam mengajar, saat menyampaikan kuliahnya, adalah dengan membaca kuat-kuat risalah para filosof. Dari kalangan Platonisme ada Sphiros, Kroneos dan Atekos. Dari kalangan filosof Pheripatetik ada Spasius, Iskandar, Orasitos dan lain-lain. Akan tetapi Plotinus tidak mengikuti salah satu pun di antara mereka secara membuta. Malah Plotinus mengambil sudut pandang sendiri yang inovatif sambil menerapkan metode Amoneos dalam menjabarkan berbagai soal. Pada suatu hari, Origeon datang ke ruang belajarnya, maka Plotinus marah dan nyaris menghentikan kuliahnya. Ketika Origeon memintanya untuk melanjutkan kuliahnya, Plotinus menjawab: “Sesungguhnya api antusisme menjadi padam ketika si pembicara merasakan bahwa para pendengarnya tidak akan mendapatkan pengetahuan sedikitpun darinya”.
Berikut ini dapat anda lihat penilaian Leonjenes–salah seorang filosof masa itu yang hidup dan mengajar di Athena–terhadap Plotinus, dari suratnya yang dikirimkan kepada Phorporius. Ia berkata: “Ketika aku masih kecil, aku banyak mengikuti perjalanan kedua orang tuaku. Hal mana memberikanku kesempatan untuk melihat para pengajar filsafat paling ternama. Aku selalu berhubungan dengan mereka di kota-kota yang aku tuju. Sebagian mereka menuangkan pemikirannya dalam banyak karangan yang diwariskannya untuk generasi belakangan. Sebagian lagi merasa puas dengan menjelaskannya secara oral kepada para audiens. Di antara yang tidak menuliskan filsafatnya adalah Amonios dan Origeon. Aku pernah menghadiri kuliah kedua orang itu dan aku mengakui keistimewaan keduanya dibanding yang lainnya. Demikian pula (tidak menuliskan filsafatnya) adalah Theodores dan Iopolis di Athena. Sedangkan yang menuliskan filsafatnya dari kalangan Platonis adalah Eukledes, Demokritos dan Breklenos. Kemudian dua orang yang selalu mengajarkan filsafatnya di Roma yaitu Plotinus dan sahabatnya Amileos. Hanya kedua orang inilah yang menampakkan spirit yang sungguh-sungguh untuk membuat karangan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Tampak bahwa Plotinus memberikan penjelasan terhadap prinsip-prinsip Phytagoras dan Plato, lebih dibandingkan filosof manapun yang mendahuluinya. Amileos mengikuti jejak langkah Plotinus. Yang kedua ini banyak mewarnai pandangan-pandangan yang pertama.
Dari situ jelas bahwa kehidupan sekolah Plotinus sangat berlawanan dengan kajian bebas yang berkembang pada saat itu. Para pelajar mempelajari penulisan makalah dan pembuatan risalah. Ini disamping membaca teks para filosof, menjelaskannya dan memberikan komentar terhadapnya. Para siswa membacakan kajian-kajian mereka dan mendiskusikannya secara terbuka. Disamping itu, beberapa sekolah filsafat dari beberapa kota melakukan korespondensi. Para guru dan pelajar betukarpikiran, dan lebih jauh lagi melakukan dialog. Kita melihat misalnya Leongenes melakukan korespondensi dengan Phorporius. Demikianlah Plotinus dengan keaslian pemikirannya mampu memperbaharui Platonisme sekaligus meramunya dengan filsafat Pheripatetik (Aristoteles), Stoikisme dan Phytagorisme. Pada akhirnya Plotinus memunculkan jenis mazhab baru yang dianggap sebagai akhir dari sekolah-sekolah filsafat Yunani.
