SEKOLAH JUNDISAFUR

Didin Faqihuddin
Dosen STAIN Datokarama Palu
Sulawesi Tengah

Sekolah ini adalah titik penghubung antara filsafat Yunani dan filsafat Arab, meskipun sekolah ini berada di Persia. Sedangkan bagaimana filsafat Yunani berpindah ke sana, khususnya filsafat Iskandariah yang mempunyai kecenderungan ilmiahnya, inilah riwayat yang perlu kita simak.
Pertentangan antara Persia dan Yunani belum selesai setelah Yunani tunduk kepada Romawi bersamaan dengan meluasnya kekuasaan negara Romawi. Karena itu pertentangan ini pun berpindah pula, terjadi antara Persia dan Romawi. Romawi selalu menang melawan Persia ketika Kekaisaran Romawi dalam keadaan kuat. Maka ketika ia mulai melemah dan kehilangan kekuatan, pasukannya porak poranda berhadapan dengan pasukan Persia.
Dalam diskusi kita tentang Plotinus pada pembahasan yang lalu, kita telah menyinggung bahwa yang tersebut ini telah bergabung dalam pasukan Kaisar Giordian III ke Persia. Saat itu Plotinus bermaksud mempelajari berbagai mazhab dan hikmah yang ada di timur. Akan tetapi ekspedisi ini gagal, hal mana membuat Plotinus kembali ke Roma dan membuka sekolahnya. Perang pun pecah karena Persia didukung oleh Ardacher. Ketika keadaan kembali pulih, Ardacher di utus ke Roma pada tahun 230 M di mana ia menantang sang Kaisar dan memintanya untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang dulunya merupakan bagian Persia seperti Asia Kecil dan Suria. Ardacher wafat pada tahun 241 M ketika peperangan pecah yang dipicu oleh anaknya Syabur (241-272). Bertemulah pasukan Syabur dengan pasukan Geordian yang dulu pernah kalah. Akan tetapi luka yang dialami Geordian membuat perang dihentikan. Timbullah kesepakatan bahwa Persia menguasai Armenia, sedangkan Roma menguasai Irak. Kemudian pada tahun 258 perang pecah kembali. Pasukan Romawi dipimpin oleh Kaisar Phalirian. Sang Kaisar dikepung dan kalah, Ia bersama pasukannya kemudian ditawan.
Syabur memperlakukan para tawanan dengan baik. Ia bahkan mendapatkan keuntungan dari kebebasan yang diberikannya kepada para tawanan itu. Di antara mereka banyak ahli seni, dokter, insinyur dan ahli-ahli lainnya. Mereka inilah yang telah melakukan pembangunan bendungan besar di sungai Dijjil di Tustar dan dikenal dengan nama “Syazirwan Tustar”. Syabur menempatkan para tawanan itu di satu daerah dekat kota Sous dan dekat pula dengan Tustar. Mereka membangun sebuah kamp yang nantinya menjadi kota “Jundisapur” artinya kamp Sabur. Kota tersebut bersinar dan menjadi pilar wilayah Khuzastan pada masa Sasaniyah yang menjadikan kota Sous sebagai persinggahan musim dingin dan kota Jundisapur sebagai persinggahan musim panas karena air dan udaranya yang sejuk. Seperti dikatakan oleh al-Mas’udi dalam kitabnya Murûj al-Zahab, raja-raja Sasania sampai masa Hurmuz tetap tinggal di kota Jundisapur, Khuzastan.
Di bawah kekuasaan Persia, para tahanan tersebut mendapatkan kebebasan beragama, sesuatu yang tidak mereka nikmati pada masa kekuasaan Romawi yang menindas orang-orang Kristen sehingga membuat mereka terpaksa bersembunyi dan melakukan peribadatannya secara rahasia. Persia tidak bermaksud memerangi orang-orang Kristen, bahkan mereka dibiarkan bebas membangun gereja-gerejanya. Kemudian di bawah kepemimpinan Hurmuz, Jundisapur tidak lagi bersinar, ia kehilangan nilai pentingnya dan kemudian hancur sama sekali, sampai akhirnya datang Sabur II (362) yang membangun kembali kota tersebut mengikuti kemenangannya atas Kaisar Julian. Sejumlah orang berhasil ditawan dan kemudian ditempatkan di kota Jundisapur yang telah diperbaiki. Pada akhirnya Kristenitas berhasil mengalahkan paganisme. Maka jadilah beban pemindahan kebudayaan Yunani ada di pundak gereja. Di timur, tugas tersebut dipikul oleh orang-orang Kristen Suryan kelompok Nestorian.