Yang baru dalam filsafat ini adalah metodenya, pandangannya terhadap jiwa dan penafsirannya terhadap wujud (being). Metodenya adalah mengamati inti jiwa dan menaik ke cakrawala tertinggi dengan cara debat menanjak sehingga jiwa memperoleh sumber cahaya dan setelah itu ia mendapatkan kebenaran. Debat adalah metodenya Plato, tetapi debatnya Plotinus berbeda dengan Plato. Plotinus sangat berpegang pada penelitian batin dan mengeluarkan berbagai hakekat dari jiwa itu sendiri. Sementara debat Plato dimulai dari hal-hal mahsûs (inderawi) dan dari kajian-kajian matematika serta melihat pada bentuk-bentuk matematis untuk menanjak ke alam ide; ke bentuk-bentuk murni dan setelah itu turun ke dunia mahsûs (inderawi), setelah seorang filosof mengetahui ide, untuk memperbaiki keadaan kota. Plato tidaklah melarikan diri dari dunia realitas serya terbenam dalam dunia rasionalitas. Sekali-kali tidak. Ia hanya lari untuk sementara, untuk kemudian kembali lagi ke dunia realitas dan memperbaikinya. Di situ ia mewujudkan kebaikan dan kebajikan. Sedangkan Plotinus, karena situasi politik dan sosial yang ada pada masanya, bersamaan dengan mulai mundurnya kekaisaran Romawi dan banyaknya kerusakan juga peperangan yang memporak-porandakan negeri, membuatnya lari dari dunia realitas di mana manusia kehilangan harapan dalam memperbaikinya, untuk kemudian mencari dunia lain, baik dengan menyelam ke relung-relung jiwa, atau berharap pada suatu kehidupan lain yang lebih menjamin kebahagiaan, dari sekedar kehidupan dunia. Dalam hal ini, Plotinus mengajukan dua cara; pertama, manusia mengurung dirinya dalam batin jiwanya seraya hidup secara zuhud (asketik) dalam gemerlapnya kehidupan dunia, seperti kita lihat dalam perjalanan hidup Plotinus. Kedua, manusia mesti berusaha untuk memperoleh kebehagiaan hidup akherat. Tidak disangsikan lagi bahwa Kristenitas yang sezaman dengan filsafat Plotinus telah terpengaruh oleh ajaran-ajaran Plotinus sebagaimana halnya mazhab Plotinus terpengaruh oleh pandangan para filosof Kristen yang ada di Iskandariah.
Dasar filsafat Plotinus berbeda dengan dasar filsafat Yunani sebelumnya hingga Plato dan Aristoteles. Filsafat Yunani berusaha untuk menafsirkan wujud (being), dengan cara menjelaskan sifat wujud dari hal-hal yang maujud. Parmanedes berpendapat bahwa wujud itu ada, dan ia merupakan suatu hakikat primordial yang tidak perlu ditegaskan. Sedangkan menurut Plato, wujud itu ada dua macam, mahsûs (terindera) dan ma’qûl (rasional). Wujud rasional–yaitu alam ide–adalah asal dari wujud mahsûs. Namun berbagai wujud mahsûs yang kita saksikan di dunia ini tidak lain kecuali bayang-bayang dan angan-angan. Sedangkan yang hakekat adalah ideal-ideal dari hal-hal yang maujud ini. Ideal adalah rasional. Oleh karena itu filsafat Plato bersifat ideal. Ketika Aristoteles datang, ia tidak memisahkan alam kepada dua jenis ini, malah Aristoteles berpendapat bahwa alam maujud tersusun dari dua prinsip; materi dan bentuk. Jelaslah dapat diktakan bahwa filsafat Yunani adalah filsafat tentang wujud. Dan pendefenisisan Aristoteles terhadap filsafat pertama–metafisika–adalah sebagai pengetahuan terhadap “yang ada” sebagaimana ia “ada”.
Sedangkan filsafat Plotinus adalah filsafat tentang “yang satu”. “Yang satu” dalam puncak wujud, dan lebih tinggi dari padanya. Dari yang satu itu keluar akal, dan dari akal keluar jiwa. Demikianlah Plotinus memulai dengan trinitas yang terus berkembang, dan puncaknya adalah “Yang Satu”. Inilah yang membedakan filsafat Plotinus dari filsafat Plato dan Aristoteles. Sedangkan pengertian “Yang Satu” menurut plotinus tidak begitu jelas dan tegas. Kadang-kadang ia difahami sebagai Allah, kadang-kadang difahami sebagai kebaikan, dan kali yang lain difahami sebagai yang ketiga dari yang awal. Apapun adanya “yang satu” itu kebih tinggi dari wujud (being).
Jadi bagaimana wujud datang dari “yang satu” itu? Wujud pertama yang muncul dari “yang pertama” adalah akal. Akal memancar darinya karena ia adalah gambaran dari “yang satu” itu. Atau bentuk tak berbeda darinya. Kemudian dari akal muncul jiwa yang merupakan gambaran paling dekat dengannya. Akan tetapi bagaimana manusia mengetahui bahwa ia merupakan satu bagian dari jiwa universal? Dan bagaimana ia sampai pada pengetahuan tentang akal dan tentang alam ilahi yang ada jauh di atas akal? Mari kita lihat penjelasan Plotinus tentang pengetahuan ini, melalui cara “debat”. Ini akan kita ketahui melalui terjemahan Arab kuno yang diperbaharui oleh al-Kindi.
“Sesungguhnya aku kadang-kadang menyendiri dengan jiwaku. Aku melepaskan badanku, akupun masuk ke dalam zatku, kembali kepadanya seraya keluar dari segalanya. Maka jadilah aku ilmu (pengetahuan), ‘âlim (yang mengetahui) dan ma’lûm (yang diketahui). Maka aku pun melihat kebaikan, keindahan dan sinar terang pada zatku, sesuatu yang aku kagumi. Aku pun tahu bahwa aku merupakan bagian dari alam Ilahi utama dan mulia yang memiliki kehidupan aktif. Ketika aku yakin terhadap semua itu, aku pun menaikkan zatku dari alam itu ke alam ilahi, aku pun selalu menjadi jatuh ke dalamnya, terikat dengannya. Aku berada di atas alam rasional seluruhnya. Aku pun melihat seolah aku berada pada posisi keilahian yang mulia itu. Di sana aku melihat sinar dan keagungan yang tidak dapat dideskripsikan lisan dan tidak pernah didengar oleh telinga. Bila aku tenggelam dalam cahaya dan keagungan itu, aku tidak mampu menanggungnya, jatuhlah aku dari akal ke ide dan pandangan. Bila aku berada di alam ide dan pandangan, aku pun terhalang–oleh ide itu–dari cahaya dan keagungan tersebut. Aku pun menjadi heran bagaimana aku dapat terjatuh dari kedudukan tinggi Ilahi dan menjadi berada pada posisi ide…”
Filsafat Islam mengenal Plotinus dari buku ini. Akan tetapi kadang-kadang buku tersebut disalah fahami penisbatannya kepada Aristoteles. Hal itu disebabkan karena penyelarasan antara dua orang bijak, Plato dan Aristoteles, yang dimulai dari al-Farabi sampai Ibnu Sina. Mereka ini mengatakan tentang tingkatan-tingkatan wujud dan keberasalannya dari yang pertama.