Kami tidak tahu secara pasti bagaimana ihwal sekolah Jundisapur pada abad IV dan V. Tapi dipastikan bahwa Kisra Anusyirwan-lah (531-578) yang mengayomi sekolah tersebut. Ia begitu berambisi untuk menjadikan Jundisapur mirip dengan sekolah-sekolah filsafat, khususnya sekolah Iskandariah yang terkenal karena matematika, kedokteran dan filsafat. Inilah orientasi Iskandrani yang telah kita diskusikan sebelumnya. Dialah yang telah menyambut para filosof Athena yang telah diusir Justinian ketika sekolah Akademia dan sekolah Aristoteles ditutup. Ketika itu, metode Iskandrani diterapkan dalam proses belajar Jundisapur. Buku-buku yang dipakai di Iskandariah juga dipakai di sana. Bahkan bidang kedokteran dan matematikanya. Jundisapur bukanlah satu-satunya kota di Persia yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan filsafat, bahkan di kota-kota yang lain muncul juga beberapa sekolah. Dalam Mu’jam al-Buldân, Yaaqut menyebutkan hal tersebut ketika membahas Risyhar.
Kedokteran Yunani dipelajari dari dua sekolah; sekolah Epikrates yang wafat pada abad 3 M, dan sekolah Galinus yang wafat pada tahun 200 M. Galinus berasal dari Bergam, Asia Kecil. Akan tetapi sebagian besar hidupnya dilalui di Roma. Maka tentu saja ia berhubungan dengan para dokter sekolah Iskandaria. Sekolah Iskandariah sangat berpegang pada buku-bukunya. Mereka memilih 16 di antaranya yang mesti dihafal oleh setiap pelajar kedokteran. 16 buku itulah yang menjadi pegangan (rujukan) sekolah kedokteran Jundisapur dan yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani. Dari terjemahan Suryani ini kemudian diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Arab di masa penterjemahan. Di antara dokter-dokter Iskandariah yang belajar kepada Galinus adalah: Oripasius, Atisius, Ahran–orang Arab menamakannya Ahran al-Qiss–seorang dokter dan ahli nujum Yahudi yang hidup pada abad V M. Dialah yang menterjemahkan bukunya sendiri, “Kinâsyah”, ke dalam bahasa Suryani dan kemudian ke dalam bahasa Arab. Orang yang mempopulerkan buku-buku Ahran adalah seorang dokter kelahiran Persia, bermazhab Yahudi dan berbahasa Suryani, yang bernama Masirgueh–atau Masirgis. Yang tersebut ini pada masa khalifah Marwan ditugaskan untuk menterjemahkan buku Ahran ke dalam bahasa Arab.
Sekolah kedokteran Jundisapur tidak hanya menyerap ilmu kedokteran Epikrates dan Galinus saja, tetapi juga menyerap ilmu kedokteran India yang terkenal dengan akar-akaran dan rumput-rumputan karena khasiatnya, juga terkenal karena mantra-mantara dan jimat-jimatnya untuk mengusir roh-roh jahat yang mereka yakini sebagai penyebab sakit. Diriwayatkan bahwa Kisra mengundang seorang dokter dari India untuk mengajarkan ilmu kedokteran India di sekolah Jundisapur. Kisra juga memiliki concern terhadap rumput-rumputan India dan mendatangkan sebagiannya ke Persia untuk ditanam di wilayah-wilayah Jundisapur. Di antara yang didatangkan dari India adalah sukkar (gula) yang dibuat dari kulit sukkar. Kata sukkar ini adalah bahasa Sansekerta, kemudian diserap ke bahasa Persia lalu ke bahasa Arab. Pada abad IV M, gula mulai dikenal di India. Ketika sukkar (gula) ditanam di Jundisapur, maka dibangunlah tempat-tempat khusus untuk pemerasan gula. Pada waktu itu gula dimanfaatkan untuk pengobatan, dan baru pada zaman modern digantikan dengan madu lebah.
Kami mengatakan bahwa persia sangat memperhatikan ilmu kedokteran, perbintangan (nujum) dan filsafat. Ilmu perbintangan (nujum) inilah yang sekarang kita namakan dengan Astronomi, mereka sangat concern terhadap ilmu ini. Di Jundisapur, mereka membuat sebuah observatorium seperti yang ada di Iskandariah. Ketika orang Arab mentransfer ilmu ini, mereka mempelajarinya dari Persia, oleh karena itu kita menemukan banyak istilah-istilah Persia yang diArabkan.
Dalam hal filsafat, buku-buku Aristoteles, khususnya Logika, merupakan buku-buku filsafat utama yang ditransfer orang-orang Suryani karena keperluan mereka dalam kajian-kajian keagamaan.
Tampaknya, lingua franca yang dipakai di sekolah Jundisapur adalah bahasa Suryani, dengan pertimbangan bahwa di satu sisi bahasa ini adalah bahasa para guru, dan di sisi lain merupakan bahasa rujukan dalam banyak cabang ilmu pengetahuan setelah ditransfer dari bahasa Yunani ke bahasa Suryani. Maka setiap pelajar harus mempelajari bahasa Suryani supaya mereka banyak mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa para tawanan yang ditempatkan di jundisapur berbicara dengan bahasa Yunani di samping bahasa Suryani. Kemudian mereka mempelajari bahasa Persia. Sebagian buku ilmu pengetahuan tersebut telah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Persia dari bahasa Suryani. Setelah itu, ilmu-ilmu pengetahuan tersebut dan filsafat diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa Suryani. Buku-buku berbahasa Suryani tentang kedokteran Jalinus, logika Aristoteles dan sebagian buku Astronomi dan matematika inilah yang telah ditransfer oleh para penerjemah pada masa Abbasiyah. Itu terjadi setelah pembangunan kota Baghdad yang tidak terlalu jauh dari Jundisapur. Dengan dukungan para khalifah dan gubernur serta imbalan yang diberikan kepada para cendekiawan, maka ibu kota baru itu banyak menarik dokter-dokter dan cendekiawan Nestorian. Mereka meninggalkan kediaman asalnya di sekolah Persia untuk menetap di ibu kota khalifah Abbasiyah.