Setelah Plotinus wafat, kepemimpinan sekolah di Roma digantikan oleh muridnya yang menerbitkan makalah-makalah Plotinus (Tâsû’at), yaitu Phorporius (305-232 SM). Dilahirkan di Shur, dan melewatkan masa mudanya di sana. Ia banyak memperoleh pengetahuan keagamaan dan filsafat di Palestina Suriah. Kemudian ia pergi ke Athena untuk belajar kepada Leonjenes. Ia lalu pindah ke Roma, di mana ia masuk ke sekolah Plotinus dan menggantikannya sebagai pemimpin setelah Plotinus wafat. Phorporius sangat terkenal. Reputasinya bagus. Banyak pelajar yang hadir pada kuliahnya. Antara lain adalah Emplekos yang dianggap sebagai wakil Neo-Platonis paling masyhur di Suria. Di dunia Arab, Phorporius dikenal sejak masa penterjemahan. Ia terus mempengaruhi filsafat Arab dengan bukunya “ISAGOGI” yang akan kita bicarakan nanti. Jika orang Arab tidak mengetahui Plotinus dikarenakan kesalahan yang terjadi dalam penerjemahan bukunya, maka orang Arab mengenal Phorporius, murid Plotinus, dengan sangat baik; menerima sebagian pendapatnya dan menolak sebagiannya. Apapun adanya, pandangan-pandangan Phorporius secara keseluruhan merupakan perluasan dari pandangan- pandangan gurunya, meski sesungguhnya sang murid telah memberikan sedikit perubahan.
Plotinus mempunyai banyak karangan. Di antaranya adalah “Filsafat Ramalan” di mana ia menggambarkan ritual-ritual keagamaan di kuil-kuil paganisme yang dipraktekan orang-orang Mesir, Kildan dan Suryan. Juga “Bentuk-bentuk Tuhan” di mana ia menolak paganisme dan menjelaskan bahwa penyembahan terhadap patung-patung tidak termasuk kekufuran seperti diklaim oleh orang-orang Kristen dan Yahudi. Menurutnya patung-patung tersebut merupakan simbol-simbol inderawi yang mendekatkan kepada Tuhan yang sebenarnya. Ia juga mengarang buku “Jawaban terhadap Orang-orang Kristen”. Tampaknya ia menulis buku ini dengan motif politik, karena Kaisar di Roma ketakutan terhadap semakin bertambah kuatnya orang-orang Kristen, di samping berbagai bencana yang dihadapi negara seperti paceklik, kelaparan, perpecahan dan ancaman dari beberapa wilayah untuk memisahkan diri. Ia juga mengarang buku “Jawaban terhadap Anabo”, seorang ahli nujum Mesir. Di situ ia menolak akidah (kepercayaan) orang-orang Mesir kuno sambil mengagungkan filsafat.
Plotinus berbicara tentang kekalnya jiwa. Ia mengajukan beberapa dalil baru yang berbeda dengan Plato yang telah disebutkan dalam “Dialog Phideon”-nya. Dalam Tâsû’at Plotinus berkata: “Jiwa bukanlah suatu “bentuk”, ia tidak mati dan tidak rusak, bahkan ia selalu kekal”. Jiwa yang suci bersih yang tidak tercemar oleh kekotoran badan, dialah yang jika berpisah dengan badan akan kembali ke substansi jiwa tertinggi. Sedangkan jiwa yang berhubungan degan badan dan tunduk kepada nafsu syahwatnya, maka jika ia berpisah dari badan, ia tidak dapat memperoleh dunianya kecuali dengan beban berat. Artinya bahwa jiwa, seperti yang telah kami sebutkan di awal, menengahi antara akal dan alam hayûlî. Demikian juga pendapat Phorporius, selain sebagai ganti dari kehidupan rasional, ia menyerukan untuk mempraktekan berbagai bentuk ibadah serta mensucikan jiwa dengan cara hidup asketik dan menahan diri dari nafsu syahwat.
Plotinus seperti halnya kebanyakan filosof klasik, membedakan antara alam mahsûs dengan alam ma’qûl. Akan tetapi ia memiliki ciri khusus dengan metode debatnya yang mencermati batin jiwa untuk dapat menanjak ke alam akal. Dalam hal ini ia berkata: “Sesungguhnya siapa yang mampu melepaskan badannya, menenangkan indera dan pergerakannya, maka dalam idenya ia juga mampu untuk kembali kepada zatnya…” Maka Plotinus seperti yang kita lihat tidak mencampuradukkan antara jiwa dan akal, ia juga tidak berbicara kecuali setelah melakukan pengamatan dan penelitian. Sedangkan Phorporius mensyaratkan adanya perbuatan-perbuatan utama seperti bersikap asketik, tidak memakan dagaing dan lainnya agar jiwa mampu menaik ke alam rasional. Karena itulah Ibnu Sina melakukan kritik terhadapnya. Katanya: “Inilah hal-hal yang menurut saya mustahil. Sungguh saya tidak memahami ucapan mereka bahwa “sesuatu” menjadi “sesuatu” yang lain. Aku tidak dapat memikirkan bagaimana itu terjadi…” Hal yang paling sering mencengangkan manusia dalam hal ini adalah yang mengarang Isagogi untuk mereka. Pengarang tersebut begitu kuat berbicara kepada manusia dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat imajinatif-puitis-mistis yang sebagiannya ia batasi untuk dirinya dan untuk orang lain. Banyak orang yang mengkaji tulisan-tulisannya tentang akal dan tentang jiwa.
Orang yang mengarang Isagogi adalah Phorporius. Isagogi dalam bahasa Yunani berarti “pengantar” atau “mukaddimah”. Bukunya yang berjudul “Pengantar Kepada Kategori-Kategori Aristoteles” dikarangnya untuk muridnya Charisarius yang menuntut ilmu di sekolah Plotinus. Charisarius adalah salah seorang anggota senat di Roma. Ia telah membaca “Kategori”-nya Aristoteles, namun tak mampu memahaminya. Ia pun menulis surat kepada Phorporius yang ada di Sicilia, menceritakan kesulitannya seraya memohon bantuan Phorporius. Phorporius pun mengarangkan untuknya satu Pengantar Kepada Kategori Aristoteles, di mana ia menjelaskan lima konsep Aristoteles: jenis, macam, divisi, partikularitas dan proposisi umum. Buku kecil tersebut sedemikian terkenal sehingga orang Arab mendeskripsikannya sebagai “berjalan bak matahari sampai kini”.
Arti kategori adalah “apa yang dikatakan tentang sesuatu”. Inilah yang paling penting dalam mendefinisikan sesuatu dan membatasi esensinya. Apa yang kita katakan tentang Sokrates? (1) manusia (2) panjang (3) putih (4) di rumah, dan seterusnya, sampai kategori kesepuluh. Manusia adalah kategori substansi. Panjang adalah kategori kuantitas. Putih adalah kategori kualitas, dan seterusnya. Kategori yang sepuluh itu adalah jenis penggolongan dari hal-hal yang ada di alam wujud. Sedangkan lima konsep, yaitu jenis, macam, divisi, partikularitas dan proposisi umum, merupakan suatu kemestian dalam suatu pendefinisian dan pembuktian. Anda mengatakan: manusia adalah hewan berakal–yang merupakan satu definisi terkenal–manusia adalah macam, hewan adalah jenis, berakal adalah divisi (pembeda). Definisi ini adalah batasan yang sempurna. Pembagian menuntut adanya pembedaan total sampai pada bagian-bagiannya.
Dengan kematian Phorporius, sekolah Plotinus pun gulung tikar, sampai pun yang ada di Roma atau di Iskandariah. Semangat sekolah tersebut lalu beralih ke timur dan barat. Wallahu A’lam

Palu, 27 Pebruari 2010
Kampus STAIN Datokarama

Referensi: Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani / MF

2 Komentar

Filed under Uncategorized

2 responses to “SEKOLAH PLOTINUS

  1. Terima kasih, saya telah mencopy “Sekolah Plotinus” sebagai penambah koleksi data ilmiah saya, untuk kemudian diteruskan kepada pihak yang membutuhkan. Semoga yang mendatang, lebih banyak dimuat para filosuf muslim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s