Khalifah pertama yang mendatangkan dokter dari Jundisapur adalah khalifah Mansur ketika ia terserang penyakit kronis. Ia lalu mengundang Georgorius bin Bakhtisyu, kepala sekolah dan rumah sakit Jundisapur. Georgorius tinggal di istana khalifah di Baghdad dari tahun 148 – 152 H, kemudian ia meminta izin untuk kembali ke Jundisapur pada masa kekhalifahan al-Hadi. Yang tersebut ini menjadikan Bakhtisyu sebagai tabib kerajaan. Akan tetapi timbul pertentangan antara dia dengan Abu Quraisy, tabib istri al-Hadi. Ia pun meminta untuk keluar dari lingkungan istana. Ketika Harun al-Rasyid memangku jabatan khalifah, ia memintanya untuk mengobati penyakit batuk menahunnya. Kemudian dari keluarga Bakhtisyu yang mengabdi di kerajaan adalah putra ketiga Bakhtisyu yang bernama Georgorius, yang pernah menjadi dokter Ja’far bin Yahya al-Barmaki dan kemudian menjadi dokternya Harun al-Rasyid, juga sebagai pemimpin para dokter. Ia juga mengabdi pada al-Amin dan al-Makmun. Georgorius ini mempunyai karya-karya kedokteran dalam Bahasa Arab. Ia wafat pada tahun 213 H.
Pada tahun 215 H al-Makmun mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad. Al-makmun menjadikan tempat ini sebagai pusat penterjemahan buku-buku berbahasa Suryani dan Yunani ke dalam Bahasa Arab. Baitul Hikmah dikepalai oleh Yunana Bin Masweih, seorang dokter Suryani dari sekolah Jundisapur. Ia kemudian hijrah ke Baghdad di mana kemudian ia membangun sebuah rumah sakit, sampai akhirnya al-Makmun mengangkatnya sebagai pemimpin Baitul Hikmah. Hunain bin Ishak adalah salah seorang muridnya yang paling terkenal dalam dunia terjemah. Banyak orang mengkritik alias keberatan terhadap Baitul Hikmah sambil mengatakan bahwa Baitul Hikmah bukanlah sekolah filsafat, melainkan pusat penerjemahan, dan yang diterjemahkan bukanlah buku-buku filsafat. Sekolah Jundisafur sendiri memang bukanlah sebuah sekolah filsafat, karena tidak ada riwayat yang menyatakan adanya filosof-filosof lulusan sekolah tersebut. Yang ada justru para dokter yang melakukan pengobatan dan mengelola rumah sakit.
Keberatan ini mempunyai sudut pandang sendiri. Akan tetapi sebenarnya bahwa sekolah Iskandariah pada masa terakhirnya di abad IV dan V, bukanlah sekolah filsafat dengan ukuran sekolah ilmiah-matematika-kedokteran, selain Neo-Platonisme yang dibangun oleh Amonios Sakkas dan diproklamirkan oleh Plotinus. Selain itu apakah kita bisa menamakan Ptolomeus, si pemilik al-Majisthi, Manileos, Nikomakos, Paphus atau yang lain-lainnya sebagai para filosof. Demikian juga para dokter seperti Oripasius dan Ahran. Apagi para ahli matematika dan dokter ini bukanlah ilmuwan-ilmuwan semacam Eukledes atau Galienus, justru mereka adalah orang-orang yang memiliki “ringkasan” dan “penjelasan” untuk kebutuhan pengajaran. Disamping itu juga, mereka mengetahui mazhab-mazhab Plato, Aristoteles, Stoik, dan filosof-filosof lain yang banyak mengetahui hikmah, sekaligus sebagai pengajar hikmah itu, di samping pengetahuan mereka terhadap matematika, ilmu alam dan kedokteran. Begitulah keadaan sekolah Jundisapur yang merupakan kelanjutan bagi pengajaran Iskandrani, khususnya tentang kedokteran. Ketika dokter-dokter sekolah Jundisapur pindah ke Baghdad, maka hal pertama yang harus mereka lakukan adalah membangkitkan gerakan penerjemahan yang memakan waktu satu abad.
Di antara para penerjemah ini, ada seorang filosof Islam dari kalangan Arab, dialah al-Kindi, filosof Arab pertama yang memiliki sekolah.

Wallahu A’lam

Palu, 22 Mareet 2010

Referensi : Ahmad Fuad al-Ahwani / MF

Tinggalkan komentar

Filed under status

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s